Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Menenangkan diri


__ADS_3

"Kamu mau kemana Ram ?" Ibu tergopoh-gopoh menghampiri Rama yang sedang sibuk menyiapkan sepeda motor tua di halaman rumah. Dengan kepala yang di tempel koyo dan tubuh yang rapat tertutup jaket, Ibu Rama berusaha menahan diri untuk tak terlihat kesakitan di depan Rama.


"Rama mau ke rumah bu lek buk. Mungkin beberapa hari, Rama butuh ketenangan. " Jawab Rama tanpa melihat Ibu. Entahlah, sejak kejadian kemarin sikapnya terkesan dingin terhadap Ibunya. Padahal, ia sempat mencuci kaki ibunya dan meneguk air cucian itu. Ia juga tahu, jika ibunya sedang tidak enak badan. Semua karena beban pikiran yang Rama berikan terhadapnya.


"Hati-hati ya le. " Hanya itu yang bisa Ibu ucapkan. Terbingkai dengan senyuman miris yang ia serahkan dengan manis. Wajahnya yang pucat tampak lebih sayu dari biasanya. Bodohnya lagi, Rama tidak peduli itu. Pikiran nya hanya ada Kinanti saat itu, aneka rencana ia susun untuk perempuan itu. Dari hal keji, dan cara manis ingin sekali ia coba.


Dengan lambat sepeda motor butut itu mulai melaju. Menapaki jalanan yang masih rata dengan bebatuan. Menembus, melewati hutan dan jalanan besar. Rumah bu lek nya Rama berada di kaki gunung Lawu. Memerlukan waktu yang cukup lama bagi Rama untuk sampai di sana. Apalagi hanya dengan sepeda motor tua yang jalannya saja sudah sangat lambat.


Kesedihan tak juga tinggal di rumah. Masih terbawa kemanapun Rama melangkah. Sepanjang jalan, ia tak henti menangis. Tak peduli meskipun ada mata-mata yang menatapnya dengan heran. Tak peduli dengan jenis kelaminnya, yang seharusnya ia terlihat lebih tegar dari Kinanti, tapi nyatanya dia sangatlah lemah.


Hampir satu jam, akhirnya Rama tiba di rumah bu lek nya. Kedatangannya di sambut hangat oleh perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan ibu Rama tersebut. Senyumnya hangat, membawa ketenangan bagi setiap pasang mata yang mendapati.


"Assalamualaikum bu lek..."


Rama mengulurkan jemari tangannya, yang langsung di sambut oleh bu lek. Ia merunduk, mencium punggung tangan yang mulai berkeriput itu dengan sopan.


"Wa'alaikum salam, nak. Bagaimana kabarmu le ?"


"Alhamdulillah, sehat bu lek. "


"Ayo, masuk..."


Bu lek merangkul Rama penuh kasih. Layaknya seorang ibu dan anak kandungnya sendiri. Begitu lah sikap adik dari Ibu Rama, ia selalu menganggap keponakannya itu seperti anak yang ia lahirkan sendiri. Caranya bertutur juga sangat lembut, bahkan lebih baik di banding ke anak-anaknya sendiri.


Setelah berbincang sebentar, bu lek berpamitan untuk ke belakang menyiapkan makanan. Ada Ranti yang juga membantunya. Sementara Arya, ia masih berkerja di luar dan belum kembali ke rumah sebelum hari menginjak sore. Bahkan, terkadang sampai malam hari.

__ADS_1


Seperti kebiasaannya di rumah, Rama enggan untuk mengambil makanan sendiri. Harus ada yang sabar menyajikan makanan untuknya. Nasi, lengkap dengan sayur dan lauknya, baru ia akan memakannya dengan lahap.


Ada perasaan kasihan yang timbul di hati Ranti dan bu lek nya. Melihat Rama makan dengan lahap, mereka menerka waktu yang Rama buang puluhan tahun kemarin hanya untuk mengabdi pada istri durhaka. Rama jarang sekali di kasih makan, apalagi bekal jika ia sedang bekerja.


Seperti di rumah sendiri, Rama tidak sungkan untuk melakukan aktivitas apapun yang ia kehendaki. Bu lek dan Ranti, juga Arya yang baru saja tiba di rumah memaklumi kondisi Rama.


***


Beberapa hari kemudian.


"Hiks....hiks....hiks..."


Waktu baru menunjukkan pukul 03:00 dini hari. Arya yang mendengar suara sesenggukan seseorang segera bangun dari tidurnya. Jantungnya berdebar kencang, karena suara yang terdengar semakin keras dan pilu. Harusnya, orang-orang masih nyenyak dalam tidur di jam segitu. Ranti juga tampak pulas di sampingnya.


"Mas Rama ?" Tegus Arya kepada Rama yang sedang duduk di sofa depan televisi.


Bu lek yang juga kaget mendengar tangis beserta jeritan, segera keluar dari kamar dengan mata yang masih berat untuk di ajak bangun.


"Enek opo to Ram ?" tutur bu lek dengan lembutnya. Ia menyalakan lampu, lalu duduk di sebelah Rama.


Rama sudah larut dalam tangisnya. Air mata yang menetes tak bisa lagi di sembunyikan. Kesedihan yang tergambar di sana, sudah susah di hapus dari dasar hatinya.


"Bu lek, kalau istri durhaka sama suami itu dosa kan ?" tanya Rama dengan wajah sedih. Nada bicaranya seperti anak kecil, yang sedang memohon pembelaan dari orang tuanya.


"Iya Ram, dosa...."

__ADS_1


"Kalau istri berani sama suami itu juga dosa kan bu lek ?" tanya Rama lagi, tanpa mengalihkan pandangan dan merubah caranya bertanya.


"Dosa Rama. Wes, iki sek isuk, ayo tidur !" bujuk Bu lek.


"Bu lek, aku mau ke Surabaya lagi, aku mau bunuh saja Kinanti. "


"We ngomong opo to Ram ! "


"Dia sudah durhaka bu lek, biar Rama bunuh saja. Rama tidak akan dosa kan bu lek ? Kinanti yang durhaka. "


Miris memang, bersabar dalam mencintai, bersabar dalam penantian, semua butuh waktu, dan tidak hanya dalam hitungan jari. Cinta Rama yang besar, sedikitpun tidak mendapatkan pengakuan dari Kinanti. Rama di rundung gelisah, hatinya panas, pikirannya kalut. Ia tidak tahu, apa yang harus ia lakukan. Tekatnya kuat, ia hanya ingin tetap bersama Kinanti. Padahal, Kinanti sedang berbahagia merayakan perceraian nya dengan Kinanti.


"Badanmu itu kecil le ! Lihatlah, Kinanti lebih besar darimu. Kamu mau bunuh dia, sing enek awakmu di bunuh duluan sama Kinanti. Sadar Rama !"


"Mas, ambil wudhu deh, coba sholat . Pasrahkan semua sama Allah. Mau sampai kapan sampean seperti ini ?" Imbuh Arya yang masih berdiri di ambang pintu kamar.


Rama mengangguk, lalu melakukan apa yang Arya sarankan. Raganya berserah, entah bagaimana dengan hatinya. Hanya Rama dan Allah yang tahu. Setelah selesai sholat, Rama mengangkat tangan, memohon kepada Allah dengan suara berat karena tangisnya kembali pecah.


Tiga puluh menit, Rama larut dalam syair doa yang ia senandungkan. Setelah selesai, ia keluar dari tempat ibadah dan kembali menemui bu lek dan Arya. Duduk kembali di sofa panjang. Hening, hanya isakan tangis Rama yang menggema dan memecahkan kesunyian malam.


"Wes ayo turu, sama bu lek ya." Bu lek menggandeng tangan Rama, dan membawanya ke kamar.


'Mungkin, kalau ada temannya tidur, Rama iso luwih tenang' gumam bu lek dalam hati.


Semua kembali ke kamar masing-masing. Bu lek tidur bersebelahan dengan Rama. Seperti anak kecil, Rama meminta agar bu lek nya memeluk ia dengan erat. Ada rasa takut dalam hatinya, bayang-bayang buruk bergerilya bebas di dalam angan.

__ADS_1


__ADS_2