Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Ketulusan Ibu


__ADS_3

Rama Kini telah sampai lagi di kota kelahirannya . Ia juga telah sampai di rumah dimana dia di besarkan . Rumah seorang wanita yang sangat menyesali kepedihan Rama, wanita yang tulus cintanya melebihi cintanya pada diri sendiri . Wanita, yang selalu merindukan Anak-anaknya berkumpul di rumah itu . Rumah yang mulai menua namun sangat kokoh .


"Jadi, istrimu menolak kamu ?"


Ibu mulai membuka obrolan setelah dirasa Rama sudah cukup beristirahat . Ia seakan tak peduli jika memang Rama kembali lagi kepada Kinanti . Memasang wajah legowo dan tidak memperlihatkan rasa kesalnya .


"Rama belum sampai sana buk . Sudah ketemu pak RT, Rama dilarang ."


Ibu hanya tersenyum . Ia sebenarnya sudah mendengar cerita ini dari Nurin . Bahkan lebih lengkap dan sangat jelas .


"lalu ? kamu mau gimana ?"


Rama sempat menatap wajah ibunya penuh tanda tanya . Ia lama terdiam di setiap garis-garis wajah sang ibu . Raut wajah yang mulai menua dan sudah saatnya anak-anak yang dia lahirkan merawat dan memberi hal yang dia senangi .


"Rama ikuti maunya Kinan. Mau gimana lagi. Usaha Rama sudah lebih dari cukup buat pertahanin rumah tangga Rama . Sekarang, susah saatnya Rama pasrah ."

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu bisa berfikir demikian ."


Ibu kembali memainkan sendoknya dengan nasi dan sayur di atas piringnya . Ia menikmati makan malam dengan menu yang sangat di gemari Rama sebelum ia menikah .


"buk ?"


Rama menutup sendoknya . Masih ada beberapa sendok nasi lagi yang menunggu ia habiskan disana . Tapi, pria itu justru tertarik untuk menatap wajah ibunya tanpa jeda .


"Ya ?"


Kedua pasang mata itu saling beradu . Menggambarkan isi hati dan pikiran masing-masing .


"Apa ibu senang dengan perceraian Rama ? apa ibu merasa puas ?"


Tatapan itu tak berpindah dari sumber suara yang seolah menyambar hatinya . Satu kalimat yang merobek luka nya . Menguras habis setiap kata untuk dia siapkan agar lebih damai di terima Rama .

__ADS_1


" Nak ,


seorang ibu tidak ada yang senang melihat penderitaan anak-anaknya .Mau seburuk apapun itu anaknya . Begitu juga ibu, dalam hati ibu yang paling dalam . Tidak ada secuil pun keinginan untuk membuat mu bercerai . Jika memang kamu bahagia dengan seseorang, yang walaupun orang tersebut tidak ibu sukai ,ibu pasti akan memundurkan rasa ego ibu . Dengan bahagia yang kamu rasakan, ibu ikut bahagia nak . . .


Tapi kalau untuk kasusmu sekarang, ibu pikir kamu sudah dewasa untuk menilai ."


Ibu menutup sendoknya . Entah karena dia sudah kenyang, atau merasa sakit hati dengan pertanyaan yang Rama lontarkan . Yang jelas, selesai mengatakan hal sedemikian lembut, ia langsung beranjak dan membereskan bekas makannya .


Rama masih terbelenggu dengan kalimat panjang ibunya . Ia tak habis pikir, jika apa yang beliau lakukan semua dengan dirinya . Yang selama ini sama sekali tidak menghargai nya .


"Setulus apa pun cinta yang ku akui, memang tak bisa menandingi cinta tulus seorang ibu terhadap anak-anak nya meskipun itu tanpa pengakuan .


Jika banyak yang mengatakan cintaku hanya memburu nafsu dan ego yang besar untuk memiliki, rupanya itu memang benar . Dan bodohnya, aku masih memegang kuat keteguhan ku yang tanpa tujuan . . .


Kali ini, aku sangat menyadari perihal ini, ngga tahu gimana nanti dan besok . . .

__ADS_1


aku adalah jiwa yang mudah berubah , bahkan sedetik dari sekarangpun pemikiran ku masih sering berubah-ubah ." ~Rama


__ADS_2