
Suasana depan ruang Intensive Care Unit (ICU) begitu penuh, beberapa teman dekat Chiara bermaksud menjenguk, namun apa daya jika yang dimaksud masih berbaring dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja, bahkan sampai sekarang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera tersadar dari tidur panjangnya.
Jika harus memilih siapa yang paling merasa bersalah di sini, jawabannya adalah Aiden, ia begitu terpukul dengan kejadian ini, kali ini merupakan kesalahan yang sangat fatal yang dilakukan olehnya, ia gagal menjaga sang adik, bahkan untuk yang kedua kalinya.
Ikatan bathin antara ibu dan anak memang sangat kuat, terbukti pagi-pagi sekali sang Bunda menelepon guna menanyakan kabar dari anak-anaknya, terpaksa pula Aiden harus berbohong. Ini keputusan yang tengah diambil olehnya setelah berdiskusi dengan kedua adik, Daniel dan beberapa penghuni mansion besarnya, Aiden meminta pada semua untuk tutup mulut mengenai hal ini, biarlah dirinya yang menanggung jikalau suatu saat kedua orangtuanya mengetahui kebenarannya. Hal itu pula yang ia lakukan dengan pihak rumah sakit, meminta agar tidak memberitahukan kabar Chiara dirawat kepada orang-orang, khususnya orangtuanya. Beruntung posisi Chiara dirawat ada di salah satu rumah sakit milik keluarga Van Houten. Beruntung pula wajahnya dan ketiga adiknya jarang terekspos media, sehingga mereka bisa hidup tenang, walaupun hanya beberapa media mengetahui tentangnya, namun tidak dengan adik-adiknya.
Dengan bantuan orang-orangnya serta Daniel, Aiden bisa menyembunyikan keadaan sang adik yang terkapar di rumah sakit, Aiden hanya tidak ingin kejadian ini menjadi ladang bisnis bagi orang-orang yang tidak menyukainya. Serta sang Bunda yang berada di Jerman yang tengah mengurus sang kakek yang kini harus dirawat di rumah sakit perihal penyakitnya yang kambuh. Ia tidak ingin kembali membebani kedua orangtuanya. Meskipun ia merasa sebentar lagi orangtuanya akan pulang dan mengetahui keadaan yang sebenarnya, Aiden sudah siap akan kemarahan sang Daddy.
Clarissa dan Alzayn memilih untuk absen hari itu dengan alasan ada acara keluarga tentunya. Kedua mata Aiden sama sekali tidak bisa terpejam sejak semalam, bahkan ia juga melewatkan sarapannya.
"Den, lo makan, gih?"
"Gue nggak laper."
Daniel menghela nafas. "Setidaknya lo nggak ikutan sakit karena jagain Ara, lo juga harus mikirin kesehatan lo."
"Iya, Bang. Benar kata Bang Daniel," sahut Alzayn membenarkan.
"Abang, mau Cla belikan makanan?"
Aiden menggeleng. "Abang mau ke kantin. Niel ikut gue."
"Hm.”
"Kalau ada apa-apa telepon Abang," ucap Aiden mengusap kepala Clarissa.
"Iya, Bang.”
Mila berlari tergopoh menghampiri Clarissa. "Gimana keadaan Chiara, Cla?"
"Masih di dalam, Kak. Belum boleh dijenguk," jawab Clarissa lesu. "Kak Mila tahu darimana?" tanyanya seakan tersadar.
"Dari Putra, gue kira Chiara ada acara keluarga beneran. Tapi lo tenang aja, anak-anak yang lain nggak tahu keadaan Chiara yang sebenarnya kok."
Clarissa mengangguk, bahkan kedua temannya, Zia dan Hanin tidak ia beritahu keadaan yang sebenarnya, semua demi kebaikan Chiara dan keluarganya, begitu pula identitas yang sengaja ditutupi dari lingkungan sekolah.
"Lo yang sabar ya, Cla,” ucap Mila mengusap lengan Clarissa.
"Galang mana?" seru Putra menoleh pada Niko dan Joni yang baru datang bersama teman-temannya.
Clarissa mendongak memperhatikan wajah di depannya, benar saja, Galang tidak datang, hal itu pula yang membuat dirinya tersenyum kecut.
"Tadi katanya mau langsung pulang, ada acara," jawab Niko mengangkat bahunya.
Niko dan Joni turut menunggu Chiara di rumah sakit, karena menurutnya itu semua akibat perbuatan dari gengnya. Andai saja musuhnya tidak mengenali Clarissa yang sering pulang bersama Galang, hal ini tidak akan terjadi. Sebagai bentuk solidaritas, keduanya memutuskan untuk menjenguk, tapi entah dengan Galang, keduanya heran dengan sikap Galang, bukankah pria itu yang gigih mengatakan kalau Chiara calon pacarnya, tapi kenapa di saat Chiara berbaring di rumah sakit malah tidak hadir.
Tentang Kenneth, posisinya duduk di kursi menunduk dengan kedua tangannya bertautan, keadaannya tadi malam sempat membuat sang ibu histeris. Berbagai macam pertanyaan dari kedua orangtuanya membuatnya pusing, ia harus menjelaskan hampir setengah jam, sungguh hal itu membuatnya frustasi dan melelahkan. Namun Kenneth tidak memberitahukan jika salah satu korban beridentitas perempuan, ia tahu bahwa Chiara menyembunyikan identitasnya, begitu pula Aiden yang tidak ingin orang lain tahu. Teringat kalimat terakhir yang diucapkan Chiara sebelum pingsan, sungguh hal itu sangat mengusik pikirannya.
Kenneth menoleh sekilas saat Alex yang duduk di sampingnya menepuk pundaknya, ia menyandarkan kepalanya di dinding, matanya terasa sangat berat sebab semalam tidak bisa tidur, dan sekarang netranya seakan tidak ingin terpejam. Jujur, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Chiara, ia berharap Chiara akan segera siuman dan baik-baik saja, karena biar bagaimanapun Chiara seperti itu karena berusaha menolongnya.
"Gue denger mereka ditangkap polisi,” ujar Deni setelah membaca pesan di ponselnya, semua mata menatap padanya.
"Siapa yang lapor polisi?" tanya Putra.
Tatapan Julio mengarah pada Niko dan Joni selaku anggota geng penyebab pertempuran terjadi. "Anggota lo yang lapor?"
Joni mengangkat bahu. "Kalaupun geng gue yang lapor polisi, sudah pasti gue sama Niko juga keseret dan nggak mungkin bisa berdiri di sini sekarang."
"Tapi nyatanya kita masih di sini bareng kalian," Niko menambahi.
"Terus siapa yang lapor?” Toriq mengusap dagu. “Gue janggal, kenapa cuma mereka yang ditangkap, bagaimana anggota lo yang lain?" tanyanya.
"Nggak ada yang ngabarin kalau dari anggota gue ketangkep,” Joni menscroll layar ponselnya membuka percakapan grup.
"Kalau gitu harusnya kita ngucapin terimakasih buat yang udah laporin mereka ke polisi."
Mereka tampak mengangguk menyetujui pernyataan Deni.
"Bagaimana dengan ketua gengnya?" Clarissa berucap.
"Enggak tahu gue, dia ngilang gitu aja."
__ADS_1
"Ngilang gimana maksud lo?" tanya Julio merasa heran akan ucapan Joni.
"Ada yang bilang dia nggak ikut ke seret ke kantor polisi."
"Dia kabur?" tanya Mila memastikan.
Joni mengangkat bahu, beralih menatap Clarissa. "Cla, siapa Abang lo sebenarnya?"
Clarissa mendongak. "Apa maksud lo?"
"Gue rasa Abang lo bukan orang sembarangan, buktinya dia bisa bawa pasukan banyak dan juga kayaknya udah terlatih banget."
Clarissa gelagapan.
"Abang gue — aduh," ringis Alzayn kala pahanya dicubit oleh Clarissa saat dirinya akan menjawab pertanyaan dari Joni. "Apaan sih, Cla?” protesnya.
Clarissa melotot pada Alzayn memintanya diam.
"Abang gue orang berpengaruh di sini, jadi wajar bodyguardnya banyak," jawab Clarissa sekenanya.
"Saingan bisnis," gumam Mila.
"Nah, iya, bener tuh kata kak Mila," sahut Clarissa.
Mereka mengangguk, sedangkan Alzayn menatap horor ke arah Clarissa, seakan berucap, 'Gue butuh penjelasan lo'.
"Tapi gue rasa si Viki nggak bakal bisa kabur deh," ucap Putra kemudian.
"Kenapa?"
"Lo lihat sendiri ‘kan? Dia aja nggak bisa jalan kemarin, waktu kita keluar dari gudang, orang suruhan Abangnya Clarissa bawa dia ke mobil, inget nggak lo?" Putra menyenggol lengan Rangga yang kala itu memang sedang berjalan bersamaan dengannya.
Rangga nampak berfikir. "Iya gue inget, dia dipapah orang suruhan Abang lo, Cla. Atau mungkin diseret. Jangan-jangan..."
Semuanya awas memperhatikan seruan Rangga.
"Apaan?"
"Jangan sembarangan kalau ngomong."
"Lo pikir Abang gue pembunuh?" Clarissa memprotes.
"Tau nih, Rang," Deni memukul belakang kepala Rangga.
"Yee~ gue cuma mengemukakan apa yang ada di otak gue," balas Rangga membela diri.
"Tapi kalau dia mati, baguslah,” ucap Niko acuh, membuat semua mata menatap horor padanya. "Dia itu psikopat,” tambahnya.
Semua mata terbelalak, kecuali Kenneth tentunya.
"Serius lo?"
"Iya, bener tuh, gue baru inget kalau dia emang psikopat," Joni membenarkan.
"Gila ya."
"Gue juga berharap dia mati,” gumam Clarissa.
Dan Kenneth meyakini bahwa semua itu ulah dari Aiden, dia tahu beberapa perangai Aiden di dunia bisnis dan yang lainnya.
"Apa mereka akan balas dendam lagi?" Clarissa berucap takut.
"Kita nggak tahu, Cla. Tapi kita wajib hati-hati kalau mendapat serangan tiba-tiba," jawab Julio.
"Kalian satu geng ya?" kini Alzayn buka suara.
"Bukan. Mereka berdua beda kelompok sama kita," Alex menunjuk Niko dan Joni dengan dagunya.
"Berarti kalian semua satu geng motor juga?"
"Ya~" jawab Julio mengusap lehernya.
__ADS_1
"Kak Ken juga?" Clarissa berbisik melirik Kenneth.
Kenneth menatap horor pada Julio, sedangkan yang ditatap menelan saliva.
Putra berdehem, "Dia jarang ikut kok,” ujarnya mencairkan suasana.
"Kenneth ikut balapan juga?" bisik Mila ke telinga pacarnya.
Putra menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Mila memelankan suara agar tidak didengar orang lain, terutama yang menjadi bahan pembicaraan. Karena Kenneth sengaja sering tidak hadir pada saat geng mereka berkumpul, ia akan datang jika dibutuhkan atau ketika ingin saja.
Mila menutup mulutnya tidak percaya, ia pikir selama ini Kenneth tidak terlibat geng motor dengan pacarnya, hal itu sungguh membuatnya tak percaya.
Clarissa beranjak dari kursinya, memperhatikan Chiara yang terbaring lemah di atas bed pasien dari balik kaca pintu. Dokter mengatakan Chiara akan sadar dalam waktu 24 jam, guratan kesedihan di wajah Clarissa tak melunturkan paras cantiknya.
Mila turut berdiri mengikuti langkah Clarissa, netranya memperhatikan Chiara yang terlelap di dalam ruangan dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya, serta perban yang melingkar di kepalanya.
"Semua gara-gara aku kak, maafkan Clarissa," ujar Clarissa sendu.
Mila mengusap lengan Clarissa. "Jangan nyalahin diri sendiri, Cla. Ini sudah takdir, berdoa aja semoga Chiara cepat siuman."
Sebelah tangan Clarissa mengusap pipinya yang basah. "Iya, Kak."
"Orangtua lo nggak ke sini, Cla?" Mila mengalihkan pembicaraan.
Clarissa tersentak, mendadak wajahnya gusar. "Orangtua gue masih di Jerman, Kak. Abang ngelarang kita buat ngabarin."
Alis Mila menukik. "Kenapa?"
Menggigit bibir bawahnya, Clarissa bingung harus menjawab apa.
Mila kembali mengusap lengan Clarissa. "Enggak usah dijawab, gue ngerti kok," ucapnya tersenyum.
"Terimakasih, Kak Mila, tolong rahasiakan berita ini dari orang lain, Kak.”
Mila mengangguk. "Pasti, lo bisa percaya sama gue."
"Eh, iya, Abang lo dimana, Cla?"
"Abang lagi makan di kantin, Kak."
"Permisi, Nona. Waktunya pemeriksaan pasien," ucap seorang dokter yang berdiri di antara Clarissa dan Mila.
Clarissa dan Mila memberi jalan. "Silahkan, Dok.”
Tak berapa lama dokter keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaan Kak Ara, Dok?" Alzayn mencecar ketika sang dokter baru saja keluar ruangan.
Terlihat sang dokter dengan name tag Arya itu menghela nafas pelan. "Masih belum ada kemajuan, doakan saja semoga dia bisa sadar dalam waktu 24 jam," jawab dokter Arya menepuk pundak Alzayn.
"Terimakasih, Dok,” ujar Mila.
Alzayn menarik Clarissa dalam pelukannya, ia tahu kakaknya itu sedih dan hampir menangis. "Tenang, Kak. Kak Ara pasti sembuh," ucapnya menenangkan.
"Aku takut, Al."
"Kita berdoa, Kak. Biar Kak Ara cepet sadar."
Clarissa mengangguk disela pelukannya.
Setengah jam kemudian mereka pamit untuk pulang karena hari yang sudah sore, dan akan kembali esok hari.
"Terimakasih semuanya udah jengukin Kak Ara, meskipun hanya bisa lihat dari balik kaca," tutur Clarissa sungguh-sungguh.
"Sans, Cla. Ara ‘kan temen kita juga,” balas Putra menepuk lengan Clarissa.
"Kita balik, ya, Cla. Kalau ada kabar baik hubungi gue,” Mila menambahi.
"Iya, Kak, hati-hati."
📖📖
__ADS_1
📖