
Kinanti yang baru pertama bertemu dengan ibunya Anissa berlagak akrab . Tingkah nya, sama sekali tidak menunjukkan jika dia menghormati, bahkan mulutnya berbicara hal konyol tanpa di pikir dulu .
"tante, sudah lama tinggal disini ?"
"yaa dari kecil mbak , dari lahir "
"eh tan, itu Dira buat tante aja lah .."
"eh, maksud e piye to mbak ? kok buat ibu "
"iyaa ...rawat aja kaya anak tante, udah "
"anak ibu sudah banyak mbak, lagian Nadira anak yang baik, selama disini saya pastikan hidup nya selalu nyaman "
perbincangan masih terus berlanjut, meskipun sebenarnya ibu sangat berat hati . Ia bersedih, memikirkan perasaan Nadira jika mendengar perkataan mamanya . Wanita ini, memang benar-benar tidak berhati lembut .
Dia memang sudah melahirkan tiga anak, tapi sikapnya tidak mencerminkan itu . Dia tak layak di panggil dengan sebutan mulia 'mama' oleh ketiga bocah yang kurang beruntung itu . Dia juga tak layak mampu membuat Rama memberikan jiwa, raga bahkan nyawanya hanya untuk wanita se munafik ini . Sungguh, kehidupan yang miris jika bersamanya setiap hari.
"Hati-hati mbak kalau bicara, kasian kalau putrinya denger "
__ADS_1
"heh, biarin aja lah tante ...malah baguskan "
tap tap tap
Untung saja, Dira menghentakkan kakinya dengan keras saat berjalan . Ibu, dengan cepat mengalihkan pembicaraan agar tak di curigai oleh Dira .
"Ma, itu adek udah bobok . aku gendong ke kamarku ya ?"
"ah , udah ngga usah . Mama juga mau balik kok Dir . keburu malem "
"loh ? Mama ngga nginep aja ? ini udah malem ma ? Kasian kan Lena "
"iya mbak .Nginep aja, masih ada kamar kok " ~ibu
ya udah ya kak, kamu hati-hati disini, jaga diri . mama pulang yaa ?"
"Dira anter ke terminal ya ma "
"Ngga usah kak "
__ADS_1
"Ma, udah biarin .Dira mau anterin ..."
Perdebatan tidak selesai disitu, Nadira merasa ada hal yang Kinanti sembunyikan . lagaknya, seolah menutup agar Nadira tidak ikut keluar . Tapi, ia tak habis akal , ia dengan kekeh mengikuti Kinanti keluar dan hendak mengeluarkan sepeda motor .
Tapi, pandangannya berhenti di satu arah . Tepatnya, di tepi jalan raya depan rumah . Terhenti pada sosok laki-laki yang sudah tak asing lagi baginya, laki-laki yang juga sedang menatapnya, lalu melempar senyum dan lambaian tangan padanya .
Laki-laki yang seolah tak memiliki dosa padanya, Nadira membuang muka untuk tak kontak mata lagi dengan laki-laki yang telah dia anggap sebagai sumber masalah itu .
"Mama bareng dia ?"
Nadira mengerti akhirnya, inilah yang sedari tadi Kinan gelisah kan . Yang dia tutup-tutupi agar Dira tak mengetahui .
"ah, sudahlah tak perlu mama jawab, silahkan kalau mama mau pulang, hati-hati di jalan ma"
Nadira masih mencoba tegar . Dia tak marah, bahkan menahan air mata yang sudah siap menetes . Walaupun sejujurnya, hatinya sungguh hancur menyaksikan perselingkuhan orang tua nya sendiri .
Pertemuan ini, harusnya membahagiakan untuknya . Karena memang sudah lama tak berjumpa dengan keluarganya . Tapi, ini lain , pertemuan ini membawa duka untuk hatinya, untuk keluarganya, bahkan membawa kabar buruk yang selalu dia takutkan beberapa bulan ke belakang .
--
__ADS_1
Hari demi hari berlalu, sama seperti biasanya . Nadira tetap menjadi jiwa yang ramah dan ceria . Tidak ada yang membawa perubahan pada dirinya, meskipun masalah yang dia alami cukuplah rumit .
lagi lagi, dia tak ingin membebani teman-teman juga orang tua angkatnya untuk ikut memikul kepiluan yang dia rasakan . Sungguh, hati yang sangat lapang . Nadira cantik, Nadira tegar , engkau adalah wanita yang patut di tiru.