Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Menyampaikan Kabar


__ADS_3

Sejak mendengar teriakan sang mama ketika almarhum Nenek Wati terjatuh, dan di nyatakan meninggal, hingga tiga hari berlalu, Nadira sama sekali tidak menyentuh ponselnya. Iya membiarkan ponsel genggam miliknya, tergeletak begitu saja di atas meja belajar miliknya dulu yang kini digunakan oleh Alena, adik kecilnya.


Nadira masih termenung di atas kasur kecil di dalam kamarnya. Matanya sembab menatap arah luar dari jendela yang berkarat, jendela yang sangat usang. Entahlah, Iya tak habis pikir jika kehadirannya di situ membawa petaka bagi sang nenek. Ah, tidak ada yang mengatakan demikian, tetapi Nadira terus mengutuk diri. Nenek Wati selalu tak menyukainya sejak dulu, meskipun Nadira begitu sayang padanya. Seharusnya memang ia tak datang ke rumah itu lagi, seperti kata nenek Wati beberapa jam sebelum ia meninggal. Nadira tidak berpikir jauh sebelumnya, ia menganggap makian Nenek mati itu hal yang biasa, hal yang selalu ia lakukan padanya, bahkan menjadi kebiasaan sehingga tidak pernah Nadira masukkan ke dalam hati. Nadira tidak pernah sakit hati akan hal itu. Apalagi apalagi Nadira tahu, nenek Wati begitu sayang dengan Kevin dan Alena, tidak seperti kepadanya. bagi Nadira itu sudah menyenangkan hatinya, itu sudah membuatnya jauh lebih tenang, ketika Nadira sudah tak lagi berada di dalam rumah itu.


Menyesali segala yang terjadi, tak akan mengembalikan yang sudah hilang. Nadira mengusap kedua matanya yang masih setia mengeluarkan air mata, kristal-kristal bening di pelupuk mata tak kunjung mengering.


Nadira berjalan menuju meja belajar, untuk meraih ponsel yang mungkin sudah menyimpan banyak pesan dari orang-orang terdekatnya. Dari sahabat, dari keluarga yang mendengar tentang kabar nenek Wati. Satu demi satu pesan ia buka, membuat air matanya kembali basah karena tangis yang tak bisa ia bendung. Pedih diri, lebih perih dari cacian yang selalu ia dengar dengar dari seseorang yang kini ia tangisi. Makian yang menusuk hati, tak seberapa menyakitkan dari kehilangan orang yang sejatinya kita cintai, meskipun seseorang itu sama sekali tak pernah menganggap kita ada, bahkan tak mengharap kehadiran kita disisi hidupnya.


mata Nadira tertuju pada satu pesan, berpusat pada tulisan seseorang, yang menyentak jantungnya. Nadira membukanya dengan sangat hati-hati, dengan sangat perlahan membaca satu persatu kata, bahkan menghitung panggilan yang tak terjawab.


"Astaghfirullah, Ayah ? kenapa aku bisa lupa! "


Nadira langsung menekan tombol telepon untuk menghubungi Rama. Iya tahu laki-laki itu pasti sudah sangat gelisah menanti kabarnya. Bahkan bisa saja ya sudah beberapa hari ini tidak nyenyak tidur, bahkan tidak lahap untuk makan.


"Assalamualaikum kakak ! Kamu kemana saja kak, Ayah khawatir sama kamu. "


Satu kalimat panjang, dengan nada penuh khawatir, tidak tega Nadira dengarkan. suaranya begitu serak, mungkin karena ia sudah berhari-hari bergadang, sehingga kesehatan nya terganggu. Nadira kembali merasa bersalah, tetapi pada orang yang berbeda.


"Wa'alaikum salam Ayah."


Nadira Tak sanggup menyembunyikan air matanya. Rama bisa mendengar itu.


"Kak, kamu kenapa sayang ?"


"Aku baik-baik saja kok yah. maafin Nadira, Nadira selalu membuat Ayah menangis, Nadira gagal menjadi anak yang baik. untuk mengabari ayah saja Nadira..... Nadira sampai melupakan."


Buntut dari kalimat panjang yang Nadira ucapkan, berbuah bulir-bulir kecil di pelupuk matanya. Nadira tak sanggup menahan tangisnya seorang diri, ia membiarkan tangisannya pecah di hadapan sang ayah.


"Gak apa-apa sayang, kamu tidak perlu menangis. sekarang ayah sudah lega, karena ayah sudah dengar kamu baik-baik saja."


Nadira masih sesenggukan. bukan hanya kelalaiannya pada Rama yang membuat ia menangis. Nadira juga masih menangisi kepergian nenek Wati, karena di akhir hayatnya, nenek Wati masih menyebutkan dan memperlihatkan betapa ia sangat membenci Nadira.


Bukan sakitnya dibenci, tetapi kehadiran Nadira di sana, membuat nenek Wati memendam benci di sisa nafasnya. Itulah yang membuat Nadira begitu menyesal, kembali ke tanah kelahirannya.


"Kenapa kak ? Kenapa kakak masih menangis ?"


"Ayah....."

__ADS_1


"Iya ? Kenapa Kakak ? Ada masalah dengan pendidikan kakak ?"


"Tidak yah. Kakak lulus, kakak akan berangkat bulan Februari nanti."


"Alhamdulillah ya Allah. Ayah bangga kak. Ayah bangga sama kakak."


Mendengar pengakuan Rama, tangis Nadira semakin menjadi. Ia merunduk, lalu menjatuhkan tubuh di atas kursi belajar yang terbuat dari kayu itu. Ia lesu, bahkan sangat tidak memiliki kekuatan untuk menyampaikan kabar buruk yang menimpa keluarga Kinanti.


"Apa ayah akan tetap peduli dengan Nenek Wati yang begitu membencinya jika aku katakan kabar ini padanya ?" Batin Nadira.


"Kakak sedih karena mau berangkat ?"


Rama melembutkan nada bicaranya, ia takut jika apa yang ia katakan melukai hati putrinya. Rama bingung, seharusnya Nadira tidak menunjukkan perasaan begitu sedih ketika ia mengabarkan bahwa dirinya lulus dan akan segera terbang, menuju negeri Sakura, negara yang selalu ia impikan.


Dalam batin Rama, Iya tahu, putrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Ada hal yang sedang melukai hatinya, namun Rama tidak tahu apa itu.


"Ayah... "


"Kenapa nak ? Ayah ke tempat mu boleh ?"


"Tidak yah ! Nadira sudah pergi. Nadira, sudah tidak di tempat kursus lagi."


"Kakak dimana sekarang ?"


"Nadira di Surabaya yah..."


Seketika, Rama membisu mendengar jawaban putrinya. Ia ragu untuk mengatakan hal apapun lagi. Nadira, sudah berani pergi ke sana tanpa pamit darinya. Nadira hilang kabar karena sedang berbahagia dengan Ibunya. Rama menyadari, jika Nadira bukanlah miliknya seutuhnya. Tetapi, tetap saja hatinya sakit mendengar kenyataan yang Nadira ucapkan.


"Maaf yah, Nadira lupa bilang sama ayah."


"Iya Dir, tidak apa-apa. Bagaimana kabar adik-adik kamu di sana ? Semua sehatkan ?"


Nada bicara Rama sudah berubah. Ia tidak lagi hangat dan khawatir seperti sebelumnya. Bahkan panggilan sayang yang selalu ia luapkan tidak lagi terdengar mesra.


"Mereka baik-baik saja yah. Tapi Nenek Wati....." Tangisnya kembali pecah. Nadira tak sanggup mengucapkan itu, kalimatnya terhenti di kerongkongan. Semua terasa menyakitkan baginya. Apalagi mendengar respon dari sang ayah yang terdengar tidak menyukai jika Nadira berada di lingkungan kelahirannya. Ya, Nadira paham, jika memang itu juga hal yang menyakitkan untuk Rama. Ia sadar, keputusannya pergi tanpa pamit adalah kesalahan yang menggores luka di hati sang Ayah.


"Kenapa Nenek Wati ? Dia marah-marah sama kamu ?"

__ADS_1


"Tidak yah. Bukan itu !"


"Lalu ?"


"Nenek Wati......Nenek Wati, sudah ngga ada yah."


"Ngga ada ? Ngga ada gimana maksud kamu nak ? Pergi dari rumah, atau bagaimana ?"


"Nenek Wati jatuh di kamar mandi, lalu meninggal dunia yah. Nadira yang salah, Nadira tidak seharusnya datang ke sini. Nenek tidak suka yah. Nadira yang salah....."


"Shhhttt....Kakak jangan bicara seperti itu kak. Itu sudah menjadi takdir yang Maha Kuasa. Sudah, sudah sampaikan salam ayah untuk mama sama tante mu ya nak. Ayah turut berduka cita atas meninggalnya nenek Wati. "


Nadira menganggukkan kepala. kemudian, ia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya secara perlahan. Mengikuti instruksi apa yang Rama ucapkan. benar, itu membuat hatinya sedikit lega. Rama mengajarinya cara untuk menenangkan diri, untuk mendinginkan hati, agar semua lebih mudah untuk di iklaskan. Memang tak seharusnya yang membiarkan hatinya terpuruk dalam kesendirian. Belum tentu, Kinanti akan peduli akan hal itu. Nadira harus cerdas dan dalam menentukan arah kemana hatinya harus berlayar dan memilah-milah hal yang perlu ia sesali, pun dengan hal yang perlu ia dengarkan.


"Kakak lagi telepon sama siapa ? Kok nangis ?"


Suara polos dengan ada lugu itu membuatnya kaget. Nadira menoleh ke sumber suara, tepat di belakangnya berdiri sesosok anak kecil dengan rambut yang terurai, mata yang bulat menatapnya heran. Ya, siapa lagi kalau bukan Allena. Putri kecil Rama, yang sejatinya selalu merindukan ayahnya dalam keceriaan yang selalu ia perlihatkan.


"Apa itu Ayah ?"


Nadira masih bungkam. Ia takut jika ia mengatakan hal yang jujur, Kinanti akan marah kepadanya. Karena setahu Nadira, selama perpisahan itu Kinanti tidak mengizinkan Alena dan Kevin untuk berbicara pada Rama. Jangankan untuk menemuinya, mengatakan sepatah kata pun tentang Rama akan berakibatkan kemarahan Kinanti. Tapi Dira juga tak sanggup untuk membohongi Alena, walau bagaimanapun Nadira tahu, jika adiknya itu sangat merindukan kasih sayang dari ayahnya.


"Ini...ini...."


Allena berlari dengan senangnya. Ia merebut ponsel itu dari genggaman Nadira, tanpa mendengar terlebih dahulu jawaban Nadira. Ia sudah tak sabar, bercerita panjang lebar pada Ayahnya. Ia juga tak sabar menyampaikan salam kerinduan yang selama ini ia simpan seorang diri.


Allena membawa ponsel itu ke atas kasur. Merebahkan tubuhnya, seperti gadis yang sedang di mabuk cinta. Bukan pada pria lain, tetapi pada sosok ayah yang dahulu selalu membuatnya tertawa.


"Ayah, Allena kangen. Ayah kapan pulang ?"


Pertanyaan pertama yang Allena ucapkan. Raut wajahnya tampak lebih hangat menanti jawaban. Nadira masih tercengang di dekat meja belajar, pikirannya berkelana memikirkan hal buruk jika sampai ketahuan oleh Kinanti.


Entah jawaban apa yang Rama ucapkan. Nadira tidak bisa mendengar dengan jelas. Yang pasti , jawaban itu membuat Allena tersenyum. Ada harapan di sudut bibirnya.


Banyak ketakutan Nadira yang tiba-tiba menghampiri. Rama pasti sedang mengatakan kebohongan pada adiknya. Untuk menghibur, agar Alena tidak selalu merengek menanyakan kepulangannya. Tetapi, yang sekarang Nadira khawatirkan, bagaimana hari esok dari adiknya ? Nadira takut karena Allena sering terluka karena dibohongi membuatnya tumbuh menjadi sosok yang sulit mempercayai keadaan lagi. Nadira juga takut, jika Alena terus menerus dibohongi, ia akan terus-menerus memendam luka. hingga berbentuk suatu genangan duka, yang sudah sulit untuk disembuhkan. Nadira tahu, bagaimana itu rasanya. Memendamnya seorang diri dan biarkan semua tampak baik-baik saja.


Hampir satu jam percakapan antara Allena dan Rama tak kunjung selesai. Semakin menekan hari merah dalam ketakutan yang tidak menentu.

__ADS_1


"Ini kak. Makasih ya kakak sudah izinkan Allena bicara sama ayah. Allena janji, Allena tidak akan bilang sama mama."


__ADS_2