
Nadira POV
Tuhan, kenapa aku tidak pernah bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga ? Semua masalah yang ada, seakan akulah yang membuatnya. Tuhan, aku belum memahami ini dengan benar, yang ku tahu sekarang hanyalah harapanku yang terlalu besar untuk sebuah kesuksesan. Ya, aku ingin sekali membuat orang-orang yang aku sayangi bahagia, terutama Ayah. Tapi, apa cara yang ku pilih sekarang adalah sebuah kesalahan ? ~Nadira.
Untuk saat ini, hanya sepetak ruangan ini yang bisa membuat ku tenang. Aku takut, jika pintu di seberang kasurku itu ku buka, aku akan kembali mendengar suara gemuruh yang tidak aku inginkan sebelumnya.
Aku sedang nyaman berada di balik meja belajar yang sengaja Ayah bawa dulu sewaktu Ayah dan Mama memutuskan untuk tinggal di desa. Ya, walau itu tidak bertahan lama.
Aku damai mencoretkan tinta dengan aneka warna, di atas buku diary yang sengaja aku beli. Bercurah dengan tenang, berkeluh tanpa menyakiti hati yang tak kayak untuk ku sakiti.
"Kak, sudah malam, makan dulu ya."
Ini mungkin sudah ke seratus kalinya Ayah mengajakku berbicara dari depan pintu kamar. Merayu, agar aku keluar dan menyambutnya layaknya tak ada masalah yang menghukum. Tetapi, asal Ayah tahu, aku tidak sedang marah terhadapnya, aku hanya ingin merenung. Butuh waktu untuk menyendiri, lalu berbicara dengan hatiku tanpa bujuk rayu. Aku sedang bertanya pada langit-langit jiwaku, tentang suatu hal yang logikaku tak bisa melerainya, tentang sebuah titik yang hatiku pun enggan mencernanya.
__ADS_1
"Kak, kakak tidak kasihan sama Ayah ya ?"
Rasanya, sakit sekali mendengar kalimat-kalimat Ayah yang begitu tulus. Aku terlalu kejam, jika hanya hal sepele hingga membuatnya begitu memohon kepadaku. Ini bukanlah kesalahan yang Ayah buat, tetapi karena egoku, Ayah harus bersikeras memutar cara untuk meruntuhkan hatiku.
Cekrek.
Dengan lembut, ku buka pintu kamar. Wajah yang tak berani menatap bola mata yang pemiliknya masih tegak berdiri di depan pintu. Aku tak kuasa melihat wajah lesunya, aku tak akan sanggup.
Dengan jelas, telingaku bisa mendengar jika Ayah tengah menarik nafas lega, sebelum akhirnya ia meletakkan kedua tangannya di atas pundak ku.
"Ayah, Dira yang seharusnya meminta maaf."
Aku segera memotong kalimat Ayah yang belum usai. Ku biarkan ia kembali diam, dan ku beranikan diri untuk menatap matanya dengan raut memohon.
__ADS_1
Kristal bening yang sudah bersiap meluncur, ku coba untuk ku tahan, agar Ayah tidak turut menangis karena melihat ku.
"Ayah, Dira tidak pernah menginginkan Ayah dan Nenek bertengkar seperti tadi. Dira juga sedih, kalau Ayah sampai melakukan hal bodoh hanya karena menuruti kemauan Dira. Ayah, ayah tahukan kalau Nadira ingin sekali sukses, lalu membuat Ayah dan adik-adik bahagia ? Ku mohon Yah, Nadira tidak ingin kesuksesan Nadira berawal dari sebuah kepicikan karena ambisi yang tak sanggup Dira bendung."
"Nak..."
"Yah, kalau memang hari ini belum bisa, masih ada hari esok untuk kita berusaha lagi. Ayah percayakan kalau rezeki bisa datang dari mana saja ? Bahkan dari arah yang tidak pernah kita sangka sebelumnya."
Tidak ku sangka, aku bisa mengatakan itu semua dengan tenang. Ayah tampak tak percaya aku bisa berfikir se-dewasa itu, bahkan diriku sendiri pun seperti berucap tanpa sadar.
Ku eratkan pelukan pada tubuh ramping Ayah. Raga yang tidak pernah ku lihat lebih berisi dari sekarang. Raga yang tak pernah lelah mencarikan nafkah untuk anak-anaknya. Ayah, engkau adalah harapan terbesar dalam hidupku. Kebahagiaan mu adalah mimpi utama bagiku. Ayah, kau telah rela mempermalukan dirimu sendiri, demi aku. Aku janji, aku akan membuat Ayah bangga terhadapku.
Rasanya, tak ingin ku sudahi pelukan darinya. Suatu hari, aku pasti akan sangat merindukan hal serupa. Aku akan merindukan kehangatan nya.
__ADS_1
"em, yah ? Ayah sudah meminta maaf pada nenek ? "
Pikiranku kembali terngiang dengan perdebatan tadi. Kata-kata kasar yang saling terlontar, bahkan cercaan yang sebelumnya tidak pernah aku dengarkan di dalam rumah ini.