
“G-galang?"
Sebelumnya perhatian Galang teralihkan oleh suara seseorang yang tengah berteriak serta menyumpah serapahi. Ada yang tidak asing di telinganya saat mendengar suara itu. Saat ingin mengabaikan, justru langkah kakinya mendekat. Galang ingin memastikan bahwa suara itu berasal dari seseorang yang teramat ia rindukan.
Galang terdiam memperhatikan seorang gadis tengah meraung dengan menggeret koper. Sudut bibirnya terangkat mendengar umpatan gadis itu. Gadisnya tidak berubah, pikirnya.
"Cla?" Galang memanggil seraya langkah kakinya menghampiri. Ia memperhatikan lekat gadis di hadapannya yang diam membeku. Clarissa jauh lebih cantik dari terakhir kali yang ia lihat, rambutnya lebih panjang sekarang, gadis itu semakin dewasa dengan aura yang kian mempesona. “Dugaanku benar, itu memang suara teriakanmu,” ujarnya terkekeh.
Clarissa terdiam mematung di tempat, sama sekali tidak merespon saat Galang menggodanya. Ia tengah memperhatikan lekat wajah Galang yang kini tampak dewasa dengan bulu halus di sekitar rahang. Apakah ia bermimpi bertemu dengan Galang setelah puluhan purnama terlewati?
"Cla?" Galang khawatir dengan respon Clarissa yang diam saja.
Clarissa menyentuh bagian dadanya yang berdegup kencang. "Ternyata getaran itu masih ada, melihat kamu berada di hadapanku dalam keadaan baik-baik saja," gumamnya tanpa sadar.
Galang terkesiap, ia memperhatikan lekat netra teduh itu. Bahkan ia bisa melihat bayangannya sendiri dari manik jernih di hadapannya.
Galang tersenyum. "Cla, aku merindukanmu."
Clarissa tersadar dari lamunannya, ia mengerjap. "Kamu mengatakan sesuatu?" tanyanya memiringkan kepala.
Galang terkekeh, mengusap kepala Clarissa pelan. "Ternyata kamu masih menggemaskan seperti dulu."
Kening Clarissa mengerut.
Galang berdehem, "Bagaimana kabar kamu, Cla?"
Clarissa menggeleng. "Tidak begitu baik setelah kepergianmu," jawabnya menyengir lebar hingga matanya menyipit.
Galang tergelak, tak berapa lama wajahnya berubah serius. "Aku juga."
Keduanya terdiam dengan saling menatap.
"Emm, tahun sudah berganti beberapa kali, apa kamu sudah menemukan penggantiku?" tanya Clarissa membuka percakapan.
Galang melipat bibirnya ke dalam. "Belum. Bagaimana denganmu?"
Clarissa mengulum senyum. "Apa itu artinya kamu belum bisa move on dari aku?" tanyanya menggoda.
Galang terdiam, detik berikutnya ia tertawa.
"Ciee.. yang belum bisa move on," goda Clarissa menunjuk wajah Galang.
Galang memalingkan wajah, kemudian menatap Clarissa. "Jadi, apa kamu sudah bisa move on dariku?" tanyanya balik.
Clarissa menggembungkan pipinya, kepalanya menggeleng pelan. "Belum juga," jawabnya tersenyum lebar.
Galang mengulum senyum, kemudian terkekeh pelan.
Keduanya diam saling menatap, Clarissa yang senyum-senyum menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, sedangkan Galang mengelus belakang lehernya. Keduanya sama-sama canggung dan kikuk.
Hingga Galang mengambil inisiatif lebih dulu untuk memeluk Clarissa, tentu saja Clarissa menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Aku kangen banget sama kamu, Cla," bisik Galang mengeratkan pelukannya.
Clarissa mengangguk. "Aku tahu," balasnya terkekeh.
Galang ikut terkekeh mendengar jawaban Clarissa.
Galang menarik diri. "Kamu sedang apa di sini?" tanyanya kemudian.
"Sebenarnya aku mau ke Surabaya, gara-gara Alzayn, aku jadi nyasar di sini," mengingat ulah sang adik membuat Clarissa kembali kesal.
"Setidaknya kamu bisa bertemu denganku di sini," gurau Galang menggoda.
Clarissa tersenyum. "Benar juga, ya?"
"Jadi?"
__ADS_1
"Jadi?" ulang Clarissa memiringkan kepala tak mengerti.
"Kita dipertemukan kembali oleh takdir, perasaanku padamu tidak pudar mesti bertahun-tahun kita tidak saling sapa. Aku masih mencintaimu seperti dulu," tutur Galang serius, memang itulah yang ia rasakan.
Clarissa tercekat, ungkapan perasaan Galang membuatnya gugup. "A..aku juga masih mencintaimu, tidak ada yang bisa membuat denyut jantungku berdebar selain kamu."
Galang terkekeh untuk yang ke sekian kalinya. "Kamu belajar gombal darimana, Cla?"
Clarissa menggeleng geli. "Enggak tahu, tiba-tiba mulutku mengatakan itu dengan sendirinya," ia tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Galang membingkai wajah Clarissa. "Mungkin dulu aku terpaksa harus menyerah di bawah tekanan keluarga. Tapi sekarang, apapun yang terjadi, aku akan tetap mempertahankan kamu di sisi aku, Clarissa. Itu janjiku," ungkapnya bersungguh-sungguh.
Clarissa menyentuh kedua tangan Galang yang berada di pipinya. "Aku yakin Tuhan sengaja mempertemukan kita kembali, karena memang kita tidak bisa dipisahkan. Sekarang, aku juga akan mempertahankan kamu. Apapun yang terjadi," balasnya menatap lekat manik legam di hadapannya.
Galang tersenyum mendengar jawaban Clarissa, detik berikutnya ia menempelkan bibirnya di atas bibir Clarissa, memberikan sentuhan lembut di tiap sisi. Merasai bibir yang dulu menjadi candunya, merasai pemilik bibir yang dulu pernah membuatnya hampir gila karena terus memikirkannya. Sekarang, tidak akan ia lepaskan lagi, ia berjanji akan menghadapi semua halangan yang akan melintang.
"EHEM!!"
Deheman keras menyentak keduanya hingga tautan terlepas.
Keduanya terkejut melihat siapa pemilik suara bass yang mengganggu aktivitas keduanya melepas rindu.
"Dad?" lirih Clarissa mulai gugup.
Galang menggenggam jemari Clarissa erat, ia tak kalah gugup dibandingkan Clarissa.
Galang berdehem menetralkan tenggorokan, "Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya. Jika kami dipertemukan kembali oleh takdir, aku tidak akan pernah melepaskan Clarissa lagi," ucapnya menatap nyalang pada orangtua Clarissa.
Sandy menatap Clarissa dan Galang bergantian, memperhatikan wajah gugup keduanya, memperhatikan jemari yang saling bertaut. Hingga kemudian ia menarik nafas panjang, tangannya terangkat.
Stella dan Alzayn yang berdiri di belakang Sandy menahan nafas, keduanya tidak bisa menebak apa yang akan Sandy lakukan terhadap Galang yang sudah berani mencium Clarissa di depan umum.
Galang tak gentar, ia akan memperjuangkan apa yang sudah menjadi prioritasnya, walaupun berhadapan dengan orangtua Clarissa yang jelas-jelas tidak memberi restu membuatnya gugup.
Tak beda jauh, Clarissa bahkan sampai mengigit bibirnya kuat, ia khawatir jika sang ayah akan memukul Galang.
Keempatnya terkesiap mendengar ucapan Sandy. Mereka berpikir bahwa Sandy akan memukul Galang, namun justru sebaliknya. Tanpa sadar mereka menghembuskan nafas lega bersamaan.
"Te-ntu, Om," jawab Galang tergagap. Ia amat sangat terkejut mendengar ucapan Sandy yang memberinya restu.
"Aku memintamu menjaganya bukan sebagai Om kamu. Tapi sebagai orangtua Clarissa," Sandy berujar dengan sebelah tangan mengusap kepala Clarissa yang masih terdiam di tempatnya.
Galang mengangguk yakin.
Sandy menatap Clarissa. "Hei, kok bengong?" ia menyentuh sebelah pipi putrinya.
Clarissa terkesiap. "Daddy serius? Daddy merestui aku dan Galang?" tanyanya memastikan.
Sandy mengangguk, tangannya terulur menyentuh pundak Clarissa dan Galang. "Daddy merestui kalian berdua."
Clarissa tidak bisa menyembunyikan rasa lega dan bahagianya, ia melesak masuk ke dalam pelukan sang ayah. "Thanks, Dad. I love you."
Galang turut memeluk Sandy. "Terimakasih, Om."
Sandy mengangguk seraya menepuk punggung Clarissa dan Galang dalam pelukannya.
Stella dan Alzayn mengembuskan nafas lega melihat ketiganya saling memeluk.
Stella terharu, suaminya akhirnya luluh dan memberi restu pada putrinya. Ia juga terharu akan perasaan putrinya dan Galang yang begitu kuat meskipun sudah berlalu bertahun-tahun, keduanya masih sama-sama mencintai, keduanya masih sama-sama membutuhkan.
Alzayn mengusap pundak ibunya yang terisak. Setidaknya ia tidak bersalah telah membuat kesalahan tentang memberikan informasi pada Clarissa. Ia turut senang melihat kakaknya bahagia.
Stella memperhatikan putranya yang lebih tinggi darinya. Kemudian ia memeluk putranya itu.
Clarissa melerai pelukan, ia menghampiri Alzayn.
Duk!!
__ADS_1
Clarissa menendang tulang kering sang adik.
"Aduhh, sshh.." ringis Alzayn mengusap kakinya yang baru saja mendapatkan tindak kekerasan.
Clarissa tersenyum. "Terimakasih, adikku yang ganteng," ucapnya memeluk tubuh Alzayn, jarang sekali ia melakukan itu. Hal itu ia lakukan karena berkat Alzayn yang salah memberikan alamat membuatnya nyasar ke Semarang namun justru bertemu dengan cintanya kembali.
Alzayn turut tersenyum, membalas pelukan sang kakak. "Semoga bahagia, Kak," balasnya tulus.
Clarissa mendengus dalam pelukan Alzayn. "Aku merinding mendengar kamu memanggilku Kakak."
Alzayn tertawa.
"Bukankah sudah waktunya berangkat, Cla?" Stella berujar.
Clarissa menarik diri dari pelukan sang adik. "Iya, Bun."
"Galang, kamu baru tiba atau mau ke suatu tempat?" Stella bertanya pada Galang.
"Aku mau kembali ke Surabaya, Tante. Habis perjalanan bisnis di sini."
"Berangkat bersama-sama saja, Daddy akan mengantar kalian," Sandy berujar.
Galang mengangguk.
Kemudian mereka mulai berjalan menuju landasan pesawat.
Clarissa memeluk tubuh sang bunda. "Terimakasih, Bunda," ucapnya.
Stella mengangguk. "Galang, selama di Surabaya, Tante minta tolong jagain Clarissa, ya?" pintanya pada Galang.
Galang mengangguk yakin. "Pasti, Tante."
Galang meraih jemari Clarissa untuk ia genggam.
Clarissa mendongak menatap Galang, ia tersenyum. "Love you," ucapnya tanpa suara.
"Love you more," balas Galang berbisik lirih.
.
.
.
...Masih belum puas sama bonusnya?...
...Sampai di sini saja, ya? Atau mau lagi?...
...Yukk koment...
.......
.......
.......
.......
...Numpang lapak hehe...
...xx...
...Jangan lupa mampir di cerita aku yang berjudul Beside You....
...Terimakasih 😉...
__ADS_1