
"lihat yah, Dira masuk lima besar . "
Seolah sedang berpura-pura lupa, Nadira membawa raport berwarna biru ke hadapan Rama . Ia menyerahkan agar Rama bisa melihat keseluruhan .
Matanya berbinar tak lepas memandangi setiap garis wajah Rama, laki-laki yang sangat tulus menyayangi nya .
Rama pun demikian, ia melihat nilai-nilai Nadira dengan seksama . Mencoba mencerna, dan mengalihkan segala rasa yang ada menjadi harapan yang besar untuk masa depan putrinya .
"Nanti , kalau Nadira sudah lulus . Nadira akan kerja untuk ayah dan adek-adek . Ayah diem dirumah, ayah jangan sedih-sedih lagi, jangan capek-capek lagi ."
Tuturnya sedikit serak, ia menahan tangisnya yang sudah sampai di tenggorokan . Membuat suaranya tertahan, bahkan rasa sedihnya itu sungguh menyekik lehernya .
"Kak, apapun yang terjadi ke depan . Kakak tetap sama ayah kan ?"
__ADS_1
Kali ini gantian Nadira yang melongo . Ia sedikit tak memahami arah pembicaraan Rama . 'ada sesuatu yang di sembunyikan di balik pertanyaan itu' . pekiknya dalam hati .
"Ayah yang dari dulu udah sayang dan rawat Nadira . Pasti Nadira tidak pernah lupa akan hal itu "
Semoga saja, apa yang Nadira katakan adalah hal benar . Apalagi, nanti ketika dia sudah mengetahui hal besar yang masih tertata rapi untuk disembunyikan .
Rama mendekap putrinya, erat dan penuh kasih sayang . Cinta yang tak terputus, akan abadi walau waktu telah mempermainkan keduanya . Cinta yang suci antara ayah dan putrinya .
Kemesraan itu, tak usai disitu, Annisa telah menyiapkan makan malam untuk mereka . Mempersiapkan semuanya untuk bebersih dan menikmati hidangan, tak luput Juga arya yang sedari tadi diam, memberi waktu Rama untuk bercurah kasih dengan Nadira .
'Percayalah nak, kamu tetap akan menjadi putri ayah sampai kapanpun itu' Batin Rama saat tangannya sibuk memainkan sendok diatas piring .
--
__ADS_1
Dalam tawa, waktu memang semakin cepat berputar . Dalam duka, waktu seolah terhenti tak ingin beranjak lebih cepat . Seolah, mencoba mempermainkan diri , agar berlama-lama memproses rasa yang semakin tak karuan pedihnya .
"Kak, ayah sama om Arya pamit ya . Ayah janji bakal sering-sering main kesini ."
Senyum Nadira merekah . Ia kembali memeluk Rama, sebagai tanda perpisahan . dan titik awal, bahwa Ia akan bermain lagi dengan rasa rindunya .
"terimakasih buk,pak untuk waktu dan kasih sayang nya untuk Nadira ."
Rama menjabat tangan Ibu Annisa, tak tertinggal suami dan anak-anak nya . Begitu juga Arya , mereka berdua pamit dengan sopan . Lalu bergegas melajukan sepeda motornya .
Hari semakin larut, jalanan pun mulai tampak sepi . Di pedesaan seperti ini, memang jarang terjadi aktivitas di malam hari . Paling hanya beberapa orang saja yang masih lalu lalang . Entah hendak pulang, atau justru baru keluar rumah untuk mencari Nafkah .
Toko-toko juga sudah banyak yang tutup . Hanya nyanyian jangkrik dan binatang-binatang malam yang mewarnai perjalanan mereka .
__ADS_1
"Sudah seneng kan mas ? Putri mas saja bisa legowo gitu lo . masak sampean lelaki tidak bisa ?"
Arya kembali memberikan semangat . Berharap setelahnya Rama bisa lebih tenang menghadapi kehidupan . Apalagi urusan hati, ya semoga saja kedepannya ia mendapat perempuan yang sederhana cara hidupnya . Bahkan, bisa mengerti keadaan maupun kurangnya Rama .