Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Akhirnya berkunjung


__ADS_3

"Kak ..."Rama sedikit mengeraskan suaranya. Mungkin, ini panggilannya ke 10 kali pada Nadhira. Gadis yang sedang duduk manis di sebelahnya, tetapi entah dimana pikirannya berada. Nadhira sama sekali tak merespon ucapan Rama, sebelum Rama sedikit menaikkan volume bicaranya.


"Kakak kenapa ? Ayah ajak bicara terus lo dari tadi." jelas Rama seraya membelai lembut kepala Nadhira.


"Eng...engga yah. Nadhira cuma lagi menikmati perjalanan aja. Nanti, kalau dhira sudah ke Jepang, pasti rindu masa-masa seperti ini sama Ayah." Nadhira tersenyum tipis.


"Ini makan dulu ! Sebentar lagi kita sampai kak." perintah Rama. Ia menyodorkan sebungkus roti sobek yang ia beli di terminal keberangkatan tadi.


Nadhira menerima bungkusan roti itu, lalu mengambilnya sepotong. Dengan pelan, ia menggigit kecil roti itu. Meskipun perutnya tidak lapar, tetapi Nadhira malas jika harus menjawab dan memberi alasan atas pertanyaan kenapa dari ayahnya.


Selesai makan, Nadhira mengemasi barang-barangnya. Bus mulai melambat, dan memasuki kawasan terminal. Keduanya bergegas turun, setelah bus benar-benar berhenti.


🌼🌼


Rama dan Nadhira memilih berjalan kaki untuk ke rumah Nurin, adik kandung Rama. Karena tidak mungkin jika mereka langsung datang ke rumah Kinanti, karena sudah dapat di pastikan Kinanti akan menolak Rama dengan keras. Meskipun rasa rindunya pada Allena dan Kevin sulit untuk di bendung, tetapi Rama tidak ingin memperkeruh permasalahan yang ada.

__ADS_1


Setelah cukup beristirahat dan membersihkan diri, Nadhira lanjut bersiap-siap untuk pergi ke rumah Kinanti. Tidak banyak barang yang ia bawa, karena ia tidak merencanakan untuk menginap di sana.


Setelah berpamitan kepada Rama dan Nurin, ia menyeret langkahnya dengan tenang. Sepanjang jalan, ia hanya mempersiapkan mental dan hatinya untuk menyambut perlakuan Kinanti dan lelakinya nanti.


"Kak Nadhira ?"


Seorang bocah perempuan itu melempar asal sepeda yang ia naiki. Dengan girangnya, ia berlari secepat yang ia bisa untuk menghampiri Nadhira. Tawanya menjadi candu, senyum gembira begitu merekah sempurna menghias wajahnya.


"Allena kok main di luar ? sendirian lagi. Mama sama kak Kevin kemana ?" Nadhira duduk jongkok untuk mengimbangi tinggi Allena.


nadhira terkejut, spontan ia istighfar lalu berlari kecil menghampiri Kevin. Kaki Kevin di ikat perban, begitu pula dengan dahinya.


"Vin, kamu kenapa ?" tanya Nadhira panik.


Adiknya itu terkekeh," kakak, adikmu ini anak laki-laki, terluka itu hal yang biasa. Harus kuat, engga boleh nangis." jawabnya lantang. Kristal-kristal bening mulai bersembunyi di sudut matanya, tetapi Kevin berusaha menahannya agar tidak menetes.

__ADS_1


"Kevin, mau laki-laki ataupun perempuan, terluka seperti ini tu bukan hal yang biasa !" Nadhira meninggikan nada bicaranya. Hatinya bergerumuh, ingin sekali segera masuk ke rumah dan bertemu Kinanti lalu memakinya karena membiarkan Kevin terluka. Nadhira tahu, Kevin bisa berbicara sedemikian rupa karena mengikuti hal yang ia dengar. Ia menyampaikan ucapan seseorang terhadapnya.


"Kak Kevin kemarin di hukum Mama kak. Kemarin hujan-hujan engga boleh masuk, terus kakak terpeleset." cerita Allena dengan wajah polosnya. Ia mengatakan apa yang ia ketahui tanpa di tambah ataupun di kurangi.


"Astaghfirullah adzim." Nadhira mengelus dada, lalu menghempaskan nafas dengan kasar. "Mama benar-benar keterlaluan." sungut Nadhira penuh amarah.


"Ma..."


"Mama...."


"Ma......"


Brakkkk


Nadhira mendorong pintu dengan kasar. Kinanti yang sedang bermesraan dengan Abbas di dalam kamar kaget. Dengan cepat ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Nadhira menarik kembali kakinya yang baru masuk satu langkah. Ia juga dengan cepat menolehkan kepalanya. Membuang pandangan agar tak semakin kesal dengan tingkah laku Kinanti.

__ADS_1


__ADS_2