
Keesokan harinya, terlihat anak-anak keluarga Van Houten sedang berkumpul untuk sarapan. Kali ini Chiara tidak bisa lagi bersembunyi seperti saat makan malam kemarin. Ia tahu mau bersembunyi seperti apapun, pasti Abangnya akan tahu, untuk itu ia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang akan diajukan oleh Abangnya nanti, ia juga sudah bersekongkol dengan Clarissa.
"Kak Ara, kenapa makan bubur?” tanya Alzayn.
Chiara tersenyum kikuk.
Aiden yang fokus pada makanan mendongak menatap Chiara beserta semangkok bubur sumsum di depannya. "Apa yang terjadi?" selidiknya.
Chiara dan Clarissa menunduk.
"Kak Ara habis makan pedas, ya?" tebak Alzayn.
Chiara mengangguk lesu.
"Astaga, lalu bagaimana keadaan kamu, Ra?"
"Kak Ara baik-baik aja, Bang. Cla sudah telepon Om Rian kemarin."
"Kenapa bisa terjadi?"
"Em.. Kak Ara salah masukin sambal saat di kantin, Bang," jawab Clarissa se-meyakinkan mungkin.
Aiden memicing. "Kamu yakin?"
Chiara dan Clarissa mengangguk cepat.
Aiden meletakkan sendoknya di piring, wajahnya berubah sendu, netranya memperhatikan ketiga adiknya bergantian, kemudian menghembuskan nafas panjang. "Maafkan Abang yang gagal jagain kalian di sini, padahal Daddy dan Bunda sudah menitipkan kalian sama Abang,” tuturnya menyesal.
Clarissa dan Chiara bangkit, saling memeluk di kanan kiri Aiden. "Abang jangan bicara begitu, maafin Cla dan juga Kak Ara, Bang," sesalnya.
Chiara sudah menangis saat jemarinya meremas tangan Aiden, ia menyesal telah membuat Abangnya khawatir.
Aiden mengusap pipi Chiara yang basah. "Princess Abang tidak boleh menangis, oke."
"Abang jangan nyalahin diri sendiri, Abang enggak salah, yang salah Cla," Clarissa ikut berlutut dan menangis.
Aiden terkejut. "Eh, ini juga, kenapa kalian nangis, sih?" ucapnya menghapus air mata Clarissa yang mengalir di pipi.
"Daddy dan Bunda harus tahu, Bang,” ujar Alzayn berseru.
Kompak Clarissa dan Chiara menggeleng cepat. Terlihat keduanya memohon menatap Aiden.
"Jangan,” cegah Aiden. “Kemarin Daddy telepon kalau Opa ngedrop dan harus dirawat di rumah sakit, itu juga, ‘kan, yang bikin Bunda batal pulang ke Indonesia. Jangan kita bebani dengan masalah ini juga, kasihan Bunda, pasti dia khawatir," tuturnya menjelaskan.
Diam-diam Chiara dan Clarissa menghembuskan nafas lega.
"Opa sakit apa, Bang?"
"Gula darahnya naik."
"Berarti Bunda enggak jadi pulang, dong, Bang?"
Aiden menggeleng, mengelus kepala kedua adik perempuannya. "Iya, nunggu sampai Opa baikan, baru Bunda pulang ke Indonesia.” Jeda. “Ayo teruskan sarapan kalian, biar Abang yang mengantar kalian sekolah."
__ADS_1
Clarissa dan Chiara tersenyum dan mengangguk.
...***...
Mobil Range Over hitam itu sudah berhenti di depan bangunan sekolah bertuliskan SMA VH 21.
"Ara, sebaiknya kamu istirahat di rumah, tidak perlu ke sekolah dulu.”
Chiara menggeleng, mengetik sesuatu di ponselnya kemudian mengarahkan pada Aiden.
Jujur saja Aiden merasa teriris hatinya melihat sang adik yang layaknya tuna wicara sebab tidak diperbolehkan bersuara untuk beberapa hari ke depan, hanya mengandalkan ponsel untuk mengetik apa yang ada di pikirannya.
Ara nggak apa-apa, Bang. Ara bisa jaga diri, janji.
Aiden menghela nafas dalam. "Jangan makan sembarangan, ya? Ingat nasehat Om Rian," titahnya mengelus kepala Chiara. Kemudian menoleh ke belakang. "Cla, jagain Kak Ara, kamu juga harus hati-hati, jangan makan sembarangan, ingat sama alergi kamu."
"Iya, Bang."
Keduanya mencium punggung tangan Aiden.
"Assalamualaikum,” ucap Clarissa.
Aiden menatap punggung kedua adiknya yang perlahan memasuki gerbang sekolah. Ia tersenyum saat kedua adiknya berbalik dan melambai padanya. Aiden sadar bahwa dua adik perempuannya sudah beranjak dewasa dan banyak ingin tahu segala hal yang belum tentu baik untuk mereka. Sungguh beban yang sangat berat ia rasakan ketika adik-adiknya memilih ikut dirinya kembali ke Indonesia sedangkan orangtuanya di Jerman. Bukannya Aiden keberatan, hanya saja ia harus selalu waspada dan memastikan adik-adiknya tidak mengalami hal buruk, dan kejadian hari ini membuat dirinya terpukul. "Maafkan aku, Dad, Bun,” sesalnya.
...***...
Mila yang melihat Chiara dan Clarissa berjalan di koridor gegas menarik tangan Putra untuk menghampiri kakak beradik berparas cantik itu. "Hai, Cla. Hai, Ra, bagaimana kabar lo?"
Chiara tampak mengangguk tersenyum.
Chiara membulatkan jarinya.
Selama pelajaran berlangsung, Chiara hanya diam memperhatikan sang guru, dan ketika istirahat dimulai ia hanya bisa menumpukan kepalanya di atas meja melihat teman-temannya berbicara dan saling menggoda. Ia benar-benar merasa seperti orang bisu sekarang.
Menyesal akan tindakannya?
Tidak.
Chiara sama sekali tidak menyesal, justru dirinya akan menyesal jika sampai Clarissa yang berbaring di rumah sakit akibat memakan baso kemarin. Sama seperti Aiden yang berusaha menjaganya, ia juga akan menjaga Clarissa dan juga Alzayn. Masih jelas terekam bayangan wajah Abangnya tadi pagi yang sorot akan kekhawatiran membuatnya merasa bersalah.
Ehem!
Seruan seseorang membuat Chiara mendongak dan mendapati Kenneth yang berdiri di sampingnya.
Kenneth meletakkan nampan di meja Chiara. “Makan,” titahnya datar. Sebenarnya sejak tadi pagi Kenneth lekat memperhatikan Chiara yang duduk di sampingnya, dan entah ide dari mana, saat pelajaran tengah dimulai, ia meminta izin pada guru pengajar dengan alasan ke toilet, yang sebenarnya justru ke kantin. Memberikan selembar uang pecahan lima puluh ribu pada pedagang di kantin bermaksud meminta bantuan untuk membuatkan bubur sumsum serta mengantarkan ke kelasnya saat istirahat nanti.
Chiara memperhatikan mangkok berisi bubur sumsum dan juga Kenneth bergantian. Kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya. Terimakasih.
Kenneth tidak menyahut, ia kembali duduk di bangkunya dan memainkan ponsel.
Chiara sudah mulai terbiasa dengan sikap dingin Kenneth, jadi ia tidak mempermasalahkan. Ia meniup pelan buburnya yang masih sedikit mengepul, merasa tidak berefek sebab tenggorokannya yang masih sakit saat digunakan untuk meniup, ia mengambil buku di tas kemudian mengipasi buburnya.
Kenneth memperhatikan tingkah Chiara yang kesulitan meniup bubur, ia meluaskan tatapan pada kelas yang sepi hanya menyisakan dirinya dan Chiara. Memasukkan ponsel di saku celana ia beranjak dari kursinya kemudian mengambil duduk di sisi kanan Chiara.
__ADS_1
Chiara terkejut melihat Kenneth duduk di sebelahnya, —kursi yang biasa di tempati Mila, teman sebangkunya.
Kenneth mengambil sendok di mangkok, meniup-niup buburnya, kemudian mengarahkan di depan mulut Chiara.
Chiara mengerjap heran, merasa terkejut dengan tindakan Kenneth.
"Buka,” pinta Kenneth datar.
Mendapatkan tatapan dingin siswa di depannya membuat Chiara patuh membuka mulut dan menerima suapan dari Kenneth. Bubur yang sangat halus terasa sulit untuk ditelan, ia benar-benar gugup berada sedekat itu dengan Kenneth, bahkan Kenneth menyuapinya. 'Oh, astaga, ada apa dengan jantung gue?'
Mila yang hendak memasuki kelas menghentikan langkahnya ketika menyadari Chiara dan Kenneth ada di dalam, sebenarnya ia khawatir meninggalkan Chiara sendirian di kelas, alhasil dirinya menyelesaikan makannya dengan cepat dan segera kembali ke kelas. Namun apa yang dilihat membuat matanya seketika membulat.
Kenneth menyuapi Chiara?
Mila sampai menutup mulutnya karena terkejut. ‘Astaga, keajaiban dunia benar-benar terjadi, seorang Kenneth perhatian sama cewek, ini benar-benar langka,’ bathinnya. Karena yang ia tahu Kenneth sangat dingin terhadap perempuan, bahkan ia sempat mengira Kenneth itu gay karena ia tidak pernah melihat Kenneth yang notabene mempunyai wajah tampan dan famous menggandeng atau dekat dengan perempuan selama hampir tiga tahun ini. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel mengarahkan pada dua sejoli itu dan membidik beberapa foto. Ia terkikik melihat hasilnya.
"Kak Mila.”
Mila berjengit kaget saat seseorang menepuk pundaknya. "Astaga, Cla. Kamu ngagetin aja,” protesnya mengelus dada.
Clarissa menyernyit. "Kakak ngapain? Kak Ara mana?"
Mila menarik tangan Clarissa menjauh dari pintu. "Ara baik-baik saja, dia ada di dalam, lagi makan."
"Hah? Makan apa, Kak? Kak Ara enggak boleh makan sembarangan,” cetus Clarissa hendak memasuki kelas.
Mila menarik kembali tangan Clarissa. "Eh, eh, jangan masuk,” cegahnya. “Ara lagi makan bubur, kok, tadi gue pesenin sama Bu Darmi,” bohongnya menyebut salah satu nama penjual di kantin.
"Aku mau lihat Kak Ara."
Lagi, Mila menarik tangan Clarissa. "Gue denger tadi kelompok cheers dipanggil. Elo ke sana aja, biar gue yang jagain Ara."
Tatapan Clarissa menyelidik dengan kerutan dalam.
"Udah, buruan sana, kapten enggak boleh telat" Mila mendorong punggung Clarissa.
Dengan kebingungan yang masih kentara, Clarissa mengikuti saran Mila untuk meninggalkan kelas Chiara.
Mila tersenyum geli melihat Clarissa yang perlahan menjauh.
Pintu terbuka lebar memperlihatkan Kenneth yang berjalan dengan membawa nampan.
Mila tersenyum aneh menatap Kenneth.
Sedangkan Kenneth menatap datar pada Mila yang senyum-senyum tidak jelas. 'Kenapa dengan dia?' bathinnya menatap aneh.
Mila berjalan memasuki kelas. "Chiaraaa," panggilnya sumringah, ia berjalan sambil berdendang dan memutar-mutar tubuhnya.
Chiara menatap horor pada sahabatnya itu, ia harus memundurkan kepala memperhatikan Mila yang sudah duduk di sampingnya, tangannya terulur menyentuh dahi Mila. Ia mengangkat dagu seolah bertanya ada apa?.
Mila menumpu dagunya pada kedua tangannya, menatap Chiara dan menggeleng dengan senyum yang masih terlihat di wajahnya.
Chiara geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mila yang aneh hari itu.
__ADS_1
📖📖
📖