
Kinanti POV
Aku mengerjap, sangat kesal dengan sinar yang begitu terang. 'Mas, tolonglah lampunya matiin! Silau!' yaa, kupikir Rama lupa mematikan lampu sebelum dia tertidur karena itu sudah menjadi kebiasaan buruknya.
Tak kudapati jawaban darinya bahkan sinar yang kukira lampu itu pun tak kunjung redup. Karena sangat kesal, ku ulangi ucapakan ku tadi dengan nada tinggi. Ah, sama saja! Rama tidak mengindahkan itu. Aneh sekali, sebelumnya dia selalu sigap dengan apapun yang kuinginkan. Kenapa sekarang tidak?
Kubalik tubuhku dengan omelan dari Bibirku. Emosiku menutupi keadaan sekitar, tidak ada Rama disampingku. Hanya Dira yang tiba-tiba menangis kejer karena kaget dengan suaraku.
Mataku beralih kearah jendela, menatap tak percaya pada sinar yang sudah sangat tinggi. Ku kucek kencang mata ku dan ku perhatikan jam yang tertera di ponselku.
"astagaaaaa! Gimana bisa aku tertidur sampai segini siang dan bisa berfikir ini masih malam"
'pantas saja Rama tidak menyauti, dia pasti sudah berangkat kerja' batinku ikut berbicara. Ah, malu sekali jika ada yang mendengarnya dan untungnya hanya Nadira yang belum mengetahui apapun itu. Aman....
"kamu laper ya sayang, mimik susu dulu ya"
Ku raih anakku yang masih menjerit kencang. Kutimang, sebagai bukti permohonan maafku untuknya.
Tok.. Tok... Tok..
"Kinaaaaan! Bangun woi, Lu tidur apa pingsan sih?"
__ADS_1
Pintu kamarku digedor dengan sangat kencang. Aku sangat hafal dengan suaranya, bahkan cara dia membangunkan ku. Seseorang yang sangat mudah membuatku kesal. Siapa lagi kalau bukan mbak Wulan.
Dia memang kakakku, tadi dia sangat jauh jika dibanding dengan mbak Santi. Dia lebih sering mengajakku berantem daripada bersenang-senang. Dia juga satu-satunya orang yang tidak ikut membully Rama dirumah ini.
"masuk aja kali, ngga usah teriak-teriak diluar. Aku juga ngga punya utangkan sama situ? Jadi stop deh, ngga usah gedor-gedor pintu udah kaya rentenir aja!"
"hahaha, garing banget sih"
"aku juga ngga bercanda. Ih, kamu bisa ngga sih bedain orang kesel sama bercanda?"
"cuci muka sana ngga usah ngegas! Ada yang cariin kamu didepan"
Heh, kalau ngga takut jadi adik durhaka udah aku tendang dah ni orang. Untung saja, usia dia yang lebih tua dariku bisa membuatku sedikit mengalah.
"pagi? Ini masih malem buk. Heeeh"
Mbak Wulan mendorong kepalaku sebelum ngacir keluar kamar. Dia memang sangat senang jika aku mulai marah-marah. Mungkin, itu cara dia menenangkan hati setelah perceraiannya yang di dalangi oleh ibu.
--
Aku sengaja memperlambat kerjaanku, ku buat selama mungkin agar orang didepan rumah yang tak kukenal itu kewalahan menunggu dan pergi. Pikiranku takut saat aku mengintip nya dari dalam kamar. Wajahnya sangat sangar dan tubuhnya penuh tato. Dia lebih bisa dipanggil preman daripada yang lain.
__ADS_1
"Kin, kok malah ngintip sih? Dia itu nyariin kamu"
Mbak Santi yang tiba-tiba muncul membuatku tersentak dan tak sengaja mendorong jendela yang tak terkunci disamping pintu utama.
"eh mbak Kinan ya? Bisa ngobrol sebentar?"
Aku terpaksa memasang senyum kecut. Ah, ini semua karena mbak Santi, coba saja dia tidak membuatku kaget. Mungkin aku tidak akan membuka jendela dan membuatnya melihat kearahku.
Dengan sangat tidak ridho, ku buka pintu utama untuk menemui nya didepan.
"ada apa pak?"
"kenalin mbak, nama saya Rudy"
"baiklah, pak rudy saya Kinanti. Ada apa ya bapak nyariin saya, padahal kita tidak pernah bertemu kan?"
"oh, tidak mbak Kinan. Saya hanya ingin menyampaikan surat ini dari mas Abbas. Dia meminta agar saya langsung memberikan pada mbak Kinan"
Abbas? Dia mengatakan nama Abbas sekarang? Bahasanya sangat sopan, apa iya dia anak buah Abbas? Ah, mana mungkin! Lihat saja, tubuhnya penuh tato. Jika saja bertutur kata lembut itu tak menjamin dia baik.
Aku ragu menerima amplop coklat dari tangan lelaki itu, tapi pandangan nya sangat memaksaku agar aku mengambilnya. Dia hanya tersenyum hingga surat itu sampai ditanganku.
__ADS_1
"ya sudah mbak, Saya pamit dulu ya. Assalamualaikum"
"wa'alaikum salam"