
"Kak mau kemana ?"
Rama terkejut melihat Nadhira lewat begitu saja tanpa berpamitan dengannya. Padahal, ia sedang duduk di kursi, di teras rumah.
"Ayah ? Maaf Dhira gak lihat ayah tadi. " ucap Nadhira singkat.
Rama mengerutkan dahi, " gak lihat ayah ? Kakak melamun ya ?" tanya Rama heran.
"Ah ? engga ayah, Dhi- Dhira cuma lagi mikirin gimana nanti kalau Nadhira sudah ke Jepang. Pasti bakal rindu sama ayah." Nadhira memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Matanya sembab, wajahnya kusut, tetapi ia masih berusaha menyembunyikan kesedihannya di hadapan Rama.
Rama membalas senyuman Nadhira dan melangkah mendekatinya. Ia mengusap kepala Nadhira, "Kakak terlalu lelah, istirahat ya ?"
"Engga ayah, Nadhira baik-baik saja. Nadhira sudah janji bakalan jemput Kevin yah. Dhira takut kalau Kevin bakal kecewa seperti Allena kalau aku berbohong."
__ADS_1
"Kak.."
"Percaya sama Dhira yah. Dhira baik-baik saja. "
Rama menyerah. Nadhira memang berjiwa besar, tekatnya kuat apalagi tentang masa depannya. Kalau sudah menjadi maunya, tidak ada satupun orang yang boleh menghalangi, dan ia bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Hatinya lembut, sungguh Kinanti adalah ibu terbodoh karena telah mencampakkan anak setulus Nadhira.
Nadhira menarik nafas panjang, sebelum memantapkan langkah dan kembali ke rumah 'neraka' -nya. Ia benar-benar menyiapkan mental dengan apapun itu sambutan yang akan Kinanti berikan untuknya. Hadiah-hadiah tak terduga, hal-hal kecil bahkan besar yang pasti akan mengguncang perasaannya.
Kalau bukan demi Kevin, sudah malas sekali rasanya kembali ke rumah neraka itu. - Nadhira.
"Kosong ?" batin Nadhira heran. Padahal ia sudah mengatakan akan kembali dan menjemput Kevin, tetapi ternyata rumah itu tidak lagi berpenghuni. Tetangga Kinanti keluar karena melihat Nadhira kebingungan dan telah lama mengetuk-ngetuk pintu rumah, meskipun tak kunjung mendapat jawaban. Ia mengatakan bahwa Kinanti dan Abbas membawa kedua anaknya pergi sejak kemarin. Mereka membawa banyak barang, dan sepertinya mereka pindah dari rumah ini.
"Pindah ?" tanya Kinanti terkejut.
__ADS_1
"Sepertinya seperti itu nduk. La wong bawa koper dan barang-barang banyak. Nek liburan gak mungkin to bawa barang." cerita perempuan itu, menurut apa yang ia lihat.
"Mama tidak titip pesan ya tante ?" Tanya Nadhira lagi.
"Tidak. Pesan untuk sopo ? la wong ke kamu wae bencine kebangetan kok. " tuturnya, dengan ekspresi kesal mengingat kebencian Kinanti terhadap Nadhira. " mbok uwis nduk, gausah di pikir ne, gausah di golek i , ini tu udah paling bener. Biarin Kinanti pergi, adik-adik mu yo disayang kan sama Kinan, kamu pikirin awakmu dewe, biar tenang nduk." Panjang lebar perempuan yang Dhira sapa tante Lina itu memberikan nasihat kepada Nadhira.
Sebenarnya bukan masalah Kinanti pergi, atau Nadhira penasaran kemana perginya. Tetapi, ia memikirkan Kevin dan Allena, apalagi mengingat janjinya pada Kevin, dan tangisannya saat ia datang kemarin.
Nadhira tidak bersuara. Ia diam dalam kekecewaan. Matanya mulai berkaca-kaca lagi, padahal sembab karena tangisnya semalaman belum juga pulih.
"Yo wis ya, Tante mau nerusin jemur pakaian dulu. Wes, ga usah nangis !" pamit tante Lina seraya menepuk lengan Dhira.
"Iya tante... terima kasih ya."
__ADS_1
Nadhira kembali dengan kecewa. Lagi, dan lagi, selalu air mata oleh-oleh yang ia dapat setelah berkunjung ke rumah Kinanti. Ia menyeret kakinya malas, memikirkan bagaimana nanti ia akan menjelaskan pada Kevin, ketika suatu hari takdir membawa mereka untuk kembali bertemu. Pasti, janjinya meninggalkan luka pada hati adiknya, apalagi jika sudah di tambah bumbu-bumbu oleh Kinanti.