Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
tanpa izin


__ADS_3

Kak,Ayah udah transfer 150 ya buat seminggu ke depan


Usai membaca pesan singkat dari ayahnya, Nadira kembali meletakkan ponselnya. tidak ada, rasa ingin untuk menjawabnya walaupun hanya sekedar mengatakan Iya atau terima kasih.


"Dir, kita berangkat sekarang ya? "


"kamu duluan aja Nis, aku mau telepon ayah sebentar. "


"oke, baiklah!"


Annisa mengayun kaki nya, kembali melangkah keluar kamar. Iya telah siap hendak berangkat ke sekolah.


Tidak ada yang ia curiga dari Nadira, gadis itu hanya berbicara dengan nada yang lemas .'ah, mungkin ayahnya ada masalah lagi dengan mamanya' begitulah kalimat yang sempat Nissa pikirkan .


Nadira tercengang dihadapan cendela yang kayunya mulai keropos itu . pandangannya kosong, tangannya memutar ponsel penuh ragu .


"ah, sudahlah . tidak penting "


--


"Nis, tunggu !"


" cepet banget Dir, udah telfonnya ?"


"ngga jadi "


"kenapa ?"

__ADS_1


Tidak ada lagi jawaban yang Nadira ucapkan, ia justru mengayun kaki semakin cepat . entahlah, hal apa yang sedang gadis itu pikirkan . sejak pagi sikapnya sangat lah dingin .


drrt drrttt drrrt


"om Rama ?"


Annisa melirik ponsel, membaca panggilan masuk yang sudah kedua kalinya . kakinya sempat ia hentikan mendadak, matanya pun reflek melihat Nadira.


"jika itu Ayah, tak usah diangkat !"


padahal ia tidak menoleh sama sekali, tapi bisa tahu hal yang sedang Annisa pikirkan . bahkan, ia tahu panggilan masuk itu dari ayahnya .


kali ini giliran Anissa yang diam . Dia sudah hafal sikap Dira, sepatah kata bantahan darinya hanya akan memunculkan perdebatan yang tidak berguna .


"hmm, Dir sepulang sekolah kita nonton yuk . mumpung ibu libur "


"aku deh yang bayarin "


"uangmu kamu simpan aja . ditabung !"


Niat hati hanya ingin membuat sahabatnya senang .tapi rupanya tidak mempan . Nadira tetap saja ketus dan berubah jadi pendiam .


--


Hari-hari berlalu, semakin lama Nadira semakin terbiasa tinggal jauh dari keluarga nya . tidak ada penyesalan atas jalan yang dia pilih . Bahkan, dia bisa bahagia dan merasakan kasih sayang yang sesungguhnya semenjak di sana .


Dia tahu, bagaimana kasih ibu seutuhnya . Cinta yang tanpa paksaan, kedamaian yang tak berdasar materi . Nadira dapat segalanya yang dia butuh .

__ADS_1


Hanya satu hal yang selalu mengganggu pikiran dan hatinya . sikap mamanya yang semakin menjadi, banyak sekali aduan yang mengatakan jika mamanya selingkuh .


Nadira memang membantah, tapi hatinya luka karena itu . dia tahu, jika itu memang benar, tapi dia merasa sakit jika mengiyakan apa yang orang katakan padanya .


Semua seolah berada di puncaknya . setelah telinga kanan dan kiri mendengar hal yang tak pasti . Dan kali ini, Rama pun angkat bicara .


"kak"


Suara lelaki yang samar di seberang telfon . Tidak jelas ! antara sakit dan tangis . nadanya lemah sekali, ada hal yang memberatkan lidahnya .


"Ayah kenapa ?"


Sempat tersirat pikiran buruk di benak Dira, dan pasti itu adalah kalimat yang sering dia dengar dari orang sekitar .


"Mama pergi kak . Mama pergi ngga izin ayah "


"Hebat sekali, Rama berbicara hal itu masih dengan tersenyum . walaupun ada tangis yang dia tahan . Namun, tetap saja, hatinya masih bisa selembut itu, sesabar dan se menerima itu .


"Pergi ? sama siapa yah ? adek-adek gimana terus ?"


"Lena diajak kak . Kevin sama ayah sekarang "


"Ya Allah yah . mama kenapa sih yah . ada masalah apa sih ?"


"Uang kak,apalagi .kakak sudah paham kan gimana mama "


ah,sedih sekali mendengar cerita lelaki lembut itu . Ini adalah hal paling menyakitkan dalam hidupnya . hati kecilnya telah menjerit dan mulai berfikir untuk mengakhiri segala drama yang memberatkan langkahnya .

__ADS_1


__ADS_2