
Waktu kian cepat berlalu, kini Nadira telah beranjak dewasa. Sekarang tidak hanya ada Nadira diantara keluarga kecil mereka, tapi sudah bertambah Kevin dan Alena. Kedua bocah yang berjarak usia satu setengah tahun. Kevin, kini duduk dibangku TK B sedangkan Alena masih dibangku PAUD.
"yah, Dira berangkat sekolah dulu ya?"
Suara anak gadisnya membuyarkan lamunan Rama. Spontan dia tersenyum dan menyambut uluran tangan Nadira.
Nadira, tumbuh menjadi gadis yang baik, dia cantik, dan begitu sopan dengan kedua orang tuanya. Badannya ramping berbeda dengan sang mama, tapi bibirnya mirip dengan Kinanti. Cara bicaranya sangat jauh dari Kinan, dia lembut dan tulus mencintai Rama, yang dia ketahui sebagai ayah kandungnya.
"Dir, ngga bareng sama adek-adek?"
"loh, mama kan udah berangkat anterin adek-adek yah. Emangnya ngga pamit toh sama ayah?"
"oh. Iya ya, udah berangkat . Ayah lupa, tadi mama kan udah bilang ke ayah"
Rama tersenyum kecut. Miris sekali hidupnya, dia sama sekali tidak dihargai oleh Kinanti, wanita yang menyandang status sbagai istri itupun sering keluar rumah tanpa izinnya.
Dia hanya berusaha tegar dihadapan Dira, selalu berkata baik tentang Kinanti, menutupi setiap kesalahannya dengan senyum dan kalimat yang dia karang.
--
__ADS_1
Dira mengayun kakinya menelusuri jalan setapak menuju sekolah. Hatinya benar-benar tak tega melihat ayahnya yang selalu terlihat tertekan. Dia telah belasan tahun mencintai, tanpa tahu dirinya dicintai atau tidak.
Rama memang tidak pernah mengatakan hal buruk tentang dirinya, tentang sedihnya, tentang luka hatinya. Tapi, Nadira bukan lagi anak SD yang bisa dibohongi. Dia bisa melihat bagaimana keadaan orang tuanya. Dia sudah bisa membedakan yang baik dan buruk.
Tapi, Dira gadis yang ceria. Dia tidak ingin teman-temannya mengkhawatirkan dirinya, dia akan tetap seperti biasa meskipun hatinya tertekan dengan ribuan masalah.
Dira tidak terlalu cerdas, tapi dia bukan gadis bodoh. Dia selalu masuk 10 besar, tapi terlalu sulit untuk mencapai 5 besar. Meskipun demikian, dia selalu bisa membuat Rama bangga dengan sikapnya yang selalu lembut terhadap orang tua bahkan teman-temannya.
Nadira POV
Aku mengayun kakiku melewati jalan setapak untuk sampai ke sekolah dan lewat jalan itu pula aku pulang kerumah.
Ah, bayang-bayang wajah ayah memenuhi otakku hari ini. Aku kesulitan mencerna setiap pelajaran yang guru kasih. Semua hanya masuk melalui telinga kanan lalu keluar melalui telinga kiri. Wuuussss
"Dir, kamu mau bareng aku?"
"oh, ngga usah. Makasih Rey"
"padahal kita searah"
__ADS_1
Dia itu Reyhan. Kata anak-anak dia suka sama aku. Tapi, dia tidak pernah mengatakan itu. Toh, aku ngga mau tambah pusing karena memikirkan hal yang belum saatnya seperti itu.
Ya walau aku mendengar hanya dari desas-desus teman, tapi perhatian dia selalu membuatku risih. Dari situ, aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengannya. Aku hanya takut jatuh cinta, lalu kecewa. Seperti halnya ayah.
Kakiku masih setia dengan sepatu bututku. Berjalan beriringan melewati banyaknya rintangan( Eaa). Hingga sampai dirumah, tak juga kudapati mama dan ayah disana. Padahal hari sudah sore.
"nek, mama sama adek-adek kemana?"
"lagi pergi. Udah kamu mandi terus makan"
"Ayah belum pulang?"
"Peduli apa nenek sama dia. Udahlah, nenek mau ada arisan keluar, kamu baik-baik dirumah."
Bagaimana aku bisa mengkhawatirkan dia? Dia saja begitu kasar jika kutanya tentang ayah. Kadang juga aku suka sampai nangis karena dia. Aku ngga rela ayahku dimaki, tapi kalau aku bela. Pasti aku yang kena marah.
Nenek memang sayang terhadap aku, tapi lebih sayang lagi sama kedua adikku. Ya, mungkin karena mereka masih terlalu kecil. Entahlah
Aku mengikuti kaki nenek, melihatnya dia pergi dengan ojek langganannya. Lalu mengunci pintu rapat-rapat. 'huff, kenapa sih nenek selalu mengukur ayah dengan uang?' hatiku menjerit,bibirku tersenyum miris. Aku hanya, bisa berdoa untuk masa depan ku agar bisa berpenghasilan dan membahagiakan ayah.
__ADS_1