
Hari itu jadwal jelas XII IPA 1 pelajaran jasmani, seluruh murid sudah berkumpul di lapangan untuk memulai pemanasan. Setelah pemanasan selesai para siswi melanjutkan untuk permainan basket dengan bantuan Pak Narto —selaku guru olahraga. sedangkan para siswa bermain futsal, voli dan tennis.
"Kenneth," Pak Narto memberi isyarat agar Kenneth mendekat. "Tolong gantikan Bapak, Bapak ada perlu dengan Kepala Sekolah," ujarnya menyerahkan bola basket.
Kenneth mengangguk mengiyakan.
Pak Narto berlalu setelah menepuk pundak Kenneth. "Kelompok yang lain belajar sama Julio, ya?" serunya pada beberapa siswi yang dari masih menunggu giliran. "Julio, sini,” panggilnya kemudian.
"Ada apa, Pak?"
"Kamu ajarkan mereka basket, yang lain sudah dipegang sama Kenneth," titah Pak Narto melihat pada Kenneth yang sudah mulai melemparkan bola dalam ring.
"Siap, Pak!" jawab Julio dengan posisi hormat. "Ayo ciwi-ciwi ikuti Bapak Julio yang ganteng ini,” ajaknya tengil.
"Huuuu," cibir para siswi tapi menurut juga.
Kenneth melemparkan bola basket pada siswi yang sudah berbaris setelah dirinya menunjukkan cara memasukkan bola dalam ring.
Entah kebetulan atau apa, Chiara berada satu tim dengan Kenneth sebagai pengajarnya. Saat giliran dirinya melempar bola, bola itu meleset. Kenneth melangkah mendekat memberitahu cara memegang bola dsb. Chiara mengangguk-angguk mendengar penuturan Kenneth. Ia kembali melempar bola dalam ring, namun lagi-lagi gagal. Ia meringis menyadari wajah Kenneth yang sepertinya kesal padanya karena tidak ada satupun bola yang berhasil ia masukkan ke dalam ring.
Kenneth mengambil alih bola dan melemparnya dalam ring, dan pastinya bola itu masuk. Ia menatap Chiara. “Ambil,” ucapnya menunjuk bola dengan dagunya.
Chiara mengangguk, berlari mengambil bola yang melambung jauh. Bukan hanya sekali, namun berulang kali ia harus mengambil bola yang melambung jauh saat Kenneth berhasil mencetak point. Ia mulai kesal dan merasa bahwa Kenneth sengaja mengerjainya.
Untuk yang entah ke berapa kalinya, Chiara mengambil bola basket kemudian berjalan dengan menghentak kaki ke arah Kenneth, nafasnya memburu serta matanya memicing tajam menatap siswa menyebalkan di hadapannya. "Enggak perlu ngajarin gue, ambil sendiri bolanya!" sungutnya menyerahkan bola pada Kenneth kasar.
"Marah?"
Chiara berkacak pinggang. "Lo pikir gue babu lo. Dasar ketua osis dingin. Nyebelin. Rese. Jahat!” hardiknya meluapkan kekesalannya.
Kenneth menaikkan sebelah alisnya. "Ada lagi?"
"APA?!” ketus Chiara mendongak menatap Kenneth yang lebih tinggi darinya. Namun keningnya mengerut bingung saat Kenneth memberikan bola basket padanya.
"Gue ajarin."
"Enggak, makasih,” tolak Chiara, saat hendak berbalik tangannya dicekal yang menyebabkan langkah kakinya terhenti.
Kenneth memposisikan dirinya di belakang tubuh Chiara yang tepat mengarah pada tiang basket. "Lempar,” ucapnya memberi perintah.
Chiara mendengus, kemudian bersiap melempar bolanya.
"Lompat,” Kenneth bersua.
"Hah?"
"Lo lompat biar bisa masukin bolanya, lo, 'kan, pendek."
Pupil mata Chiara membesar mendengar ejekan Kenneth, ucapannya sangat dingin yang menusuk. "Udahlah gu —"
"Cepet,” potong Kenneth lebih mirip bentakan.
Chiara tersentak. 'Benar-benar, ya, ini orang, nyebelin banget,’ gerutunya dalam hati. Ia mulai serius, saat sudah mengambil ancang-ancang untuk melompat tiba-tiba tubuhnya melayang, sesuatu menyentuh pinggangnya. Chiara menoleh ke belakang dan menyadari Kenneth mengangkat tubuhnya.
__ADS_1
Kenneth mengangkat tubuhnya?
Tanpa sadar Chiara menahan nafas, jantungnya tiba-tiba berdebar merasakan jemari kasar milik siswa dingin itu menyentuh pinggangnya, membuat aliran darahnya terasa beku.
Siswa siswi lain sampai menahan nafas melihat adegan langka yang dilakukan Kenneth dan Chiara. Mereka melongo menyaksikan hal yang belum pernah terjadi pada seorang Kenneth. Bahkan terlihat kepalan tangan Toriq mengambang di udara saat akan meninju Chandra yang sengaja melempar bola basket ke kepalanya.
"Buruan lempar, Ra. Lo berat."
Kalimat Kenneth mengembalikan kesadaran Chiara, ia melempar bola dan ...
Slup.
Akhirnya untuk yang ke sekian kalinya, Chiara berhasil memasukkan bola ke dalam Ring. Saat kakinya sudah menginjak tanah, tak sedikit pun Chiara bergerak dari tempatnya.
"Lo lucu kalau lagi marah,” bisik Kenneth tepat di telinga Chiara. "Jangan lupa nafas,” imbuhnya tersenyum tipis melihat tubuh Chiara yang membeku.
Chiara menghembuskan nafas panjang saat Kenneth sudah tidak berada di belakangnya, ia menyentuh dada kirinya yang berdetak sangat cepat. "Kenneth sial**,” gumamnya. "Bola basket sial**!" teriaknya.
...***...
Terlihat Galang dkk yang sedang berjalan menyusuri koridor. Ia mempunyai daya tarik tersendiri yang membuat tatapan mata mengarah padanya khususnya bagi kaum hawa. Seperti biasa pula, ia akan menggoda siswi-siswi yang menatap minat padanya, membuat mereka memekik histeris.
Namun kini semua mata menatap heran pada sosok di sampingnya, seorang siswi yang notabene anak baru, berjalan beriringan dengan seorang Galang. Sesekali mereka tertawa karena lelucon yang dilontarkan kedua teman Galang.
Hal itu tak luput dari pandangan Chiara yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Ia menyipitkan mata memastikan apa yang ia lihat tidak salah. "Cla?" gumamnya pelan.
"Hai, Kak Ara," sapa Clarissa tersenyum lebar pada kakak perempuannya.
Netra teduh Chiara memperhatikan Clarissa dan Galang bergantian.
"Oke,” balas Clarissa membentuk huruf O dengan jarinya.
Chiara tak mengerti dengan sikap Galang, jelas-jelas kemarin laki-laki itu mengatakan suka padanya, lalu sekarang laki-laki itu berjalan beriringan dengan adiknya. Memang dasar playboy cap kadal, cap karung goni, cap gayung.
Chiara menarik tangan Clarissa agar duduk di kursi koridor. "Cerita sama Kakak, apa maksudnya?"
Clarissa tak paham. "Maksud apa, Kak?"
"Kamu ada hubungan apa sama Galang?"
"Oh, Galang?" Clarissa senyum-senyum menyadari raut penasaran di wajah kakaknya. "Aku ada bisnis sama Galang," ucapnya kemudian.
Chiara menyernyit. "Bisnis?"
Clarissa mengangguk. "Bisnis penting, dan rahasia," bisiknya.
Chiara menghela nafas. "Kamu tahu, 'kan, siapa Galang?"
"Aku tahu, dia ketua basket, ‘kan? Fans dia banyak juga ternyata."
"Bukan itu, Cla."
"Lalu?" tuntut Clarissa memiringkan kepala.
__ADS_1
"Dia playboy, Dek."
"Terus?"
"Ya, Kakak enggak mau kamu jadi korban dia selanjutnya, Kakak enggak mau dia nyakitin kamu."
Clarissa menepuk tangan Chiara. "Kak, aku tahu Galang itu playboy, ralat, mantan playboy."
Chiara menyernyit.
"Aku sama dia cuma temenan, Kak. Dan ternyata dia orangnya asik, baik lagi."
"Kamu bilang dia mantan playboy?"
Clarissa mengangguk.
"Darimana kamu tahu, Cla?"
"Dia sendiri yang bilang, Kak. Sudah tobat jadi playboy, buktinya dia udah mutusin pacarnya kemarin."
"Hah, kamu tahu?"
"Tahu lah. Kan aku nguping," jawab Clarissa terkikik.
"Tapi kamu enggak suka sama dia, ‘kan?" Chiara menyelidik.
Clarissa memukul lengan Chiara. "Kak Ara sembarangan kalau ngomong,” protesnya. “Sudah aku katakan, aku ada urusan sama dia, Kak. Dan aku juga enggak ada perasaan apa-apa sama dia.” Ia memicing. “Atau jangan-jangan Kak Ara suka, ya, sama Galang, ciee.." godanya mencolek dagu Chiara.
Chiara menepis tangan Clarissa. "Jangan ngaco kamu, Kakak juga enggak suka sama Galang."
"Cla yakin sebentar lagi Kakak bakalan suka sama Galang," balas Clarissa melipat kedua tangannya.
"Apa kamu bilang?"
"Hah? Enggak ada, Cla enggak ngomong apa-apa," Clarissa berkelit.
Chiara bangkit, menepuk pundak Clarissa. "Kakak cuma ngingetin, kamu harus hati-hati sama Galang. Kamu, 'kan, tahu fans dia banyak, nanti takutnya mereka ngira kamu pacaran sama Galang, terus mereka bully kamu."
Clarissa ikut bangkit, melingkarkan tangannya di lengan Chiara. "Kak Ara tenang saja, aku bisa jaga diri, kok. Kalau ada yang macam-macam sama aku, aku ngadu sama Daddy, biar mereka dikeluarin dari sekolah,” ujarnya terkekeh.
"Hust, jangan keras-keras, nanti ada yang denger," Chiara memperingati.
Clarissa melepas tangannya. "Lagian kenapa sih, Kak, kalau semua orang tahu kita anak pemilik sekolah,” protesnya cemberut.
Chiara menghelas nafas. "Belum waktunya, Dek. Lebih baik begini, ‘kan? Enggak ada yang tahu identitas asli kita, jadi enggak ada yang memanfaatkan kita," tuturnya.
Clarissa mencebik. "Iya, juga, sih. Bosen juga jadi anak orang terkenal kayak Daddy sama Bunda," ia terkikik.
"Hust, sembarangan kalau ngomong." Chiara mencubit lengan Clarissa.
"Sshh, sakit, Kak,” keluh Clarissa mengelus lengannya.
📖
__ADS_1
📖
📖