Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Kembali


__ADS_3

" kamu mau kemana to Ram ? "


suara tanya dengan nada bersedih itu menghentikan kegiatan tangan Rama . walau dia tidak menoleh ke sumber suara, tapi ia tahu jika ibunya telah menangis di belakang nya .


"Kinanti mau kita ngekost bu ."


"kamu nggak kasihan to Ram sama ibu ?"


"Nurin kan juga jarang pulang, mbok ya kamu di sini aja nemenin ibu ."


"maafin Rama buk, tapi ini juga demi kebaikan kita."


Kinanti mendatangi keduanya , ia tak ingin Rama terpengaruh dengan airmata ibunya . Ia dengan cepat, mengatakan jika dia benar-benar sudah tidak betah tinggal dirumah itu .


Dan lagi-lagi, Rama hanya berdiri mematung. Ia tak ada keberanian untuk berteriak agar Kinanti tak lagi bersuara .


Jikalau ia mau jujur, sesungguhnya hatinya sangat hancur dan sakit melihat ibunya merasa tersisih dihadapan nya .Tapi kembali lagi, ia hanya akan menimbulkan masalah baru jika dia membela ibunya .


Dengan hati yang berat , namun ia tetap terlihat tegar di mata ketiga buah hatinya . Begitu pun, saat ia menolak dengan jelas rengekan ibu dan juga putri sulungnya . mereka meminta, untuk tetap tinggal dirumah tua itu .


--


"kak, temen kakak yang menyewakan kamarnya kemarin, masih tersedia? "

__ADS_1


Kinanti memecah kesunyian diantara mereka . Dengan nafas yang tak beraturan, mereka berteduh dibawah pohon pinggiran terminal .


Nadira menatap heran pada Kinanti, ia yak sanggup membayangkan jjka kamar kecil yang temannya sewakan akan mereka tempati berlima .


"ngga usah gitu liatnya . Mama cuma mau kamu tinggal disitu . Ayah,mama dan adik-adikmu akan kembali ke Surabaya "


Nada bicaranya tidak sedikitpun memperlihatkan kesedihan .'heh, sepertinya mama sudah mengatur ini sebelumnya' begitulah kalimat yang sempat Nadira pikirkan .


Nadira kembali menatap bawah, ia menggoyangkan kakinya yang menggantung karena tempat yang ia duduki terlalu tinggi .


Tidak ada sepatah jawaban , seolah ia sudah menyiapkan mental untuk tidak kaget dengan segala kelabilan ibundanya .


"Kak ..."


Nadira mencoba tersenyum diatas kecewa yang tersirat . Ia memang kesal dengan keputusan Kinanti yang tidak dewasa . Umur memang tidak bisa menjamin pola pikir dan perilaku seseorang .Tapi, kali ini Kelakuan Kinanti sungguh membuat Dira sangat kecewa . Bahkan, ia merasa tidak dianggap sebagai anak paling sulung .


"Ayah harus pastiin kalau kamu beneran tinggal dengan temanmu !"


'kuharap,Ayah bisa lebih tegas setelah ini' Batin Nadira kembali menjerit . Matanya menulis dengan bahasa yang lembut, hanya dia dan hatinya lah yang tahu .


"Dira, mau ke toilet dulu "


Ia berbalik dan berjalan membelakangi keluarganya . Bukan sengaja bersikap acuh dan kurang ajar, Dira hanya ingin menyembunyikan air mata nya didepan Ayah dan mamanya .Ia tak ingin, jika mereka melihat betapa lemahnya dia saat itu .

__ADS_1


Didepan kaca yang berdebu itu, terlihat jika pipi gadis itu mulai basah, matanya pun sangat sulit untuk ditebak . Ia mencoba menegakkan tubuhnya dan berkali-kali menarik nafas panjang .


Mungkin, harapannya kala itu hanya satu, yaitu kuat .Ia hanya ingin kuat berada ditengah-tengah keluarga yang tidak bisa dia baca situasinya .


Sa, aku mau ngekost di rumahmu .kamu bisa jemput aku sekarang di terminal ?


Pesan singkat itu telah berhasil dan terbaca oleh Anisa,sahabat dekat Nadira . tidak berselang lama , gadis di sebrang itu mengatakan siap dengan sambutan yang gembira .


Tidak panjang memang pembicaraan keduanya, karena sebelum ini mereka pernah membahasnya . Dan Dira hanya menjawab akan memikirkan ini setelah keadaan rumah tenang .dan nyatanya ? seperti ini yang terjadi .


--


"Hei Dir . kamu kok dadakan banget bilangnya , aku belum beresin dah tu kamar ."


Anisa sedikit protes , tapi ia tetap hangat menyambut Nadira .


"kamu abis nangis ya ?"


kembali, ia menaruh curiga dengan mata bengkak sahabatnya .Ia sangat tahu Nadira, si gadis cantik yang ceria .Ia tidak akan terlihat murung jika masalahnya tidak sangat berat .


"Ayahku ingin bicara denganmu "


Nadira mengayun kakinya , ia sama sekali tidak menggubris pertanyaan Anisa . langkahnya cepat dan pasti, Diikuti Anisa yang masih berusaha memecah rasa curiganya .

__ADS_1


__ADS_2