KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
35. Luka tak kasat mata


__ADS_3

Bagaimana rasanya jika sesuatu yang tidak kita harapkan namun justru menarik kita untuk semakin mendekat?


Apa yang telah kita rencanakan tidak pernah sejalan dengan apa yang tuhan kehendaki. Begitu pula keadaan yang telah terjadi tidak bisa kita ulang atau meminta sang waktu untuk mengulur waktunya kembali berputar ke belakang.


Seperti yang kini tengah di rasakan oleh Chiara, harus bertatap muka dengan Kenneth hanya terhalang oleh meja di depannya. Debaran jantungnya tak kunjung mereda, yang ada semakin terpacu, serta bibirnya yang tiba-tiba kelu, hanya mengucapkan kata yang memang perlu untuk di ucapkan. Di sampingnya, Vika serta Haikal yang duduk berseberangan, mengerjakan tugas kelompok yang telah di berikan oleh Bu Rosa. Beruntung luka di kepalanya tidak terlalu parah sehingga sang kakak mengizinkan dirinya untuk ikut mengerjakan tugas kelompok, meskipun dengan di dampingi satu bodyguard yang merangkap menjadi sopir pribadinya.


"Jadi kita pilih yang mana nih?" Vika bertanya setelah membaca rangkuman materi di bukunya


"Bab 2 aja," sahut Haikal mengusulkan.


"Gimana?" Vika berujar menatap Kenneth dan Chiara yang terdiam.


"Gue setuju."


"Elo, Ken?"


"Gue juga."


"Jadi deal ya kita bab 2?" pernyataan Vika diangguki Kenneth, Haikal dan Chiara.


"Yah, gue lupa bawa buku paketnya," keluh Vika saat membuka tas sekolahnya dan tak menemukan buku yang dimaksud.


"Terus gimana?"


"Lo punya bukunya juga, kan, Ken?"


"Ya."


"Dari sini rumah lo lebih deket dari rumah gue, jadi gimana kalau kita ngerjain di rumah lo?"


Ketiganya menatap pada Vika. Vika menghela nafas pelan. "Rumah gue jauh dari sini, nggak keburu waktu entar, jadi mending di rumah Kenneth aja, dia, kan, yang pegang buku satunya."


"Ya udah, gimana, Ken? Ke rumah lo?" Haikal bertanya.


"Ya udah ayo."


"Vik, lo bareng mobil gue aja," ajak Chiara.


"Oke."


Ke empatnya mulai meninggalkan taman tempat mereka sebelumnya memilih untuk mengerjakan tugas. Kenapa memilih taman? Karena mereka membutuhkan suasana yang berbeda, alasan yang tidak masuk akal? Biarkan.


Sesampainya di rumah Kenneth, ke empatnya disambut Ratih, β€”Ibunda dari Kenneth.


"Eh, ini yang kemarin dijemput Kenneth waktu pesta, 'kan?" tanya Ratih saat Chiara mencium punggung tangannya.


Chiara tersenyum kikuk. "Iya, Tante."


"Tante lupa nama kamu," ucap Ratih jujur.


"Ara, Tante."


"Iya, maaf ya, Tante lupa," sahut Ratih tersenyum.


"Nggak apa-apa kok, Tante," balas Chiara maklum.


"Ayo silahkan masuk, Tante tinggal keluar dulu, ya? Ada urusan."


"Iya, Tante," jawab kompak ketiganya.


"Ken, gue pinjam kamar mandi lo dong, kebelet nih gue," keluh Haikal.


"Ayo."


Chiara dan Vika mulai duduk lesehan di lantai seraya mempersiapkan buku-buku tugasnya di meja selagi menunggu Kenneth yang mengambil buku paket di kamar serta Haikal yang ke toilet.


"Ra, ini pertama kali gue ke rumah Kenneth," ujar Vika berbisik.


"Serius?"


Vika mengangguk. "Elo tahu, kan, si Ken gimana orangnya? Makanya tadi gue ngotot nyuruh kita belajar di rumahnya," ia terkikik.


"Lo suka sama Ken?"


"Siapa? Gue?" Vika menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Chiara mengangguk.


Vika mengibaskan tangannya. "Enggak lah, gue udah punya cowok kali, Ra, lo kali yang suka sama Ken," tebak Vika mencolek lengan Chiara.


"Ha? Eng-gak gue enggak suka sama dia," Chiara mengelak.


Tatapan Vika menyelidik. "Masak, sih?" godanya.


Chiara menggigit bibir bawahnya. "Gβ€”"


"Hai."


Sapaan dari seseorang membuat keduanya menoleh ke belakang, keduanya saling tatap, kemudian kembali beralih pada gadis cantik dengan celana jeans pendek selutut serta baju berbentuk lengan sabrina bermotif bunga sakura.


"Lo teman-temannya Ken, ya?" tanya gadis itu. "Kenalin, gue Liona," imbuhnya mengulurkan tangan.


"Vika."


"Ara."


Vika dan Chiara bergantian menyambut uluran tangan Liona.


"Ara?" ulang Liona meneliti wajah Chiara.


"Iya, Chiara, panggil aja Ara," tanggap Chiara tersenyum.


"Lo siapanya Ken?" tanya Vika.


Liona tersenyum samar. "Gue sahabat sekaligus mantan pacarnya Ken," jawabnya angkuh.


"Mantan pacar?" gumam Chiara tanpa disadari.


"Iya, dan sepertinya si Ken belum bisa move on dari gue," Liona terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.


Chiara membelalakkan matanya, sesuatu yang besar seperti menghantam dadanya.


"Pantes gue enggak pernah lihat Ken jalan sama cewek selama tiga tahun sekelas sama dia," ujar Vika menimpali.


"Hahaha, benarkah?" tanya Liona pura-pura terkejut.


Vika mengangguk. "Lo masih sekolah?"


Chiara dan Vika melotot, membuat Liona kembali tertawa.


"Biasa aja dong mukanya, gue kasih tahu ya." Liona sengaja mendekat, berbisik pada kedua gadis di depannya. "Sebenarnya Ken itu suka sama cewek yang usianya lebih tua dari dia, menurutnya sifat mereka bisa sangat dewasa, tidak ke kanak-kanakan seperti gadis usianya."


Chiara menelan saliva, wajahnya tiba-tiba memerah menahan sesuatu rasa yang menyesakkan, dadanya kian bergemuruh mendengar kalimat dari Liona.


"Oh.. pantesan dia sama sekali nggak ngelirik cewek di sekolah," sahut Vika mengangguk-angguk. "Ah, lo juga cantik, pantes Ken gagal move on dari lo," imbuhnya memuji.


"Kalian jangan bilang-bilang kalau gue ngomong sama kalian, ya? Kalau si Ken belum move on."


Vika memberi kode dengan jarinya di depan mulut seperti mengunci pintu. "Oke."


Chiara berdehem, "Kenapa lo putus sama Ken?" tanyanya ragu, bahkan jantungnya masih berdebar.


Liona tersenyum samar. "Sebenarnya gue mau ngajak Ken balikan."


"Terus?"


"Ya gitu, makanya gue di sini, gue mau nginep di rumah Ken sekalian pedekate lagi gitu," jawab Liona tertawa. "Menurut kalian si Ken mau nggak balikan sama gue?" tanyanya lagi.


"Ha?"


"Pasti dia mau, gue rasa dia masih suka sama lo. Buktinya sampai sekarang dia belum ada deket sama cewek. Eh, ada deh, Ken deket sama Ara," Vika menunjuk pada Chiara.


"Eh, kok gue, enggak," tangkis Chiara menghindar.


"Lo deket sama Ken?" tanya Liona pada Chiara.


"Enggak, gue nggak ada apa-apa sama Ken, suer," Chiara cepat-cepat menjawab pertanyaan dari Liona, ia tidak mau Liona salah paham.


"Bagus deh kalau gitu, berarti gue nggak perlu susah-susah buat bikin Ken kembali sama gue."


"I-ya, semoga kalian bisa balikan ya?" Chiara seperti menancapkan belati pada jantungnya sendiri saat mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Liona menyeringai mendengar jawaban dari Chiara. "Amin," balasnya.


"Lo nginep di rumahnya Ken? Emang rumah lo dimana?" Vika kembali berujar.


"Rumah gue di Bekasi."


"Lo kuliah dimana?"


"Aussie."


"Ngapain lo? Jangan ganggu temen gue," seru sebuah suara yang diyakini milik Kenneth.


"Apaan, sih, gue cuma mau kenalan sama temen-temen lo," balas Liona acuh. "Hai gue Liona," ia mengulurkan tangan pada Haikal.


"Haikal. Lo siapanya Ken?" Haikal menyambut.


"Dia β€”"


"Gue sahabatnya Ken," potong Liona tersenyum.


Kenneth memutar bola matanya. "Gue mau ngerjain tugas sama temen gue, lo pergi sana," usirnya sengit.


Liona mencibir. "Gue pengen lihat. Kalian nggak keberatan, kan, kalau gue di sini?" ia bertanya seraya melihat ketiga teman Kenneth.


"Nggak kok sans aja," Haikal menyahut.


"Tuh, temen lo aja nggak merasa terganggu," cetus Liona menjulurkan lidahnya.


Kemudian ke empatnya sibuk mengerjakan tugas, serta Liona yang duduk bersila di atas sofa sambil memainkan ponsel.


"Ken, pinjem power bank dong, ponsel gue lowbat nih," ujar Liona mengangkat ponselnya.


"Ada di kamar," jawab Kenneth tanpa menoleh.


"Oke," Liona segera beranjak menuju kamar Kenneth.


Chiara tengah dilanda perasaan kian tak menentu, dalam benaknya terlintas, Kenneth membiarkan seorang gadis memasuki kamarnya, seberapa dekatnya mereka? Hati Chiara kian miris membayangkan kedekatan antar sahabat atau lebih tepatnya mantan pacar yang masih saling cinta itu. Menghembuskan nafas pelan, berharap rasa sakit di dadanya berkurang.


Apa yang Chiara lakukan tak luput dari pandangan Kenneth, ia memperhatikan Chiara yang mengambil nafas berulang-ulang. "Lo sakit?" tanyanya.


Pertanyaan dari Kenneth membuat ketiganya mendongak.


"Ha? Eng-gak kok gue baik-baik aja," jawab Chiara gugup. Ia menunduk menghindari tatapan dari Kenneth.


"Ken, ambilin dong, gue nggak nyampek," seru Liona dari lantai atas. "Lo naruhnya di atas lemari, Ken," terangnya saat tak mendapat sahutan.


Tanpa menjawab, Kenneth bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Liona yang berada di lantai dua.


"Ken, anak orang jangan lo apa-apain," kekeh Haikal memperingati.


Vika ikut terkekeh mendengar celetukan dari Haikal, beda halnya dengan Chiara yang merasakan nyeri di ulu hatinya. Hampir sepuluh menit, namun Kenneth belum juga muncul dari lantai dua, perasaan khawatir muncul dalam benak Chiara, berulang kali matanya melirik ke tangga, berharap Kenneth akan muncul di sana.


Tugas yang seharusnya di kerjakan bersama malah harus dikerjakan oleh Vika dan Haikal sendiri, pikiran Chiara melayang entah kemana. Manik mata Chiara mendongak saat mendengar langkah kaki diikuti suara tawa, seperti dihantam bom waktu ketika melihat Liona yang begitu mesra dengan Kenneth, kepala bersandar pada pundak Kenneth, serta tangan yang melingkar di lengannya. Sekuat hati Chiara menahan debaran yang menggila akibat emosi yang dipendam, bagaikan luka tak kasat mata yang menembus relung jiwanya. Inikah alasan Kenneth menolak cintanya? Inikah alasan Kenneth tidak menyukainya? Oh, mungkinkah keduanya telah menyepakati untuk bersama kembali? Chiara menggigit bibir bawahnya kuat agar rasa sesak di dadanya berkurang, jangan sampai menangis, ucapnya menguatkan diri sendiri.


"Woahhh gue baru pertama kali lihat lo sedekat itu sama cewek, Ken," komentar Haikal jujur.


"Gue terharu," sahut Liona tersipu menyembunyikan wajahnya di lengan Kenneth.


Netra legam Kenneth memperhatikan raut wajah Chiara yang murung. Ia melepaskan tangan yang melingkar di lengannya. "Ra, wajah lo pucet, lo sakit?" tanyanya.


Kompak Vika dan Haikal menoleh pada Chiara. Sebenarnya keduanya terkejut dengan kalimat yang terlontar dari bibir Kenneth, keduanya merasa Kenneth khawatir dengan Chiara, dan jangan lupakan itu pertama kalinya mereka mendengar Kenneth menanyakan keadaan terhadap lawan jenis.


"Em, sebenarnya iya," jawab Chiara ragu, walaupun tak seratus persen salah, karena hatinya memang benar-benar sakit.


"Lo balik duluan aja Ra," usul Haikal.


"Nggak apa-apa, ini bentar lagi selesai, 'kan?"


"Lo yakin?" tanya Vika memastikan.


"Iya," jawab Chiara tersenyum meyakinkan.


Liona sengaja duduk di samping Chiara ikut lesehan seraya memainkan ponselnya.


Tak sengaja pula mata Chiara yang fokus ke buku di depannya teralihkan oleh ponsel yang tergeletak di sisi tempat duduknya. Hatinya kembali teriris saat menyadari gambar wallpaper yang tertera di ponsel Liona. Foto Kenneth dan juga Liona yang sedang berpelukan ditambah keduanya saling tertawa. Tangan Chiara meremas kuat bolpoin yang sedang di pegangnya, berharap rasa sakitnya hilang. Sedangkan Liona menyeringai melihat reaksi Chiara, sebenarnya dirinya juga sengaja ingin memperlihatkan kepada Chiara bahwa ia jauh lebih dekat dengan Kenneth.

__ADS_1


πŸ“–πŸ“–


πŸ“–


__ADS_2