
"mas Rama, tadi ibu telfon. Dia minta maaf karena ngga bisa datang sekarang"
"loh, kenapa Rin?"
"ibu kurang enak badan katanya"
Nurin, adik Rama memang juga tidak menyukai Kinanti. Dia sangat kesal ketika Rama membawa Kinanti main kerumahnya. Tapi, dia masih punya rasa sayang untuk Rama. Dia merasa tak enak hati dan memutuskan untuk menengok Kinan dan keponakannya yang tak berdasar kan darah.
"Sudahlah! Tak masalah kalau ibu sudah tidak menyayangi ku lagi"
"kok gitu? Ibu kan sakit mas, harusnya sampean telfon, tanya kabar. Bukannya mikir yang engga bener gitu"
Nurin memang anak yang berbakti. Dia tidak senang mendengar orang mencemooh ibunya, termasuk Rama.
"selamat ya mbak Kinan, semoga Nadira bisa tumbuh menjadi anak yang sholehah, berbakti, cerdas."
"aamiin, terima kasih tante"
Wajah bayi mungil ini redup dipandang. Mata Nurin tak terlepas darinya selama ia berada disana. Bu Wati yang sok baik padanya hanya sesekali ia tanggapi. Juga Anna yang sebenarnya sama dengan Kinan, tidak begitu suka dengan Nurin. Tapi, semua itu ia abaikan dan tak diambil hati.
"ya sudah ya Mas, Nurin pulang dulu. Mas, baik-baik deh, jangan lupa nelfon ibuk kalau Mas masih sayang"
Nurin beranjak dari depan pintu ruangan Kinan. Ia membiarkan Rama yang masih berdiri disana dengan tenang. Entahlah, apa yang menyesakkan dadanya, memenuhi pikirannya. Yang jelas, dia berwajah masam dan kesal.
__ADS_1
--
Rama menyeret kakinya dalam lamunan, pikirannya kalut sore itu. Hatinya ingin sekali marah dan berontak pada sang ibu yang baginya 'banyak alasan'. Tapi logikanya menolak, walau bagaimana pun dia tetaplah ibu yang telah melahirkan dan membesarkan dia.
Kali ini, dia semakin berani kepada orang tuanya. Tidak lagi takut dengan dosa apalagi karma. Dia juga lupa kalau ibu itu bisa saja mengutuknya. Jadi batu misal, e-eh!
Semua berawal dari ketertekanan batin yang menyiksa. Dia teramat mencintai Kinanti, tapi wanita itu justru menjadi anak mami dirumah nya. Dia sangat egois dan galak, sifatnya juga mewah padahal tidak ada yang bisa dibanggakan darinya.
"tumben bro, ngga bawa sepeda ontelmu?"
"iya, tadi aku dari klinik tempat Kinan dirawat langsung kesini"
"oh, gimana udah lahir? Sehat?"
"syukurlah! Cantik apa tampan ni?"
"cantik!"
Diro adalah teman dekat Rama jika dipabrik. Dia selalu membantu Rama tanpa sepengetahuan atasan jika Rama mengalami kesulitan. Dia juga orang yang tahu betul bagaimana keseharian Rama, perasaan Rama. Dia juga paham bagaimana Kinanti. Tapi itu bukan porsi dia untuk ikut campur.
Yang dia tahu, Rama mencintai wanita itu. Dia juga menganggap gadis yang baru berumur dua hari itu darah dagingnya.
--
__ADS_1
Rama POV
Selalu ada suka dan dukanya dalam jalan yang kita pilih. Yang terlihat halus belum tentu tidak licin. Dan yang berkerikil belum tentu selalu sulit.
Ya ini jatahku, takdir yang sudah aku pilih. Aku menikah dengan wanita yang aku cintai dengan jalan yang tidak halus. Dia kini sudah melahirkan anak dari mantan nya, ah! Dia anakku! Dan dia sangat cantik jelita.
Nadira, anak ayah! Kamu pelita dalam gelapnya dunia ayah. Siapapun yang sudah mencetakmu didalam rahim Kinanti, tapi kamu tetaplah anak ayah. Apapun yang terjadi kamu tetap milik ayah.
Lihat lah nak, Ayah bisa bekerja dengan cepat,dengan benar dan tidak merusak banyak produk lagi. Ayah juga lebih semangat karenamu, entahlah! Apa yang membuat ayah sebegini sayangnya sama kamu.
"lembur Ram?"
Suara yang tak asing bagiku itu yang membuyarkan lamunanku. Tentu saja dia Diro, siapa lagi kalau bukan dia yang menyapaku seramah itu.
Percayalah, sudah dua tahun lebih bekerja dipabrik ini, tapi tidak ada teman selain Diro. Dia ini pribadi yang tidak pemilih. Jadi, dia mau saja berteman denganku walau mungkin berawal dari kasihan sih.
"iya pinginnya. Tapi kok udah kangen aja sama dira"
"heh, lembur ngga? Aku mau absen ni!"
"emmbh... Iya deh. Sekalian ya"
Ya begini lah aku, Nadira hanya tameng sebenarnya. Tapi aku juga rindu dengan istriku. Aku khawatir jika dia kerepotan. Kan dia hari ini pulang kerumah. Apa Anna masih disana? Mbak santi? Atau mba wulan? Ah! Paling juga ibu disana. Sudahlah, yang mereka perlu kan hanya uang,bukan aku!
__ADS_1
Miris memang, rasanya tepat sekali dengan syair ada uang abangku sayang, ngga ada uang abang ku tendang. Huhuhu,nasib.