Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Perpisahan


__ADS_3

Nadira POV


"Yah, ini Anisa temenku . Mamanya gak bisa jemput, ayahnya juga .Mereka harus kerja dua-duanya ."


Aku sengaja mengarang cerita untuk membohongi Ayah . sebenarnya berat sih, tapi aku mencoba melihat respon mamaku .


Dan kau tahu ? itu buruk .Mama masih menaruh wajah cuek dan tidak peduli dengan apa yang ku katakan .


Untung saja , Anisa selalu bisa ku andalkan .Dia tahu apa yang ku pikirkan, dan apa yang harus dia lakukan . Dia memang cerdas dan cekatan .


"Hallo om, tante . "


Nisa mengulurkan jemarinya , dia juga mencium tangan kedua orang tuaku .


"Maaf sebelumnya, Ibu dan bapak masih kerja , jadi tidak bisa ikut jemput Nadira . Tapi om tenang saja , mereka pasti sangat sayang sama Dira .sama kaya om dan tante sayang sama Dira."


Aku tahu, kawanku ini ikut memancing mama .Ia tahu banyak dengan kondisiku .Ia juga tahu, kalau mama tidak begitu peduli kepadaku .Padahal, banyak dari teman-teman ku yang menjadi anak sulung,dan mereka sangat disayang sama keluarganya .


"tunggu dulu, kamu yang pernah main ke rumah kan. Yang dianter sama pacarmu waktu itu ?"

__ADS_1


heh ? Aku dan Anisa saling berpandangan . Pacar ? Semenjak kapan gadis di sebelahku ini berpacaran? Kenapa juga aku tidak ingat kapan dia main bawa pacar? Kuangkat alis ku sebelah, memberinya kode bahwa aku tidak paham dengan arah pembicaraan Mama .


"Pacar ?"


begitulah, sepatah kata yang membuat Nisa bergidik geli saat mengatakannya .


"Tante tidak salah orang ? Aku memang pernah main ke rumah tante , tapi diantar kakakku .bukan pacarku "


Dengan manis ,Anisa menjawab dan membungkam mulut mamaku . Aku tahu, dia kesal dengan pertanyaan itu . Tapi,dia tetap anggun dengan gaya lemah lembutnya .


Banyak yang Ayah tanyakan pada Anisa . Rasanya bukan lagi mau mencari kost dan tempat tinggal, tapi seperti sedang mencari seorang baby sitter anak seorang ningrat. Untung saja, Anisa sangatlah sabar meladeni Ayah .


--


Anissa sangat girang mendengar akhir jawaban ayah .Ia memelukku berulang kali, dan menghujami pipiku dengan ciuman .


Ayah hanya tertawa melihatnya , begitupun kevin dan Lena yang aku sendiri tak memahami apa yang mereka ketahui tentang ini .


Kali ini,aku yakin dan amat sangat yakin .Aku bisa tinggal terpisah dari mereka .Justru, mungkin ini akan membuatku jauh lebih tenang .

__ADS_1


Aku melepas mereka dengan senyuman , hanya kedua adikku yang sedikit membuatku sedih .Aku takut, jika aku tidak ada mama akan menjadikan mereka sbagai luapan emosinya .


Dan saat mereka naik bus , hanya Ayah dan adik laki-laki ku yang menangis . Mereka,kedua lelaki yang selalu menjadi cinta pertamaku dalam hidupku.


"kakak, hati-hati ! Inget ya,kakak kan perempuan,jaga diri ! jaga sikap dan yang paling utama jaga sholatnya .Ayah akan sering hubungi kakak ."


Pesan ayah dan pelukan terakhir dihari ini masih terngiang jelas dibenakku .Garis wajah yang tidak pernah membuatku bosan.


Aku tahu, aku sedih dengan keadaan seperti ini . Hidup sebatang kara, jauh dari keluarga .Tapi Anisa selalu menjadi sahabat sekaligus saudara baik untukku .Dia bisa menutup sedihku, menghapus tangisku, dan melukis indah senyuman di bibirku .


--


"huffff, Alhamdulillah sampai juga "


Anisa membanting tubuhnya keatas sofa yang menyambut diruang tamunya . Nafasnya ia hela panjang, mungkin karena terik ia terlihat begitu kelelahan .yaa walaupun jalan yang kita tempuh tidaklah jauh.


"Udah, anggap aja rumah sendiri .sini duduk!"


Ia menyeret tubuhku untuk ikut rebahan disampingnya .

__ADS_1


"assalamualaikum ..."


__ADS_2