KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
54. Kesedihan Mila


__ADS_3

Kabar mengejutkan datang dari Mila, pagi-pagi sekali wajahnya sudah tertekuk sempurna saat memasuki kelas, bahkan candaan yang dilontarkan Rangga tak membuat dirinya sekedar melirik. Saat duduk di kursi, ia segera menumpu wajahnya di atas meja, bahkan ranselnya masih menggantung di kedua lengan.


Chiara yang baru datang bersama Kenneth harus terhenti di depan kelas saat salah seorang siswi memberitahukan perihal osis, mau tidak mau Kenneth harus berbalik dari kelasnya.


Chiara tersenyum dan mengangguk untuk sesaat kala Kenneth menatapnya meminta persetujuan. Memasuki kelas, kening Chiara berkerut melihat wajah Mila yang menelungkup di meja, ia duduk dan melepaskan ranselnya. "Mila?" panggilnya.


Mila melirik sekilas, kemudian kembali menelungkup.


"Lo kenapa?"


Mila menggeleng.


"Kenapa lemes gitu muka lo? Ada masalah?"


Chiara menempelkan telinga di sisi kepala Mila saat tak bisa mendengar gumaman gadis itu. "Lo ngomong apaan, Mil? Gue nggak denger?"


Mila menoleh, masih menempelkan kepalanya di meja. "Gue dalam masalah besar, Ra," jawabnya pelan.


Chiara menyernyit. "Masalah apa?"


Mila mengembuskan nafas panjang, kembali menelungkupkan wajahnya.


"Lo ada masalah sama Putra?"


Mila menggeleng.


"Ada apaan sih, Mil? Kasih tahu gue, siapa tahu gue bisa bantu," usul Chiara mulai penasaran.


Mila menoleh, raut wajahnya seperti akan menangis. "Ra..."


"Kenapa, Mil?" Chiara tampak panik.


"Ra..."


"Apa? Ada apa?" Chiara tampak khawatir dan frustasi karena Mila yang tak kunjung bercerita, hanya menyebut namanya saja.


"Ra.. Gue, gue, gue abis nabrak orang, huwaaaaa," Mila menangis kencang.


Bola mata Chiara terbelalak, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Gue harus apa, Ra? Huwaaaa."


Chiara tersentak. "Tenang-tenang, lo yang tenang, ya, jangan teriak-teriak, dilihatin anak-anak, tuh," ia mengusap lengan Mila menenangkan.


"Gu-gue, gue takut, Ra," adu Mila memeluk tubuh Chiara. "Kalau gue di penjara gimana, Ra?"


Chiara mengusapi punggung Mila untuk menenangkan. "Tenang, Mil, lo nggak bakal di penjara, tenang, ya?"


Beberapa murid menatap aneh pada Mila yang sesegukan dalam pelukan Chiara.


"Lo bisa cerita sama gue, bagaimana itu bisa terjadi, lo tenangin diri lo dulu."


Mila tidak menjawab, ia masih menangis tersedu, menghiraukan tatapan orang lain.


Kenneth yang baru memasuki kelas berdiri di samping Chiara, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sebelah alisnya terangkat memperhatikan tindakan Mila pada kekasihnya.


Chiara mendongak, kepalanya menggeleng.


*


Mila tengah bersandar di pundak Chiara, sesekali ia masih sesenggukan. Kenneth, Julio dan Rangga duduk di depannya sedangkan Putra di samping Mila, dan juga Toriq. Sementara Deni dan Alex duduk lesehan di bawah, bersender pada tepi balkon. Mereka tengah berada di rooftop sekolah. Hendak membahas masalah yang serius. Hal serius yang membuat Mila sejak tadi pagi murung dan sedih.


"Gue abis nabrak orang," Putra membuka suara.


Teman-temannya terdiam, seolah hal itu wajar.


"Terus?"


"Dia.. Koma," ucap Putra yang seketika membuat Mila kembali terisak.


Mereka semua terkejut.


Mila mendongak. "Bukan kamu yang nabrak, tapi.. tapi aku," ralatnya menyeka air mata.


"Elo, Mil? Bagaimana bisa?" tanya Chiara menuntut.


"Jadi... Jadi," Mila terbata.


Putra memegang jemari Mila. "Biar aku yang cerita," putusnya. Ia menatap keseluruhan teman-temannya yang terdiam, tak seperti biasanya yang saling melempar candaan, mereka tengah fokus pada apa yang akan dijelaskan oleh Putra. "Kemarin gue ngajak Mila keluar, bawa mobil. Ini salah gue, nggak seharusnya gue nurutin Mila buat nyetir mobilnya." Putra menghembuskan nafas dalam.


"Siapa yang lo tabrak?" Julio bertanya seraya membuka tutup botol minumnya.


"Cewek, dia koma."


Uhuk!


Julio tersedak minumannya. "Lo serius?" tanyanya memastikan.


Putra mengangguk.

__ADS_1


"Gimana keluarganya?"


"Mereka belum bisa mutusin, mereka juga nggak begitu marah, karena kita memang mau tanggung jawab, mereka hanya nunggu sampe cewek itu sadar."


"Seberapa parah?" tanya Chiara hati-hati.


"Parah banget, Ra, gue nggak sanggup lihatnya," terang Mila terisak.


"Kita doain semoga cewek itu cepet sadar, lo nggak bakal di penjara, Mil," Chiara mengelus lengan Mila menenangkan.


"Gue takut, Ra."


Chiara menarik tangannya dari pundak Mila saat Putra membawa tubuh Mila dalam pelukan.


"Jangan takut, aku di sini," tutur Putra mengusap puncak kepala Mila.


"Lo masih sekolah, Mil, nggak mungkin lo di penjara," Deni menyahut.


"Bener, lagipula belum tentu itu cewek mati, 'kan?" celetuk Rangga tak tahu kondisi.


Julio menonyor kepala Rangga. "Omongan lo, babi!"


"Gimana keadaannya sekarang?" Kenneth buka suara.


"Gue belum tahu, entar pulang sekolah rencana gue sama Mila mau nengokin." Putra menunduk menatap Mila. "Kamu kuat, 'kan?" tanyanya.


"Kayaknya Mila masih shock banget, gimana kalau nanti gue yang anter Mila pulang, lo ke rumah sakit sendirian gimana, Put?" Chiara memberi saran.


"Biar gue yang nemenin elo. Penasaran sama ceweknya gue," putus Deni menyengir.


"Inget, lo udah punya bini, woii!" Alex berteriak di telinga Deni.


"Cuma lihat doang kali, Lex," Deni membela diri.


"Kamu pulang sama Chiara, ya? Biar aku sama Deni yang ke rumah sakit," bujuk Putra mengusap kepala Mila.


Mila mengangguk.


...***...


Dua hari berlalu, menurut penjelasan Putra dan Mila, perempuan yang ditabraknya sudah berhasil melewati masa kritis dan sudah sadar. Mila dan Chiara berencana menjenguknya. Berhubung Kenneth yang beberapa hari turut andil belajar bisnis di perusahaan sang ayah tidak bisa mengantarkan Chiara ke rumah sakit, namun berjanji akan menjemputnya nanti.


Putra berjalan lebih dulu menuju ruangan VVIP di lantai tiga gedung rumah sakit.


Saat pintu di buka, terlihat seorang gadis muda yang mempunyai paras cantik sedang berbaring di atas bed pasien dengan selang infus di tangan kirinya, kakinya yang dilapisi gip tengah menggantung, kemungkinan mengalami patah tulang serius.


"Assalamualaikum," ujar Mila dan Chiara bersamaan.


"Selamat siang, Tante," Putra menyapa.


"Siang," jawaban bernada ketus dari seorang wanita dewasa yang diyakini adalah orang tua sang gadis. Mungkin beliau tidak terima dengan keadaan sang anak yang menjadi korban kecelakaan.


"Gimana kabar lo, Jo?" Putra kembali membuka suara menatap pada gadis bernama Joanna.


"Udah mendingan," jawab Joanna lirih.


Chiara mengulurkan tangan. "Gue Ara, temennya Mila sama Putra."


Joanna mengangguk. "Makasih udah jenguk gue."


Chiara mengangguk dan tersenyum.


"Syukurlah kalau lo udah mendingan," Mila bernafas lega.


"Syukur karena kamu tidak akan masuk penjara? Begitu maksudnya?" Ibu Joanna seperti memiliki dendam dengan tersangka yang sudah membuat putrinya celaka.


Mila meneguk salivanya alot, begitu pula Chiara dan Putra yang merasa kikuk.


"Udahlah, Ma, dia udah minta maaf, 'kan?" Joanna berujar.


"Kamu itu. Lihat, kaki kamu patah, Joanna, masih saja membela dia," sang Ibu menuding marah pada Mila yang menunduk.


"Ma.."


"Terserah kamu, Mama mau keluar, awas kalau kalian ngapa-ngapain anak saya," ancam sang ibu menatap Chiara, Mila dan Putra bergantian.


Sepeninggalan sang ibu suasana menjadi canggung, keempatnya hanya diam.


"Gimana kata Dokter?" Putra kembali membuka suara.


"Seperti yang kalian lihat, kaki gue patah, mungkin butuh berbulan-bulan buat bisa berjalan normal," Joanna tersenyum miris.


"Gue bisa jadi kaki buat lo, kalau lo mau?" tutur Mila tiba-tiba.


Ketiganya terkejut.


"Mila," peringat Putra tak setuju.


"Gue serius," Mila bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan.

__ADS_1


Putra berjalan menghampiri, membingkai wajahnya. "Heii, kamu nggak perlu seperti itu, Sayang. Aku nggak akan setuju."


Setetes air mata Mila terjatuh. "Aku yang menyebabkan Joanna seperti ini, aku bakal tanggung jawab," cairan bening itu semakin deras mengalir.


Putra merengkuh tubuh Mila ke dalam pelukan, menciumi puncak kepalanya berkali-kali.


"Aku akan menenangkannya," pamit Putra kemudian. Ia membawa tubuh Mila ke luar ruangan.


Chiara mengangguk.


Joanna menatap sendu pada Putra yang memeluk tubuh Mila meninggalkan ruangannya.


Chiara berdehem mengalihkan tatapan Joanna. "Em, lo masih sekolah?"


Joanna mengangguk kecil. "Iya, gue kelas sebelas."


"Sekolah dimana?"


"SMA Bhakti."


Chiara membulatkan bibirnya membentuk huruf O.


"Lo sekelas sama Putra?" Joanna balik bertanya.


Chiara menoleh, kemudian menggeleng. "Enggak, gue sekelas sama Mila."


Joanna mengangguk.


"Em, gue harap lo mau maafin Mila atas kejadian ini, gue tahu Mila pasti nggak sengaja nabrak lo, dan juga gue harap lo nggak memperpanjang masalah ini," Chiara berharap kedua belah pihak bisa menerima kenyataan, terutama keluarga Joanna, jujur saja ia tidak bisa memihak siapapun.


Joanna menatap Chiara. "Gue udah maafin dia, tapi mungkin sulit buat keluarga gue, apalagi Mama, melihat anak gadisnya cacat, dia pasti sedih, lo tahu sendiri, 'kan?"


Chiara mengangguk paham. "Gue ngerti".


"Mungkin untuk saat ini, Mama gue belum bisa maafin temen lo, tapi gue pastiin kejadian ini nggak akan diperpanjang. Gue beruntung karena temen lo masih mau bertanggungjawab, bawa gue ke rumah sakit. Atau kalau nggak, mungkin gue udah mati malam itu," tutur Joanna tersenyum kecut.


Chiara tersenyum. "Terimakasih, Joanna," ucapnya tulus.


Joanna mengangguk saja.


Sekilas Chiara seperti melihat Joanna yang menyeringai, entah benar atau ia salah lihat.


Chiara merogoh saku roknya merasakan ponselnya bergetar.


From : Kenneth 💗


Pulang jam berapa?


Chiara segera membalas pesan dari kekasihnya.


^^^Sebentar lagi.^^^


Tak berapa lama ponselnya kembali bergetar.


Aku di bawah.


Chiara melotot, tak berapa lama senyum terukir di bibirnya. Setelah membalas pesan dari Kenneth, ia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku roknya. "Joanna, kayaknya gue harus pulang, udah sore."


Joanna mengangguk. "Terimakasih udah jengukin gue."


Chiara bangkit dari duduknya, menepuk pelan tangan Joanna. "Sama-sama, semoga lo cepet sembuh, ya?" doanya tulus.


"Amin."


"Sekalian gue panggilin Mila sama Putra, gue curiga kenapa mereka enggak balik-balik," Chiara terkekeh.


"Maksudnya?" Joanna tak paham.


Chiara tertawa kecil. "Bercanda gue," sahutnya mengibaskan tangan.


Joanna turut tersenyum walau dipaksakan.


"Bye, Jo," Chiara melambaikan tangan.


📖📖


📖


........


...🔊 Oiii jangan lupa baca cerita aku yg lain ya.....


...1. The beautiful Thief (selesai)...


...2. Dialanta...


...3. Chelsea: i want you...


...4. Beside you (tamat)...

__ADS_1


...Salam dari author terhalu sepanjang masa😋...


...Saskavirby...


__ADS_2