Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Terlambat


__ADS_3

Karena merasa rindu dengan putri kecilnya Rama pun mengayun sepeda dengan kencang. Kedua sudut bibirnya juga mengembangkan senyum sumringah.


Tak dirasa satu jam diperjalanan dan kini dia telah berdiri dihalaman rumah. Menyandarkan sepeda ontelnya yang semakin menua di tembok rumahnya. Dengan langkah yang menggebu dia segera beranjak dan membuka pintu.


Cekrekk


Sudah segitu malam, bahkan hampir melewati tengah malam. Lampu masih terlihat terang dan pintu tak juga terkunci.


Perlahan,Rama mendorong nya pelan. Kepalanya yang dia kehendaki masuk terlebih dahulu, memperhatikan sekitar ruangan dan mengamati siapa yang masih santai di waktu selarut itu. Hanya ada mbak Wulan yang asik dengan ponselnya di ruang depan.


"Assalamu'alaikum mbak. Kinanti jadi pulang kan?"


"wa'alaikum salam. Jadi kok Ram, Dari pagi tadi."


Wanita itu masih saja dengan gaya acuhnya. Dia menjawab bahkan tanpa melihat Rama, jangan kan menatap, melirik saja tidak. 'sebenarnya dia ini gimana sih?' Rama mulai kebingungan dengan sikap Wulan.


Rama kembali mengayun kakinya dengan cepat. Menuju kamar yang dia duga ada Kinanti dan Nadira yang sudah menantinya.


'peduli apa dengan mbak Wulan, dia kan memang seperti itu. Ngga jelas. Heh, emang ada yang jelas dirumah ini? Kurasa tidak' batin Rama menyeruak hingga dia berada didepan pintu kamar.


Rama berhenti, sayup-sayup ia mendengar Kinanti berbicara. Tapi, tidak jelas apa yang menjadi pembicaraannya dan siapa lawan bicaranya. Hanya sesekali ada tawa khas Kinanti yang di serap dengan pasti oleh gendang telinganya.


'sudahlah. Aku langsung masuk saja, ini juga kan kamarku' pekik Rama yang mulai menaruh curiga. Ia membuka pintu dengan santai, seolah tak memikirkan hal buruk. Disana, hanya ada Kinanti dan Nadira yang sudah terlelap tidur.


Wanita yang bentuk tubuhnya makin tak beraturan itu, masih duduk dengan ponsel menempel ditelinganya. Matanya, memperhatikan raut wajah Rama sekejap lalu menyudahi telepon secara sepihak.

__ADS_1


"siapa Kin yang telfon? Asik banget kedengerannya?"


"ah, ini.. Anna,"


"Anna? Emang dia pulang jam berapa tadi? Pasti dia udah kangen juga ya sama Nadira?"


"emmbhh"


Kinanti bernafas lega saat Rama mulai berfikir positif. Ada hal yang dia sembunyikan dari suaminya, namun Rama selalu bisa meredam hawa nafsunya untuk tidak selalu curiga dengan Kinanti.


Rama memilih menjatukan diri disebelah Nadira tertidur. Dia membelai mesra tubuh gadis ciliknya dan mendaratkan ciuman dikening.


Nadira memang selalu membuat Rama terbayang oleh wajah Abbas, tapi itu tidak menjadikannya seorang pembenci. Dia tidak menyeret Nadira dilingkup masa lalunya. Baginya, Nadira adalah anak dan juga darah dagingnya.


"pules amat sih anak ayah bobo nya. Ngga kangen apa ya sama Ayah?"


"habisnya gemes"


"ya tahan dong...


Ya sudah aku mau tidur, nanti kalau Dira bangun tu susunya tinggal kasih air anget aja. Capek banget"


Kinanti menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah. Dia membelakangi Rama yang masih asik memperhatikan gadis kecilnya. Dia tidak benar-benar ngantuk, namun hanya mencari-cari alasan agar Rama tidak mengajaknya bercengkrama.


--

__ADS_1


Alarm yang sudah puluhan kali berdering tidak juga diindahkan oleh Rama. Bahkan jarinya juga merayap mencari tombol untuk menundanya.


Matanya sangat sulit untuk dia buka, bahkan untuk melirik jam saja dia merasa tak sanggup. Tidak ada gairah untuk beraktivitas dipagi itu. Dia memang tertidur sudah sangat malam. Bahkan, harus sering-sering bangun untuk memberi susu pada Dira.


Sinar surya pagi itu sudah cukup terang. Cahanya menyeruak, melewati celah-celah jendela kamar. Menyibak sepasang mata yang masih menikmati alam mimpinya. Rama mengerjap merasa terganggu dengan sang surya.


Remang-remang ia mendengar banyak orang berbicara diluar rumah, ayam yang berkokok dan juga matahari yang mulai meninggi. Ia meraih ponselnya yang sedari tadi dia omeli karena mengganggu tidurnya.


"sial! Kenapa aku ngga dengaer alarm bunyi? Huh, telat lagi!"


Rama bergegas tanpa mandi, dia hanya menggosok giginya dan membasuh wajahnya. Diciuminya wajah kedua wanita yang masih terlelap itu, lalu dengan perlahan Rama keluar dari kamar.


Dengan cepat, ia mengolesi roti dengan mentega. Mulutnya sangat lincah mengunyah dan berharap waktu bisa ia hentikan agar dia tak mendapat omelan lagi dari atasannya.


"Ram, kamu kok makan sendirian? Istrimu mana?"


"kinan masih tidur buk"


"masih tidur? Kamu ini gimana sih Ram, harusnya kamu bangunin dia. Anaknya kan harus dijemur kalau pagi gini. Mataharinya kan bagus Ram"


"iya buk, tapi kayanya Kinan capek banget. Dira juga masih tidur"


"kamu ini, kalau dibilangin orang tua selalu saja bantah!"


Blablablabla dan masih banyak lagi, drama yang harus Rama hadapi disetiap saat. Pagi, siang, sore, malam pasti dia selalu dicela. Kalau tidak dicemooh, tapi paling buruk adalaha body shaming. Dan itu, menyebalkan bagi Rama.

__ADS_1


'sudah bangun kesiangan, drama dulu pula. Jadilah double terlambatnya' Rama bergeming saat keluar dari rumah. Hatinya kesal dengan tingkah Bu Wati yang semakin keterlaluan dan semena-mena terhadapnya.


__ADS_2