
Ibu terus berbicara seorang diri. Ia menggerutu penuh kekesalan.Ia tidak senang jika Rama terus-menerus menuruti apa yang Nadira inginkan. Tidak ada yang salah dengan keinginan Nadira, tetapi kesalahan berada pada cara Rama mendidik putrinya. Ia tak pernah mengajarkan jika semua keinginan harus di imbangi dengan ketersediaan. Apalagi dengan pilihan besar yang akan Nadira ambil.
Tidak sedikit yang kecewa dengan pilihan yang sama dengan Nadira. Tak sedikit pula cerita yang pernah Ibu dengan mengenai hal itu. Mereka telah mengeluarkan biaya yang cukup besar, tetapi harus meringkuk dengan harapannya sendiri. Mereka gagal menginjakkan kaki di negeri Sakura tersebut. Mereka tidak bisa berangkat dengan ragam alasan yang di berikan. Dan Ibu tidak mau Nadira mengalami hal yang serupa.
"Buk, tolonglah Buk, bantu Rama buk ..."
Rama datang dengan memohon. Ia meringkuk di bawah kaki Ibu. Berjongkok dan terus membujuk agar Ibu mengizinkan Nurin memberikan nya pinjaman. Rama tidak ingin mengecewakan Nadira, apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan putri sulungnya itu .
Sementara Nadira, ia hanya berani bersembunyi di balik pintu kamar. Ia tidak berani keluar, takut melihat tatapan sengit sang nenek. Ia takut melihat perkelahian yang memperdebatkan namanya.
Sejatinya, Nadira tidak berniat untuk membuat Rama dan Ibu bertengkar. Ia hanya ingin mengangkat derajat keluarganya dengan cara bekerja ke luar negeri. Tapi, mungkin ia salah dalam mengambil keputusan. Ia terlalu tinggi dalam berharap. Tak seharusnya ia mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan dari awal. Tak seharusnya ia bicara seperti dengan raut penuh harap di depan Rama. Ah, mau bagaimana lagi ? Semua sudah terlanjur.
"Tolonglah buk ! Apa Ibu tidak sayang sama Dira Buk ?"
"Justru, iki mergo Ibu ki sayang sama Dira Ram ! We paham gak to ?"
"Kalau Ibu sayang, seharusnya Ibu turuti apa yang Dira inginkan buk. Bukan seperti ini, nanti Dira kecewa sama Ibu."
Baru saja Ibu bisa bernafas lega karena Rama sudah bisa terlepas dari Kinan, kini ia sudah mulai memanjakan Nadira melebihi dirinya sendiri. Apapun yang anak itu ucapkan seperti sebuah kewajiban yang harus segera ia penuhi. Sama seperti saat ia masih bersama Kinanti dulu. Tidak ada yang bisa membantahnya. Rama sudah bersikeras dengan apa yang ada di otaknya.
__ADS_1
"Nadira tidak kecewa kok Yah."
Nadira sudah berdiri di dekat meja makan. Entah, sejak kapan ia di sana. Entah, seberapa lama ia mengumpulkan keberanian nya untuk keluar menampakkan diri di sela-sela amarah sang nenek.
"Nadira hanya bercanda tadi Yah. Nadira tidak serius mau kerja ke Jepang. Nanti kalau Nadira kangen, jadi susah. Hehe..."
Nadira mencoba mencairkan suasana. Ia berusaha mencari alasan agar Rama tidak lagi memaksa Ibu untuk mengizinkan Nurin memberinya pinjaman. Padahal, adik perempuan nya itu belum menjawab. Belum tentu ia mau memberikan apa yang ia pinta.
"Maaf ya Nek, maaf ya Yah. Aku tidak bermaksud buat Nenek sama Ayah berantem."
"Loh kak, bukannya...."
Nadira segera memotong ucapan Rama. Menyudahi agar ia tidak lagi membahas perihal yang sama.
Rumah ini sudah cukup panas karena perdebatan yang tak kunjung usai. Jika Nadira masih memaksakan kehendak, ia sama saja ingin memperumit permasalahan yang ada.
"Ayah tunggu di luar saja !" Perintah Nadira pada Rama, yang di sambutan anggukan ragu oleh Rama.
Nadira kembali fokus pada sayuran di atas meja. Ia membantu Neneknya menyiapkan makanan untuk makan malam mereka. Canggung memang, karena nenek bersikap berbeda kepada Dira. Setiap kalimat yang terlontar, terkesan ketus. Namun, Nadira menyadari karena itu bermula dari kesalahannya.
__ADS_1
"Dira, nek mau apa-apa harus lihat kondisi Ayah yo nduk. Lihat raga Ayahmu, dia tidak terlalu kuat nduk. Ndak bisa kerja berat, tapi gak bisa juga kerja di kantor. Kowe paham kan maksud Nenek ?"
Tangan Nadira berhenti memotong sayur. Ia mencerna apa yang Neneknya ucapkan, lalu mengukir senyuman miris di kedua sudut bibirnya.
"Maafkan Nadira Nek." Hanya tiga penggal kata yang Nadira ucapkan. Jujur, hatinya belum bisa menerima jika keinginannya adalah sebuah kesalahan. Tetapi, ia berusaha untuk mengiyakan dan menurut dengan apa yang Nenek ucapkan.
"Nenek tahu, Dira pingin jadi wong sukses. Bantu ekonomi keluarga, bantu Ayah, bantu mama di sana besarin adik-adik. Nenek tahu niat Nadira baik. Tapi nduk, kabeh iku butuh modal, dan iku cukup besar. Ayahmu ndak ada penghasilan, Tante mu sikap e yo begitu, kamu paham sendiri. Bagaimana nanti kalau Nadira belum bekerja, terus Tante Nurin sudah nagih uangnya ? Apa kamu ndak kasihan sama Ayah mu ?"
Deg ! Ucapan Nenek berhasil menyentak hati Nadira. Menyentil, bahkan hingga sampai di rongga terdalam. Jika di pikirkan kembali, apa yang Nenek ucapkan itu ada benarnya, tetapi Nadira tetap saja tidak kendor untuk mewujudkan mimpinya itu. Entah, bagaimana nanti caranya. Yang jelas, ia tidak ingin merepotkan Rama dan Neneknya.
Beberapa menu telah selesai di masak. Nadira sibuk menyajikan dan membawanya ke meja makan. Menyiapkan tiga buah piring, dan juga gelas yang sudah ia isi dengan air putih.
"Nenek panggil Ayah mu dulu yo, kamu bawa makanannya ke meja makan semuanya yo !"
"Iya nek."
Nadira menurut, ia melakukan apa yang Neneknya pinta. Sedangkan Nenek, ia berjalan keluar dapur. Ia mencari Rama untuk mengajaknya makan bersama. Seperti nya, itu alasan yang tepat untuk Ibu dan Rama kembali baikan atas kesalahpahaman yang terjadi beberapa waktu tadi.
"Astaghfirullah al adzim ! Rama, apa yang kamu lakukan ?"
__ADS_1