Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Tak Seperti Biasanya


__ADS_3

"Sampean bisa kan di pegang omongannya ?"


Nurin kembali menguatkan keraguannya . Sebelum Rama kembali ke kampung, ia sudah berpesan banyak hal . Terutama untuk tidak lagi kembali ke Surabaya hanya karena satu nama yaitu 'Kinanti' .


"Iya, mas janji kali ini ."


Begitu manis dia mengatakan hal demikian . Seolah memang telah yakin akan keputusan besarnya kali ini .


Sama seperti sebelumnya, Rama naik ojek langganan Nurin . Ia juga di bekali uang oleh adiknya .Begitupun urusan Bis, semua sudah diurus oleh Nurin juga .


Perjalanan kali ini terasa lebih cepat . Tidak seperti sebelumnya,yang seakan roda bis berputar di poros yang sama .


--


"Dir ? kamu kenapa sih beberapa hari ini lemes banget . Biasanya paling heboh dah "


Tegur salah satu teman sekelas Nadira . Gadis itu, memang beberapa hari ini terlihat lesu . Jangankan untuk bercengkrama dan bercanda dengan teman-temannya . Untuk mengikuti pelajaran pun Nadira terlihat ogah-ogahan.

__ADS_1


Semenjak mendengar berita tentang perpisahan kedua orang tuanya, Nadira memang sedikit berbeda . Ia tak seceria biasanya karena menanggung banyaknya beban .


Pikirannya semakin kacau jika dia mengingat adik-adiknya. Kedua bocah yang seharusnya masih mendapat kasih sayang orang tua yang lengkap, tapi mereka harus merasakan pahitnya kehilangan sedari kecil .


"Dir ?"


Annisa menyenggol lengan Dira , menyadarkan dia dari lamunan yang membuat teman-teman nya menunggu .


"Kenapa ?"


Masih dengan polosnya, Nadira memang benar-benar tidak mendengar apa yang mereka katakan sebelum ini .


Nadira dan Annisa bertatapan mata . Seakan memberi kode agar hal besar yang sedang menimpa keluarganya tidak Annisa bocorkan . Cukuplah dia yang tahu, dan semua akan segera berlalu .


"Dira kurang tidur . Semaleman dia gadang"


"Kangen pacarnya ya ?"

__ADS_1


Teman-teman Nadira memang pandai menghibur . Mereka bersaut-sautan untuk meledek Nadira . Menggelitiki ringan dengan nada candaan . Alhasil, gadis itu bisa terlihat tersenyum bahkan tertawa lepas .


Jam pelajaran sama lamanya seperti biasa . Bahkan untuk Nadira,hari itu berlalu sangat lah lambat, lebih dari biasanya . Berkali-kali dia melirik jam dinding yang terpajang di atas papan tulis . 'Itu jam abis batrei, atau memang bener jam segitu sih' umpat gadis itu dalam hati .


"Pak ?"


Nadira mengangkat tangannya . Memotong, penjelasan dari setiap materi yang guru sampaikan . Ia mengangkat tubuhnya dari kursi lalu meminta izin untuk ke UKS . Ia mengatakan jika sedang tidak enak badan dan tak sanggup memaksakan raga nya .


Mungkin itu hanya sbagai alasan nya saja . Bukan itu hal pokok yang membuatnya memilih tidak mengikuti pelajaran .


Jiwanya tidak sedang bersama raganya saat itu .Pikirannya melayang entah kemana, hatinya pun ikut risau tak karuan .


Ia berbaring di atas kasur di UKS sekolahnya . Menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala . Ia memilih miring dan menghadap ke tembok . Mengeja segala masa yang pernah dia lewati . Merangkai satu per satu hal yang sulit ia bayangkan sebelum ini .


Bibirnya sempat tersenyum pahit, namun air mata nya mulai mengalir membasahi pipi ranumnya .


"Jadi, kalau aku ingin ketemu ayah dan mama dalam waktu yang bersamaan , hanya akan ada di cerita fiksiku dan alam bawah sadarku "

__ADS_1


isak tangis yang ia tahan sedari tadi membuat dadanya terasa sesak . Ingin sekali ia menjerit, melepas segala kegundahan yang menyelimuti kalbunya . Menghapus duka yang lebih sering bersamanya . Menanam benih-benih suka yang selalu dia dambakan .


Ia adalah gadis kecil yang memimpikan kenyamanan . Kasih dan cinta yang tulus dari dua insan yang teramat ia sayangi . Melukis tawa dan indahnya dunia penuh kebersamaan . Kedamaian yang sejati tanpa rasa saling tersakiti .


__ADS_2