Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Gebrakan Meja


__ADS_3

Kinanti memberanikan diri mendatangi rumah Nurin. Menceritakan segala kekacauan yang menerpa dirinya. Ia berharap Nurin bisa mengerti posisinya. Memahami bagaimana susahnya menjadi dirinya.


"Jadi, kamu mau Rama yang mengurus perceraian kalian ?" tanya Nurin dengan ketusnya setelah ia mendengar tujuan Kinanti datang dengan wajah memelas.


Perempuan itu tetap membawa Allena dan Kevin untuk melengkapi sandiwara nya. Isakan tangis tak pernah ia tinggalkan. Ia selalu merunduk ketika Nurin menatapnya dengan sengit. Hatinya tahu, bahwa Nurin sangat tidak setuju dengan apa yang ia sampaikan. Bagaimana lagi ? Semua sudah terlanjur jauh, dan ia sudah berhadapan dengan Nurin sekarang. Untuk mundur dan langsung menyerah pun tidak akan mungkin. Nurin pasti akan langsung mengatakan jika semua hanya rekayasa. Ya, walau nyatanya demikian.


"Sebenarnya aku bersyukur melihat perceraian kalian. Jujur saja aku tidak sanggup melihat penderitaan mas Rama selama hidup denganmu. Dia sering datang ke rumahku dengan keadaan yang memprihatinkan. Lemas, lesu, dan sangat pucat. Aku tahu dia sangat kelaparan, meskipun dia sama sekali tidak mau mengakui itu. Dia selalu berbohong untuk melindungi mu. Tapi melihat caranya makan, tidak ada hal yang bisa ia sembunyikan."


Nurin menyudahi kalimat nya kala matanya beralih menatap Allena dan Kevin yang tampak sedang mencermati setiap kata yang ia ucapkan. Hatinya bergidik, tak mungkin ia akan melanjutkan ucapannya yang jelas sedang menyerang Kinanti secara halus.


Allena memang belum mengerti, tahu Kevin sudah cukup cerdas menangkap gaya bicara orang lain.


"Kamu bisa bicara langsung dengan mas Rama. Aku tidak ada waktu untuk mengurusi hal itu."


Nurin meninggalkan Kinanti di teras rumahnya. Ia tak lagi menghiraukan tangisan wanita itu. Membiarkan ia melangkah jauh meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Sebenarnya, Nurin ini mudah terpancing amarahnya. Makanya, ia memilih segera pergi sebelum ia tak bisa mengontrol diri. Apalagi ada Kevin dan Allena yang mengawasi. Bisa saja mereka akan memiliki pola pandang yang buruk dan menganggap Nurin lah yang telah jahat kepada Kinanti.


Dengan kesal dan kecewa, Kinanti melangkah pergi. Ia mengusap air matanya dengan kasar, hatinya mengumpat bahkan memaki Nurin. Ada dendam yang tertanam di sana, bahkan ancaman yang akan ia usahakan setelah ia mendapatkan kemudahan dalam bentuk uang nanti.


"Awas saja Nurin ! Aku pastikan, aku akan membeli mulutmu yang menyebalkan itu !" gumam Kinanti dalam hati.


Hentakan kakinya menandakan betapa marahnya dia. Kevin menyadari itu, hingga ia hanya membisu tak berani berbicara sepatah katapun. Sementara Allena, ia terus berceloteh karena belum mampu membaca situasi.


Sudah banyak cara Kinanti lakukan untuk menuntut hak anak-anaknya. Sudah banyak cara pula yang ia lakukan untuk membuat Rama tergerak dan mau mengurus surat-surat perceraian nya.


Sepulang dari rumah Nurin, Kinan memperoleh sebuah pesan singkat yang Nurin kirimkan. Ia memang tidak meresponnya, sama sekali tidak membalas pesan itu, tetapi Kinanti tetaplah manusia yang memiliki pikiran. Sepanjang malam, ia tak henti mengingat tulisan itu, memikirkan semuanya tanpa permintaan diri. Bahkan, membuatnya tak bisa berbuat apapun untuk membuat Rama segera memberinya uang.


Kinanti menutup kembali pesan itu. Sudah ke sekian kalinya ia membukanya dan sekedar membaca ulang.


"Kin, jam segini sudah rapi mau kemana ?" suara Ibu Kinan menggugah lamunan itu. Teguran yang bernada penasaran itu, menarik Kinanti untuk kembali duduk di meja makan.

__ADS_1


"Mau kerja buk."


"Masih di kantin itu ? Uang segitu memangnya cukup untuk kamu dan anak-anak mu ?"


"Ya, gimana lagi buk ? Memangnya ibuk mau tanggung kebutuhan kita semuanya ?"


"Enak saja ! Itu, si Rama gimana ? Diakan masih bapak anak-anak ini, seharusnya dia yang kasih nafkah untuk anak-anak mu !"


Kinanti menghela nafasnya berat. Ia sudah sangat lelah membicarakan hal serupa berulang kali, tetapi tetap saja tidak menghasilkan apapun untuknya.


"Kalau tidak, kirimkan saja mereka berdua kepada bapaknya ! beres kah ?"


Mendengar itu, amarah Kinan seperti terbakar. Ia menatap sang Ibu dengan sorot mata tajam. Jemarinya sudah mengepal, lalu dengan kuat....


Braaakkkkkkk

__ADS_1


Kinanti menggebrak meja makan.


"Ibu ini bicara apa sih ? Allena dan Kevin, mereka juga anak-anak aku buk ! Meskipun Kinan benci sama Rama, bukan berarti Kinan harus membenci mereka berdua juga !"


__ADS_2