
tok tok tok
"Kak..."
"Iya yah."
Nadhira memutar gagang pintu, lalu mempersilahkan Rama untuk masuk.
"Kakak sibuk ?"
Nadhira meletakkan keranjang pakaian bersih yang hendak ia masukkan kedalam lemari.
"Kakak tidak ke rumah Mama sebelum berangkat kak ?" Rama tak lagi berbasa basi, ia mengucapkan apa yang beberapa hari ini mengganggu konsentrasinya.
"Untuk apa yah ?" dengus Nadhira kesal.
"Ya pamit kak."
__ADS_1
"Tidak Ayah ! Nadhira bisa pamit lewat telepon nanti. Lagian Mama sudah bahagia sama cinta monyetnya itu, ada ataupun gak ada Nadhira buat Mama juga sama saja yah." ungkap Nadhira panjang. Kebencian itu masih tergambar jelas di raut wajahnya.
"Kakak akan menyesal nanti kalau tidak datang kesana sebelum berangkat." ucap Rama yakin.
"Tidak akan ayah." jawab Nadhira tak kalah yakin.
"Kak, coba kakak pikir adik-adik Kakak ! 2 tahun atau mungkin bisa lebih dari itu kakak tidak akan bertemu mereka, apa kakak yakin tidak mau menemui mereka dulu ?" Rama terus berusaha meyakinkan Nadhira agar ia mau berkunjung ke rumah Mamanya. Meskipun hanya sekejap, setidaknya bertemu sebelum berpisah lama adalah hal yang baik. "Kak, kakak buang jauh-jauh pikiran Kakak tentang masa lalu kita yang buruk. Kakak hapus memori buruk kakak tentang Mama dan laki-laki itu. Allena dan Kevin, pasti akan kecewa kalau Kakak tidak mau menemui mereka sayang."
Nadhira menatap bimbang pada Rama. Ia ingin sekali berkunjung kembali ke Surabaya untuk melepas rindunya pada Allena dan Kevin, sebelum perpisahan yang jauh lebih lama itu terjadi. Tetapi hatinya selalu saja terasa pedih ketika bayang-bayang Abbas dan Kinanti muncul di benaknya.
"tapi, boleh ayah antar Dhira ?"tanya Nadhira.
"Baiklah, ayah akan temani kakak ke Surabaya. "
Nadhira tersenyum lebar menyambut persetujuan Rama. ia mendorong kedua tangannya, lalu mendekat Rama dengan erat.
"Kakak siap-siap ya, ayah mandi dulu sekalian pamit sama nenek." -Rama
__ADS_1
"Siap ayah !" -Nadhira
Rama dan Nadhira bersiap-siap. Keduanya menyiapkan barang bawaan masing-masing sebelum berangkat ke Surabaya. Rama tak lupa pamit dan menjelaskan tujuannya kepada nenek agar Beliau tidak salah paham. Tak butuh waktu lama, Nenek mengiyakan dan mengerti tujuan Rama.
"Hati-hati di jalan ya le, nduk ! kabar-kabar nak wes teko !"
Nenek turut mengantarkan Rama dan Nadhira sampai ke terminal karena kebetulan Rama meminta tolong mas Yatno, tetangga mereka untuk mengantarkan ke terminal.
"Iya nek. Dhira cuma sebentar kok nek. Nenek baik-baik di rumah, jangan lupa makan ya nek." - Nadhira
Nenek mengangguk cepat. Rama yang selesai memindahkan barang-barang mereka dari mobil ke bus, bergegas menghampiri Nenek dan Nadhira.
"Sudah kak ? ayo naik, busnya sudah mau jalan !" ajak Rama.
Nadhira menurut saja. Sebelum meninggalkan nenek, gadis itu mencium punggung tangan nenek, lalu mendekapnya dengan hangat. Begitu pula dengan Rama, ia melakukan hal yang Dhira lakukan sebelumnya.
Ayah dan anak itu berjalan menuju bus. Mereka segera mencari tempat duduk sesuai dengan nomer yamg tertera di tiketnya.
__ADS_1
Lagu-lagu di putar nyaring di dalam bus. Beberapa syair telah menggema, seiring laju roda kendaraan yang membelah jalanan kota. Nadhira memilih diam dan membuang pandangan keluar bus. Ia tampak menikmati perjalanan, meskipun batinnya sedang berperang karena banyaknya perbedaan dugaan.