
Tak terasa hari sudah berganti dan bertemu dengan senin lagi. Hari itu hari dimana tryout untuk yang kedua kalinya diadakan. Kelas di bagi beberapa kelompok. Jadi dalam sekelas yang biasanya terisi full, kini hanya di tempati setengah dari muridnya. Serta bagi yang sudah selesai mengerjakan sebelum waktunya diperbolehkan meninggalkan ruangan.
Kenneth berpesan kepada teman-temannya agar bertemu di rooftop usai mengerjakan mata ujian terakhir, karena ada hal penting yang harus dibicarakan.
Dan di sinilah mereka sekarang, duduk di kursi dan ada pula yang berdiri menyender pada dinding.
"Tumben-tumbenan lo ngajakin kita ngumpul di sini, Ken?" Toriq membuka suara memecah keheningan.
Kenneth berdiri seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, memberi isyarat pada Alex untuk memulai acara interogasinya.
Alex mengangguk.
"Gue mau tahu cerita sebenarnya yang terjadi antara lo dan Mila," Alex menatap penuh pada Putra yang duduk di kursi.
Putra menegakkan punggungnya.
"Jadi berita itu benar? Lo selingkuhin Mila?" tebak Toriq tampak terkejut.
"Seriusan lo putus sama dia? Doa gue terkabul dong," tanggap Rangga senang.
"Udah bosen lo sama dia?" Julio mencibir. "Makanya pacaran jangan tahun-tahunan, kayak kredit motor aja lo," sambungnya tertawa.
"Omongan lo, Jul." Alex memukul belakang kepala Julio. "Ada benernya," imbuhnya turut tertawa.
Putra menghembuskan nafas lelah. "Gue terpaksa ngelakuin ini semua."
"Maksud lo?" tanya Deni, Toriq dan Rangga bersamaan.
Mereka semua menatap Putra.
"Kalian tahu cewek yang jadi korban tabrakan Mila?"
Kelimanya mengangguk, kecuali Kenneth yang masih berdiri pada posisinya.
"Dia punya riwayat penyakit jantung akut, usianya nggak lama lagi, dan dia mau buat gue jadi pacarnya sebelum Tuhan ngambil nyawanya. Kalau gue nolak, dia bakal melanjutkan masalah ini ke jalur hukum, kalau seandainya gue nggak mau nurutin kemauannya dia," akhirnya Putra harus jujur.
"Dan lo nggak mau sampe Mila dipenjara, makanya lo selingkuhin dia?" tebak Kenneth membuat teman-temannya menoleh menatapnya.
Putra mendongak, kemudian mengangguk pelan.
"Lo emang bego, Put. Bisa-bisanya lo dibegoin sama, tuh, cewek," Alex tak menyangka temannya bisa segoblok itu.
"Jadi maksudnya lo putusin Mila karena cewek itu?" Rangga sepertinya masih belum sepenuhnya paham.
Putra menghela nafas pelan, kemudian mengangguk. "Gue nggak tega sama, tuh, cewek, orangtuanya juga mohon-mohon sama gue supaya gue mau jadi pacarnya Joanna, sebelum dia pergi."
"Nggak seharusnya lo ngambil keputusan sepihak kayak gini, lo nggak mikirin perasaannya Mila?" Alex tidak setuju dengan keputusan yang diambil Putra.
"Terus gue harus ngebiarin Mila di penjara? Gitu maksud lo?" Putra tersulut emosi.
"Lo lupa? Lo punya kita, apa gunanya kita selama ini sebagai temen lo? Atau lo emang nggak nganggap kita temen lo?" balas Alex tak mau kalah.
Julio menepuk pundak Putra. "Gue kira kita temenan."
Putra menatap Julio. "Kita emang temenan, Jul, kita semua temen, 'kan? Tapi nggak semua masalah harus gue ceritain sama kalian semua, ada saatnya gue bisa selesaikan masalah gue sendiri!" hardiknya keras.
"Tapi nyatanya lo nggak bisa selesaikan masalah lo sendiri!" Kenneth menyentak.
"Terus gue harus apa? Kalian tahu, kan, perangai keluarga Sonian, ancaman mereka bukan hanya di mulut doang. Gue nggak mau terjadi sesuatu sama Mila, gue sayang sama dia!" Putra nampak frustasi.
Kenneth mendekat, menarik kerah Putra kuat hingga terbangun dari posisi duduknya. "Tapi seharusnya lo cari tahu dulu siapa cewek itu sebenarnya, goblok!"
__ADS_1
Buak!
Kenneth meninju rahang Putra hingga terhuyung ke samping.
Putra menyalak. "Apa maksud lo?" ujarnya menyusap ujung bibirnya yang berdarah.
Kenneth kembali menghampiri Putra, meraih kerahnya. "Gue nggak peduli kalau lo selingkuh. Lo punya banyak gebetan, pacar lo dimana-mana, gue nggak peduli. Tapi kalau lo ngorbanin perasaan lo sendiri demi hal yang salah, gue berhak nasehatin lo!" Kenneth kembali memukul wajah Putra. "Apa lo tahu siapa cewek itu?! Apa lo tahu siapa Joanna? Hah!" Kenneth menyentak. "Sebegitu bodohnya lo mengiyakan ancamannya, tanpa mencari tahu siapa dia sebenarnya, goblok!" Kenneth menghentak tubuh Putra setelah memberi pukulan di wajah.
Teman-temannya hanya menjadi penonton, saat salah satu dari mereka hendak melerai, Alex segera mencegahnya. Karena ia tahu masalah seperti apa yang sebenarnya terjadi.
"Biarkan dia menerima hukuman atas kebodohannya," ujar Alex memperhatikan Putra yang tersungkur karena pukulan Kenneth.
"Maksud lo apa, Lex?"
"Intinya, cewek itu udah lama ngincer Putra, tapi Putra sudah punya Mila, dia pura-pura patah tulang, dia nggak punya riwayat penyakit jantung, dan lo tahu kelanjutannya seperti apa," jelas Alex. "Dianya aja yang bodoh, nggak menyadari siapa Joanna sebenarnya," imbuhnya menyeringai.
"Seharusnya lo cari tahu siapa dia sebenarnya! Asal lo tahu, dia nggak patah tulang! Dia nggak punya riwayat penyakit jantung yang sebentar lagi bakal mati!"
Putra menegang. "Jangan asal ngomong lo, Ken," hardiknya tak percaya.
Kenneth kembali melayangkan pukulan di wajah Putra. "Lo pikir darimana gue tahu kalau gue nggak kenal siapa Joanna, Hah!" Kenneth mengganyang kerah kemeja Putra, memukul wajahnya bertubi-tubi.
Putra nampak pasrah, pikirannya beku menyadari bahwa ia tengah dibohongi dan dibodohi keluarga Joanna. Ia pantas mendapatkan pukulan dari Kenneth atas kebodohannya.
...***...
Disisi lain, Chiara yang sedang berkemas hendak pulang terkejut saat beberapa siswa memberitahu bahwa Kenneth sedang memukuli Putra di rooftop sekolah.
Chiara dan Mila tersentak saling tatap, kemudian keduanya berlari menuju atap gedung sekolah yang biasa mereka kunjungi. Tidak dihiraukan sapaan dari beberapa siswa siswi yang merasa aneh melihatnya berlarian, beberapa kali tubuhnya menabrak murid yang berjalan di koridor.
Tiba di atap sekolah bola matanya membulat melihat Kenneth menghajar Putra tanpa perlawanan. Chiara menghampiri teman-temannya yang hanya menjadi penonton. "Julio, ALex, kenapa lo nggak pisahin mereka?"
Alex nampak acuh. "Biarin aja, Ra. Putra pantes dapetin itu semua."
Chiara dan Mila melotot mendengar jawaban teman-temannya. Tatapannya mengarah pada dua pemuda yang sedang adu jotos itu, tapi lebih tepatnya hanya Kenneth yang memukul, sedangkan lawannya terlihat pasrah.
"Ra, Putra bisa mati, Ra," Mila menggoyangkan lengan Chiara dengan air mata yang sudah mengalir melihat pacarnya babak belur di tangan Kenneth.
Chiara meneguk saliva, netranya kembali memperhatikan teman-temannya yang hanya menjadi penonton. Ia menarik nafas dalam, berjalan menghampiri Kenneth bermaksud untuk menghentikan aksi beringas pemuda itu. "Kenneth, udah!" serunya.
Tak mendapatkan tanggapan, Chiara memberanikan diri menarik lengan Kenneth. "Kenneth berhenti!"
Kenneth tak merespon, ia masih memukuli wajah Putra di bawah kendalinya, tanpa sadar ia menghempaskan tubuh Chiara hingga terjerembab ke belakang.
Chiara menggeram merasakan ngilu di pantatnya. Ia beranjak dengan nafas memburu melihat aksi brutal kekasihnya. Chiara mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik tubuh Kenneth, menarik seragam pemuda itu kuat, kemudian melabuhkan ciuman di bibirnya.
Kenneth tersentak mendapatkan serangan tiba-tiba, terlebih merasakan sesuatu yang lembab menyentuh permukaan bibirnya. Hampir saja ia mendorong sang pelaku, namun ia urungkan saat menyadari Chiara yang melakukannya.
Chiara menekan ciumannya, kedua matanya tertutup dengan bibirnya yang terus bergerak, meluapkan emosi terhadap sikap arogan Kenneth memukuli Putra, tidak peduli bahwa akan banyak orang yang melihat aksinya. Pasalnya hanya itu cara untuk menghentikan kegilaan Kenneth.
Chiara membuka mata perlahan, tatapannya beradu dengan Kenneth, ia menarik diri. "Udah," ucapnya pelan.
*
Putra duduk lesehan bersandar pada pembatas balkon, wajahnya luar biasa mengerikan, sedangkan Mila terduduk di sampingnya mengobati lukanya dengan derai air mata.
"Udah sadar, kan, lo sekarang?" Alex berujar memperhatikan Putra yang duduk di bawahnya.
Putra meringis saat alkohol menyentuh kulitnya yang terbuka. "Maafin gue."
"Bukan ke kita, tapi ke Mila," Deni mengingatkan.
__ADS_1
Putra mengangguk, meraih jemari Mila yang mengobati lukanya. "Maafin aku, nggak seharusnya aku nyakitin kamu."
Mila menggeleng cepat.
"Bener kata Kenneth, seharusnya aku nyari tahu siapa dia sebenarnya, pasti hal kayak kemarin nggak akan terjadi," Putra sungguh menyesal.
"Baru sadar, kan, kalau lo itu bodoh!" hardik Kenneth terpancing emosi.
Chiara mengelus dada Kenneth. "Udah, Ken," ia mencoba menenangkan
Kenneth menatap wajah Chiara kemudian menarik tubuhnya agar menempel dengannya.
"Aku nggak tahu kalau ternyata selama ini Joanna bohongin aku dengan pura-pura mengidap penyakit jantung akut. Aku menyetujui perjanjian konyol dengannya, dan justru menyakiti kamu," Putra mengusap pipi Mila yang basah.
Mila menggeleng, melihat wajah babak belur kekasihnya membuatnya pedih. "Sudah jangan diteruskan," pintanya menggenggam jemari Putra yang berada di pipinya.
Kenneth menarik jemari Chiara. "Sebaiknya lo berdua selesaikan masalah kalian," ia berjalan meninggalkan Putra dan juga Mila, begitu pula teman-temannya yang ikut berlalu. Memberikan waktu kepada keduanya untuk meluruskan masalah.
Kenneth menoleh pada Chiara yang terdiam sedari tadi. "Kenapa? Hem?"
Chiara mendongak. "Aku lagi bayangin aja seandainya berada di posisi Mila. Seandainya kamu berada di posisi Putra, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya.
Kenneth berhenti di beberapa undakan tangga, membiarkan teman-temannya berjalan lebih dulu. Ia berdiri menghadap Chiara, menatapnya lekat. "Aku nggak akan ambil keputusan yang akan nyakitin kamu," jawabnya yakin.
Lama Chiara menatap manik legam di hadapannya, kemudian kepalanya mengangguk. "Oh, ya, kamu kenal sama Joanna?" tanyanya kemudian.
Kenneth mengangguk. "Dia anak kolega Papa, temen sekolah aku sama Alex waktu sekolah dasar."
"Terus, dari mana kamu tahu kalau dia nggak punya riwayat penyakit jantung?"
Kenneth tersenyum, mengusap sebelah pipi Chiara dengan punggung jari. "Kapan-kapan aku ceritakan."
Wajah Chiara tertekuk.
"Ayo pulang," ajak Kenneth menggenggam jemari Chiara.
Keduanya melanjutkan langkah.
Kenneth menoleh. "Terimakasih," ucapnya.
"Untuk?" Chiara memiringkan kepala.
"Udah cegah aku bikin Putra masuk rumah sakit," Kenneth terkekeh.
Bola mata Chiara melotot. "Kamu berniat bikin Putra masuk rumah sakit?"
Kenneth mengangkat bahunya.
Chiara mendengus. "Aku ngeri aja lihat kamu pukulin Putra kayak gitu, temen-temen kamu malah pada diem nggak ada yang niat buat pisahin, aku, kan, takut kalau kamu sampe bunuh si Putra. Jadi yah.. gitu," ujarnya mengerucut sebal.
Kenneth tertawa kecil. "Tapi aku suka."
Kening Chiara mengerut. "Suka bikin Putra babak belur?"
Kenneth menggeleng. "Suka dapat ciuman dari kamu," bisiknya pelan.
Chiara memalingkan wajah, kedua pipinya bersemu karena malu. "Terpaksa," cicitnya.
"Sering-sering aja terpaksanya," sahut Kenneth asal.
Chiara terkesiap. Memperhatikan Kenneth yang tengah menggodanya dengan menaik turunkan alis. "Ssshh.." ia berdesis memukul lengan Kenneth.
__ADS_1
📖
📖📖