Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
oh, ayahku yang malang!


__ADS_3

"mas bagi uang dong!"


Tanpa basa-basi Kinanti langsung membicarakan arah tujuannya terhadap Rama. Dia tidak memikirkan jika suaminya masih lelah, dia baru pulang kerja, dan mandi saja belum sempat.


Rama, selalu mengutamakan anaknya dibanding diri sendiri. Dia sadar, tubuhnya sangat lelah, tapi anak-anaknya selalu menanti waktu malam untuk sekedar bersenda gurau dengannya. Dari situ, Rama menyempatkan menemani mereka lebih dahulu sebelum mengurus dirinya sendiri.


Dengan keadaan yang tidak mendukung, masih saja dia bisa berbicara manis terhadap Kinan. Tidak ada amarah yang tergambar digaris-garis wajahnya yang semakin terlihat.


"Mas belum gajian Kin, uang lembur juga belum cair. Sabar dulu ya"


Kalimat ampuh, yang walau hatinya teriris mengatakan itu. Keperluan pribadi saja selalu terbengkalai, tapi dia tidak pernah menegur Kinan dengan segala keborosannya.


Ah, jangan bilang ini hanya fikiran Rama. Tapi memang, Kinan selalu membeli barang yang tidak penting sekalipun, menghabiskan uang untuk bersenang-senang dan terlihat mewah didepan teman-temannya.


"kamu bisa minjem dulu kan Mas, sama temen apa atasannya mas"


"Kin, kan cuma 2 hari lagi. Emang, udah ngga ada banget uangnya?"


"ada sih, tapi ngga cukup!"


"di cukup-cukupin dulu ya"


"hah, kamu ya! Sama aja! Ngga pernah berubah. Dasar, penyakit ker* kok diawetin!"


Deg, jantung Rama terasa sakit mendengarnya. Kata yang sangat pedih menusuk hatinya. Seolah melayang, membawa duka. Rama teriris mendengar cacian Kinan, ini memang tidak sekali. Justru itu, yang membuatnya merasa gagal.


Rama merasa gagal mengatur keluarganya, gagal memenuhi kebutuhan keluarganya. Baginya, kelakuan Kinan itu wajar karena dia tidak bisa memberi apa yang menjadi haknya.


Lagi dan lagi, Rama hanya akan menyalahkan dirinya sendiri.


"hari ini, kamu tidur saja diluar!"

__ADS_1


Kinan, mendorong kasar Rama sembari menyodorkan bantal,tanpa slimut dan pakaian hangat. Tak lama, bantingan pintu terdengar nyaring ditelinga Rama, bahkan kunci kamar yang sengaja ditekan dengan geram.


--


"loh yah, belum tidur?"


Nadira, yang baru saja keluar dari kamar melihat Rama yang masih duduk didepan tv. Tangannya, erat memeluk bantal yang mulai lusuh, matanya fokus saja ke tv meskipun dia tahu ada Dira disana.


"iya ni Kak, filmnya seru"


Mana bisa Rama berkata jujur tentang kelakuan mamanya. Yang ada, mereka akan bertengkar lagi, membuat Rama terseret dan di cap tukang adu domba. Heh, benar-benar memerlukan kesabaran ekstra tinggal bareng mertua seperti Wati.


"tumben? Biasanya ayah ngga hobby nonton tv?"


"iya Kak, lagi jenuh aja. Ngga bisa tidur juga"


"mau Dira temenin? Kan besok libur"


Sini kak"


Rama sangat antusias dengan tawaran putri bungsunya. Anak yang tidak ada hubungan darah dengannya, tapi batinnya sangat bisa merasakan kasih sayangnya.


'Nadira, ketika kamu tahu ayah bukan bapak kandungmu, apa kamu masih sebaik ini?' Rama mengumpat, bersembunyi dibalik bulu mata renggangnya. Ia memeluk putri kecilnya yang sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik dan baik.


"yah, ayah harus kuat ya! Dira akan selalu sayang sama ayah"


"Makasih ya kak. Kamu benar-benar penyemangat buat ayah"


"emb, ayah mau Mie? Dira masakin ya?"


"boleh. Enak ni, dingin dingin gini makan mie kuah"

__ADS_1


"hahaa, bener tu yah. Tunggu bentar !"


Nadira bergegas menuju dapur,ia sempat memperhatikan Rama sebelum melangkah jauh meninggalkan nya seorang diri.


'Dira tau,ayah pasti abis dimarahin mama' hati Nadira bergumam seorang diri .dia bisa melihat sorot mata Rama yang penuh kekecewaan. Ada luka di sana, ada juga derita, terasa pedih sekali jika di gambarkan .


Nadira bersemangat melayani ayahnya,memberikan semangkuk mie kuah dan teh hangat . dia memang selalu menggantikan peran Kinanti, tapi di sangat senang bisa melakukan hal itu terhadapnya .


"Taraaaa, mie kuah ala Diraa sudah siapppp!"


Nadira meletakkan nampan di meja, depan Rama duduk . Nada bicaranya menggebu,mengoyak semangat untuk Ayahnya . Dia sengaja,karena disadari Rama merenung sedari tadi .


"hemmmm ,baunya harum sekali. Pasti enak , Makasih ya nak !"


"pasti dong yah ! siapa dulu yang masak ? Nadira "


angkuh Nadira mengundang gelak tawa sang ayah. baginya itu lucu. Iya lucu, lucu sekali !


Nadira bisa merasakan senang. Senang ketika melihat ayahnya tertawa. Senang ketika melihat ayahnya gembira. Senang sekali ketika melihat ayahnya bisa tersenyum. Apa lagi karena dia.


"ayah nggak ngantuk? "


"belum. kak Dira ngantuk? "


"heemb ....Dira tidur dulu ya yah. "


"ya udah , kakak tidur gih udah malem. besok kan tetap harus bangun pagi untuk salat subuh. "


"oke ya yah. Nadira tidur dulu ya, ayah tidurnya jangan malam-malam ! kan besok ayah tetap harus tetap kerja. "


Nadhira beranjak, tak lupa dia membereskan bekas makan malamnya barang Rama. dia sempat mencuci piring lalu baru kembali ke kamarnya. ia sempat berfikir sejenak tentang ayahnya namun, rasa kantuk yang menyelimuti matanya tidak lagi bisa dia tahan.

__ADS_1


"oh ayahku yang malang, ayah, ayah, ayah.... aku akan selalu menjagamu, untuk sekarang besok bahkan selama aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk tetap bernafas. disitu adalah waktu yang Tuhan berikan untukku dan untukmu.


__ADS_2