KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Garissa 11 - saksi


__ADS_3

...CERITA INI HANYA FIKTIF. HASIL KARYA AUTHOR SEMATA....


...JIKA ADA KESALAHAN MOHON DI KOREKSI DEMI KENYAMANAN BERSAMA....


...TERIMAKASIH DAN HAPPY READING!...


...\...


Tidak butuh waktu lama. Daniel dan Aiden memang patut diacungi jempol jika menyangkut pekerjaan mencari orang hilang. Ah, tidak juga, buktinya Aiden tidak bisa menemukan siapa orangtua kandung istrinya.


Lanjut.


Daniel menyeret seorang pria dewasa di sebuah helipad, pria itu terlihat mengenaskan, tangannya diikat, matanya di tutup sebuah kain hitam, mulutnya di lakban, bahkan beberapa lebam turut menghiasi wajahnya. Ia mendorong tubuh pria itu yang ditangkap sigap para pengawal. "Ikat dia," perintahnya kemudian.


"Dimana Clarissa?" Aiden berujar pada seorang bodyguard.


"Sedang dalam perjalanan, Tuan."


Pintu terbuka, Angin kencang menerpa kehadiran Clarissa di atap sebuah gedung yang sudah di booking oleh kakaknya. "Abang," serunya menghampiri.


Aiden menyambut kehadiran sang adik dalam pelukan hangat. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


Clarissa mengangguk. "Aku baik. Maaf sudah merepotkan Abang," ujarnya menyengir.


Aiden mengusap kepala Clarissa sayang.


"Bang Daniel," Clarissa beralih memeluk Daniel.


"Siap melaksanakan interogasi?" goda Daniel.


Clarissa mengangguk.


"Dimana Galang?" Aiden berujar menyadari Clarissa datang seorang diri.


"Galang masih di bawah."


Aiden mengangguk.


Daniel melepaskan kain hitam yang menutup mata sandera. Juga lakban di mulutnya. "Menurutlah, jawab dengan jujur selagi aku masih bersikap baik," bisiknya mengancam.


Pria yang tidak lain tidak bukan bernama Chandra, seorang peneliti yang mengundurkan diri terlihat pias dan terkejut berada di puncak gedung, angin berhembus sangat kencang membuat tubuhnya kian meremang. "Siapa kalian?" tanyanya gugup.


Aiden mendekat. "Sudah aku katakan jangan menanyakan hal bodoh yang tidak akan membuatmu tenang. Aku sudah cukup sabar karena kau orang tua," ujarnya dingin namun penuh ancaman.


"Clarissa," Daniel menginterupsi agar adiknya itu memulai aksi.


Clarissa mengangguk, ia mengambil duduk di sebuah kursi yang terjarak dari Chandra. "Apa yang anda ketahui tentang peristiwa yang terjadi dengan Beenar grup sebelum anda mengundurkan diri?"


Chandra nampak terkejut. "Jadi semua ini karena masalah itu?"


"Jawab saja, apa yang salah dengan olahan makanan hari itu? Kenapa ada korban yang mengajukan gugatan setelah mengonsumsi makanan itu? Apa kalian para peneliti salah memasukkan jumlah bahan kimia?"


Tubuh Chandra menegang. "Aku tidak terlibat apapun!"


"Kau tidak perlu berteriak!" Daniel berseru murka.


Salah seorang bodyguard memberikan pukulan pada wajah Chandra, membuat pria itu meringis.


"Lalu kenapa anda mengundurkan diri? Kenapa anda bersembunyi? Kenapa anda mengganti identitas anda sebagai orang lain?" Awal mula Clarissa mengetahui bahwa Chandra merubah identitas dari Galang.


"Kau gadis kecil. Siapa kau?! Kenapa kau ingin tahu?! Apa yang kau harapkan dariku, aku tidak akan mengatakan apapun padamu!"


Buagh.


Lagi, tubuh Chandra terjatuh beserta kursinya ketika salah seorang bodyguard menendangnya.


Clarissa tercekat, ia tidak terbiasa dengan kekerasan di depan matanya. "Abang, bisa ringankan memukul tubuhnya? Aku ngeri," ujarnya pelan pada Aiden.


Aiden mengangguk, menginterupsi para bodyguard agar tak menggunakan kekerasan.


"Kau masih tidak ingin jujur sepertinya. Baiklah, perlihatkan padanya," Daniel berujar, memberi isyarat pada seorang bodyguard.


Chandra merasakan seluruh tubuhnya ngilu, sakit di tiap sisi. Seorang pria menghampirinya, menunjukkan layar ipad di hadapannya, bola matanya seketika membulat menyaksikan video di dalamnya. "Apa yang kalian lakukan?!" teriaknya murka.

__ADS_1


"Mereka akan mendapatkan perilaku buruk jika kau tidak bekerjasama dengan baik," ujar Aiden dingin.


Rahang Chandra terkatup rapat dengan gigi yang bergemeletuk.


"Mungkin video itu tidak begitu menarik untukmu. Bagaimana jika putrimu yang sekarang berada di Colombia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya?" Daniel tengah mengancam.


Chandra tercekat hingga merasakan sesak di dalam dadanya, siapa mereka semua ia tidak tahu, mereka tiba-tiba datang dan membuatnya tak sadarkan diri. Mereka memukuli dirinya yang mencoba berontak. Mereka juga menyandera istri dan putri sulungnya. Dan sekarang putri bungsunya juga dalam bahaya.


"Audra Faiza Mahendra Prameswari, atau Audra Candra.."


"Jangan," Chandra memotong. "Jangan lakukan apapun pada putriku, jangan hancurkan karirnya, dia tidak bersalah," imbuhnya memohon.


"Seharusnya kau bekerjasama dari awal," Daniel mengisyaratkan pada Clarissa.


Clarissa mengangguk. "Jadi bisa anda ceritakan dari awal?" pintanya.


Chandra memejamkan rapat matanya, apa yang harus ia lakukan? Berucap jujur untuk menyelamatkan keluarganya atau berbohong dan menghancurkan karir putrinya. Tapi ia tahu, berbohong atau jujur ia akan tetap mendapatkan masalah. Yang ia utamakan sekarang adalah keluarganya. Untuk yang lain, ia akan bertanggungjawab.


Chandra menarik nafas dalam. "Perusahaan mengeluarkan produk olahan makanan baru," ia mulai bercerita. "Hanya saja kami tidak sengaja menumpahkan bahan kimia melebihi dosis. Yang jika terkonsumsi tentu tidak akan baik. Pihak perusahaan tidak ingin rugi, setelah produk olahan menjadi bahan siap konsumsi, makanan tersebut diberikan kepada karyawan yang kebetulan saat itu tengah lembur, sekitar 10-20 orang kalau tidak salah. Tapi mereka semua ada yang tidak mengonsumsinya. Bermaksud untuk melihat reaksi pada mereka jika mengonsumsi makanan dengan bahan kimia yang berlebihan."


Clarissa terkesiap, bagaimana bisa sebuah perusahaan menggunakan karyawannya sendiri sebagai kelinci percobaan.


"Dua belas karyawan mengalami reaksi atas makanan tersebut, mereka dilarikan ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa mereka keracunan. Pihak perusahaan menghentikan olahan produk dan menariknya dari pasar, mereka tentu tidak ingin rugi terlalu besar jika salah seorang dari konsumen luar mengalami hal serupa."


"Jadi, produk itu tidak pernah dipasarkan?" Clarissa bertanya.


Chandra mengangguk. "Baru satu hari produk masuk pasar, namun kembali ditarik oleh perusahaan."


"Bukankah mereka sudah rugi karena itu?"


"Tentu saja. Perusahaan memberikan uang kompensasi kepada korban untuk membungkam mulut mereka mengatakan fakta."


"Tapi apa korban tahu kenapa mereka keracunan?"


"Aku tidak bisa memastikannya. Karena perusahaan memintaku mengundurkan diri setelah insiden itu. Memberikan tunjangan untukku dan memintaku merahasiakan masalah ini."


"Dan anda dipindahkan ke bisnis Beenar yang lain?" Clarissa menebak.


"Aku seorang pengacara. Salah satu korban mengalami kondisi buruk setelah mengonsumsi makanan tersebut. Mereka meminta bantuan kami untuk mengungkapkan fakta atas insiden ini," Clarissa menjawab.


"Bukankah mereka sudah mendapatkan uang kompensasi?"


"Memang, tapi satu korban mengalami kondisi terburuk."


"Bagaimana dengan yang lain?"


"Mereka sudah bekerja kembali. Tapi mereka menolak memberikan kesaksian, untuk itu aku mengancam anda. Maaf sebelumnya," Clarissa nampak menyesal.


Aiden dan Daniel saling tatap, makhluk bernama wanita memang paling spesial dan unik.


"Aku pergi dulu," pamit Aiden kemudian.


Danie mengangguk mengiyakan.


"Aku sudah berkata sejujurnya, apa yang kau perlukan lagi dariku?"


"Anda harus hadir di persidangan sebagai saksi."


Chandra tersentak. "Bukankah bukti rekaman itu sudah cukup?" ia menunjuk pada sebuah kamera yang berada tak jauh darinya.


"Kalau anda hadir di persidangan, itu lebih akurat."


"Kau menolak bersiaplah kehilangan masa depan kedua putrimu," Daniel mengancam.


Chandra mendongak serta memejamkan rapat kedua matanya.


*


Di tempat lain.


Galang menendang kuat seorang pria berjas putih yang sudah diikat kedua tangannya. Keadaan pria dengan status Dokter itu tak kalah mengenaskan.


Brukk!!

__ADS_1


"Seharusnya aku tidak perlu mengotori tanganku untuk membuatmu membuka suara. Hanya saja kau memaksaku bertindak kekerasan," Galang berujar.


"Katakan sejujurnya, Dokter. Atau anda memilih keluarga Van Houten yang menginterogasi anda, dan bisa aku pastikan salah satu organ tubuhmu akan berlubang oleh tembakan peluru," ancaman Galang bukan sekedar isapan jempol.


"Aku tidak mengenal kalian," sang dokter membuka suara.


"Kau tidak perlu tahu, yang harus kau tahu, keluarga Van Houten adalah pemilik rumah sakit yang memberikan suntikan dana terbesar di tempat kau bekerja saat ini. Hanya untuk menyingkirkan sampah sepertimu itu bukanlah hal sulit."


Galang mengeluarkan jarum suntikan di hadapan sang dokter. "Karirmu akan hancur, pengabdianmu selama sepuluh tahun tidak bisa menolongmu dari hukuman jika aku memasukkan obat ini ke dalam tubuhmu," ujarnya menyeringai.


Sang dokter nampak pias. "Apa yang akan kau lakukan padaku?"


"Katakan sejujurnya, apa yang kau sembunyikan dari rekam medis ini?!" hardik Galang melemparkan map di hadapan sang dokter. "Kenapa pasien sulit sadar, setelah mengonsumsi obat dia akan tertidur seperti orang koma, apa yang kau masukkan ke dalam tubuhnya?!"


Sang dokter nampak tertekan, ia membaca tulisan yang tertera di dalam kertas dengan tubuh bergetar.


"Katakan sejujurnya jika anda masih ingin menghirup oksigen secara gratis. Karena jika cairan ini masuk ke dalam tubuh anda, anda akan merasakan yang namanya oksigen itu mahal," tekan Galang mengeluarkan sedikit cairan dari suntikan.


Sang dokter menelan saliva.


"Tentu saja tidak sampai disitu. Keluargamu, bahkan adikmu yang saat ini baru menjadi dokter umum di rumah sakit A akan mendapatkan kejutan yang tak bisa dia lupakan seumur hidupnya."


Sang dokter tercekat. "Bunuh saja aku," pintanya.


Galang tersenyum sarkas. "Mati adalah hukuman yang ringan untukmu."


"Kau ingin melihat adikmu dituduh melakukan malpraktek? Kau ingin melihat istrimu keguguran? Kau ingin melihat putramu gila karena kehilangan pekerjaan? Ya, kau pasti senang melihat keluargamu menderita."


"Jangan sembarang. Kau hanya mengancam bukan?" sang dokter menyangkal, tidak mungkin pria di hadapannya melakukan itu semua terhadap keluarganya.


Galang mengangguk-angguk. "Anda sangat berpendirian," ucapnya, ia meminta seorang bodyguard mengeluarkan laptop, menunjukkan ke arah sang dokter. "Keluargamu sudah ada yang mengintai, dan mereka adalah orangku."


Sang dokter tercekat, wajahnya sudah pias dengan keringat dingin memperhatikan video dalam laptop.


"Satu perintah dariku, orangku akan masuk ke dalam rumahmu, mungkin istrimu akan terkejut, lebih buruknya ia akan kehilangan bayi kalian."


"Jangan sakiti istri dan anakku."


Galang tersenyum. "Pilihan yang tepat," ia menempelkan ponsel di telinga. "Batalkan perintah, tetap awasi dari jauh," perintahnya pada sambungan telepon.


Sang dokter memejamkan rapat kedua matanya, ia ketakutan dan khawatir jika keluarganya menanggung kesalahan yang ia perbuat, ia tidak ingin itu terjadi.


"Katakan sekarang."


Sang dokter menghembuskan nafas dalam. "Keadaan pasien memang sudah membaik. Rekam medis itu salah. Aku memberikan anestesi ke dalam campuran obat yang dikonsumsi pasien. Itu perintah dari perusahan. Sebenarnya pihak perusahaan memintaku membunuh pasien secara perlahan, namun aku dokter yang sudah disumpah, aku tidak mungkin membunuh pasienku sendiri. Yang bisa aku lakukan hanya membuatnya tertidur."


"Apa yang mereka janjikan padamu?"


"Sama sepertimu, dia mengancam akan membunuh bayi dalam kandungan istriku!" sang dokter menghentak, ia cukup muak dengan tingkatan sosial seseorang, mereka yang berkuasa yang akan menang.


"Anda tenang saja, aku akan menjamin keselamatan keluargamu jika anda bersedia bekerja sama dengan kami," sebuah suara menyeru, itu Aiden yang sejak tadi mengamati.


"Siapa kau?"


"Anda tidak perlu tahu. Tapi anda bisa memegang kata-kataku kalau aku akan melindungi keluargamu. Bahkan aku bisa menjaga reputasi adikmu yang saat ini menjadi dokter baru di rumah sakit A. Aku mampu membuatnya menjadi direktur kalau anda bersedia," Aiden tidak membual, ia mampu melakukan apa yang ia inginkan.


Sang dokter nampak gamang. "Kau yakin bisa melindungi istriku?"


"Ya."


"Aku akan dipenjara karena berbuat salah terhadap pasien, mungkin gelar dokterku akan dicabut. Bagaimana kau melindungi keluargaku sementara aku menjalani hukuman?" mencari kepastian memang wajar, terlebih yang menjadi kekhawatiran adalah keluarga.


"Putramu bisa bekerja denganku, aku bisa melihat potensi dia cukup baik. Dia dan istrimu bisa pindah ke luar kota, selagi menunggumu menjalani hukuman. Menghapus jejak digital bukan hal sulit bagiku jika anda mengkhawatirkan pekerjaan anda setelah anda bebas," melihat keraguan lawan, Aiden mendesak dengan iming-iming yang tinggi, tapi ia serius dengan apa yang diucapkan.


"Apa kau bisa dipercaya?" sang dokter nampak ragu, seperti pepatah mengatakan, keluar lubang buaya, masuk ke lubang singa. Ya seperti itulah yang ia alami, setelah mendapatkan ancaman dari perusahaan Beenar, sekarang pria asing dihadapannya juga turut mengancam.


"Itu terserah anda," balas Aiden datar.


Sang dokter mengambil nafas. "Baiklah, mungkin ini hukuman atas tindakan tidak manusiawiku terhadap pasien. Aku bersedia menjalani hukuman," ia memilih mengakhiri semuanya, ia akan membuat pengakuan dosa.


Aiden dan Galang tersenyum.


"Terimakasih atas kerjasama anda. Anda bisa memegang janjiku," ucap Aiden serius.

__ADS_1


__ADS_2