Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Menyetujui


__ADS_3

Di meja makan yang besar ini, ada semua anggota keluarga kecuali Santi yang sedang tugas keluar kota . Banyak anggota keluarga, tapi tidak satupun berbicara . Kedua bocah yang masih terlalu kecil itupun salah memahami keadaan. Mereka berdiam, dan parahnya kan, dan tidak mengeluarkan guyonan-guyonan ciri khas keduanya .


Masakan yang seharusnya terasa lezat, seolah hambar tiada rasa . Nadira , membolak-balikkan sendok dan garpu nya. ya, seperti ada harta yang dia cari di tumpukan nasi yang telah diambil di piringnya.


"Kak, kenapa enggak dimakan? "


"Nadira tidak sedang lapar yah"


Tidak ada makanan yang keras untuk dipotong sebenarnya, tapi entah mengapa Kinanti mempertemukan sendok dan piring dengan begitu keras. Membuat bunyi gaduh yang tidak mengenakkan telinga .


"Nadira ,pergi dulu ya yah , Ma . ada janji sama temen"


tidak ada yang menjawab kecuali anggukan dan sambutan uluran tangan karena dira mengulurkan tangannya untuk bersalaman .


'Dira capek aja tiap hari harus lihat seperti ini. Maafkan dira, kali ini Dira harus bohong .' Nadira sempat melirik kedua orang tuangnya sebelum benar-benar keluar rumah untuk mencari suasana baru .


Rama menyelesaikan makannya dan segera bergegas masuk kamar. Sebenarnya hatinya sedang bimbang , bingung sekali dengan pilihan yang harus dia putuskan saat itu juga .


seharian penuh di habiskan waktunya untuk mondar-mandir memikirkan hal yang sama. tidak ada kesibukan lain selain berfikir , berfikir dan terus berfikir.


"Bagaimana mas, kamu sudah memikirkan semuanya? "

__ADS_1


"Kin aku boleh meminta waktu lagi darimu?"


"ah, kamu selalu aja seperti itu. kamu itu laki-laki mas, seharusnya bisa lebih cepat memutuskan."


"Kinaaan ......"


"Mas !"


Kinanti menatap Rama dengan tajam matanya melotot seperti mau keluar. bagaimana bisa melawan melihatnya saja ia tidak sanggup, sorot mata itu benar-benar menekan batinnya.


"oke baiklah! mas akan resign"


"kamu serius?"


"ya ! asal kamu bisa bahagia, mas akan melakukan apapun untukmu"


Rama memaksakan mulutnya untuk tersenyum , padahal dia tahu betul bagaimana keadaan hatinya kala itu. tapi, nalurinya selalu saja mementingkan Kinanti Kinanti dan Kinanti.


bisa tertebak, bagaimana respon Kinanti . tentu saja, dia langsung memeluk Rama dengan sangat erat, menciumnya berulang kali bahkan bertubi-tubi. Kinanti sangat girang benar-benar girang .


"tapi, ada syaratnya Kin !"

__ADS_1


"syarat? kamu nggak ikhlas mas ?"


"bukan ! bukan seperti itu Kinanti ! mas mau, setelah ini kita buka usaha di kampung . kita temani ibu di kampung "


" hah ? kamu yang bener saja dong mas ! kamu tahu sendiri kan gimana ibu mu sama aku. dia itu nggak suka sama aku, sama Nadira yang jelas-jelas cucunya sendiri aja begitu benci."


"apa kamu tahu gimana ibu kamu terhadap aku. apa dia suka? apa dia bisa menerima aku sepenuhnya ? enggak kan Kin? sama ! "


"beda dong mas!"


"di mana bedanya Kin ? tertekan? aku juga tertekan selama belasan tahun tinggal di sini!"


Kali ini Kinanti memilih diam tanpa bicara. mungkin karena bicaranya Rama itu bermodal duit .Maksudnya bukan bicara terus ngeluarin duit ya, tapi saat Rama menyetujui permintaan Kinanti untuk resign, Kinanti akan menerima puluhan juta duit.


"bagaimana Kin? "


"oke baiklah ! aku setuju"


baru kali ini Kinanti menyetujui permintaan Rama . sebelumnya jangankan melakukan, mendengar saja dia tidak pernah sudi.


Rama segera menyiapkan berkas untuk pengunduran diri . Dia mencoba ikhlas, walaupun tanpa ia sadari air matanya telah mengalir deras di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2