
Waktu terus bergulir, hari semakin beranjak kian cepat. Bulan demi bulan telah terlewati. Dengan kegigihan Rama, dengan kekuatan doa di sepertiga malamnya, Rama berhasil mengumpulkan uang untuk membahagiakan sang putri.
Kini, Rama telah kembali kerja dengan gaji yang cukup besar. Ia menjaga peternakan ayam orang terpandang di kampung halaman nya. Bahkan, beliau ini mau membantu Rama untuk mewujudkan mimpi Nadira. Mungkin, ini menjadi jalan Tuhan, ini adalah awal dari kebahagiaan yang selalu Rama nantikan. Mungkin.....
Sementara itu, Nadira sudah mulai fokus dengan pembelajaran yang ia dapatkan. Dari segala drama yang menghampiri sebelumnya, membuat gairah Nadira semakin nyata. Ia ingin mimpinya benar-benar tercapai, tidak hanya sebatas angan.
"Bu..."
"Enek opo, le ?"
"Ibuk...."
Rama mulai bermanja. Ia seperti anak kecil yang tengah merayu sang Ibu. Sejak kejadian dulu, Rama perlahan menunjukkan perubahan yang besar. Ia begitu peduli dengan Ibu. Ia tidak lagi keras kepala. Bahkan, ia sangat penurut dan sangat sayang terhadap Ibunya.
"Kamu ke-sambet apa to le ?"
Ibu menyentuh dahi Rama. Memeriksanya, karena rasa heran akan sikap anak sulungnya.
"Ye...Ibu ! Rama sehat bu."
"Terus ?"
Rama meringis begitu Ibu memandangnya dengan heran. Pria itu, menegakkan tubuhnya, lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi masih terjeda dengan perasaan malu.
"Kok malah senyam-senyum ? Kowe gajian yo ?"
Ibu mulai menebak asal karena Rama terus saja mengulur pembicaraan. Pria itu tak segera mengungkapkan apa yang tengah ia alami. Gelagatnya, seperti anak remaja yang di mabuk cinta, tetapi kesulitan untuk mengutarakan nya. Lebih tepatnya, Rama sedang salah tingkah karena pikiran nya sendiri.
"Bukan itu buk."
Bantah Rama kembali.
"Terus kenapa ? Cepat bicara sama Ibu ! Kowe iki, seneng banget buat Ibu penasaran."
"Coba lihat ini Bu !"
Rama menunjukkan ponselnya ke hadapan Ibu. Di dalam layar yang tengah menyala itu, tampak gambar seorang perempuan yang cukup cantik. Bahkan, lebih cantik dari Kinanti.
__ADS_1
Wajahnya putih bersih, cocok dengan polesan make up yang cukup tebal. Alisnya di buat tajam, bibirnya merah mempesona.
Ibu memandangi nya dengan jeli, lalu ia memicingkan mata. Sebelum akhirnya, Ibu membuang muka dan enggan menatap ponsel Rama.
"Iku sopo Ram ?"
"Ini yang mau Rama kenalin ke Ibu. Cantik kan Bu ?"
Ibu menatap Rama dalam-dalam. Di sorot mata anaknya itu terdapat garis kebahagiaan. Ia mulai berharap besar pada paras perempuan yang baru saja ia tunjukkan kepada Ibu.
Seperti tak tega mengatakan, Ibu masih sibuk mempersiapkan kalimat yang tepat untuk menasehati Rama. Ibu tahu, mungkin ini menjadi salah satu cara Rama memulihkan hatinya. Ia juga tahu, Rama masih berusaha melupakan Kinanti hingga detik ini.
"Nak..."
Ibu mengusap kepala Rama, lalu turun ke pundaknya. Ia masih setia menatap wajah sendu sang anak. Berharap Rama bisa mengerti apa yang akan ia sampaikan.
"Siapa namanya le ?"
"Karina Bu. Cantik kan bu ?"
"Kowe kenal dari mana le ?"
"Facebook buk."
"Opo kui ?"
"Sosial media buk. Lewat handphone."
Ibu mengangguk-angguk paham.
"Bukan e Ibu nilai dari penampilan e ya le. Tapi, Ibu kok kurang suka. Dandanan nya....opo kowe yakin iso nyukupi ? Pakaian nya, lihatlah le, iku terbuka sekali. Gak sopan !"
Kali ini, ganti Rama yang menunduk. Ia masih setia mengamati gambar wajah cantik yang membuatnya tergoda tersebut. Senyuman manisnya sungguh menawan. Dengan bibir tipis dan tahi lalat di sebelah pipinya sungguh membuat setiap pasang mata lelaki tergoda sekali memandang.
"Cantik fisik, gak menjamin cantik hati nya le. Kowe pernah gagal berumah tangga, jadi kowe wes nduwe bekal. Nduwe sangu buat ambil keputusan yang besar lagi. Ibu mohon, nek Rama nikah lagi, iku jadi jodoh Rama sampai mati."
Ibu mengusap punggung Rama dengan lembut. Jemarinya penuh kasih, meskipun sudah banyak kerutan yang tak mampu menyembunyikan usia tua-nya.
__ADS_1
"Tapi, semua Ibu kembali kan ke Rama. Toh, Rama to si menjalani ..."
Senyuman itu merekah dengan tulusnya. Usapan lembutnya masih saja setia. Memang benar, cinta yang suci hanyalah milik orang tua ke anaknya. Tak memandang seberapa buruk anaknya. Tak peduli seberapa banyak kesalahan yang telah anaknya buat. Orang tua akan tetap mencurahkan kasihnya kepada anak-anaknya.
Rama tak juga bersuara. Keheningan kembali bernyanyi di telinga keduanya. Jemari mungil itu, terus menekan-nekan layar ponsel, tanpa tujuan yang jelas. Wajahnya muram, hilang keceriaan yang sempat mewarnai tadi. Rupanya, Rama adalah sosok yang mudah melabuhkan hati kepada perempuan. Ia sangat gampang untuk jatuh cinta, tetapi kesulitan saat harus melepaskannya.
"Rama wes makan ?"
Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin keharmonisan yang baru terjalin beberapa bulan ini kembali rusak hanya karena urusan wanita. Pertengkaran yang pernah terjadi, cukup membuatnya menyadari betapa pentingnya arti saling menerima dan memahami.
"Kalau Ibu ndak suka, Rama akan menyudahi ini bu."
Ibu tercengang. Ia tak percaya jika putra sulungnya bisa berpikir sejernih itu. Pria itu tampak mengukir senyuman di kedua sudut bibirnya. Meskipun ada garis kekecewaan, ia tampak lebih legowo menerima kenyataan yang ada saat itu.
Rama, kowe bener-bener berubah le
Ya. Ibu tidak tahan menahan tangis harunya. Di tengah senyuman yang menandakan rasa bangganya, ia meniti kan air mata. Seketika, ia meraih tubuh Rama dan mendekapnya dengan erat. Tanpa berkata apapun, namun tergambar jelas betapa ia sangat bangga akan perubahan pada sikap anaknya.
"Terimakasih ya le. Terimakasih...
Kowe berubah sekarang. Rama kecil Ibu wes kembali. Anak Ibu yang penurut dan penyayang wes balek.. Terimakasih le"
"Ibu, apapun yang akan membuat Ibu dan Nadira bahagia, pasti akan Rama lakukan bu."
Ibu mengangguk penuh arti. Ia yakin jika putranya sudah menemui jati dirinya. Meskipun Rama tetap sulit melepaskan cinta, tetapi ia sanggup memikirkan semua dengan kepala dingin. Tidak ada lagi emosi yang berkecamuk. Tiada lagi ego yang menjulang, menerjang segala takdir yang telah terjadi.
Sejatinya, hatiku sakit buk. Aku hampir salah melangkah, aku sudah terlanjur mencintai Karina, meskipun tak sebesar cintaku kepada Kinanti. Paras cantiknya sungguh membuat ku begitu mudah terpikat. Tetapi, setelah ku pikir 2 kali, apa yang bisa ku andalkan untuk mempertahankan keindahan parasnya. Jangankan untuk nya, untuk diriku sendiri saja masih saja banyak kurangnya. Terimakasih, Ibu telah sabar hingga aku kembali kepada diriku yang sebenarnya. Inilah aku, ini lah asal ku, dan beginilah aku. ~Rama
Ibu mengerti, kamu sedang belajar mencintai Ibu nak. Ibu paham, kamu kesulitan melepas wanita itu.
Nak, maafkan Ibumu ini. Bukan Ibu tak ingin melihatmu berbahagia, Ibu hanya takut kamu terluka untuk kedua kalinya. ~Ibu
Pertama kalinya setelah puluhan tahun Ibu tersenyum tulus karena Rama. Bukan perihal apa yang mampu putranya berikan, melainkan kebesaran hatinya yang tidak pernah ia dapati sebelumnya. Ketulusan, yang begitu melibatkan dirinya.
Sepeninggal suaminya, Ibu memang kurang perhatian. Kedua anaknya hidup berjauhan dengannya, hanya sebatang ponsel dan terkadang keponakan nya yang mampu menjadi pelipur sunyi yang bernyanyi riang di sepanjang harinya.
Mungkin perpisahan Rama dan Kinanti yang meninggalkan luka, akhirnya menemui keberkahan yang sebelumnya tidak pernah Rama dan Ibu dapatkan.
__ADS_1