KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Garissa 4 - Berlian karatan


__ADS_3

"Seharusnya kita bisa dapat banyak bukti, tapi kenapa tiba-tiba istrinya menolak memberikan pengakuan, yo?" Juno berseru heran.


"Mungkin dia sudah diberi uang tutup mulut," sahut Clarissa asal. "A-pa?" tanyanya menyadari tatapan selidik seniornya itu.


Hari itu Clarissa bersama Juno dan Bu Helinda tengah mengumpulkan bukti untuk dibawa ke meja hijau. Klien yang sebelumnya meminta bantuan mengajukan gugatan pada sebuah perusahan besar sebab mencurigai bahwa suaminya yang merupakan karyawan pabrik itu keracunan akibat bahan olahan dari pabrik itu sendiri tiba-tiba menghentikan lagi untuk memberikan pernyataan. Bu Helinda dan Juno sudah hampir angkat tangan membantu mereka.


"Ucapan kamu ada benarnya juga, Clarissa," Juno menyahut.


"Tidak semudah itu," Bu Helinda menanggapi. "Kalaupun mereka diberi uang tutup mulut, sudah sejak lama mereka menghentikan laporan. Tapi belakangan ini mereka kembali meminta bantuan kita untuk mengusut kasusnya. Sepertinya ada yang sengaja mereka sembunyikan," imbuhnya menjelaskan.


Juno dan Clarissa saling tatap.


"Kita tunggu saja, apa mereka bersedia mengungkapkan fakta atau memilih mundur lagi," Bu Helinda kembali bersua.


"Lalu bagaimana jika mereka memilih mundur?" Clarissa bertanya.


"Itu sudah bukan lagi urusan kita. Kita bisa dapat klien lain," Juno menjawab, aksen Surabayanya begitu kental.


Clarissa membulatkan bibirnya.


"Sebenarnya menjadi pengacara hanya alibi, tugas kita layak disebut detektif," Juno terkekeh.


"Beragam kasus selalu hadir," Bu Helinda menyahut. "Clarissa, kamu harus belajar lebih tekun lagi," imbuhnya memberi nasehat.


Clarissa mengangguk. "Baik. Terimakasih bimbingannya Bu Helinda, Koko Juno," ucapnya tulus.


Bu Helinda mengangguk. "Setelah ini kamu bisa pulang lebih awal. Tapi kamu harus siap 24 jam jika aku membutuhkan bantuanmu," ujarnya lagi.


Clarissa mengangguk yakin. "Siap, Bu."


...***...


Tidak ingin pulang ke apartemen, Galang juga tengah sibuk dengan pekerjaannya. Pada akhirnya Clarissa memilih berjalan-jalan di sebuah mall, ia berencana membeli produk skincare.


Usai membeli keperluan skincare, Clarissa kembali melanjutkan untuk melihat koleksi sepatu dari beberapa brand terkenal. Namun di tengah jalan ia bertemu seseorang yang begitu erat hubungannya dengan dirinya.


"Tante Intan," Clarissa menghampiri Intan yang juga tengah berbelanja.


Intan menoleh. "Eh, Clarissa? Apa kabar?" ia memeluk tubuh keponakan atau mungkin bisa disebut calon menantunya singkat.


"Aku baik, Tante."


"Sudah lama di Surabaya tapi kamu belum mampir ke rumah, loh?"


Clarissa tersenyum lebar. "Kebetulan lagi banyak kerjaan, Tante. Baru hari ini aku pulang cepet."


Intan mengangguk-angguk. "Kamu magang di tempat pengacara?"


Clarissa mengangguk. "Firma hukum XX."


"Bunda kamu sering telepon Tante, minta jagain kamu. Kamunya aja belum pernah main ke rumah."


Clarissa menyengir. "Aku usahakan, Tante. Tapi beneran aku lagi sibuk ngurus kasus penting, ini aja tadi habis meeting," ia menjelaskan, tidak ingin jika tantenya berfikir bahwa ia sengaja tidak ingin berkunjung ke rumah.


Intan tersenyum. "Iya, Tante mengerti. Kalau perlu sesuatu bilang sama Galang, sama Tante dan Om juga boleh."


"Siang, Tante," sebuah suara menyeru.


Clarissa dan Intan kompak menoleh.


Clarissa memutar bola matanya jengah menyadari siapa pemilik suara itu, kenapa juga ia selalu dan harus bertemu dengan Berlian karatan itu. Heran.


"Siang, Berlian," Intan menyahut.


Clarissa terkejut mengetahui bahwa ibunya Galang mengenal Berlian.

__ADS_1


"Tante apa kabar?" Berlian memeluk sekilas tubuh Intan.


"Tante baik, bagaimana dengan kamu? Sudah lama Tante nggak ketemu kamu. Tambah cantik, sampai pangling lho tadi."


Berlian mengulum senyum, ia tersipu. "Alhamdulillah aku baik, Tante. Tante terlalu memuji, Tante juga masih cantik, awet muda lagi, pantas saja Om tergila-gila sama Tante."


Clarissa mendengus sebal. 'Dasar bermuka dua. Tukang cari muka,' gerutunya dalam hati.


Intan tertawa. "Eh, kenalin dia Clarissa, ke—"


"Aku sudah kenal sama dia kok, Tante," Clarissa menyela.


"Oh, benarkah?"


"Galang yang ngenalin kita," Clarissa menjawab. "Dia anak kolega bisnisnya Om Rega."


Berlian tak suka dengan kalimat anak kolega bisnis. Ia adalah teman dekat Galang. Titik.


Intan mengangguk-angguk. "Kalian mau belanja?" tanyanya memperhatikan gadis di hadapannya bergantian.


"Aku sudah selesai. Tante perlu sesuatu? Biar aku bantu," Berlian mengajukan diri.


Clarissa benar-benar muak dengan sikap Berlian yang mencari muka di depan ibunda Galang.


"Clarissa, kamu perlu sesuatu? Tante bisa temenin kamu," Intan justru memfokuskan perhatian pada Clarissa.


Clarissa merasa di atas angin melihat kilat tajam dari lawan sebab Intan lebih memperhatikan dirinya. "Tidak perlu, Tante. Kebetulan Galang akan menjemputku," tolaknya menyengir mengangkat ponselnya.


"Dia sudah di sini?"


"Masih di jalan, Tante. Aku akan menunggunya di bawah."


Intan mengangguk. "Jangan lupa mampir ke rumah, ya?" peringatnya lagi.


Berlian menatap berang pada Clarissa.


"Berlian."


"Oh, iya, Tante. Ayo," sekali lagi Berlian menatap tak suka pada Clarissa. Seakan di atas kepala Clarissa tertulis kata RIVAL yang di bold besar.


Clarissa mencibir kepergian Berlian. "Dasar sok akrab," cetusnya sebal.


...***...


"Galang, boleh aku tanya sesuatu?" Clarissa berujar setelah cukup lama keduanya diam menikmati desiran ombak.


Galang menoleh. "Tentu saja, Sayang. Apa yang ingin kamu tanyakan?" ia menghadap Clarissa.


"Sebenarnya kamu ada apa sama Berlian itu?" Clarissa nampak ketus, mengingat sikap judes dan arogan perempuan itu membuat Clarissa kembali kesal.


Sebelah alis Galang terangkat, kemudian ia tersenyum. "Ada apa bagaimana?" ia meraih jemari Clarissa untuk digenggam. "Sudah aku jelaskan kalau aku tidak ada apa-apa sama dia. Dia cuma anak kolega bisnisnya Papa," terangnya.


"Tapi kenapa dia kenal sama Tante Intan juga?"


Galang nampak berfikir. "Ya, karena dia pernah ketemu Mama di suatu acara kayaknya, aku lupa." Galang membingkai wajah Clarissa. "Nggak perlu cemburu gitu, aku bersumpah tidak pernah tertarik sama dia. Aku mengenalnya juga karena dia anak kolega Papa, bahkan kita tidak berteman."


Clarissa memicing curiga. "Berlian gadis yang cantik, modis, pintar, mana mungkin kamu tidak tertarik. Bahkan dia bilang sudah mengenalmu selama dua tahun."


Galang tersenyum, mengecup kening Clarissa singkat. "Harus dengan apa aku katakan kalau tidak ada wanita lain setelah kamu, Cla?" Galang nampak berfikir. "Kamu pernah dengar kalimat Ketika jatuh cinta dengan seseorang, kamu akan mati rasa dengan yang lain. Tapi kalau masih suka dengan yang lain, berarti belum cinta."


Clarissa sepertinya belum pernah mendengar itu. Ia menggeleng sebagai jawaban.


"Sudah aku katakan kalau aku cinta sama kamu, Clarissa. Rasa suka untuk yang lain sudah tidak terbagi lagi. Hanya kamu," Galang berucap serius tepat di wajah Clarissa.


Clarissa terdiam memperhatikan netra legam di hadapannya, tatapan Galang begitu tulus, begitu juga dengan ucapannya. "Aku belum pernah merasa mempunyai saingan, sekalinya Berlian datang, aku merasa khawatir," ungkapnya jujur.

__ADS_1


Galang tersenyum, sekali lagi memberikan kecupan di kening Clarissa. "Memangnya cuma kamu yang merasa punya saingan? Melihat kamu sama Ko Jun-mu itu juga bikin aku khawatir," ia tengah menyindir.


Clarissa mendelik. "Koko Juno?" ia nampak terkejut. "Ya, enggak, lah. Dia cuma senior aku, partner kerja, partner mengumpulkan bukti."


Galang melipat tangan. "Waktu yang kamu habiskan dengan dia lebih banyak daripada denganku."


Clarissa mengulum tawa melihat Galang merajuk. "Kamu cemburu sama Ko Jun?"


Galang memasang wajah datar.


Clarissa terkekeh, ia berjinjit guna mengecup dagu Galang. "Aku juga udah mati rasa sama yang lain. Hanya kamu, Galang," ungkapnya tersenyum.


Sudut bibir Galang terangkat. Selanjutnya ia menarik pinggang Clarissa serta melabuhkan ciuman di bibirnya, menyesap, mencecap, mencumbu rasa manis dari bibir yang ia rindukan, dari seseorang yang ia dambakan.


Clarissa memberi hak leluasa pada Galang, memberikan akses untuk pemuda pemilik hatinya menjelajah rongga mulutnya. Tidak bisa dipungkiri kalau ia juga amat sangat merindukan cumbuan itu.


Galang menarik diri. "Masih meragukan cintaku?" godanya.


Clarissa tersenyum. "Masih cemburu?" balasnya menggoda.


Galang yang kelewat gemas menggigit pipi Clarissa. Kemudian kembali melabuhkan cumbuan panjang di bibir manis yang kini mulai bervolume.


*


"Besok kamu ke luar kota?" Galang berujar seraya menumpukan dagu di atas kepala Clarissa.


Clarissa mengangguk. "Kata Bu Helinda kita harus cari informasi dari pabriknya langsung."


"Apa nama pabriknya?"


Clarissa mendongak. "Kamu nggak boleh cari tahu. Jangan ikut campur," ancamnya.


Galang terkekeh. "Aku hanya ingin membantumu, Sayang."


"Tidak perlu. Aku ingin menggunakan kemampuanku sendiri," tolak Clarissa menggeleng. "Kalau aku sudah mentok jalan buntu aku pasti minta bantuan kamu," imbuhnya menyengir.


"Baiklah," Galang memilih mengalah. "Jam berapa berangkatnya?"


"Emm, setengah enam pagi. Kata Ko Juno perjalanan sekitar tiga jam."


"Sampai nginep?"


"Kemungkinan sore kalau nggak malam sampai Surabaya lagi."


Galang mengangguk-angguk. "Kamu harus hati-hati, kalau ada apa-apa telepon aku."


Clarissa membalik tubuhnya menghadap Galang, ia mendongak menatap pemuda di hadapannya. "Iya, Sayang. Kamu juga harus hati-hati, jangan deket-deket Berlian karatan itu."


"Berlian apa?"


"Berlian karatan," ucap Clarissa ketus.


Galang terkekeh. "Mana ada berlian karatan?"


Clarissa mendengus. "Pokoknya kamu nggak boleh deket-deket sama dia."


"Iya, Sayang, iya." Galang memainkan kedua pipi Clarissa gemas. "Besok kalau mau pulang kabarin aku, aku jemput," ucapnya lagi.


Clarissa mengangguk.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2