
"Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia." 🎶
"Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia..." 🎶
"Harusnya kau tahu bahwa, cintaku lebih darinya." 🎶
"Harusnya yang kau pilih bukan dia..." 🎶
"Huwooooo .... Yeahhhh."🎶
Nyanyian dari suara Julio yang memetik gitar begitu menusuk hati Chiara. Mungkin akibat dari hatinya yang kurang baik menyebabkan sedikit sensitif mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Julio. Chiara termenung, kepalanya bertumpu pada kedua tangannya di atas meja, menghiraukan cerita yang tengah Mila ucapkan padanya.
Kenneth menyadari perubahan yang terjadi dengan Chiara, ekor matanya mengamati tingkah Chiara yang beberapa kali mengembuskan nafas.
Apa itu salahnya karena tidak bisa membalas pernyataan dari Chiara sehingga dirinya merasa kini Chiara berusaha menjauhinya?
"Ken, lo tahu nggak kalau Galang jadian sama Clarissa?" Alex menyenggol lengan Kenneth.
"Hm, kenapa?"
"Nggak apa-apa, sih, jadi, saingan lo berkurang satu."
Dahi Kenneth berkerut. "Maksud lo?"
Alex tersenyum miring. "Gue tahu perasaan lo sama Ara gimana."
"Sok tahu lo," tangkis Kenneth.
Alex tertawa. "Terus ngapain lo dari tadi lihatin Ara mulu."
Kenneth memutar bola matanya. "Bukan urusan lo."
Alex tergelak. "Ra."
Kenneth menatap tajam saat Alex justru memanggil nama Chiara.
Chiara mendongak dan menoleh. "Apa?"
"Jangan melamun, entar di tabok jin," ujar Alex asal, ia terkekeh.
Chiara menegang. "Jangan ngaco deh, Lex."
Alex tergelak melihat raut wajah Chiara yang pias. "Serius, itu ada di kanan lo," Alex menunjuk dengan jarinya.
Reflek Chiara berdiri dari duduknya menjauh, yang kini malah mepet di kursi Kenneth.
Alex semakin tergelak melihat reaksi Chiara, ia tahu bahwa Chiara sangat anti dan takut dengan hal berbau mistis, sengaja pula ia mengerjai gadis itu dan tak disangka reaksi Chiara benar-benar membuatnya terbahak-bahak.
Kenneth terkejut ketika tubuh Chiara mendekat padanya, bahkan ia bisa mencium aroma parfum milik Chiara karena punggung Chiara yang menempel padanya, hanya berjarak beberapa centi.
"Ra lo kenapa?" tanya Mila khawatir melihat Chiara yang menjauh serta terus memperhatikan dirinya.
"A-da jin," cicit Chiara gugup.
Alex melebarkan tawanya mendengar jawaban dari Chiara, membuat Chiara memutar tubuhnya menghadap Alex.
"Eh?" reflek Chiara mundur satu langkah saat menyadari dirinya terlalu dekat dengan Kenneth. "Lo ngerjain gue, Lex?" tanyanya menyelidik. Namun Alex justru terbahak memegang perutnya.
Jemari Chiara terkepal menyadari telah dikerjai, ia mendekat meraih seragam Alex serta menghujani pukulan. "Sialan lo, Alex, berani ngerjain gue, rasain lo."
Kenneth menahan nafas serta menegakkan tubuhnya agak ke belakang saat Chiara dengan santainya memajukan tubuh di hadapannya dan sibuk memukuli Alex.
"Ampun, Ra," Alex mencoba menghindar, namun kekehan tak bisa ia hilangkan. Ia menarik diri dan berdiri, menyebabkan tubuh Chiara hilang keseimbangan dan terjatuh di pangkuan Kenneth. "Brrffff," Alex menutup mulut dengan kepalan tangan guna menahan tawa.
Kenneth mematung, begitu pula dengan Chiara, bahkan Chiara mengigit bibir bawahnya serta menutup rapat kedua matanya. Kenneth membantu Chiara berdiri dengan memegang pundak kedua pundak Chiara.
"Sorry," cicit Chiara menunduk.
"Hm."
__ADS_1
Chiara gegas kembali ke tempat duduknya, ia menunduk menyembunyikan rona merah yang diyakini mencuat di kedua pipinya.
"Gimana?" Alex bertanya pada Kenneth saat sudah kembali duduk, namun kini kakinya yang berada di kursi, sedangkan pantatnya di atas meja.
"Apanya?"
"Udah yakin sama perasaan lo?"
"Shut up," jawab Kenneth dingin.
Alex terkekeh seraya memainkan ponselnya. "Jul, ganti lagu napa, galau mulu perasaan lagu lo," serunya meneriaki Julio yang bermain gitar.
"Gue lagi galau nih, gue habis ditolak," jawab Julio seraya memberikan kode dengan ekor matanya menunjuk pada Sinta.
Alex terkekeh mengerti. "Lagian udah tahu ada yang tulus, milih yang mulus."
"Mulus apanya, Lex?" Deni menyahut.
"Mulus wajahnya," balas Alex tertawa disusul yang lain.
"Itu wajah atau jalan tol?" timpal yang lain disertai gelak tawa.
"Yang penting dompetnya tebel," Haikal nurut nimbrung.
"Itu dompet apa bedak? Teebel amat," sahut siswa lain.
"Biar tambah cantik cyinnnn," ujar Rangga menirukan gaya bencong.
Mereka terus melempar guyonan tanpa ada yang menyadari beberapa hati tengah patah akibat candaan mereka.
...***...
Kenneth yang baru keluar dari toilet pria terkejut mendapati Clarissa menghadang jalannya. Ia menaikkan sebelah alisnya.
"Kak, gue mau nanya suatu hal penting sama lo," ujar Clarissa menekan kata penting.
"Apa?"
Kenneth yang belum paham hanya mengangguk.
"Gimana perasaan lo yang sebenarnya sama Kakak gue, Kak Ara?"
Kenneth diam memperhatikan dan mencerna pertanyaan dari Clarissa. "Apa gue harus jawab pertanyaan dari lo?"
Clarissa mendengus, susah ngomong sama salju, bathinnya. "Oke, nggak usah jawab, intinya kalau lo suka sama Kakak gue. Ngomong. Dan kalau lo enggak suka sama Kakak gue. Juga ngomong. Jangan gantungin perasaan dia," cetusnya.
Kenneth menyernyit. "Terus?"
"Yaa gitu, jangan bikin Kakak gue bingung," pinta Clarissa, ia mendekat. "Awas kalau lo nyakitin Kakak gue," ancamnya. "Oh ya, jangan bilang sama siapapun kalau Kak Ara pernah bilang suka sama lo, kasihan Kakak gue," imbuhnya berbisik.
Kenneth mendelik, namun bergeming bahkan saat Clarissa menepuk pundaknya dan berucap. Good luck. "Dasar aneh," gumamnya.
...***...
Chiara berjalan santai saat melewati koridor menuju kantin. Di depannya, Mila berjalan beriringan dengan Putra yang merangkul pundak Mila posesif. Hingga sebuah kaki mencuat di depannya dengan tiba-tiba membuat kakinya tersandung dan terjatuh tersungkur. "Aduhh."
"Hahahaha, jalan pake mata woi!"
Mila dan Putra menoleh, segera menghampiri Chiara dan membantunya berdiri.
"Lo sengaja ya?" Mila menyentak.
"Sengaja apaan, gue enggak ngapa-ngapain," bela Vanya.
"Gue tahu ini kerjaan lo, mau lo apa sih?" Chiara mulai meladeni Vanya.
"Eh, elo yang sandung kaki gue kenapa elo yang marah? Seharusnya gue dong?" bantah Lani.
"Bullshit," tanggap Chiara geram.
__ADS_1
"Eh, eh, mulai berani dia sekarang," ancam Vanya menyeringai.
"Udah lah, Van, lo jangan cari gara-gara mulu, nggak bosen lo?" Putra turut berseru ketika kelakuan gadis itu mulai keterlaluan.
"Eh, gue nggak ada urusan sama lo, dan gue nggak pernah gangguin pacar lo," Vanya menunjuk wajah Putra dengan jarinya.
"Tapi lo ganggu temen gue, bangs*t!" sentak Putra emosi. Selama ini ia diam karena merasa tak perlu ikut campur dengan urusan Vanya membully, asal bukan pacarnya yang diganggu. Tapi sekarang, Chiara adalah salah satu teman dan juga sahabat dari pacarnya, jelas dirinya harus membela Chiara.
Vanya dan Lani sempat terkejut mendengar bentakan dari Putra.
"Eh, santai dong, Put, gue bercanda lagi," ujar Lani gugup melihat kilat kemarahan yang terpancar dari netra Putra.
"Ada apa ini?" tanya Kenneth yang sudah berdiri di belakang Vanya.
"Eh, ada Abang Ken," Nada suara Vanya melembut, ia berjalan menghampiri Kenneth serta bergelayut manja di lengannya.
Chiara melebarkan matanya melihat tangan Vanya melingkar di lengan Kenneth, membuat dirinya reflek membuang muka.
"Biasa," ujar Putra datar.
Kenneth melepaskan tangan Vanya. "Lepasin gue."
"Kenapa sih?" protes Vanya kesal.
Ekor mata Kenneth menatap pada Chiara yang membuang muka. "Gue udah punya pacar," Kenneth bersua.
Ke-limanya menoleh menatap Kenneth, menghunus tatapan matanya, tapi manik mata Kenneth menangkap keterkejutan di wajah Chiara.
"What? Siapa pacar lo, Ken?" cecar Vanya tak sabar. Ia menangkap tatapan Kenneth mengarah pada Chiara. "Jangan bilang pacar lo dia," imbuhnya menatap Chiara.
"Tidak!" tanggap Chiara cepat dan tegas.
Kenneth menatap tajam pada Chiara.
"Gue bukan pacarnya Ken," sambung Chiara mengabaikan tatapan tajam dari Kenneth, entah karena alasan apa, kemudian ia gegas berlalu meninggalkan kerumunan.
Mila dan Putra saling tatap, kemudian Mila mengangkat kedua bahunya dan segera berlari menyusul Chiara.
"Jadi siapa pacar lo, Ken? Lo beneran udah punya pacar?" tanya Vanya memastikan.
"Ya," Kenneth menjawab. "Jadi jangan ganggu gue lagi dan jangan ganggu Ara," imbuhnya kemudian berbalik, namun ucapan Vanya selanjutnya membuatnya menghentikan langkah.
"Kenapa lo belain dia?"
"Bukan urusan lo," jawab Kenneth tanpa berbalik.
"Ken, jawab gue!" teriak Vanya merasakan sakit di hatinya mendengar bahwa Kenneth telah mempunyai kekasih.
"Tenang, Van, sabar," Lani mengelus lengan Vanya, berusaha menenangkan sahabatnya yang dilanda pedih.
"Gue harus cari tahu siapa pacar Ken," gumam Vanya penuh tekad.
...***...
Chiara memantapkan langkah kakinya menuju kamar mandi, entah kenapa hatinya terasa sangat perih mendengar bahwa Kenneth mempunyai kekasih. Membasuh wajahnya dengan air berkali-kali, menatap tampilan dirinya di cermin.
Jadi mereka sudah balikan?
Chiara tersenyum getir menyadari bahwa dirinya benar-benar ditolak oleh Kenneth. Menyadari bahwa perasaannya bertepuk sebelah tangan. Menghirup nafas dalam dan menghembuskan pelan, ia lakukan berulang-ulang agar sesak di dadanya berkurang, setidaknya sedikit berkurang.
Sekali lagi Chiara menatap tampilan wajahnya di cermin, tak berapa lama senyumnya terukir. Dirinya sudah membuat keputusan, keputusan yang diyakini memang benar dan harus segera dilaksanakan. Keputusan yang akan mempengaruhi hati dan pikirannya, keputusan yang mungkin dirasa paling benar. Perlahan namun pasti ia harus bisa melakukannya. Perlahan namun pasti, dengan keteguhan hati yang kuat, dengan keinginan yang begitu tinggi, demi kebaikan diri, demi kelangsungan hidup ke depannya, demi kebaikan hatinya agar tidak selalu terluka, dan tidak semakin jatuh ke dalam pusara menyesakkan. Satu kata yang perlahan namun pasti akan ia terapkan hari ini. Bukan. Melainkan detik ini.
Melupakan.
Sebuah senyuman tersungging di bibirnya, meski susah, meski sakit, mesti ragu, tapi ia harus bisa.
Ya harus bisa.
📚📚
__ADS_1
📚