
dorr dorr dorr
Jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi . Ranti dan keluarga masih nyenyak dalam tidurnya .
Matanya mulai mengerjap saat suara pintu di gedor dengan kerasnya, entah siapa yang datang bertamu dengan cara tak sopan seperti itu .
Arya segera bangkit dari tidurnya, ia bergegas menghampiri pintu dan membukanya .
"Bu dhe ? Sepagi ini kesini, ada apa ?"
Arya kaget melihat ibu Rama sudah berada di depan pintu dengan deraian air mata . Wanita itu sudah sangat sembab matanya, sepertinya dia sudah nangis semalam suntuk.
"Rama Ar . Rama pergi . Katanya dia mau kembali ke istrinya . aku kudu piye Ar "
Wanita itu semakin terisak dengan tangisnya . Ia sudah tidak kuasa lagi menahan seorang diri . Beberapa kali mencoba menelfon Rama, tapi tidak aktif juga . Ia pun tak berani menghubungi Nurin, karena pasti akan menimbulkan masalah baru .
__ADS_1
Setelah semua berkumpul, Ibu Rama kembali bercerita . Bagaimana malam yang dia lewati bersama Rama . Tak sedetik pun ia berani memejamkan mata , takut jika putra sulungnya berbuat yang tidak-tidak.
"Ya sudah, gini saja, bu dhe lebih baik menghubungi mbak Nurin .Katakan saja semua, Insya Allah dia ngerti kok . setidaknya, jika mas Rama sampai di sana ada yang menjaga "
Ranti mencoba memberikan saran . Dia berfikir itu akan jauh lebih baik untuk keselamatan dan kebaikan Rama . Karena Nurin adalah satu-satunya harapan di kota tersebut.
"Percayalah bu dhe . mbak Nurin ngga akan marah "
Ranti melihat raut keraguan dari wajah ibu Rama . antara berani dan tidak, ia hanya takut jika Nurin ikut memarahinya karena kesal dengan Rama .
"Ya sudah . Nanti bu dhe pikirkan, sekarang bu dhe harus pulang dulu ."
Ibu Rama berpamit, kembali kerumah untuk berpikir langkah apa yang harus dia ambil untuk anaknya .
--
__ADS_1
Nurin sudah mendengar kabar tentang Rama . Jika bicara kesal, tentu rasa itu sedang menyelimuti hatinya saat ini . Tapi, ia mencoba memahami dan memaklumi kebimbangan Rama .
Ia duduk di teras rumahnya . Menikmati secangkir teh serta koran di tangannya . Mengharap cemas, ikut mengkhawatirkan Rama yang belum juga datang . Padahal jika di hitung, Rama sudah hampir seharian pergi dari rumah . 'Harusnya, empat jam kan sampek' Keluhnya tiap menatap jam di layar ponselnya.
"Assalamualaikum dek "
Suara lelaki yang sangat Nurin kenali, ditatap nya sumber suara itu dengan garang . ini sih, lebih seram dari intaian singa .
"loh, kenapa balik lagi ke sini ? "
Nurin mulai meninggikan suaranya . Ia berjalan masuk ke dalam rumah, di ikuti Rama di belakang nya .
"Mas ngga tega dek sama anak-anak"
Jawaban Rama semakin memancing rasa kesal Nurin . Matanya kembali melotot ke arah Rama . yang sudah jelas sangat amburadul karena mungkin sedari pagi belum makan sama sekali .
__ADS_1
"Mas itu bukan karena anak-anak . Bilang saja mas ngga rela kan pisah sama Kinanti !"
Tidak lagi ada jawaban yang Rama lontarkan . ia hanya merunduk, entah berfikir atau mencoba pasrah dengan apa yang terjadi . Yang jelas, ocehan merdu dari Nurin sama sekali tidak dia dengarkan . Tidak ada satu katapun yang tersemat di pikirannya . Yang ia pahami saat itu , hanya dia ingin segera kembali ke keluarga nya .