Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
kesedihan


__ADS_3

meskipun , air mata mengalir deras di kedua pipinya Nadira tetap berusaha melukis senyum di sudut bibir nya . Ia tak ingin, dua bocah yang belum saat nya mengerti itu ikut bersedih dengan masalah yang menimpa keluarganya .


"Kakak,ngga papa dek . kangen aja sama kalian, dari pagi ngga main bareng"


Ia berlari, menghujami adik-adiknya dengan pelukan . Ia menikmati setiap nafas kehangatan . Meraih tubuh mungil, yang semakin bingung memperhatikan Nadira .


tapi, tetap saja ! mereka itu hanya bocah, sebimbang-bimbangnya mereka belum sanggup memikirkan hal itu .Mereka belum mampu menebak raut wajah yang Dira lukiskan .


"Kakak, kita main yuk . jangan nangis lagi ya "


Lena menyeka kedua pipi Dira, lembut sekali , dan itu terasa hangat dihatinya. 'Allena, apa kamu akan merasakan hal yang sama jika kamu sudah se besar kakak ?' Dira yang menyangka saja dia harus dewasa segitu cepatnya.


Mungkin,kalau waktu itu bisa diputar dan diulang . Dia akan memilih kecil selama yang dia butuhkan . Kerapuhan selalu saja menyapanya . Kehancuran benar-benar sedang menguasai nafasnya .


"Kak, aku tadi denger mama marah-marah , emangnya kenapa sih kak ? ~Kevin


"Mmbh , mama ngga marah kok dek, mama kan kalau bicara suka nya keras . jadi kaya orang marah " ~Nadira


Jantung Dira terpompa cepat mendengar pertanyaan adiknya lelakinya .Tak dia sangka, bocah itu mulai menangkap emosi orang-orang disekitar nya . Ia mulai bisa membaca keadaan . Bantahan yang Dira lontarkan pun selalu saja di tolak olehnya .

__ADS_1


--


"Mas, kamu yang bilang sama anak-anak ya "


cekrek


Kinanti dan Rama menyusul Anak-anak di kamar . ketiganya ,masih asyik memainkan mainan yang sama .


Hanya Dira yang masih diam dititik awal, bahkan untuk menoleh melihat siapa yang masuk saja sudah sangat malas ia lakukan . Sampai ia sadari saat Lena berteriak memanggil Kinan .


"Kak ....


"maafin Ayah ya nak "


"Ayah sudah melakukan yang terbaik .untuk apa ayah minta maaf, tapi Dira mau Ayah sama mama janji, saat nanti kita sudah menetap di kampung Dira ngga mau jika diajak pindah-pindah lagi !"


Rama menatap Kinan penuh tanda tanya . Keduanya bimbang untuk mengiyakan ,tapi Rama segera mengangguk untuk memuaskan hati Nadira .


Hari itu ,hari yang haru bagi mereka . Mungkin, benar jika waktu berkata telah menyatukan . Tapi, hati kelimanya terberai , saling melepas pegangan dan memaku pada keyakinan masing-masing.

__ADS_1


Nadira, bisa saja frustasi dengan masalah yang tak mau lari dari dirinya . Begitupun Rama dan Kinan .Dua bocah yang belum paham itu pun, ikut merenung dan merengek tak karuan yang di pinta .


"Dira ke kamar dulu yah,Ma " ~Nadira


terang saja, Nadira tak sanggup menyembunyikan air matanya . Ia berpamit pada kedua orang tuanya, sembari menyeka mata yang masih melembabkan pipi ranumnya .


apalagi Rama, ia hanya mengangguk dan tersenyum kecut pada sang anak . Ia tahu bagaimana hancurnya hati Nadira saat itu .Ia menyadari kebodohannya . Tapi, ia sungguh tidak memiliki pilihan yang lebih baik dari titik itu .


"sudahlah mas, nanti juga Dira bisa ngerti . dia hanya ngga sanggup aja denger kata desa .belum biasa dia" ~Kinanti.


"Kasian Kakak ,Kin . dia pasti sangat sedih , ..


aku susul dia sebentar ya "


"biar aku saja !"


"engga Kin, biar mas saja "


"Mas !"

__ADS_1


Kinanti melirik Rama penuh arti .matanya tajam,seperti pisau yang telah diasah dan siap memotong daging . Rama, memilih mengalah daripada memperpanjang perdebatan .


__ADS_2