
Sejak pengakuan yang diserukan Chiara, Vanya tak lagi bisa berjalan seperti biasanya, kepalanya hampir tertunduk ketika melewati koridor. Tatapan mencemooh setia menemani setiap langkahnya.
Malu?
Iya, dia benar-benar malu dan tidak bisa berbuat apapun, memang itulah kenyataannya, ia bukan anak kandung dari ayahnya. Ia tidak tahu seberapa besar pengaruh Chiara sehingga mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Dan akhirnya Vanya mengakui kekalahannya, berdua bersama Lani ia berdiri di tengah lapangan dengan di kelilingi semua murid. Ia menyetujui keinginan Chiara untuk meminta maaf secara terbuka pada seluruh penghuni sekolah. Meskipun dalam hati ia masih merutuk dan senantiasa mengumpati Chiara dan adiknya.
Chiara menyeringai melihat Vanya dan Lani yang tampak gugup dan malu berada di tengah-tengah lapangan.
"Aku nggak nyangka kamu bisa bikin Vanya kalah telak," seru Kenneth yang berdiri di samping Chiara. Menonton pertunjukan dari lantai dua.
"Aku udah pernah ngigetin dia, tapi dia nggak dengerin aku."
"Dari mana kamu tahu identitas mereka yang sebenarnya?"
Chiara menoleh, tubuhnya berbalik menyender di pembatas balkon. Tersenyum pada Kenneth. "Rahasia."
Kenneth menyernyit, menyentil dahi Chiara pelan.
"Aduh," Chiara mengelus keningnya. "Kenapa?" tanyanya kemudian.
"Nggak apa-apa."
"Sakit tahu," Chiara mengerucut sebal.
Tangan Kenneth terulur mengusap kening Chiara.
"Waktu di perpustakaan aku nggak sengaja lihat data para siswa siswi sekolah. Dari sana aku tahu marga keluarga Vanya dan juga Lani." Chiara mulai bercerita sambil menatap Kenneth yang mengusapi dahinya. "Lalu aku juga nggak sengaja lihat dokumen kerjasama milik keluarga Vanya di atas meja kerja Abang, waktu itu aku cuma iseng nanya-nanya sama Abang. Eh, nggak tahunya dapat berita sebesar kayak gini," imbuhnya tersenyum.
"Punya jiwa stalker, ya, kamu," Kenneth mencubit pipi Chiara.
"Enak aja. Itu, kan, nggak sengaja. Beda kali."
Kenneth mengangguk, tangannya terulur memainkan rambut panjang milik Chiara. "Aku nggak nyangka ternyata kamu bisa ganas kalau lagi marah."
Chiara mendelik. "Makanya jangan bikin aku marah."
"Kamu tahu gimana singa kalau lapar?" tanya Kenneth memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.
Chiara memiringkan kepalanya. "Ngamuk," jawabnya ragu.
"Persis kayak kamu."
Mata Chiara melotot. "Kamu nyamain aku sama singa?"
Kenneth tersenyum. "Apa tadi aku bicara seperti itu?"
Chiara menghentakkan kakinya kesal. "Tau ah!"
Kenneth menarik tubuh Chiara dalam pelukannya, suasana lantai dua sepi, jadi hanya beberapa murid yang ada di sana, dan sepertinya lebih fokus ke lapangan. "Lihat aja gimana lucunya kamu kalau ngambek gini, tapi pas marah bisa lebih ganas dari singa," kelakarnya terkekeh.
Chiara memukul dada Kenneth keras. "Kamu pacaran sama singa dong."
"Nggak apa-apa, singanya cantik."
Chiara menarik diri, menatap Kenneth tajam, bibirnya mengerucut sebal.
Cup!
Kenneth mencuri satu kecupan di bibir Chiara. "Udah, ayo lihat kelanjutannya," Kenneth memutar tubuh Chiara agar menatap ke bawah, lebih tepatnya lapangan.
"Kamu nyebelin," desis Chiara melirik tajam.
"Nyebelin gini kamu juga cinta," sahut Kenneth seenak udel.
Jleb!
Mata Chiara melotot.
Kenneth tergelak, kemudian melabuhkan satu ciuman di pipi kiri Chiara.
"Haish.." Chiara memundurkan wajahnya.
"Apa?" Kenneth bertanya.
"Memangnya kamu nggak cinta?"
"Cinta."
"Sama siapa?"
"Emm, sama Mama aku."
Pipi Chiara mengembung, merapatkan giginya dan matanya tertutup rapat, ia sangat kesal dengan jawaban Kenneth.
Kenneth terbahak, membuat beberapa murid yang berada di lantai yang sama dengannya mulai mengarah padanya.
Satu ekspresi mereka. Terkejut.
Kenneth berdehem, "Udah, jangan ngambek gitu, aku cinta sama kamu."
Chiara mencibir. Kemudian memfokuskan pada Vanya yang mulai berpidato meminta maaf.
"Gue minta maaf atas semua kelakuan gue selama ini sama kalian semua, dari pertama gue sekolah di sini, gue udah bikin kalian marah sama gue, gue minta maaf," Vanya menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Gue juga, gue nyesel udah ngelakuin itu semua, ngebully kalian, maafin gue," sahut Lani.
Beberapa sorakan dan cibiran mengisi gendang telinga Vanya dan Lani, keduanya hanya bisa menunduk malu. Bahkan tak sedikit dari mereka yang merekam adegannya, beberapa murid mulai melempari keduanya dengan kertas yang sudah berbentuk seperti bola. Sedangkan Vanya dan Lani hanya bisa menutupi wajah mereka dengan tangan, menghalau lemparan dari murid-murid.
...***...
Malam minggu tiba, Kenneth sudah berada di rumah Chiara untuk menjemputnya menuju bioskop. Pada akhirnya Kenneth menyetujui ajakan Mila untuk menghabiskan malam minggu dengan menonton di bioskop.
Setelah meminta izin kepada ayah Chiara, Kenneth mulai mengendarai motor sport hitamnya secara perlahan.
Sekitar dua puluh lima menit akhirnya mereka sampai di bioskop, di sana sudah ada Mila, Putra dan beberapa anak yang lainnya.
"Kalian udah lama di sini?" Chiara bertanya.
"Udah dari lahir, Ra," seloroh Rangga asal.
"Enggak nyangka gue, ternyata nyokap lo ngelahirin lo di sini, Rang, miskin banget idup lo," sahut Alex prihatin.
Teman-temannya justru tertawa.
"Bangs*t!" Rangga memukul kepala Alex.
__ADS_1
"Kamu ikutan juga ,Des?" Tatapan Chiara mengarah pada Desi.
"Heem, Ra, ada ceweknya Deni juga, tuh," Desi menunjuk pada gadis yang berdiri di sisi Deni dengan dagunya.
"Hai, gue Ara?" Chiara mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Anna," jawab sang gadis menyambut uluran tangan Chiara.
"Udah Dateng semua, 'kan? Ayo masuk, bentar lagi filmnya mulai."
"Hmm, kayaknya semua udah hadir, ayo."
Mereka mulai memasuki gedung bioskop, duduk sesuai kursi yang sudah dipesan, dan juga membeli beberapa popcorn dan minuman sebagai teman nonton film.
Tak berapa lama lampu dimatikan.
"Tunggu dulu. Kita nonton film apa, Mil?" Chiara baru tersadar.
"Horor!"
"Apa??!!" Chiara terbelalak.
"Ups, gue lupa, Ra, kalau lo takut hantu," ucap Alex menyengir lebar.
Chiara mendengus menatap Alex.
"Mau lanjut nonton? Atau kita keluar aja?" Kenneth memberi pilihan.
Chiara menggeleng. "Enggak usah, udah terlanjur juga."
"Yakin?"
Chiara mengangguk.
Film mulai diputar, suara jeritan memekikkan telinga mulai terdengar, alunan musik sebagai pengiring film berbunyi.
Selama film diputar Chiara tak pernah membuka matanya, menutup rapat kedua matanya, jemarinya mencengkeram wadah popcorn dengan erat. Sesekali tubuhnya terlonjak saat mendengar teriakan dari film atau penonton di sekitarnya, jantungnya berpacu dengan cepat.
Kenneth menyadari ketakutan Chiara, ia meraih jemari Chiara dan menggenggamnya erat. "Masih mau lanjut?" tanyanya saat Chiara membuka mata.
Chiara menoleh ke depan, seketika langsung kembali menatap Kenneth, bahkan tubuhnya mendekat di sisi pemuda itu. Namun netranya kembali melebar saat menyadari pasangan di bawahnya sedang berciuman panas tanpa menghiraukan penonton lainnya.
Kenneth mengikuti arah tatap Chiara. "Jangan dilihat," ia menarik sisi wajah Chiara agar menatapnya.
Chiara agak kikuk. "Emm, aku mau keluar."
Kenneth mengangguk. "Ayo."
"Ken, lo mau kemana?" tanya Alex melihat Kenneth dan Chiara beranjak, membuat teman-temannya reflek mendongak menatap keduanya.
"Gue tunggu di luar," jawab Kenneth kemudian.
Chiara bisa bernafas lega setelah keluar dari bioskop, namun ia masih enggan berjauhan dengan Kenneth, sehingga ia terus menempel di tubuh pemuda itu.
"Mau makan?" tawar Kenneth menyadari Chiara masih ketakutan.
Chiara menggeleng. "Kita jalan-jalan aja gimana?"
Kenneth mengangguk.
Keduanya memilih duduk di kursi yang di sediakan di tepi trotoar, menikmati jagung bakar yang tadi sempat mereka beli di pinggir jalan.
"Kira-kira filmnya masih lama nggak, ya?"
"Kenapa?"
"Kalau mereka nyariin gimana?"
"Aku udah ngasih tahu Alex, kalau udah mau pulang suruh ngabarin."
Chiara mengangguk, kembali memakan jagungnya.
"Ra."
"Ya?"
"Kamu beneran takut hantu?"
Chiara menegang, menoleh perlahan pada Kenneth. "Aku.. enggak tahu."
Kenneth menyernyit heran.
"Aku nggak tahu sejak kapan takut hantu, tapi kata Bunda, waktu kecil aku pernah diajak ke makam Abang aku yang udah meninggal. Di sana aku nggak mau buka mata aku sama sekali, kayak ketakutan gitu, cuma mau di gendong sama Daddy, padahal sebelum masuk makam aku masih biasa aja, sejak saat itu kayaknya aku mulai takut hal berbau mistis," terang Chiara mengingat kejadian yang masih terekam di otaknya.
"Abang kamu meninggal? Siapa?"
"Abang dari suami pertama Bunda, namanya Bang Rafa."
Kenneth mengangguk. Kemudian keduanya sama-sama diam menikmati jagung bakar.
"Mulai senin aku sudah mulai belajar di kantornya Papa."
Chiara menoleh.
"Kemungkinan aku sampai sore di sana, belajar ngurus perusahaan," Kenneth melanjutkan seraya menatap Chiara.
"Setiap hari?"
"Bisa jadi."
"Kamu nggak kuliah dulu?"
"Aku bisa kuliah sambil kerja," Kenneth melempar batang jagung ke dalam tong sampah. Ia memutar tubuhnya menghadap Chiara, menekuk sebelah kakinya di atas kursi. "Ra," panggilnya
"Hm?"
"Setelah lulus kamu ambil kuliah dimana?"
Chiara terkesiap, menelan jagungnya dengan alot. "Emm, sebenarnya aku udah buat keputusan jauh-jauh hari sebelum aku pindah ke Indonesia. Aku pengen ngambil kuliah di Berlin," cicitnya di akhir kalimat.
Kenneth tertegun, punggungnya menegang mendengar jawaban Chiara.
"Bunda aku punya usaha butik, dan aku berniat untuk mengambil kuliah jurusan fashion desain, Ken, buat nerusin usaha Bunda."
"Harus di Jerman?"
__ADS_1
Chiara mengangguk, kemudian menggeleng. "Sebenarnya aku pilih di sana juga karena sebagian keluarga besar dari pihak Daddy ada di sana, Daddy nggak bakal ngizinin aku kuliah di negara orang tanpa ada yang mendampingi."
"Kenapa nggak di sini?"
Chiara mengangkat bahunya. "Dari dulu aku pengen kuliah di sana, sekaligus nemenin Oma sama Opa aku, mereka sendirian di sana, Bunda sama Daddy udah mutusin buat menetap di Indonesia."
Kenneth melipat bibirnya ke dalam, tak berapa lama dirinya mengangguk.
"Ken," Chiara menggenggam jemari Kenneth. "Mau menjanjikan satu hal sama aku?"
"Apa?"
"Bisakah kamu menunggu sampai aku kembali ke Indonesia?" Chiara menatap lekat manik mata legam di hadapannya. Sebenarnya ia juga berat harus meninggalkan Indonesia, meninggalkan cintanya yang baru saja dimulai. Namun ia juga tidak bisa menunda cita-citanya yang sudah ia rajut jauh-jauh hari, bahkan sebelum bertemu dengan Kenneth. Chiara hanya ingin Kenneth bersabar menantinya kembali, ia percaya bahwa Kenneth adalah orang yang tepat untuknya di masa depan.
Kenneth tersenyum, mengusap pipi Chiara lembut. "Jerman belum cukup jauh buat aku berpaling dari kamu."
Katakanlah Kenneth bucin, karena kata-katanya sukses membuat hati Chiara berdesir hebat, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Tangan Chiara melingkar di leher Kenneth, memeluknya erat. "Terimakasih."
Kenneth balas memeluk Chiara tak kalah erat. "Aku pasti akan nunggu kamu di sini, aku nggak akan menjadi penghalang cita-cita kamu," ujarnya mengusap punggung Chiara.
Chiara terharu, merasakan kelegaan yang luar biasa setelah mendengar jawaban dari kekasihnya. Ia merenggangkan pelukan. "Ken, tadi kamu lihat apa yang Mila dan Putra lakuin di samping aku?"
Kenneth menyatukan alisnya nampak berpikir. "Tahu."
"Kamu ngerasa begitu?"
"Iya."
"Nah, iya, kan, aku rasa juga begitu."
"Kamu mau?"
Chiara menyernyit. "Mau apa?"
Kenneth menarik tubuh Chiara dan melabuhkan kecupan di bibirnya.
"Ish.. kenapa kamu cium aku?" Chiara memprotes.
"Seperti itu, kan, yang kamu maksud?"
Chiara memukul dada Kenneth. "Bukan itu."
"Lalu?"
"Aku tadi denger Mila ngeluh sama Putra, pas aku lihat kayak cemberut gitu, aku kira mereka berantem."
Kenneth nampak acuh, karena yang ia lihat tadi adalah dimana Mila dan Putra yang berciuman selama film diputar. Ia menarik tubuh Chiara agar duduk di kakinya, menyebabkan tingginya sejajar.
"Eh?" Chiara tersentak saat tiba-tiba tubuhnya di angkat, tangannya masih melingkar di leher Kenneth.
"Mereka memang bertengkar."
"Ken, lepas. Nanti ada yang lihat," Chiara memprotes seraya menatap sekitar, ia nampak terkejut.
Sepi?
Pada kemana seluruh pengunjung yang tadi ia lihat duduk di kursi samping, kenapa jadi tidak ada orang.
"Kamu mau tahu mereka bertengkar seperti apa?" Kenneth berucap menghiraukan keterkejutan Chiara.
"Hah?"
"Mau tahu nggak?" Kenneth menyeringai.
"Apa, sih?" tepis Chiara hendak melepaskan diri.
Namun Kenneth mengunci kedua tangannya di belakang punggung, menyebabkan Chiara tidak bisa bergerak.
Chiara yang mulai lelah karena tak juga berhasil melepaskan diri akhirnya menyerah. Hanya bisa mendengus kesal.
"Ra, jangan bergerak!" perintah Kenneth tiba-tiba.
"Kenapa? Ada apa?" Chiara nampak ketakutan.
Kenneth menyeringai. "Ada sesuatu di belakang kamu," bisiknya di telinga Chiara.
Kedua mata Chiara melotot, tanpa sadar dirinya semakin mengikis jarak di antara Kenneth, memeluk erat leher Kenneth. "A-ada apa, Ken? Kamu.. kamu jangan nakut-nakutin aku, ya?" peringatnya tergagap.
Tak berapa lama Kenneth tergelak melihat respon Chiara yang ketakutan, wajahnya begitu menggemaskan saat tengah ketakutan.
Chiara tersentak melihat Kenneth yang tertawa, akhirnya ia menyadari telah dibohongi. Ia memukul keras dada Kenneth. "Menyebalkan," sungutnya menarik diri hendak turun dari kaki Kenneth yang menjadi tumpuannya.
"Maaf," sesal Kenneth masih terkekeh, menahan agar Chiara tidak beranjak dari posisinya.
Chiara memalingkan wajah, kedua tangannya kini tidak lagi melingkar di leher Kenneth, bibirnya mengerucut sebal, membiarkan tubuhnya hanya di tahan kedua tangan Kenneth sebagai penyangga.
"Maaf," ulang Kenneth mencium sebelah pipi Chiara.
"Ih, jangan cium cium," tolak Chiara ketus.
Kenneth terkekeh. "Lagi kangen ini."
Mata Chiara melotot, apa dia tidak salah dengar?
Kenneth tertawa kecil melihat respon gadisnya.
Aih.. gadisnya?
Salah satu tangan Kenneth menarik wajah Chiara agar menatap ke arahnya, tanpa menunggu lama lagi, Kenneth melabuhkan ciuman di bibir Chiara. Tangannya merambat ke tengkuk Chiara, menahan guna memperdalam ciumannya. Kedua tangan Chiara reflek melingkar di leher Kenneth.
Di saksikan ribuan bintang yang berkelip di angkasa, dua insan saling memagut serta saling mendamba.
Kenneth menggigit pelan bibir bawah Chiara dan menerobos masuk, menggunakan lidahnya untuk mengobrak abrik isi di dalamnya.
Di saat seperti itulah, dering ponsel menghentikan aktivitas keduanya.
"****!" umpat Kenneth tanpa sadar.
Chiara terkikik geli.
Kenneth merogoh sakunya, melihat pesan di layar ponselnya, kemudian kembali memasukkan ke dalam sakunya. "Ayo balik," ajaknya, ibu jarinya mengusap bekas saliva yang menempel di bibir Chiara
Chiara mengangguk dan tersenyum.
📚📚
__ADS_1
📚