KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
23. Serasi


__ADS_3

Sepulang sekolah Chiara dan Mila memutuskan untuk ke mall guna mencari hadiah untuk Ibunya Alex yang tengah berulang tahun. Mereka hanya berdua, tidak mengizinkan kaum adam ikut.


Putra yang notabene kekasih dari Mila pun bersorak girang saat sang pacar melarang dirinya untuk mengantarkan. Siapa makhluk ciptaan tuhan berjenis kelamin laki-laki yang mau dan betah diajak makhluk dengan jenis kelamin perempuan berbelanja, apalagi dengan teman sesama perempuan, sudah pasti jawabannya TIDAK! garis bawahi itu.


Keduanya berkeliling untuk mencari benda yang cocok untuk diberikan kepada ibunda Alex. Tak jauh-jauhlah dari tas branded, sepatu, aksesoris, kecuali baju, kedua gadis cantik itu belum pernah ketemu ibunya Alex, jadi mereka tidak tahu seperti apa postur tubuhnya. Yang Mila ketahui orangtua Alex memiliki perusahaan percetakan, dan ibunda Alex sendiri termasuk salah satu anggota geng sosialita.


"Mil, kalau nyokapnya Ken, lo tahu nggak?" tanya Chiara tiba-tiba.


Mila yang sedang memilih deretan tas branded menoleh, kedua ujung bibirnya melengkung ke atas. "Cieee yang kepo sama nyokapnya si salju."


"Apaan, sih, gue cuma nanya aja, Mila," kelit Chiara membantah.


Mila menyengir. "Ra, gue rasa si Ken suka sama lo."


"What? Nggak usah ngaco, mana mungkin cowok kayak dia bisa jatuh cinta."


"Kalo lo?"


Chiara mengambil duduk di samping Mila. "Apa?"


"Lo nggak suka sama Ken?"


Chiara tercekat, ia sendiri juga tidak tahu jawaban atas pertanyaan Mila. Tapi ada kalanya perhatian kecil dari Kenneth membuatnya berdebar. "Nggak,” jawabnya kemudian. Ia berdiri mengambil pesanan yang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado dari pramuniaga.


"Ra, gimana sama Galang?" Mila membuka suara saat keduanya tengah berjalan menuju tepi jalan untuk menyetop taksi.


Chiara menoleh. "Enggak gimana-gimana."


"Lo nggak ada perasaan sama Galang?"


Chiara menghembuskan nafas lelah. "Elo kenapa sih, Mil? Tadi nanya perasaan gue ke Ken, sekarang Galang."


Mila mengangkat bahu. "Gue penasaran aja, di antara mereka berdua siapa yang lo pilih."


"Pilih sebagai apa, nih?"


"Sebagai pacar,” jawab Mila menyengir.


Chiara menggelengkan kepala.


"Ra, sebagai sahabat lo, gue lebih setuju kalau lo pacaran sama Kenneth."


"Kenapa?"


"Meskipun Kenneth itu dingin, mukanya datar banget, tapi dia itu perhatian sama lo."


"Galang juga perhatian sama gue."


"Hah, lo ngebela si Galang?"


Chiara menggeleng. "Bukan. Gue cuma ngomong realistis aja. Terus?"


"Kalau lo jadian sama Galang, gue agak ragu, sih, Ra. Kayaknya kalian berdua kurang cocok, tapi kalau lo sama Kenneth, tuh, cocok banget, couple goals," tutur Mila tersenyum, ia tengah mengawang jauh.


"Heiii, jangan bayangin yang iya iya," tegur Chiara menepuk lengan Mila keras.


"Ih, lo, mah, gangguin imajinasi gue aja, Ra," protes Mila cemberut.


...***...


Malamnya, Kenneth benar-benar menjemput Chiara untuk menghadiri acara ulangtahun ibunya Alex. Namun ia tidak menggunakan motor, melainkan mobil sport yang juga berwarna hitam.

__ADS_1


Ting Tong!


*


"Non, ada temannya di bawah."


Seruan dari maid membuat Chiara memutar tubuhnya. "Siapa, Bi?"


"Namanya Den Ken, Non."


Pupil mata Chiara membulat, ia tidak menyangka bahwa Kenneth serius dengan ucapannya kemarin. "Makasih, Bi,” ucapnya gegas menuruni tangga. Jangan sampai Kenneth masuk ke rumahnya dan melihat foto keluarganya, cukup Galang saja yang berhasil menerobos masuk ke dalam rumah, salahkan pada Clarissa yang melupakan hal itu, namun keberuntungan di pihak Chiara, Galang tidak mengenali wajah orangtuanya, ia bersyukur akan hal itu.


Sampai di ruang tamu Chiara tidak mendapati Kenneth di sana, ia menghembuskan nafas lega saat menyadari Kenneth menunggunya di teras rumah dan bukan di dalam rumah. "Gue kira lo nggak serius mau jemput gue," ucapnya mengambil duduk di kursi.


"Cowok itu yang dipegang kata-katanya."


Chiara mengangguk. "Gue ganti baju dulu, lo tunggu di sini, ya, jangan ke dalam. Eh, maksud gue —" ia gugup saat menyadari salah berucap.


"Gue tahu," Kenneth menyela.


Netra Chiara memicing curiga. "Tahu apa?"


"Tahu tentang lo."


Tubuh Chiara membeku. "Ma-maksud lo, lo udah tahu k-kalau gue a—"


"Gue tahu lo lama kalau dandan, jadi buruan ganti baju lo," potong Kenneth mengabaikan keterkejutan di wajah Chiara.


Chiara terperangah.


"Buruan.”


Seruan Kenneth mengembalikan kesadaran Chiara, ia bergegas memasuki rumah. 'Gue kira dia tahu tentang identitas gue sebenernya. Untung saja,’ bathinnya menghembuskan nafas lega.


...***...


Acara ulangtahun ibunda Alex berlangsung sangat meriah, selain teman-teman Alex yang diundang, para geng ibu sosialita juga turut serta, namun tidak dengan kolega bisnis ayahnya Alex, itu akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Khusus malam itu hanya keluarga dan teman dekat serta teman Alex yang diundang.


Setelah memberikan ucapan selamat dan kado, Chiara dan Kenneth menghampiri teman-temannya yang sudah duduk di kursi yang telah disediakan.


"Uluh-uluh romantis banget siiih," goda Deni menyambut kedatangan Kenneth dan Chiara.


"Ciee bajunya kembaran, nih, ye," Mila tak kalah heboh untuk menggoda.


Chiara memperhatikan dress putihnya senada dengan kaos dan juga celana Kenneth yang berwarna putih, bahkan ia baru menyadari sekarang. "Apaan, enggak sengaja tahu,” bantahnya.


"Duh.. gue patah hati," ratap Julio menyentuh dadanya.


"Kenapa lo?"


"Lihat aja si Ara cantik banget, bersanding sama Kenneth. Seharusnya lo tadi pergi bareng gue, Ra."


Chiara tersenyum saja menanggapi ucapan Julio.


"Couple goals," bisik Mila di telinga Chiara.


"Jangan mulai, deh," Kesal, Chiara memutar bola matanya membuat Mila terkekeh.


Tengah asik bercanda seorang wanita paruh baya menghampiri meja mereka. "Malam anak-anak," sapanya ramah.


"Malam, Tante."

__ADS_1


Mila menyenggol lengan Chiara, ekor matanya melirik pada wanita paruh baya itu.


Chiara yang tak mengerti hanya menatap bingung.


"Jadi dengan siapa anak Mama yang ganteng ini tadi berangkat? Membiarkan sang Mama harus berangkat dengan sopir?" goda wanita itu menatap Kenneth.


Kenneth memutar bola matanya.


"Dia, Tante,” jawab yang lainnya kompak menunjuk pada Chiara.


Jangan tanya ekspresi Chiara, ia dengan cengonya menatap bingung pada teman-temannya juga sang wanita yang sepertinya seumuran dengan Bundanya.


"Wahh siapa nama kamu cantik?" Ratih —ibu dari Kenneth. berjalan menghampiri kursi Chiara.


Chiara meraih tangan Ratih dan menciumnya, seperti yang diajarkan sang Bunda ketika bertemu dengan yang lebih tua. "Chiara, Tante," jawabnya.


Ratih seakan mengingat sesuatu setelah meneliti wajah gadis di hadapannya, kemudian senyumnya mengembang. "Jadi ini ya —"


"Ma, please, Mama ditunggu teman arisan Mama di sana,” potong Kenneth menunjuk arah geng sosialita Ibunya.


"Kamu kenapa, sih, Ken? Mama, ‘kan, mau kenalan sama teman-teman kamu juga."


"Ma,” tekan Kenneth memohon.


Ratih menarik nafas. "Oke, Mama pergi,” finalnya. "Oh, iya, anterin Chiara sampai rumahnya, Ken. Jangan di apa-apain anak orang,” imbuhnya menasehati.


Kenneth mengangguk.


"Itu nyokap lo?"


Lagi, pertanyaan Chiara dijawab anggukan oleh Kenneth.


"Udah dapet restu, tuh, Ra," Mila kembali berbisik menggoda Chiara.


"Mila apaan, sih? Jangan ngaco, deh, lo."


*


Tak terasa acara sudah selesai.


Kenneth tengah fokus mengemudikan kendaraannya untuk mengantar Chiara kembali ke rumah dengan selamat. Tidak ada obrolan sama sekali, keduanya diam tak ada yang berniat untuk membuka percakapan.


Keheningan itu membuat Chiara mengantuk, Kenneth benar-benar kutub es, dingin banget, jarang ngomong pula. Ia bingung harus memulai obrolan apa, sedangkan sepertinya Kenneth tak berniat mengajaknya bicara. Chiara mengembuskan nafas pelan, kemudian menyenderkan kepala dan memejamkan mata.


Tanpa diketahui beberapa kali Kenneth mencuri tatap pada gadis di sampingnya, ia juga tahu Chiara ingin mengajaknya bicara, tapi ia enggan memulai. Kalau boleh jujur Kenneth tidak nyaman melakukan kontak mata dengan Chiara, penampilan Chiara malam itu sangat cantik, benar, Kenneth akui itu. Dan itu tidak aman untuk jantungnya. Ia khawatir hal itu membuat fokusnya terganggu.


Mobil Kenneth berhenti tepat di depan rumah Chiara.


"Makasih, Ken,” ucap Chiara tulus.


Kenneth mengangguk. "Sama-sama, Nona Van Houten."


Deg!


Tangan Chiara yang hendak membuka pintu mobil terhenti saat mendengar kalimat Kenneth. Tubuhnya memaku, ia menoleh perlahan, memperhatikan wajah Kenneth dengan keterkejutan yang kentara di wajahnya. "Lo tahu siapa gue?"


📖📖


📖


__ADS_1



__ADS_2