KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Extra part 1


__ADS_3

Dalam tayangan live di salah satu stasiun televisi swasta yang dipandu oleh pembawa acara yang luwes dan humoris bernama Nuha, —atau sering dipanggil Mbak Nuha dalam acara reality show miliknya. Kali itu Nuha berkesempatan mengundang seorang wanita muda cantik dengan karir yang cemerlang. Yang beberapa bulan terakhir menjadi idola baru dunia maya.


Beberapa patah kata penyambutan telah diucapkan oleh Nuha, hingga tiba saatnya seorang bintang tamu memasuki studio.


Nampak seorang gadis dengan gaun berwarna gold sebatas lutut dengan hiasan bunga di bagian sampingnya. Mengenakan sepatu heels yang juga berwarna senada dengan gaunnya, serta sedikit memberi sentuhan pada rambutnya. Melangkah memasuki studio.


Gadis itu melambai serta memberikan senyuman yang begitu memukau ke arah kamera. Tepuk tangan penonton di studio menggema mengiringi langkahnya.


"Ini dia pemilik Ara's Collection, desainer muda berbakat dengan karya yang luar biasa. Cantik. Pintar. Kaya. Sepertinya satu paket komplit yang menggambarkan tentang dirinya. Selamat datang Chiara," Nuha menyambut antusias.


Chiara tersenyum. "Terimakasih."


"Chiara Aprilly Van Houten, atau nama panggungnya Chiara Aprilly. Bagaimana kabarnya, Chiara?" Nuha membuka obrolan.


"Alhamdulillah baik."


"Van Houten, itu nama besar keluarga, ya? Kenapa nama panggungnya tidak memakai Van Houten saja?" Nuha tentu paham dan mengerti marga besar itu sendiri.


Chiara tersenyum. "Sepertinya anda sudah tahu banyak tentang marga Van Houten, ya?" guraunya.


Nuha tergelak. "Sedikit banyak pasti tahu, lah," jawabnya mengedipkan sebelah mata.


Chiara mengambil nafas. "Aku mempunyai misi untuk mencari beberapa orang yang tidak mengenal marga itu sendiri," candanya terkikik.


Nuha semakin berderai-derai. "Meskipun sepertinya hanya sepertiga dari sepuluh, ya?"


Chiara mengangguk-angguk.


"Marga Van Houten sudah melebihi keberkahan, mungkin kamu ingin menambah keberkahan dengan nama sendiri," gurau Nuha tersenyum lebar.


Sekali lagi Chiara mengangguk. "Aminn.."


Nuha berdehem, membaca tulisan pada layar di hadapannya. "Pemilik Ara's Collection. Karya Chiara yang menyusun tema anak remaja modis banyak di gandrungi masyarakat, karyanya melejit menguasai puncak fashion." Nuha beralih menatap Chiara. "Desainer muda yang luar biasa," ia nampak kagum.


"Tidak, artikel itu terlalu dilebih-lebihkan," tanggap Chiara sungkan.


"Sedikit berbagi cerita boleh, dong. Bagaimana bisa membangun bisnis sebesar ini di usia muda. Bagaimana awal mulanya? Kita semua pasti ingin tahu. Iya, kan? Pemirsa di rumah juga?"


"Mungkin ini turunan bakat dari Bunda aku, ya. Dulu Bunda aku juga desainer. Atas bimbingan Bunda aku bisa menjadi seperti sekarang. Tentunya dengan kerja keras, ya. Karena waktu itu aku nyoba desain sambil kuliah di luar negeri," tutur Chiara.


"Jadi maksudnya, kamu meneruskan bisnis keluarga?"


Chiara menggeleng. "Bukan. Jadi waktu kuliah aku sudah punya niat buat buka butik, aku cerita sama Bunda aku, sering kirim gambar desain ke Bunda. Bunda dukung kalau aku buka butik waktu itu. Tapi, kan, waktu itu aku masih kuliah, ya. Belum bisa bagi waktu antara kerjaan di Indonesia dan belajar di Jerman. Jadi untuk sementara Bunda aku yang pegang, yang urus. Aku cuma kirim-kirim desain, semisal ada yang kurang, Bunda yang benerin, gitu. Dari bahan, proses penjahit, memasarkan, semuanya Bunda yang urus."


"Kamu kuliah di Jerman?"


Chiara mengangguk. "Setelah lulus kuliah aku masih harus menyelesaikan beberapa program desainer di sana. Jadi sekitar kurang lebih lima tahun baru kembali ke Indonesia. Dan saat itu Bunda nyerahin semua tanggung jawab sama aku, aku yang urus semuanya, Bunda tetap menjadi support terbaik di belakang aku."


Nuha mengangguk-angguk. "Aku ingat, waktu itu dunia desainer heboh pemberitaan seorang gadis belia yang menjadi desainer kondang. Ternyata itu kamu."


Chiara tersenyum. "Itu terlalu berlebihan. Banyak yang lebih hebat dari aku," sanggahnya tidak nyaman dengan status yang diberikan orang-orang diluar sana. Chiara belum merasa sehebat itu.


"Kabarnya kamu akan melebarkan sayap di event internasional? Apa itu benar?"


Chiara mengangguk. "Impian untuk itu pasti ada, masih belajar pelan-pelan, tapi kalau ada tawaran pasti aku tidak menolak," jawabnya tersenyum.


"Kalau ada tawaran bagus kenapa ditolak, ya?" sahut Nuha tertawa.


Chiara mengangguk saja.


"Apa ada keinginan untuk lanjut S2?"


"Insyaallah, iya. Tapi kalau untuk tahun ini sepertinya belum."


Nuha mengangguk. "Kita bahas keluarga, ya? Mungkin masih ada yang belum tahu kamu anak dari Bapak Sandyaga. Kalau Van Houten pasti kalian semua tahu. Houten Group, Van Houten, pemiliknya, ya, Papanya Chiara ini. Sepertiga dari sepuluh yang belum tahu, mari kita kenalan."


"Chiara ini anak perempuan pertama dari pasangan Sandyaga serta Stella. Bagaimana kabar beliau?"


"Alhamdulillah Daddy sama Bunda baik," Chiara menjawab.


"Bagaimana kabar Kakak anda? Apa dia sudah mempunyai anak? Aku sedikit mengikuti beritanya waktu itu," Nuha terkikik.


Chiara tersenyum. "Abang sekeluarga baik, Alhamdulillah anaknya sudah dua."


"Wahh.. apa mereka menonton sekarang? Bisa kamu sapa mereka?"


Chiara mengangguk. "Iya, mereka sedang nonton sekarang," jawabnya, ia menatap pada kamera di hadapannya. "Hai, Keponakan Tante yang Ganteng dan Cantik, Zack and Zeline. I miss you," ucapnya melambaikan tangan.


"Pas, ya, laki-laki dan perempuan."

__ADS_1


Chiara mengangguk


*


Nuha berdehem, "Kita masuk sesi selanjutnya ya, Chiara. Ini yang paling kita tunggu-tunggu, bahkan selama seminggu pemberitahuan diluncurkan kalau kamu yang akan menjadi bintang tamu di sini, puluhan email masuk ke akun kami. Ingin menanyakan hal ini sama kamu, aku sampai bingung milihnya," ia terkekeh.


"Tapi kalian semua tenang, pertanyaan yang akan aku sampaikan sudah mencakup semuanya, akan menjawab pertanyaan halu anda semuanya," Nuha kembali terkekeh menatap kamera. "Mengenai asmara. Apa benar anda menjalin hubungan dengan pimpinan William Corporation, Chiara?" tanyanya menatap Chiara.


Chiara tersenyum, kepalanya mengangguk. "Iya, itu benar."


"Sudah berapa lama anda menjalin hubungan dengannya?"


Chiara tengah menghitung. "Kurang lebih delapan tahunan sepertinya."


Nuha tampak terkejut. "Wow, lama juga, ya, ternyata."


Chiara mengangguk. "Dari SMA."


"Kamu kuliah di Jerman, berarti kamu LDR-an, dong?"


"Iya."


"Ini ada salah satu pertanyaan yang menggelitik dari penonton," Nuha membaca tab di tangannya. "Tolong tanyakan apakah pacar Chiara Aprilly pernah tersenyum?"


Chiara menutup mulutnya dengan tangan saat tidak bisa menahan tawa.


"Bagaimana Chiara, jawabannya? Karena yang kita ketahui bahwa pemilik William Corporation itu mempunyai julukan kulkas, ya?" Nuha terkekeh. "Senyum aja tidak pernah. Mungkin kalau sama kamu berbeda."


Chiara mengangguk. "Kalau kalian melihatnya jarang tersenyum, wajahnya datar, dingin itu benar. Tapi yang aku lihat dia itu banyak ketawa, jahil, sering bikin kesel. Ya, gitulah."


"Sisi yang tidak di ketahui banyak orang, ya?"


Chiara mengangguk.


"Apa ada rencana nikah muda?"


"Usiaku sudah dua puluh enam tahun, itu masih muda atau tua, ya?" Chiara terkekeh.


"Nggak muda, nggak tua itu, pas saja menurutku," sahut Nuha. "Kalau begitu aku ganti pertanyaan. Ada rencana menikah tahun ini?" tanyanya kemudian.


"Tahun ini?" Chiara nampak berfikir.


Chiara diam saja dengan tersenyum.


"Jadi kalau misalkan Kenneth. Namanya Kenneth, benar, ya?"


Chiara mengangguk. "Iya, benar."


"Jadi kalau misalnya, misalnya, ya, ini. Kenneth ngelamar kamu, terus diajak nikah tahun ini bagaimana?"


Chiara menegakkan punggung. "Yaa nggak apa-apa," jawabnya ragu.


"Kamu mau?"


"Mungkin sudah waktunya," sahut Chiara tersenyum.


Nuha tampak tersenyum senang. "Apa dia sekarang sedang menonton acara ini?"


"Tidak. Dia sedang ada rapat di kantor."


"Sayang sekali, ya, kalau seandainya dia nonton aku mau bilang. Kenneth, Chiara sudah setuju diajak nikah tahun ini," ucapnya tertawa.


*


Di dalam mobil yang terparkir di depan stasiun televisi swasta itu nampak seorang pria tengah tersenyum menyaksikan acara live kekasihnya.


Tersenyum mendengar jawaban yang terlontar dari sang pembawa acara mengenai hubungan asmara kekasihnya, sekarang ia tahu kapan saat yang tepat untuk melamar kekasihnya itu.


...***...


Chiara terkejut sesaat keluar dari gedung stasiun televisi yang baru saja mengundangnya sebagai bintang tamu, melihat sebuah mobil yang sudah ia hafal di luar kepala terparkir di halaman. Kedua sudut bibirnya terangkat menyadari sang pemilik mobil keluar. Chiara sedikit berlari untuk menghampiri, melesakkan tubuh dalam pelukan hangat kekasihnya.


Chiara mendongak. "Kenapa di sini? Bukannya ada rapat penting?"


"Rapatnya tidak terlalu penting daripada kamu," jawab Kenneth menggoda.


"Apa sih," Chiara tersipu.


"Ayo," Kenneth membukakan pintu mobil untuk Chiara.

__ADS_1


...***...


Kenneth telah menyiapkan makan malam romantis untuknya dan juga Chiara. Ia berniat akan melamar Chiara malam itu.


Setelah mendengar jawaban Chiara untuk siap menikah tahun ini dalam tayangan live wawancara, Kenneth merasa yakin untuk melamar gadis pujaannya itu.


Lilin-lilin menyala menghiasi ruangan di sekitar kolam. Sengaja pula Kenneth memilih apartemen sebagai tempatnya memberi kejutan untuk Chiara. Di tengah kolam sudah tersusun taburan bunga mawar yang sangat indah.


Chiara yang baru saja tiba membelalakkan mata melihat keindahan di hadapannya, Sebelumnya ia sempat terheran saat Kenneth mengajaknya makan malam namun justru ke apartemen. Ternyata Kenneth sudah menyiapkan makan malam nan romantis di sana.


Kenneth menuntun Chiara untuk duduk di ujung taman kecil yang sudah ditata rapi dengan dua kursi dan meja serta makanan yang telah tersaji.


"Ada acara apa, sih? Kok dihias begini segala?" komentar Chiara menatap sekelilingnya.


"Pengen buat kejutan aja buat kamu, jarang-jarang, kan, aku buat kejutan sama kamu."


Chiara tak menghiraukan jawaban Kenneth, netranya senantiasa menatap hiasan indah di sekelilingnya. Puluhan lilin sebagai penerangan, lampu kelap kelip mengelilingi kolam. Jangan lupakan air kolam yang penuh dengan taburan bunga. Sangat indah.


Saat sudah selesai memakan makanannya. Kenneth berlutut di hadapan Chiara, membuat Chiara seketika terkejut.


"Sudah lama aku menanti saat-saat seperti ini," ucap Kenneth membuka suara. Ia mengembuskan nafas pelan. Menjentikkan jarinya. Seketika cahaya di dalam kolam menyala dengan tulisan Will you marry me, serta dinding di belakangnya juga turut menyala, memperlihatkan deretan balon yang tertata indah, terselip kalimat Will you marry me pada balon tersebut.


Chiara menutup mulutnya karena begitu terkejut, lelehan kristal bening mengucur di kedua pipinya tanpa bisa dicegah, ia sangat terharu.


Kenneth membuka kotak beludru di tangannya, kemudian menatap Chiara lekat. "Chiara, Will you marry me?" ucapnya.


Chiara semakin terisak, ia benar-benar terharu dengan kejutan yang disiapkan Kenneth. Meskipun sebelumnya saat Kenneth mengajaknya menikah ia selalu menolak, tapi di dalam hati ia mengiyakan ajakan tersebut. Namun kala itu Chiara berfikir Kenneth hanya main-main, karena tidak sungguh-sungguh memberinya kejutan.


Tapi malam itu Chiara sudah melihat semuanya. Seorang Kenneth yang dingin, berwajah datar, menyebalkan, bisa membuat kejutan seindah itu, bagaimana mungkin ia tidak menangis.


"Aku.. aku.. "


Drrtt drtt


Belum sempat Chiara menjawab pernyataan Kenneth. Ponsel di saku pria itu berdering.


"Maaf, aku lupa mematikannya," sesal Kenneth menolak panggilan tersebut. "Jadi apa jawabannya?" ulangnya masih berlutut.


"Aku.."


Drtt drtt


Lagi, ponsel Kenneth kembali berdering.


Chiara mendengus. "Angkat aja dulu, siapa tahu penting."


Kenneth mengangguk lesu. Mengganggu saja pikirnya. Sialan. Siapa yang berani menganggu acaranya. "Hmm?"


"...."


"Hm, baiklah."


"Ada apa?" tanya Chiara terheran menyadari raut wajah Kenneth.


"Aku harus pergi, karyawan aku kecelakaan, orang yang nemuin dia telepon aku."


"Siapa?"


"Sekertaris aku."


Wajah Chiara tertekuk. "Kamu mau pergi?"


Kenneth mengangguk lesu. "Kasihan dia nggak punya siapa-siapa di sini."


"Ya, udah," balas Chiara ketus.


"Maafin aku, ya, Sayang. Aku harus pergi. Kita tunda dulu acara lamarannya," Kenneth mengusap sebelah pipi Chiara, ia sungguh tidak tega.


Chiara mengangguk lesu.


Kenneth menarik kepala Chiara, melabuhkan ciuman di keningnya, kemudian berlalu meninggalkan Chiara yang mematung di tempat.


Chiara memperhatikan langkah Kenneth yang perlahan menjauh. "Seriusan dia tidak mengajakku?" gumamnya tak percaya. "Tidak ada niatan buat nganterin aku pulang?"


Chiara bersungut-sungut dengan wajah sedih. "Ih, dasar tidak peka, nyebelin. Kenneth nyebelin!" pekiknya melampiaskan kekesalan.


Pada akhirnya Chiara memilih pulang dengan taksi. Acara lamaran itu pun batal. Huh!


.

__ADS_1


.


__ADS_2