KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
52. Free Class


__ADS_3

Tinggal menghitung bulan mendekati ujian nasional, seluruh murid mulai belajar dengan serius mengenai materi pelajaran yang akan digunakan untuk ujian. Namun tak sedikit dari mereka yang merasa resah menghadapi ujian, walaupun tak sedikit pula yang tidak begitu memusingkan akan ujian yang dilaksanakan tak kurang dari seminggu itu.


Beberapa guru pengajar sedang melakukan rapat dengan kepala sekolah sehingga hampir keseluruhan kelas jam kosong, hanya akan mendapatkan tugas yang harus dikerjakan.


Hal itu tidak dilewatkan oleh kelas XII IPA 1 yang notabene mempunyai julukan kelas kompak, karena hampir seluruh pelajaran membutuhkan kekompakan, atau tak sengaja membuat kelas mereka menjadi kompak. Beberapa anak mulai serius mengerjakan berlembar-lembar kertas yang sudah dibagikan sang guru sebelum rapat. Namun tak banyak dari mereka yang memilih tidur, bermain di belakang kelas, ngerumpi dan kebiasaan wajar saat jam kosong lainnya.


"GUE BOSENNN!!!" teriakan Rangga menggema dan sukses menarik perhatian.


"Apaan sih lo, Rang, berisik!"


"Bosen, gaiiss. Goyang, yok?" Tak mendapat tanggapan, Rangga kembali berseru, "Ini, free class you know, ngapain masih ngerjain tugas aja, bentar lagi kita ujian. So, jangan perburuk otak lo dengan kebanyakan mikir."


Beberapa murid tampak menyernyit bingung.


Tatapan Rangga berotasi, ia memutar bola matanya jengah. "Lemot!" cetusnya, kemudian ia berjalan ke belakang mengambil gitar yang tergeletak di dalam lemari. Berjalan ke depan kelas menyenderkan pinggulnya di ujung meja guru, kemudian mulai memetik gitarnya.


Beberapa murid mulai mengerti tindakan Rangga dan mulai mengikuti, bahkan salah satu dari mereka memutar lagu yang sudah dihubungkan dengan tip recorder mini.


Lagu dari Shawn Mendes berjudul I'm not alone menggema nyaring, sebagian murid mulai ikut ke depan kelas dan berjoget ria, tak terkecuali Mila yang mulai terkontaminasi virus Rangga.


"Ikutan, Ra?"


Chiara menggeleng ketika Mila menawarinya. Ia tergelak ketika melihat gaya teman-temannya yang berjoget berjingkrak-jingkrak di depan sana.


Salah satu dari mereka mulai mengambil gambar serta memvideokan kegiatan untuk kenang-kenangan.


Kenneth yang tidak mungkin bergabung dengan mereka memilih untuk duduk di sisi Chiara, menempati tempat duduk Mila sebelumnya.


Chiara mendongak kemudian tersenyum melihat Kenneth duduk di sampingnya.


"Nggak ikutan?"


Chiara menoleh, kepalanya menggeleng. Ia kembali terkekeh melihat aksi absurd teman-temannya. "Kamu mau ikutan?" tanyanya pada Kenneth.


Kenneth jelas menolak, dan menggeleng sebagai jawaban.


"Ken, pinjam hape kamu, dong?" Chiara berujar.


Kenneth menyernyit, namun tak urung merogoh saku celananya dan menyerahkan ponselnya pada Chiara.


Chiara tersenyum menerimanya, kemudian mulai membuka aplikasi kamera untuk membidik beberapa gambar teman-temannya yang sedang berjoget ria. Ia lagi-lagi tergelak saat melihat beberapa murid saling senggol dan terjatuh di lantai, Chiara sampai memegang perutnya yang nyeri akibat tertawa. Ekor matanya menangkap sesuatu yang menarik di sampingnya. Chiara menopang dagunya menatap Kenneth yang tengah tersenyum. "Sebenarnya kamu itu lebih ganteng kalau tersenyum, tapi kenapa, ya? Kamu jarang senyum," gumamnya tanpa sadar.


Kenneth menyatukan kedua alisnya. "Belajar gombal dari mana?"tanggapnya.


Chiara menggeleng. "Aku bicara jujur."


Kenneth mengikuti tindakan Chiara, menopang dagunya dengan sebelah tangan serta menatap Chiara. "Bagaimana kalau aku bilang senyumku hanya untukmu?" Ia berhasil mencuri satu kecupan di pipi Chiara.


Chiara terbelalak akan tindakan Kenneth, begitupula seorang siswa yang tak sengaja merekam adegan manis keduanya, siswa itu menahan nafas saat melihat Kenneth mencium Chiara. Karena takut ketahuan, akhirnya ia pura-pura mengarahkan ponselnya ke arah lain, padahal di dalam hati ia tengah terkikik geli, sepertinya ia punya rencana kejutan untuk semua orang.


"Ra, ayo ikutan," Mila menarik lengan Chiara agar ikut dengannya.


Chiara menatap Kenneth sejenak. Mendapati Kenneth mengangguk seolah memberi izin.


Lagu bergenre Bollywood mulai diputar, sebuah lagu yang populer dibawakan salah satu artis terkenal Shahrukh Khan berjudul Pretty Woman, pasti tahu, 'kan? Dalam film Kal Ho Na Ho.


Chiara mulai menggoyangkan tubuhnya, sesekali melihat pada Kenneth yang tengah tersenyum serta geleng-geleng kepala melihatnya.


Kenneth mengarahkan ponselnya ke depan, lebih tepatnya pada Chiara, membuka aplikasi kamera untuk mengambil beberapa foto candid kekasihnya itu.


Sedang asik bergoyang tiba-tiba pintu terbuka lebar. Waktu seakan berhenti seketika, mereka membatu dengan musik yang masih mengalun menyadari Pak Narto masuk ke ruang kelas.


Pak Narto menatap hampir seluruh murid yang mematung, tak berapa lama beliau menutup pintu dan menggoyang tubuhnya berjalan ke tengah kerumunan.


Seluruh murid bersorak-sorai ketika menyadari Pak Narto justru turut bergoyang bersama.


"Goyang, Pak, asekk!"


"Pretty woman dekho-dekho na pretty woman." 🎶


Jreng! Jreng!


Beberapa murid ikut menyanyikan lirik lagu dengan petikan gitar.


"Tarik, Mang."


"Ganjel, Tokk!"


Mereka terus bergoyang begitu pula Pak Narto selaku guru olahraga. Satu jam hampir berlalu, bel istirahat sebentar lagi berbunyi.


Pak Narto menginterupsi agar berhenti. "Sudah anak-anak, Bapak capek," beliau mengangkat kedua tangan ke udara tanda menyerah.


"Nanggung, Pak."


"Sudah-sudah, Bapak capek, serius," Pak Narto terduduk di meja guru. "Bapak pikir ada dangdutan, taunya diskotik pindah ke sini," beliau terkekeh.

__ADS_1


"Diskotik dadakan, Pak!"


"Bentar lagi bakal ada bioskop dadakan juga, Pak!"


"Ya, ya, terserah kalian saja, Bapak capek, haus," Pak Narto mengusap lehernya.


"Mau minum, Pak?" tawar seorang siswi mengangkat botol minumannya.


Pak Narto menggeleng. "Tidak usah, terimakasih, Bapak akan keluar."


...***...


Setelah jam istirahat selesai, Kenneth harus berada di ruang osis untuk mengadakan rapat dadakan mengenai acara setelah kelulusan nanti, dan saat itu pula jabatannya sebagai ketua osis akan digantikan oleh adik kelasnya.


Chiara mengeluarkan ponsel dari saku rok saat seorang guru masih di dalam kelas menerangkan sebuah materi. Mengetikkan sebuah pesan untuk sang kekasih.


To : Kenneth 💗


^^^Masih lama?^^^


Tak berapa lama balasan diterimanya.


Iya, kenapa?


^^^Boleh aku ke situ?^^^


Boleh.


Balasan dari Kenneth membuat Chiara menyunggingkan senyuman. Tak berapa lama bunyi tanda istirahat kedua berbunyi.


"Ra, lo mau kemana?"


"Gue ke ruang osis, Mil, nyamperin Kenneth."


Mila mengangguk. "Kalau nyari gue, gue di kantin, ya?"


"Oke."


Tengah berjalan menuju ruang osis yang kebetulan berada di lantai satu, tiba-tiba Chiara dihadang seorang siswi berkacamata, dilihat dari badgenya, menunjukkan bahwa ia anak kelas sepuluh.


"Kak Ara."


"Iya?"


"Dari siapa?"


Gadis itu menggeleng.


Chiara menerima suratnya hendak membuka.


"Eh, jangan dibuka sekarang, Kak, nanti saja," cegah siswi itu.


Chiara menyernyit. "Kenapa?"


"Kata.. kata orangnya begitu," jawab gadis itu menunduk.


Chiara tersenyum. "Baiklah, aku akan membukanya nanti. Oh, iya, siapa nama kamu?"


"Fi-fina, Kak."


"Oke, terimakasih, Fina," Chiara tersenyum kemudian berlalu.


Chiara berhenti di depan ruang osis, sepertinya rapat masih berlangsung, ia memutuskan untuk duduk di depan seraya memperhatikan beberapa siswa yang tengah memainkan bola basket. Kepalanya menoleh ke belakang, sepertinya rapatnya masih lama. Kemudian ia teringat akan surat yang diberikan Fina. Chiara merogoh saku membukanya.


Hai Ara.


Aku cinta sama kamu, kamu cantik, sangat cantik, apalagi kalau senyum, bikin hati aku berdebar.


^^^Dari penggemarmu.^^^


^^^H^^^


Chiara mengernyit, kemudian terkekeh membaca isi surat, ia menggelengkan kepala, orang macam apa yang menulis surat seperti itu. Aneh. Dari awal kalimat saja sudah aneh, bagaimana dengan orangnya? Huh! Itulah salah satu alasan kenapa Chiara tidak mau mengungkap jati dirinya. Ya, karena itu, banyak yang cari muka dengannya, tak sedikit dari mereka yang berusaha bersikap seperti penjilat.


Ehem!


Chiara menoleh saat mendengar deheman seseorang dari belakangnya. "Sudah selesai?" tanyanya melihat Kenneth di sana.


"Hem," Kenneth mengangguk, mengambil duduk di samping Chiara. "Ngapain?" tanyanya kemudian.


Chiara menggeleng, melipat kertas di tangannya hendak memasukkan ke dalam saku.


"Surat dari siapa?"


"Ha? Oh, enggak, bukan siapa-siapa," Chiara tersenyum.

__ADS_1


"Coba lihat?" Kenneth menarik kertas dari tangan Chiara dan membacanya. Kedua alisnya menukik tajam membaca isi surat. "Dari siapa?" tanyanya masih fokus memperhatikan deretan kata yang tertulis di kertas.


"Aku nggak tahu," Chiara menggeleng.


Tatapan Kenneth menyelidik.


"A-pa?" Chiara mulai gugup mendapat intimidasi lawan.


Kenneth menghembuskan nafas pelan, jemarinya meremas surat di tangan, melemparkannya ke dalam tong sampah. "Malam minggu ini aku balapan," ujarnya kemudian.


"Aku tahu."


"Masih mau ikut?"


"Iya, lah, kamu udah janji mau ngajak aku. Iya, 'kan?"


"Kalau Daddy kamu nggak ngizinin?"


Chiara menegang. "Kamu mau ingkar janji sama aku?"


"Enggak."


"Terus?" Chiara mulai kesal.


"Kalau Daddy kamu ngelarang, kamu jangan maksain buat ikut."


Bibir Chiara mengerucut sebal.


"Ra..."


"Iya, iya," balas Chiara ogah-ogahan.


"Doain aku menang, ya?"


"Hm."


Kenneth menyeringai menyadari Chiara merajuk. "Kamu cantik kalau lagi ngambek."


Chiara menoleh, pipinya bersemu merah mendengar ucapan Kenneth.


"Apalagi kalau lagi blushing gini," Kenneth mencubit pipi Chiara yang merona.


"Ish, apaan, sih," Chiara menepis tangan Kenneth.


Kenneth tersenyum kecil. "Ayo ke kantin, aku lapar, jangan sampai kamu yang aku makan."


Chiara melotot. "Dasar mesum!" semprotnya.


"Memangnya aku ngomong apa?"


Chiara kembali membeku. "Tau, ah," tangkisnya berdiri. "Ken," panggilnya kemudian.


"Hm?"


"Sebelum kamu balapan aku mau ngasih semangat buat kamu," Chiara berdiri di depan Kenneth.


Kenneth memasukkan kedua tangan di saku celana, menunggu Chiara meneruskan kalimatnya.


"Semangat!!" seru Chiara mengepalkan tangan di udara seraya tersenyum lebar.


Kenneth terkekeh, detik berikutnya tubuhnya membeku merasakan benda kenyal milik Chiara menyentuh pipinya. Chiara menciumnya.


"Semangat," Chiara berbisik lirih, kemudian berlari meninggalkan Kenneth.


Kenneth memperhatikan gadisnya yang berlari menjauh, ujung bibirnya terangkat. 'Mau nyium aja pake pake alibi segala,' gumamnya dalam hati.


📖


📖


..


Curhat dikit ya. 🙃


...Adakah yang pernah mempunyai guru se-absurd Pak Narto?...


...Saya salah satunya, karakter Pak Narto yang saya ciptakan terinspirasi dari guru sekolah saya, beliau bernama Pak Rifai, guru olahraga juga. Terimakasih Bapak atas support yang tidak terlihat, xixixi. 🤭...


...Juga alur tentang kekompakan kelas yang berjoged ria, itu saya dapat dari kisah sekolah saya sendiri. Menjadikan ruang kelas bioskop dadakan untuk menonton film avatar, hahaha....


...Kelas kita seseru itu!...


...Bagaimana dengan kelas kalian?? 😉 yuk, bagi cerita. 😚...


..

__ADS_1


__ADS_2