
Memang benar kata kebanyakan orang, rumah tangga Rama sudah tidak akan bisa di pertahankan. Allah memang sangat membenci perceraian, tetapi mungkin tidak untuk kondisi yang seperti Rama alami. Rama tidak akan sanggup tersiksa batin seumur hidupnya, begitu pula dengan Kinanti. Kebencian yang terus Kinanti tunjukkan, tak sebanding lurus dengan cinta suci yang Rama bungkus indah dengan balutan doa.
Rama membaringkan tubuh di karpet yang tergelar di ruang keluarga. Televisi masih ramai menyiarkan sebuah berita, tetapi pandangan mata Rama tetap kosong. Ia tidak benar-benar menonton televisi yang ia nyalakan. Otak dan logikanya berpikir keras, ia sedang menerka, dan memikirkan akan nasibnya dana anak-anaknya kelak. Bagaimana nanti ? Esok ? Lusa ? pertanyaan-pertanyaan seperti terus berputar-putar di atas kepala rama. Membuatnya kesal dan memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Ram, telepon mu bunyi terus, tidak diangkat ?"
Ibu keluar dari kamar karena mendengar ponsel Rama yang berulang kali berdering. Anehnya, masalah yang Rama hadapi menutup rapat telinganya, hingga ia tak sadar ketika ada panggilan masuk.
"Siapa ?" Ibu duduk bersimpuh di samping Rama. Berusaha mencari tahu tentang seseorang di seberang telepon yang tidak kunjung menyerah menghubungi Rama. "Siapa le ? Nadira to ?"
Rama beranjak duduk lalu beralih menatap mata sendu Ibu. Ponsel di genggaman tangannya itu ia biarkan berdering setelah tahu siapa yang berusaha menghubungi nya.
"Siapa Ram ?"
Ibu mengulang pertanyaan yang sama. Ia tidak puas jika hanya melihat reaksi Rama. Rasa penasaran yang berada di dalam hatinya belum berakhir. Masih mendobrak kuat, membuatnya terus melontarkan pertanyaan yang serupa.
"Kinan buk..."
Rama menjawabnya dengan lemas. Bahkan bibirnya hampir tak bergerak. Hatinya sakit ketika membaca nama itu yang menghubunginya.
"Untuk apa perempuan durhaka itu masih menghubungi mu ?"
"Sudah, gak usah di jawab !"
Ibu masih tidak bisa mendengar nama perempuan itu di sebut. Ia benar-benar membenci Kinanti, dan semua yang bersangkutan dengannya.
"Jangan kotori hp ibu dengan suara perempuan itu ! Ibu tidak suka ! Ingat ya, hp yang kamu pakai sekarang, itu milik ibu. Jika kamu gunakan untuk berhubungan dengan dia, ibu tidak akan meminjamkan lagi untuk kamu !"
Rama termenung, ia tidak berani berkutik. Ponsel di genggaman tangannya memang milik Ibu, dan Kinan juga menyimpan nomernya. Jadi, tidak heran jika banyak orang yang tiba-tiba tahu dengan nomer ponsel Ibu.
Dulu, Rama sengaja meninggalkan ponselnya di rumah Nurin, di Surabaya sana. Ia berharap dengan tidak memegang ponsel, ia akan lebih cepat melupakan Kinanti. Tidak ada pembicaraan, atau sekedar keinginan untuk menatap foto yang tersimpan. Jadi, Rama berpikir dia akan lebih mudah melupakan kenangan yang hampir 20 tahun mereka arungi. Nyatanya, semua gagal. Justru hening nya suasana membawa kenangan demi kenangan kembali terbaca dengan jelas.
__ADS_1
Sudah hampir satu jam, ponsel di sebelah Rama duduk itu tidak berhenti berdering. Masih menampilkan nama yang sama, dan selang waktu yang sama.
"Biar Ibu yang angkat !"
"Jangan bu, Rama mohon !"
Rama segera meraih ponsel sebelum Ibu mengambilnya terlebih dulu. Mereka saling beradu pandang, tetapi dalam rasa yang berbeda, tingkat kekesalan yang tak sejenis, rasa takut yang tak sejalan.
"Ibu harap kamu bisa mengerti perasaan Ibu untuk sekarang Rama !"
Ibu berlalu dari hadapan Rama. Ada rasa kecewa yang menyeruak. Kristal bening yang tampak di sudut mata menambah keyakinan Rama bahwa Ibu benar-benar sakit hati karena hal sepele ini.
Rama beralih menatap layar ponsel, ada pesan singkat yang Kinanti kirim. Pesan yang memerintahkan ia agar mengangkat telepon itu. Pesan yang bernada mengancam akan nasib Kevin dan Allena.
"Hallo ?"
"B a j i n g a n ! Kamu mau lari dari tanggung jawab mu ? Kenapa tidak angkat telepon ku dari tadi ?"
"Ada apa Kin ? "
"Kamu balik ke Surabaya sekarang juga, kamu urus semua surat-surat cerai kita."
"Aku ? Kin, kamu tahu aku tidak ingin bercerai denganmu. Jadi, aku tidak mau mengurus semuanya. Aku mau kita....."
"Aku mau kita cerai Rama ! Aku tidak cinta sama kamu. Aku akan segera menikah dengan Abbas."
Rama bungkam. Ia masih sama seperti kemarin-kemarin. Tidak berani membantah Kinanti dengan bahasa yang lebih kasar. Ia takut menyakiti hati wanitanya. Meskipun wanita yang berusaha ia lindungi, justru sedang berbahagia dengan menancapkan ribuan duri pada hati Rama.
"Kenapa diam saja ?"
"Rama !"
__ADS_1
"Aku harap kamu bukan seorang pengecut !"
Kinanti menyudahi telepon. Tepat di saat Ibu keluar dari kamar. Rama hanya berpura-pura tidur dengan memeluk ponsel itu. Membiarkan Ibu melewati nya tanpa menaruh rasa curiga.
Padahal, di dalam pejaman matanya, Rama sedang berpikir. Apa yang perlu ia lakukan ? Bahkan, dia sendiri terlalu sulit untuk memecahkan semua hal yang berkeliaran bebas di dalam logika.
Semua tidak ia inginkan, tetapi cinta yang ia miliki sudah tak wajar. Bagaimana bisa ia mengatasnamakan Allah sebagai dasar cinta yang ia berikan kepada Kinanti, padahal cinta yang ia berikan untuk Kinan sudah melebihi segalanya. Tidak ada hal lain yang bisa menggeser posisi Kinan di dalam hati. Termasuk ketika anaknya sekalipun.
******
Sudah berhari-hari, Anna datang ke rumah Kinanti. Ia berusaha menghibur Ibu tiga anak itu, atas konflik panjang yang sejatinya berawal dari dirinya sendiri. Ia mempersulit jalan yang Allah mudahkan untuknya sebelumnya.
"Aku juga sudah coba kirim pesan untuk Rama."
"Aku saja tidak di dengar An, apalagi kamu."
"Kenapa kamu tidak urus surat cerai mu sendiri saja ? Toh, akan lebih mudah. Kamu tidak perlu kesal dan marah-marah sama laki-laki bodoh itu. "
Kinan yang berdiri membelakangi Anna, kini berbalik badan dengan cepat. Kedua tangannya masih nyaman berada di pinggang. Tatapan matanya tajam, mengintai Anna. Layaknya harimau, yang siap menerkam mangsa.
"An, kamu pikir mengurus semua itu tidak butuh uang ? Dari mana aku dapat semuanya dalam waktu singkat ? Kamu gila ? Aku sudah tidak punya barang berharga lagi sekarang."
"Abbas ?"
"Beberapa hari ini, dia sulit sekali di hubungi. Dia bilang, ada kerjaan di luar kota."
Anna bangkit dari atas kursi rotan yang ia duduki. Berjalan lambat menghampiri Kinanti yang kembali berdiri di balik jendela rumah.
Sama seperti Abbas meninggalkan nya dulu, ia terlihat sangat kusut dan tak terurus. Wajah dan rambutnya sangat berantakan. Pakaian nya, tak sebersih yang biasa ia kenakan. Tidak ada make up tebal yang menghias wajahnya.
Namun bedanya, Kinanti tidak sedang merasa kehilangan Rama, tetapi kehilangan sumber keuangan yang bisa ia manfaatkan setiap saat.
__ADS_1
"Aku akan membantumu menghubungi Rama. Aku akan ancam dia, sampai dia mau mengirimkan uang untuk anak-anaknya." Seru Anna seraya mendekap tubuh Kinanti.