Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Kemesraan


__ADS_3

"lihat yah, Dira masuk lima besar . "


Seolah sedang berpura-pura lupa, Nadira membawa raport berwarna biru ke hadapan Rama . Ia menyerahkan agar Rama bisa melihat keseluruhan .


Matanya berbinar tak lepas memandangi setiap garis wajah Rama, laki-laki yang sangat tulus menyayangi nya .


Rama pun demikian, ia melihat nilai-nilai Nadira dengan seksama . Mencoba mencerna, dan mengalihkan segala rasa yang ada menjadi harapan yang besar untuk masa depan putrinya .


"Nanti , kalau Nadira sudah lulus . Nadira akan kerja untuk ayah dan adek-adek . Ayah diem dirumah, ayah jangan sedih-sedih lagi, jangan capek-capek lagi ."


Tuturnya sedikit serak, ia menahan tangisnya yang sudah sampai di tenggorokan . Membuat suaranya tertahan, bahkan rasa sedihnya itu sungguh menyekik lehernya .


"Kak, apapun yang terjadi ke depan . Kakak tetap sama ayah kan ?"

__ADS_1


Kali ini gantian Nadira yang melongo . Ia sedikit tak memahami arah pembicaraan Rama . 'ada sesuatu yang di sembunyikan di balik pertanyaan itu' . pekiknya dalam hati .


"Ayah yang dari dulu udah sayang dan rawat Nadira . Pasti Nadira tidak pernah lupa akan hal itu "


Semoga saja, apa yang Nadira katakan adalah hal benar . Apalagi, nanti ketika dia sudah mengetahui hal besar yang masih tertata rapi untuk disembunyikan .


Rama mendekap putrinya, erat dan penuh kasih sayang . Cinta yang tak terputus, akan abadi walau waktu telah mempermainkan keduanya . Cinta yang suci antara ayah dan putrinya .


Kemesraan itu, tak usai disitu, Annisa telah menyiapkan makan malam untuk mereka . Mempersiapkan semuanya untuk bebersih dan menikmati hidangan, tak luput Juga arya yang sedari tadi diam, memberi waktu Rama untuk bercurah kasih dengan Nadira .


'Percayalah nak, kamu tetap akan menjadi putri ayah sampai kapanpun itu' Batin Rama saat tangannya sibuk memainkan sendok diatas piring .


--

__ADS_1


Dalam tawa, waktu memang semakin cepat berputar . Dalam duka, waktu seolah terhenti tak ingin beranjak lebih cepat . Seolah, mencoba mempermainkan diri , agar berlama-lama memproses rasa yang semakin tak karuan pedihnya .


"Kak, ayah sama om Arya pamit ya . Ayah janji bakal sering-sering main kesini ."


Senyum Nadira merekah . Ia kembali memeluk Rama, sebagai tanda perpisahan . dan titik awal, bahwa Ia akan bermain lagi dengan rasa rindunya .


"terimakasih buk,pak untuk waktu dan kasih sayang nya untuk Nadira ."


Rama menjabat tangan Ibu Annisa, tak tertinggal suami dan anak-anak nya . Begitu juga Arya , mereka berdua pamit dengan sopan . Lalu bergegas melajukan sepeda motornya .


Hari semakin larut, jalanan pun mulai tampak sepi . Di pedesaan seperti ini, memang jarang terjadi aktivitas di malam hari . Paling hanya beberapa orang saja yang masih lalu lalang . Entah hendak pulang, atau justru baru keluar rumah untuk mencari Nafkah .


Toko-toko juga sudah banyak yang tutup . Hanya nyanyian jangkrik dan binatang-binatang malam yang mewarnai perjalanan mereka .

__ADS_1


"Sudah seneng kan mas ? Putri mas saja bisa legowo gitu lo . masak sampean lelaki tidak bisa ?"


Arya kembali memberikan semangat . Berharap setelahnya Rama bisa lebih tenang menghadapi kehidupan . Apalagi urusan hati, ya semoga saja kedepannya ia mendapat perempuan yang sederhana cara hidupnya . Bahkan, bisa mengerti keadaan maupun kurangnya Rama .


__ADS_2