
seorang wanita tua , yang usianya mungkin tak jauh beda dengan nenekku kini telah berdiri di depan pintu . Wajah lelahnya tidak lagi bisa dia sembunyikan . Namun, senyum tulusnya memancarkan kedamaian .
"Wa'alaikum salam ..
ibu? kok ngga telfon Nisa, kan bisa dijemput "
Aku memandangi Nisa yang penuh kekhawatiran .Mendengar ucapannya, aku juga yakin jika wanita ini adalah orang tua Nisa .
"Kan Nisa tadi izin jemput temennya to . jadi ibu naik ojek "
Wanita itu masuk membawa beberapa sayur sisa jualannya . Ia duduk disebelah ku lalu berbalik menatapku dengan ramah .
"Jadi, ini to yang namanya Nadira ?"
"Iya Tante, saya yang mau kost dirumah tante ..."
Ku anggap jawaban ku itu wajar, tapi aku heran kenapa wanita ini malah tertawa mendengarnya . setelah puas dan bisa mengatur nafasnya, ia membelai punggungku dan kembali menatapku .
"Ibu tidak menyewakan kamarnya nak ...."
hah ? seketika wajahku pucat .antara bingung dan kaget . Aku bergantian menatap Nisa, yang tidak menggariskan wajah bersalah itu .'apa-apaan ini ? jadi Nisa ngerjain aku?' hatiku menjerit, dengan sisa uang yang ayah tinggalkan, aku harus gimana .
__ADS_1
Pikiranku pun kalut, hah otakku sudah beku dan tidak lagi bisa berfikir dengan jawaban wanita ini .
"Ngga usah kaget gitu . Dengerin dulu penjelasan ibu ...."
Celetuk Nisa yang memperhatikan mataku yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu bisa tinggal disini Dir, ibu tidak meminta bayaran .kamu juga bisa makan semau kamu . Tapi, ibu minta tolong sama kamu buat bantuin Nisa jaga adik-adiknya sepulang kalian sekolah ."
Untung saja aku belum berteriak memaki Nisa dihadapan ibunya . Hampir saja, aku murka dengan drama mereka berdua .
Aku kembali melirik Nisa yang sedang terkekeh . Dia bisa begitu puas, menertawakan amarahku yang hampir saja meledak .
"Terima kasih Tante, ya Allah .hampir saja Dira salah paham, Dira pikir tante ngga mau Dira tinggal disini"
"jangan panggil tante lah, panggilnya ibu aja .Anggap,aku ini pengganti mamamu sementara !"
Bisiknya ringan di depan telingaku . Entah, kalimatnya membuatku merasa nyaman .hatiku, seolah terbang terbuai nada bicaranya . Seumur hidupku mama tidak pernah berkata sedemikian hangatnya padaku .
"terima kasih buk "
Aku reflek memeluknya , wanita yang mulai detik ini ku anggap sebagai ibuku . Bukan hanya sementara, tapi selama aku masih di izinkan bernafas .'Tuhan, terima kasih untuk nikmat yang tidak bisa aku rasakan sebelumnya.'
__ADS_1
"Nis, aja Dira istirahat dulu gih . Nanti biar ibu yang jemput Karin dan Reza ."
"mereka udah sama mas Radit bu, tadi Nissa yang titipin"
"oh, mas Radit sudah pulang ?"
Aku tidak paham, siapa yang mereka bicarakan .Aku memang mengenal Nisa, tapi tidak dengan keluarganya . Gadis ini, dia benar-benar tertutup dengan kisah keluarganya .Padahal, jika dia mau bercerita, tidak akan habis kisah indah yang bisa dia kembangkan .Berbalik jauh dengan hidup ku .
--
terus rencana, mas mau kerja apa ?"
Kinanti bertanya dengan ketusnya . padahal, hari masih sangat pagi dan Rama baru saja selesai sholat subuh .
"Kemaren pak Burhan, nawarin buat kerja ikut beliau .ya, cuma jadi kuli bangunan sih, tapi lumayan lah daripada nganggur"
balasnya dengan santai tanpa menatap Kinan, ia sudah menebak jika wanita itu sedang berwajah singa . dan itu menakutkan baginya .
Ia bangkit, melipat sajadah tempat ia mengadu dengan yang Maha Kuasa . Berkisah indah tentang keresahan dan jalan hidupnya yang terlalu rumit .
Banyak ragu yang mulai menyapanya, tapi lagi-lagi ia tepis dengan penuh rasa percaya diri. hatinya, selalu menanamkan rasa jika rejeki adalah hal yang sudah Allah tentukan dari sebelum dia terlahir di bumi ini .
__ADS_1
"Baguslah, aku juga sudah lama tidak berbelanja pakaian "