
"Sampean bisa kan di pegang omongannya ?"
Nurin kembali menguatkan keraguannya . Sebelum Rama kembali ke kampung, ia sudah berpesan banyak hal . Terutama untuk tidak lagi kembali ke Surabaya hanya karena satu nama yaitu 'Kinanti' .
"Iya, mas janji kali ini ."
Begitu manis dia mengatakan hal demikian . Seolah memang telah yakin akan keputusan besarnya kali ini .
Sama seperti sebelumnya, Rama naik ojek langganan Nurin . Ia juga di bekali uang oleh adiknya .Begitupun urusan Bis, semua sudah diurus oleh Nurin juga .
Perjalanan kali ini terasa lebih cepat . Tidak seperti sebelumnya,yang seakan roda bis berputar di poros yang sama .
--
"Dir ? kamu kenapa sih beberapa hari ini lemes banget . Biasanya paling heboh dah "
Tegur salah satu teman sekelas Nadira . Gadis itu, memang beberapa hari ini terlihat lesu . Jangankan untuk bercengkrama dan bercanda dengan teman-temannya . Untuk mengikuti pelajaran pun Nadira terlihat ogah-ogahan.
__ADS_1
Semenjak mendengar berita tentang perpisahan kedua orang tuanya, Nadira memang sedikit berbeda . Ia tak seceria biasanya karena menanggung banyaknya beban .
Pikirannya semakin kacau jika dia mengingat adik-adiknya. Kedua bocah yang seharusnya masih mendapat kasih sayang orang tua yang lengkap, tapi mereka harus merasakan pahitnya kehilangan sedari kecil .
"Dir ?"
Annisa menyenggol lengan Dira , menyadarkan dia dari lamunan yang membuat teman-teman nya menunggu .
"Kenapa ?"
Masih dengan polosnya, Nadira memang benar-benar tidak mendengar apa yang mereka katakan sebelum ini .
Nadira dan Annisa bertatapan mata . Seakan memberi kode agar hal besar yang sedang menimpa keluarganya tidak Annisa bocorkan . Cukuplah dia yang tahu, dan semua akan segera berlalu .
"Dira kurang tidur . Semaleman dia gadang"
"Kangen pacarnya ya ?"
__ADS_1
Teman-teman Nadira memang pandai menghibur . Mereka bersaut-sautan untuk meledek Nadira . Menggelitiki ringan dengan nada candaan . Alhasil, gadis itu bisa terlihat tersenyum bahkan tertawa lepas .
Jam pelajaran sama lamanya seperti biasa . Bahkan untuk Nadira,hari itu berlalu sangat lah lambat, lebih dari biasanya . Berkali-kali dia melirik jam dinding yang terpajang di atas papan tulis . 'Itu jam abis batrei, atau memang bener jam segitu sih' umpat gadis itu dalam hati .
"Pak ?"
Nadira mengangkat tangannya . Memotong, penjelasan dari setiap materi yang guru sampaikan . Ia mengangkat tubuhnya dari kursi lalu meminta izin untuk ke UKS . Ia mengatakan jika sedang tidak enak badan dan tak sanggup memaksakan raga nya .
Mungkin itu hanya sbagai alasan nya saja . Bukan itu hal pokok yang membuatnya memilih tidak mengikuti pelajaran .
Jiwanya tidak sedang bersama raganya saat itu .Pikirannya melayang entah kemana, hatinya pun ikut risau tak karuan .
Ia berbaring di atas kasur di UKS sekolahnya . Menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala . Ia memilih miring dan menghadap ke tembok . Mengeja segala masa yang pernah dia lewati . Merangkai satu per satu hal yang sulit ia bayangkan sebelum ini .
Bibirnya sempat tersenyum pahit, namun air mata nya mulai mengalir membasahi pipi ranumnya .
"Jadi, kalau aku ingin ketemu ayah dan mama dalam waktu yang bersamaan , hanya akan ada di cerita fiksiku dan alam bawah sadarku "
__ADS_1
isak tangis yang ia tahan sedari tadi membuat dadanya terasa sesak . Ingin sekali ia menjerit, melepas segala kegundahan yang menyelimuti kalbunya . Menghapus duka yang lebih sering bersamanya . Menanam benih-benih suka yang selalu dia dambakan .
Ia adalah gadis kecil yang memimpikan kenyamanan . Kasih dan cinta yang tulus dari dua insan yang teramat ia sayangi . Melukis tawa dan indahnya dunia penuh kebersamaan . Kedamaian yang sejati tanpa rasa saling tersakiti .