Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Sebuah pesan


__ADS_3

"Ya Allah...."


Tak terasa, air mata Ibu telah menetes membasahi kedua pipinya yang tampak tirus dan berkeriput. Tangisnya pecah, tetapi ia tahan-tahan karena takut Rama mengetahui nya.


Dalam hembusan nafasnya saat itu, ia hanya menyerukan nama anaknya. Mengharap anak sulungnya itu segera mengiklaskan perpisahan nya dengan Kinanti. Membuang pikiran untuk kembali, merajut kasih dengan wanita yang tak pernah memberikan hatinya untuk Rama. Ya, Ibu hanya berharap tentang itu, ia tidak lagi memiliki angan yang lebih dari kata ikhlas yang terlahir dari batin Rama.


"Yo wes, aku gak iso lama neng kene. Yang penting, kamu jaga terus Rama, ojo sampe dia berbuat si ora-ora."


Bu lek menepuk pundak Ibu, membuat perempuan itu menarik nafas panjang, melerai setiap duka yang tersemat di dasar hati. Ibu berusaha tenang, mengusap deraian air mata bukti betapa nelangsanya ia akan nasib yang melanda sang putra. Kasihnya tulus, tetapi Rama lebih takut kehilangan Kinanti, dari pada perempuan tua yang telah melahirkannya, membesarkan nya dengan kasih yang tak pernah terbagi. Perempuan yang tidak pernah pilih kasih antara dirinya dan Nurin.


Ibu mengikuti langkah kaki bu lek yang sudah melangkah keluar menemui Rama dan Arya. Berlaku biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Membaur dalam pembicaraan Rama dan Arya seolah sedang tidak menyembunyikan apapun dari diri Rama.


Arya memilih diam tidak berkomentar apapun tentang hal yang ia ketahui. Sesuatu yang ia tangkap dari apa yang ia lihat. Prasangka nya memang tepat, tapi Arya memang salah satu orang yang memilih bungkam mengenai urusan orang lain.


*****


Tidak ada yang beda putaran jam antara hari ini dan kemaren, bahkan untuk nanti sekalipun. Hanya, kesendirian yang meliputi jiwa Rama yang membuatnya melambat. Seolah terpaku di tempat yang sama. Jenuh, kesal, sesal, semua seakan hadir secara bersama di hadapan Rama. Membuatnya bergairah untuk memberontak dan melawan takdir yang ia terima.


Wajahnya yang teduh, kini lebih sering terpampang lesu. Kepedihan yang belum juga bisa ia ikhlaskan, sakitnya rasa yang tak kunjung menemui obatnya, benar-benar membuat Rama semakin gila di kekang masa.


Dering ponsel yang ia letakkan di samping tempatnya duduk, membuat lamunan buruknya buyar, hilang dan merangkak ke tempatnya masing-masing.


Rama menautkan kaca mata tebal ke matanya, mendekatkan ponsel agar lebih mudah untuk tertangkap indera penglihatan nya.


"Hallo....."

__ADS_1


"Halo, Rama ?"


"Pak Burhan, ada apa ?"


Tidak biasanya pak Burhan menghubungi Rama melalui ponsel. Apalagi setelah ia berpamit untuk berhenti kerja.


"Bekerja dimana sekarang Ram ?"


"Rama masih di rumah pak."


"Ram, aku mau bilang sesuatu, tapi bingung dari mana mulainya."


Rama hanya terpaku di ujung telepon. Ia mendengar apa yang pak Burhan sampaikan dengan teliti. Meresapi kata demi kata yang tidak ia harapkan sampai di telinganya dari bibir orang lain. Ya, semua menyangkut Kinanti. Menurut pak Burhan, perempuan itu mendatangi nya dengan isakan tangis. Ia juga membawa kedua anaknya yang masih kecil untuk melengkapi sandiwara. Perempuan dengan badan lebih berisi di banding Rama itu tak henti-hentinya menangis. Menghabiskan seluruh air mata untuk terlihat menderita di depan pak Burhan.


Rama merenggangkan pegangannya pada ponsel begitu pak Burhan selesai bicara. Ia memutus telepon tanpa permisi. Membiarkan pak Burhan memanggil-manggil nya secara berulang di sudut telepon.


Rama mengusap kepalanya. Mencengkram nya dengan sisa-sisa energi yang ia punya.


"Tuhaaaaan, apa salahku ? Kenapa harus aku ? Kenapa Tuhan ?"


Tangisnya, keluh kesahnya, begitu dalam ia ucapkan. Air mata yang tak ia pinta, kini sudah mengalir bebas dari sudut mata.


Ia bisa saja menahan diri untuk tidak kembali bekerja, meskipun pak Burhan mengatakan itu semua Kinanti yang minta. Tapi, bagaimana dengan Kevin ? Bagaimana dengan Allena ? Dua malaikat kecilnya, tak mungkin ia biarkan terlantar di luaran sana. Rama tak akan pernah tega melihat anak-anaknya kelaparan.


Bagaimana jika Kinanti membiarkan mereka begitu saja ? Melepas tanggung jawab, sama seperti nya ? Membiarkan keduanya meringkuk karena menahan lapar ? Bagaimana jika.......Ah ! pikiran itu terus saja menghantui Rama. Berputar, membuat kepalanya semakin pusing karena tak bisa menahan diri.

__ADS_1


kling....kling....


Belum usai berpikir, ponsel Rama kembali berdering. Kali ini bukan sebuah panggilan masuk, melainkan dua pesan yang masuk secara bersamaan. Dengan tangan yang masih gemetaran, Rama mencoba meraih ponselnya lagi. Membuka kunci layar yang ia sematkan, lalu langsung membuka pesan yang masuk.


Ada nama Pak Burhan, dan Anna di barisan pesan yang belum terbuka. Rama menarik nafas dalam-dalam sebelum meyakinkan diri untuk melihatnya. Ia takut, jika pesan itu akan membuatnya kembali kesulitan meredam diri.


"Ram, ini istrimu gak mau pulang." Tulis pak Burhan. Ia juga menyematkan foto Kinanti yang sedang merunduk menyembunyikan wajahnya. Di sana juga terlihat Allena dan Kevin. Sama seperti yang pak Burhan ceritakan sebelumnya. Sungguh miris hidupnya sekarang. Pak Burhan juga pernah bercerita jika Kinanti sekarang bekerja di sebuah kantin di sekolah swasta. Ia membawa Allena, meskipun anak bungsunya itu sering merengek karena jenuh dengan lingkungan tempat Kinanti bekerja.


Rama melewati pesan itu begitu saja. Tidak ada keinginan untuk menjawabnya. Padahal, hatinya teriris melihat Kinanti dan anak-anaknya pontang-panting seperti itu.


Rama beralih pada pesan yang Anna kirimkan. Iya benar, Anna adalah sahabat dekat Kinanti semenjak muda. Persahabatan mereka begitu hangat walaupun mereka sangat jarang bertemu.


"Dasar lelaki biadab ! Tidak memiliki rasa syukur !


Ram, bagaimana pun hubungan mu dengan Kinan, tidak seharusnya kamu melupakan tanggung jawab mu pada anak-anak mu ! Mereka masih terlalu dini untuk mendapat dampak dari perceraian kamu dan Kinan ! Nafkah tetap menjadi tugasmu, kenapa kamu berlari dan menyerahkan semua kepada Kinanti ?Aku gak nyangka jika kamu sejahat itu. Dasar b a j i n g a n ! Brengsek !"


Itu adalah sepenggal pesan yang Anna kirimkan. Dari panjangnya tulisan, Rama hanya menangkap bahwa Anna sedang berusaha membantu Kinanti untuk meminta uang kepadanya. Entahlah ! benar-benar untuk Kevin dan Allena, atau untuk memenuhi nafsu materi nya Kinanti.


Rama tersenyum miris menatap layar ponselnya. Jemarinya berusaha lemas menari di atasnya. Berpikir sejernih mungkin agar tak terbuai dengan amarah yang sebenarnya telah memuncak.


"Iya An, kalau aku sudah bekerja, aku pasti nafkahi anak-anak ku."


Hanya itu yang Rama mampu. Ia malas untuk memperpanjang kata jika jawaban pokoknya hanya sebuah penolakan. Untuk apa ? untuk membuat amarah seseorang tertunda ? Atau, untuk berbasa-basi karena sudah tahu ia akan mendapat respon yang buruk ?


Ah, tidak perlu kaget. Anna lebih giat mengatainya. Semua jenis binatang ia sebut untuk merendahkan Rama, tetapi Rama memilih menutup ponsel dan tidak lagi memperdulikan nya.

__ADS_1


__ADS_2