
Nadhira mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia berteriak dalam tangisnya, semua barang-barang yang berada di dalam kamar lamanya itu sudah tidak berada di tempatnya. Nadhira melemparnya asal, beterbangan lalu menghantam tembok dengan kerasnya. Dadanya bergemuruh, nafasnya terasa sesak. Tangis histeris Nadhira menggambarkan seberapa dalam sakit hatinya. Ia telah di ujung kekecewaan, sabar yang ia bina, tegar yang ia pelajari kini sirna.
Setelah selesai memunguti pakaiannya yang ia buang asal sebelum bersenang-senang tadi dan kembali mengenakannya Kinanti segera mengikuti putri pertamanya ke dalam kamar. Ia hanya memandangi sekeliling kamar. Berantakan, dan semua tidak pada tempatnya. Matanya terhenti di sudut ruang, Nadhira duduk bersandar dan menyembunyikan wajahnya diantara lipatan paha. Tangisnya masih terdengar di telinga Kinanti. Amarah yang tadi menggebu, kini padam begitu matanya menatap lekat pada putri pertamanya.
"Kak..." seru Kinanti pelan.
Nadhira masih meneruskan tangisnya. Ia tidak mempedulikan Kinanti yang sudah berada di hadapannya.
"Mama tahu kakak kecewa, tapi inilah hidup kak." Ucap Kinanti serius. Ia memilih duduk di tepi ranjang dan membiarkan Nadhira menyelesaikan tangisnya sendiri. Kinanti membenahkan pakaiannya yang sangat berantakan karena ia memang terburu-buru memakainya tadi.
Perlahan, Nadhira mengangkat kepalanya. Ia menatap Kinanti lekat dan penuh ancaman. "Jadi mama membuat Nadhira dan adik-adik lahir di dunia ini hanya untuk sebuah ungkapan 'inilah hidup' ma ?" Nadhira tersenyum getir.
Kinanti berlagak acuh. Ia terus sibuk dengan pakaiannya tanpa mempedulikan pertanyaan Nadhira. Hatinya mungkin telah beku, benar-benar hilang rasa. Ia tahu mental putrinya sedang di uji, dan ia tahu bahwa dirinyalah penyebabnya. Tetapi, egonya tak mau tahu tentang itu. Ia masih saja berpikir bahwa Nadhira hanya terlalu membenci Abbas karena terpengaruh oleh Rama. Dan ini, adalah bagian dari sandiwaranya agar Kinanti luluh lalu kembali merajut asa bersama Rama.
Dan itu adalah mimpimu mas Rama, yang selamanya hanya akan menjadi mimpi burukku. ~ Kinanti
__ADS_1
"Sudahi sandiwara mu Dhir ! Mama selamanya tidak akan pernah kembali sama Rama !" sentak Kinanti sedikit keras karena telinganya mulai panas mendengar isak tangis Nadhira.
"Nadhira juga tidak akan pernah mengizinkan jika anda kembali sama ayah, selamanya !" Seru Nadhira dengan lantang.
"Heh, jadi seperti ini yang Rama ajarkan sama kamu selama di kampung ?" gertak Kinanti tak terima karena Nadhira membentaknya. Ia berdiri dan menunjuk tepat di depan wajah Nadhira.
"Kenapa selalu ayah ma ? Nadhira seperti ini itu karena mama ! Semua salah mama, dan mama yang telah merubah Nadhira menjadi seperti ini !"
"Sekali lagi kau panggil laki-laki miskin itu ayah, mama tidak akan pernah menganggap mu sebagai anak Dhira !" Kinanti menggertak Nadhira. Ia menekankan setiap kata ancaman yang terlontar dari bibirnya. Matanya melotot penuh amarah, kebencian pada Rama yang tak di dasari sebab itu tergambar jelas di bola matanya.
"Itu lebih baik, jadi Dhira tidak perlu repot-repot untuk mengunjungi anda ke rumah yang sangat panas ini." ucap Nadhira mencoba tenang.
"Tadinya, Nadhira ingin datang dengan baik ke rumah ini. Nadhira hanya mau pamit sama anda karena bulan depan Nadhira akan kerja ke Jepang. Tetapi melihat sambutan yang anda berikan cukup menjelaskan apa yang harus saya lakukan setelah ini."
"Ke- ke Jepang ? Kakak lolos seleksi ?" Mata Kinanti berbinar. Kobaran amarah itu redup seketika. Ia tampak melembutkan suaranya, terdengar sedikit ramah. Seperti menemukan emas di tumpukan jerami, Kinanti mulai berkata dengan baik pada Nadhira.
__ADS_1
"Sudahi sandiwara mu itu, saya jijik mendengarnya !" Nadhira menyeringai.
"Kak, jangan seperti itu. Kakak salah paham nak. Mama cuma kecapekan jadi emosi mama naik turun nak. Maafkan mama.." Kinanti memohon. Ia berlutut dan terus membuai dengan kata-kata manisnya.
"Cukup ! Nadhira bukan bayi lagi, Nadhira bukan anak lima tahun yang sangat mudah di bohongi." Nadhira menahan tangisnya.
"Kak, maafkan mama..." Kinanti tak peduli penolakan dari putrinya. Ia meraih kedua lengan Nadhira lalu mendekapnya erat.
Emosi Nadhira sudah diujung tanduk. Ia yang meronta dan menolak tak di hiraukan oleh Kinanti. Sehingga Nadhira spontan mendorong Kinanti hingga perempuan itu terjatuh di tepi kasur.
"Kakak...." Kinanti memperdalam sandiwaranya. Ia menangis tersedu tanpa air mata. Sudut matanya melirik, ia melihat ada Allena yang sudah berdiri di depan pintu menyaksikan pertengkaran mereka.
"Ma, Allena lapar ..."
Tiba-tiba Allena berdiri di ambang pintu dan mengatakan bahwa dirinya lapar dengan suara lirih. Tidak Nadhira sadari seberapa lama Allena berdiri di sana, apa ia mendengar semua percakapan Nadhira dan Kinanti ? Semua pertanyaan kekhwatiran itu muncul di benak Nadhira.
__ADS_1
"Sebentar ya sayang. Mama lagi bicara sama kakak." jawab Kinanti lembut. Ia berpura-pura mengusap pipinya seakan sedang menghapus air mata.
"Lena mau makan apa ?" tanya Nadhira menghampiri adik bungsunya.