
Rama Kini telah sampai lagi di kota kelahirannya . Ia juga telah sampai di rumah dimana dia di besarkan . Rumah seorang wanita yang sangat menyesali kepedihan Rama, wanita yang tulus cintanya melebihi cintanya pada diri sendiri . Wanita, yang selalu merindukan Anak-anaknya berkumpul di rumah itu . Rumah yang mulai menua namun sangat kokoh .
"Jadi, istrimu menolak kamu ?"
Ibu mulai membuka obrolan setelah dirasa Rama sudah cukup beristirahat . Ia seakan tak peduli jika memang Rama kembali lagi kepada Kinanti . Memasang wajah legowo dan tidak memperlihatkan rasa kesalnya .
"Rama belum sampai sana buk . Sudah ketemu pak RT, Rama dilarang ."
Ibu hanya tersenyum . Ia sebenarnya sudah mendengar cerita ini dari Nurin . Bahkan lebih lengkap dan sangat jelas .
"lalu ? kamu mau gimana ?"
Rama sempat menatap wajah ibunya penuh tanda tanya . Ia lama terdiam di setiap garis-garis wajah sang ibu . Raut wajah yang mulai menua dan sudah saatnya anak-anak yang dia lahirkan merawat dan memberi hal yang dia senangi .
"Rama ikuti maunya Kinan. Mau gimana lagi. Usaha Rama sudah lebih dari cukup buat pertahanin rumah tangga Rama . Sekarang, susah saatnya Rama pasrah ."
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu bisa berfikir demikian ."
Ibu kembali memainkan sendoknya dengan nasi dan sayur di atas piringnya . Ia menikmati makan malam dengan menu yang sangat di gemari Rama sebelum ia menikah .
"buk ?"
Rama menutup sendoknya . Masih ada beberapa sendok nasi lagi yang menunggu ia habiskan disana . Tapi, pria itu justru tertarik untuk menatap wajah ibunya tanpa jeda .
"Ya ?"
Kedua pasang mata itu saling beradu . Menggambarkan isi hati dan pikiran masing-masing .
"Apa ibu senang dengan perceraian Rama ? apa ibu merasa puas ?"
Tatapan itu tak berpindah dari sumber suara yang seolah menyambar hatinya . Satu kalimat yang merobek luka nya . Menguras habis setiap kata untuk dia siapkan agar lebih damai di terima Rama .
__ADS_1
" Nak ,
seorang ibu tidak ada yang senang melihat penderitaan anak-anaknya .Mau seburuk apapun itu anaknya . Begitu juga ibu, dalam hati ibu yang paling dalam . Tidak ada secuil pun keinginan untuk membuat mu bercerai . Jika memang kamu bahagia dengan seseorang, yang walaupun orang tersebut tidak ibu sukai ,ibu pasti akan memundurkan rasa ego ibu . Dengan bahagia yang kamu rasakan, ibu ikut bahagia nak . . .
Tapi kalau untuk kasusmu sekarang, ibu pikir kamu sudah dewasa untuk menilai ."
Ibu menutup sendoknya . Entah karena dia sudah kenyang, atau merasa sakit hati dengan pertanyaan yang Rama lontarkan . Yang jelas, selesai mengatakan hal sedemikian lembut, ia langsung beranjak dan membereskan bekas makannya .
Rama masih terbelenggu dengan kalimat panjang ibunya . Ia tak habis pikir, jika apa yang beliau lakukan semua dengan dirinya . Yang selama ini sama sekali tidak menghargai nya .
"Setulus apa pun cinta yang ku akui, memang tak bisa menandingi cinta tulus seorang ibu terhadap anak-anak nya meskipun itu tanpa pengakuan .
Jika banyak yang mengatakan cintaku hanya memburu nafsu dan ego yang besar untuk memiliki, rupanya itu memang benar . Dan bodohnya, aku masih memegang kuat keteguhan ku yang tanpa tujuan . . .
Kali ini, aku sangat menyadari perihal ini, ngga tahu gimana nanti dan besok . . .
__ADS_1
aku adalah jiwa yang mudah berubah , bahkan sedetik dari sekarangpun pemikiran ku masih sering berubah-ubah ." ~Rama