
Liburan sudah di depan mata, seluruh keluarga Van Houten tengah bersiap ke Bandung untuk liburan dan juga bermaksud mengadakan acara kumpul keluarga.
Karena tradisi sekolah VH 21, sebelum Ujian Nasional berlangsung, pihak sekolah akan meliburkan seluruh murid selama seminggu. Sudah pasti hal itu tidak akan dilewatkan para murid untuk berlibur bukan? Apalagi kelas sepuluh dan sebelas yang akan mendapatkan libur panjang ditambah libur ketika kelas dua belas Ujian.
Rencananya keluarga Van Houten akan berangkat bersama besok pagi. Sedangkan Kenneth dan teman-temannya sudah berangkat untuk liburan di Bali.
Ketika sampai di hotel, Kenneth menelepon Chiara, lebih tepatnya melakukan video call.
"Hai."
"Hai, udah nyampe hotel?"
Kenneth mengangguk. "Barusan."
Chiara menumpu sebelah pipinya dengan tangan. "Pengen ikut," ujarnya dengan bibir mengerucut.
Kenneth tertawa kecil. "Kamu, kan, ada acara keluarga di Bandung."
"Kalian curang, ngajak liburan nggak nunggu acara keluarga aku selesai," Chiara mendengus sebal.
Kenneth menggelengkan kepala. "Kapan berangkat?"
"Besok pagi."
Terlihat Kenneth yang tengah bersiap-siap akan pergi.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau cari makan sama anak-anak."
"Mila jadi ikut?"
Kenneth mengangguk. "Ceweknya Deni, Rangga, juga ikut. Cuma aku sama Toriq yang nggak bawa cewek"
Chiara menghembuskan nafas. "Alex bawa cewek juga?"
"Hm, gebetan."
"Huh, aku pengen ikut," ucap Chiara kesal menggigit ujung selimutnya.
"Kamu hati-hati di Bandungnya," alih-alih menyahuti gerutuan Chiara, Kenneth mengalihkan pembicaraan.
"Kalian berapa hari di sana?"
"Semingguan mungkin."
Chiara mengangguk lesu. "Kamu juga, hati-hati."
"Aku keluar dulu, see you."
"See you," balas Chiara melambai lesu.
Setelah telepon terputus, Chiara menelungkupkan kepalanya di kasur.
...***...
Acara kumpul keluarga sudah berakhir selama satu jam yang lalu. Bahkan calon istri Aiden sudah pulang ke rumah. Tinggallah keluarga inti dari Sandy, Rega dan orangtua Stella juga Intan. Ada pula anak-anak dari dua keluarga, serta Giselle, adik Galang yang masih bersekolah dasar.
Awalnya mereka terlihat canggung, karena anak-anak belum begitu kenal satu sama lain, namun seiring berjalannya waktu kecanggungan itu menguap tergantikan dengan suasana hangat sebuah keluarga besar.
__ADS_1
Beda halnya dengan Galang dan Clarissa yang masih merasa canggung satu sama lain, meskipun beberapa kali ekor mata keduanya saling bersibobrok.
Hal itu tak luput dari penglihatan Stella dan Intan. Intan juga mengetahui hubungan antara Galang dan Clarissa, awalnya ia beserta sang suami juga terkejut mengetahui fakta itu. Tapi ia tidak mempermasalahkan dengan siapa Galang akan bersanding, toh mereka berdua bukan saudara kandung.
Tapi seperti yang dikatakan Stella, bahwa Sandy yang merupakan ayah dari Clarissa menolak keras hubungan keduanya.
"Ehem! Karena kita semua berkumpul di sini, Bunda mau memberitahukan suatu hal yang selama ini belum kalian ketahui." Stella berucap menatap anak-anaknya dan juga Galang serta Giselle, minus Aiden, karena Aiden tengah mengantarkan calon istrinya pulang.
"Ada apa Bun?" tanya Chiara penasaran.
"Ini tentang hubungan Bunda dan Tante Intan."
Kedua orangtua Stella dan Intan hanya diam memperhatikan, beliau berdua juga sudah tahu perihal hubungan antara Galang dengan Clarissa yang mendapat penolakan dari menantu sulungnya.
"Sebenarnya Bunda dan Tante Intan saudara tiri."
Pernyataan dari Stella membuat anak-anak terkejut, terlebih Galang dan juga Clarissa.
"Maksud Bunda?" tanya Clarissa.
"Sebenarnya Tante bukan anak dari Opa Ghani, Tante cuma anak tiri. Opa kalian nikah lagi sama Oma saat Tante berusia sepuluh tahun," terang Intan menatap Clarissa.
"Apa itu artinya.."
Intan menggeleng, mengusap lengan Galang. "Mama nggak setuju. Maksud Mama memberitahukan hal sebenarnya bukan untuk merestui hubungan kalian."
Galang kembali menunduk, begitupula dengan Clarissa.
"Kalian berdua lihat, 'kan? Di sini kita semua berkumpul bersama, ada Oma dan juga Opa, kita semua satu keluarga."
"Kalaupun aku bersama Clarissa, kita tetap satu keluarga, Tante," sela Galang menatap Stella.
"Galang," peringat Rega.
"Keputusan Daddy sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat, kalian tidak bisa dan tidak boleh bersama," ucap Sandy tegas. "Dan Clarissa akan ikut Chiara ke Jerman, meneruskan sekolah di sana," imbuhnya.
Clarissa tersentak. "Dad," serunya tak setuju dengan keputusan sang ayah.
Chiara dan Alzayn juga nampak terkejut.
"Sayang, apa kamu yakin?" tanya Stella terkejut
"Ya."
"Tidak, Om," Galang kembali berseru. "Aku janji nggak akan menemui Clarissa, biar aku yang pergi dari Jakarta, aku akan ke Surabaya. Biarkan Clarissa meneruskan sekolahnya di Jakarta," putusnya kemudian.
"Kamu yakin, Galang?"
"Iya, Ma," Galang menghembuskan nafas dalam.
Clarissa menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan isakan.
Nyatanya meskipun takdir mengatakan mereka tidak sedarah dan ada kesempatan untuk terus bersama, hal itu tetap tidak bisa mengubah pemikiran orangtuanya. Mereka tetap tidak akan mendapatkan restu.
"Lelaki sejati itu, selalu memegang teguh apa yang sudah menjadi janjinya," Sandy menatap pada Galang.
Galang mendongak, membalas tatapan dari Sandy. "Aku pastikan, aku akan menepati janjiku, Om. Tapi itu tidak termasuk kesengajaan yang takdir gariskan pada kami berdua suatu hari nanti."
Sandy mengangguk.
__ADS_1
Rega menepuk lengan Galang, menguatkannya.
Chiara menggenggam jemari Clarissa, ia tahu adiknya tengah menahan air mata yang siap ditumpahkan.
Galang bangkit dari duduknya. "Setelah hari ini berlalu, setelah kepergianku, dan kemudian takdir mempertemukan aku dan Clarissa, menyatukan kami kembali, memberikan restu pada kami berdua. Aku pastikan tidak akan melepaskan Clarissa untuk yang kedua kalinya. Dengan atau tanpa restu dari kalian semua," tekadnya kemudian berlalu.
Suasana seketika menegang.
Stella mengusap lengan Sandy yang tersulut ucapan Galang. Sedangkan Intan dan Rega hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
...***...
Dering ponsel membuat suasana yang awalnya sunyi sepi berubah, dua gadis yang tengah terlelap di bawah selimut tebal dengan motif abstrak mulai menggeliat tak nyaman. Salah satu dari mereka mencoba mengabaikan suara dari ponsel yang terus berdering dengan menutup wajahnya dengan bantal.
"Cla, hape kamu, tuh," ucap salah satu gadis dengan mata terpejam.
"Bukan. Hape Kak Ara kali."
Mendengar suara ponsel yang terus berdering membuat salah satu dari keduanya bangkit, sejenak mengumpulkan kesadarannya. Mencari asal suara, tangannya terulur ke atas nakas, matanya menyipit saat melihat nama sang penelepon.
"Bukan punyaku Cla, dari Zia, nih," Chiara menyerahkan ponsel pada Clarissa.
Clarissa menerima panggilan dengan posisi berbaring di atas kasur, matanya masih terpejam. "Halo," ucapnya setengah hati.
"Clarissa! Lo belum bangun?"
"Apaan sih, Zi? Masih pagi ini, lo nggak lihat jam?"
"Heh! Kita mau ke Surabaya, lo inget nggak?"
"Hem, gue inget, kenapa?"
"Gue udah siap-siap mau berangkat sama Hanin, elo jadi ikutan nggak?"
"Ikut, lah, gue berangkat entaran aja, gue masih ngantuk."
Terdengar helaan nafas dari seberang. "Ya, udah, gue sama Hanin berangkat duluan, gue tunggu di bandara Juanda, kalau lo lama, gue terpaksa tinggallin elo."
Seketika Clarissa terbangun. "Gila lo, kalian mau ninggalin gue gitu? Iya, nih, gue udah bangun."
"Ya, udah, buruan siap-siap, entar ketemu di sana, bye, Clarissa."
Tut.
"Kenapa, Cla?" tanya Chiara memeluk guling.
"Aku mau ke Surabaya, Kak, nemenin Hanin ke acara nikahan familinya, sekalian liburan."
"Udah ngomong sama Daddy sama Bunda?"
Clarissa mengangguk. "Udah, nanti Bang Aiden yang nganterin aku ke sana."
Chiara mengangguk. "Ya, udah, buruan mandi, Kakak bantuin siapin baju kamu," ucapnya beranjak.
"Makasih, Kak," balas Clarissa tersenyum.
Setengah jam kemudian Clarissa sudah siap dengan keperluannya, Aiden juga sudah standby dengan mobilnya. Setelah berpamitan dengan seluruh keluarga yang masih berada di Bandung serta mendapatkan petuah dari Daddy dan sang Bunda. Clarissa akhirnya bisa berangkat.
Namun ada yang berbeda, tidak adanya Galang di sana, entah kemana pemuda itu, kamarnya pun kosong.
__ADS_1
📖
📖📖