
"Bu, maafkan Rama ...
Rama sering kurang ajar sama ibu .mungkin ini memang azab untuk Rama . maafkan Rama bu, maafkan Rama ..."
dalam 1 hari, sudah berkali-kali Rama mengatakan hal demikian . Ia menangis, di depan kaki ibunya . membilas kaki yang terlihat tua dan kurus itu . lalu meminum air bekas bilasan nya .
Satu harapan yang terselip di pikirannya , ia masih berharap semua bisa kembali setelah dia memohon maaf terhadap ibunya . 'Barangkali , Tuhan sedang menghukum ku . Aku yang tak sempurna untuk seorang Kinanti'
hah, dasar Rama ! masih saja berdalih dia yang tak pantas, sudah jelas wanita itu yang memang buruk untuknya . tetap saja dia memujinya .
"buk, Rama harus ke Surabaya bu . anak-anak Rama gimana ?"
"wes to Ram . beri istrimu waktu untuk berfikir, biar dia ngrasain bagaimana hidup tanpamu "
Rama terus saja mondar-mandir tak tenang, dia tak kuasa menahan gejolak rasa ingin kembali yang kian menggebu . Bukan karena anak-anaknya saja yang membuat batinnya seolah menggila . Tapi, bayang-bayang wajah Kinan yang semakin tak bisa dia lepas, terus saja menghantui .
__ADS_1
Mengganggu tiap kedipan matanya, terbayang jelas di setiap jengkal langkahnya, hebatnya lagi tak henti berputar-putar di seluruh isi kepala dan hatinya .
Melihat anak sulungnya hampir depresi tak karuan, ibu Rama pun merasa terpukul . Ia terus menghubungi adiknya agar membantunya menenangkan Rama .
Jam dinding tak lagi mau beranjak, dunia nya benar-benar sunyi dan berhenti . Rama hampir menyerah dengan keadaan yang membuat dirinya tak memiliki arah tujuan .
"Buk, Rama harus kembali bu . ngga bisa kaya gini, gimana Kevin dan Lena ? gimana kakak nanti ?"
Sejak datang, hingga jam berputar 24 jam , arah pembicaraan Rama sedikitpun tidak beralih . Ia hanya ingin kembali, kembali dan kembali . Berharap dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki segalanya . ya walau dia sendiri sadar jika Kinanti sudah jelas tidak akan lagi menerima kehadiran nya .
--
sayup-sayup terdengar suara motor berhenti di halaman rumahnya . Dengan sigap, ibu dan Rama bergegas melihat siapa yang datang . Senyum manis dan tulus tergambar jelas di wajah seorang wanita yang sangat mirip dengan ibu Rama . Dia tak datang seorang diri , melainkan membawa anak dan menantunya .
Salam yang tersampai sangat membuat setiap pasang telinga yang mendengar merasa kecanduan . Sungguh tulus dan menyentuh hati .
__ADS_1
Dia adalah adik dari ibu Rama , yang biasa di panggil bu lek olehnya . wanita bijak yang tak membela salah satu pihak, begitu anak dan menantunya .
Pendekatan yang mereka lalui berjalan halus, perlahan Rama mau berkata jujur dan terbuka . Hanya, dia tak mau ada yang menjelekkan istrinya . Seburuk apapun itu tetaplah wanita terbaik dalam hidupnya .
"Lalu, bagaimana rencanamu selanjutnya ?"
Mereka masih mengimbangi dan mengikuti kemauan Rama . mencoba menelaah setiap kata yang sempat Rama ucapkan . Tak ingin membuat pria itu merasa semakin depresi dan menyerah dengan hidupnya .
"Aku akan kembali ke Surabaya bu lek ..
Kinanti hanya lagi emosi saja, nanti kalau sudah beberapa hari ngga ketemu pasti dia bisa berfikir jernih "
"Boleh saya bicara?"
Gadis imut yang sedari tadi hanya menjadi pendengar kini angkat bicara . Sedari awal , dia seolah tak peduli dan asyik dengan ponsel di tangannya . Namun,rupanya dia juga memperhatikan arah pembicaraan orang-orang di sekitarnya .
__ADS_1
"Coba, mas Rama tanya sama hati kecil mas , apa keputusan mas untuk kembali itu sudah paling tepat? dari cerita yang sampean katakan , ada yang membuat ku tertarik . Wanita mu sudah mengatakan 'tidak mencintai mu sama sekali sedari awal pernikahan' lalu apa yang masih sampean beratkan mas ?"