
"Ghe, tapi ini..."
"Sudah, jangan banyak protes. "
",Ghea, terimakasih " Mata Nadhira mulai berkaca-kaca.
"Jangan nangis ! Nanti make up nya luntur loh." Sentil Ghea pada hidung Nadhira.
Ghea tersenyum genit untuk menggoda Nadira agar tak terlalu serius meluapkan perasaannya.
"Ayo ke dalam. Keburu malam." ajak Ghea. Ia menggenggam erat tangan Nadhira dan melangkah bersama ke dalam cafe.
__ADS_1
Ghea memang terkenal baik dan ramah. Ia sangat mudah bergaul tanpa membeda-bedakan kasta. Ia tak pernah memandang rendah teman-temannya yang kekurangan. Semua ia rangkul tak menganggap adanya perbedaan.
Acara telah di mulai. Canda, tawa, tangis haru mengiringi acara perpisahan mereka. Semua emosi bercampur aduk menjadi satu malam ini. Tidak ada yang tidak menikmati pesta kecil itu, semua larut menjadi satu. Bahkan, Ken yang masih duduk tak jauh dari tempat acara itu, tak melepaskan matanya dari Nadhira. Ia sempat terpesona saat Ghea membawanya masuk kembali ke dalam dengan keadaan yang sangat anggun. Wajah manisnya, cukup kontras jika di padu padankan dengan gaun indah milik Ghea.
Ken menyaksikan semuanya. Ia juga melihat saat Reyhan yang tak menyerah mendekati Nadhira, meskipun tak terdengar apa yang mereka bicarakan, tetapi terlihat jelas bahwa Nadhira berulang kali mencoba menghindar saat Reyhan mendekat.
Selesai acara, Ghea meminta Ken untuk mengantarkan Nadhira pulang terlebih dahulu. Setelah sampai di halaman rumah Dhira, ia meminta Dira untuk menyimpan pakaian yang Dhira pakai. Ghea ingin itu menjadi kenang-kenangan untuk sahabat kecilnya itu. .
"Tapi Ghe, ini pasti sangat mahal." tolak Nadhira karena merasa tak enak hati
spontan Nadhira menangis sejadi-jadinya. Ia sangat terharu dan bangga bisa bersahabat dan bertema baik dengan manusia sebaik Ghea. Ia bersyukur, karena Tuhan selalu memberikan 'obat' dari setiap lara yang ia peroleh.
__ADS_1
Ghea dan Nadhira berpelukan sangat lama. Mereka hanya bersahutan dalam isakan tangis tanpa berbicara lagi. Ghea tahu bagaimana perlakuan Kinanti pada sahabatnya itu, Ghea juga tahu semua prahara yang terjadi dalam keluarga Nadhira. Ia turut prihatin, dan memutuskan untuk selalu menjadi teman yang baik untuk Nadhira setelah mendengar kabar perceraian Kinan dan Rama.
Ken berpura-pura batuk karena menunggu terlalu lama. Ia hanya bisa diam, karena Ghea dan Dhira benar-benar tak menganggapnya ada. Kedua sahabat itu terlalu lama larut dalam salam perpisahan, sampai-sampai tak mereka sadari bahwa ada Ken yang sudah lelah menunggu.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya Ghe. terima kasih untuk tumpangannya." Ucap Nadhira sebelum keluar dari mobil.
"Di anggap sopir kali ya aku." Celetuk Ken yang tak terima Nadhira hanya berterima kasih sama adiknya saja. spontan Ghea tertawa lepas mendengar kejengkelan Ken.
Mendengar itu, Nadhira cepat-cepat meminta maaf dan mengucapkan terima kasih , lalu segera turun dari mobil. Ia masih melambaikan tangan, menunggu mobil Ghea melaju hingga tak lagi terlihat oleh matanya.
"Kakak sudah pulang ? hampir saja ayah susul ke cafe." ucap Rama yang tiba-tiba sudah berada di belakang Dira.
__ADS_1
Nadhira tertawa kecil, "Maaf ayah, Dira lupa memberitahu ayah kalau Dira pulang terlalu malam. "
"Ya sudah, yang pent sekarang kakak sudah pulang. Ayo masuk, kakak bersih-bersih terus tidur ya." Ucap Rama seraya merangkul pundak Dira dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.