Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Sertifikat


__ADS_3

Ibu terpaku di tempatnya seraya menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tak habis pikir jika Rama akan senekat itu. Anak sulungnya itu, kini sudah bersimpuh di depan lemari dengan beberapa berkas yang berantakan. Rama sedang berusaha mencari sesuatu di sana.


"Buk, Nurin tidak punya uang itu. Rama, pinjam sertifikat tanah ini ya buk." Pinta Rama seraya menunjukkan sebuah berkas yang berada di dalam map berwarna merah.


"Bocah edan !"


Plak !


Ibu sudah tidak bisa menahan diri. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk memberitahu Rama. Ia sudah sangat lelah memikirkan tentang nasib Rama, di tambah sikap Rama yang semakin seenaknya.


Tidak ada raut penyesalan setelah Ibu berhasil menampar Rama. Ia juga mengambil sertifikat tanah itu dari tangan Rama. Lebih tepat lagi, Ibu merebut itu dari genggaman tangan Rama.


Putra sulungnya itu memang sudah keterlaluan. Ia sama sekali tidak mengindahkan ucapan Ibu sedikitpun. Hatinya sudah cukup gelap. Memang, tidak salah jika ia ingin membuat anaknya bahagia, tapi bukan berarti dengan cara menyakiti hati seorang perempuan yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya. Itu adalah hal yang gila.


"Kowe pingin Ibuk cepet mati yo Ram ? Kok kowe tega sekali. Ibu tidak ikhlas nek kowe gadaikan sertifikat ini. We paham po ra Ram, ini satu-satunya harta sing Bapakmu tinggalkan. Nek sampai ke sita, mau tinggal dimana kita Ram, dimana ?"


Air mata Ibu sudah bercucuran di kedua pipinya. Kini, Ibu duduk bersimpuh seraya mendekap sertifikat itu kuat-kuat. Kepalanya terasa pusing karena sehari ini terus di cecar dengan pikiran-pikiran yang berat. Rama terus memaksa otaknya untuk bekerja. Rama benar-benar sudah berada di luar kendali. Entah memang sikapnya, atau karena trauma atas kehilangan sesuatu yang teramat berharga untuknya, hingga membuatnya melakukan apapun untuk melindungi orang-orang yang sangat ia kasihi. Termasuk dengan menuruti keinginan Nadira dan mengorbankan perasaan sang Ibu.


"Ibu gak habis pikir le, kenapa kowe berubah. Ibu kira, Rama anak Ibuk masih sama seperti Rama kecil dulu. Rama si sayang karo Ibu, Rama si pengertian, Rama si sedih nek tahu Ibuk nangis."


Seperti ikan yang mendapatkan umpan. Kejadian ini memancing emosi Ibu. Ia mengungkapkan semua rasa yang ada dalam hatinya. Ia keluarkan segala keluh yang menyesakkan dadanya. Ibu berbicara seolah tidak ada Rama di sana. Ia tidak lagi peduli jika Rama marah, atau akan kembali pergi meninggalkan nya. Yang jelas, Ibu benar-benar kecewa dengan sikap Rama.

__ADS_1


"Nenek ? Nenek kenapa ?"


Nadira yang mendengar suara isakan tangis merasa curiga. Ia segera keluar dari dapur, dan mencari-cari sumber suara yang membuat jantung nya berdetak cepat. Otak Nadira sudah bergumam dengan bayangan buruk tentang apa yang terjadi.


"Nek..."


Nadira berjongkok di depan neneknya. Mengusap lembut bagian punggung dari sang Nenek. Ia tidak berani bertanya apapun, karena perasaan Nadira sudah semakin tidak menentu. Ada sesuatu yang menekan jiwanya, membuat nya merasa takut dan semakin resah.


"Kabeh iki mergo kowe Dir ! (Semua ini karena kamu Dir !) nek kowe ndak di sini, ndak lahir dan ada si antara kita, kabeh ora koyo ngene."


Deg ! Seperti bom yang meletus di dalam diri, seperti dorongan keras dan mendesak jantung agar terhimpit lebih sempit. Dada Nadira sakit mendengar itu, hatinya tersentak kaget karena kalimat yang neneknya ucapkan.


Air mata yang tak pernah ia pinta, kini menetes membasahi pipi. Mengalir seperti tak bisa lagi ia hentikan. Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa Nenek berkata seperti itu ? Hanya itu, yang ada dalam pikiran Nadira.


"Ibuk ! berhenti ! Apa yang Ibu bicarakan ?"


Rama berteriak keras dan meninggikan nada bicaranya agar Ibu berhenti bicara. Ia tak mau, jika amarah Ibu melukai hati Nadira. Kali ini, bukan tak rela karena putrinya di maki, tetapi ia lebih takut jika sampai Ibu membongkar tentang diri Nadira. Rama tidak mau itu terjadi, Rama takut jika Nadira kecewa lalu pergi meninggalkan dirinya. Sudah pasti, Nadira akan kembali ke Kinanti, lalu menanyakan siapa Ayah kandungnya. Dan Rama akan kehilangan Nadira untuk selama-lamanya. Rama tidak ingin itu terjadi.


"Nenek, maafkan Nadira..." Gadis itu semakin bersedih. Ia tak kuasa menahan sesaknya dada. Ia tak bisa lagi berpura-pura kuat dan tegar di depan Ayah dan Neneknya.


Nadira bangkit, lalu berlari ke dalam kamar. Ada kepedihan yang mendalam. Ada goresan luka yang tidak ia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Nadira menyadari bahwa Neneknya tidak begitu menyukai nya, sama seperti Nenek Wati. Namun, Ibu dari Rama ini tidak terus terang seperti Nenek Wati.


Nadira mengurung diri di dalam kamar. Ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan Rama yang sudah berulang kali terdengar. Laki-laki bertubuh ramping itu terus berdiri di depan pintu kamar seraya mengetuk-ngetuk pintu supaya Nadira mau keluar. Namun sayang ! Nadira enggan membukanya. Ia masih terus meringkuk di balik jendela kamar dan terus-menerus menangis.


Sungguh malang sekali nasib gadis itu. Selain Rama, tidak ada lagi yang mau mendengarkan suara hatinya. Bahkan Kinanti, Ibu yang pernah berjuang melahirkannya, tega menelantarkan ia begitu saja. Buruknya lagi, Kinanti pernah mencoba memberikan Nadira kepada orang lain, meskipun hal itu tidak pernah Nadira ketahui.


"Sebenarnya apa sih mau Ibu ?"


Rama kembali menghampiri sang Ibu. Perempuan paruh baya yang masih berlumuran air mata. Tak bergeser dari tempatnya duduk, Ibu masih setia meringkuk dan memeluk sertifikat itu di atas ubin.


"Ibu boleh benci Rama, tapi ku mohon Bu, jangan pernah katakan hal itu kepada Nadira. Apapun yang terjadi, dia tetaplah putriku !"


Rama menekankan setiap kata yang ia ucapkan di balik telinga Ibu. Meskipun dengan berbisik, tetapi kalimat itu penuh dengan ancaman.


"Tolong nak, sekali saja , dengarkan suara hati Ibu."


Mungkin Rama tidak akan pernah mengerti kemauan Ibu. Begitu pula sebaliknya. Mereka akan selalu bersitegang dengan ego masing-masing. Mereka tidak akan pernah mau berdamai dengan apa yang sudah terjadi. Rasa yang ada hanyalah sebuah hal yang saling menyalahkan. Tanpa ada kata yang memohon maaf, tanpa ada kata ucapan syukur. Memohon untuk saling di mengerti, memohon untuk terus di utamakan.


Ibu bangkit lalu menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan nya dengan kesal, lalu berjalan ke dalam kamar.


Rama menatap punggung Ibu, dan membanting tubuh di atas sofa setelah Ibu tidak lagi terlihat oleh indera penglihatan nya.

__ADS_1


"Tuhan, apa salah Rama ? Kenapa masalah terus-menerus mengikuti ku ? Semua hancur, semua semakin hilang dari kehidupan ku."


__ADS_2