KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Garissa 12 - Van Houten?


__ADS_3

"Lang, apa yang terjadi? Lo nggak mau bantuin gue?" Fando berjalan menghampiri Galang yang terduduk di ruang kerjanya.


"Lo nggak bisa ketuk pintu dulu?!" Galang memprotes kehadiran temannya yang tidak sopan.


Fando berdecak. "Bukan itu intinya. Lo kenapa nggak mau jadi investor gue? Ini ada hubungannya dengan masalah cewek lo sama Berlian?" ia menebak.


"Itu lo tahu," sahut Galang acuh.


Fando terlihat frustasi. "Jangan gitu lah, Lang. Lo satu-satunya penolong gue, kenapa lo batalin? Kemana lagi gue nyari investor?"


"Bukannya Berlian bersedia memberikan suntikan dana dalam jumlah besar?"


"Kalau lo mundur, dia juga bakalan mundur, Lang."


Galang beranjak, menghampiri Fando yang terduduk di sofa. "Berlian udah mencoba menghancurkan hubungan gue sama Clarissa. Gue nggak bisa diem aja lihat dia nyakitin cewek gue. Gue udah putusin nggak mau terlibat apapun yang berhubungan sama dia," tuturnya serius.


"Jadi bener malam itu dia.." Fando sengaja tak melanjutkan kalimatnya.


Galang mengangguk. "Clarissa kecewa sama gue. Banyak hal yang udah gue lakuin buat dapetin Clarissa kembali, gue nggak mau orang lain merusak apa yang udah gue jaga selama bertahun-tahun. Gue nggak mau bikin Clarissa khawatir."


Fando terdiam. "Bertahun-tahun?" gumamnya.


"Clarissa masa lalu gue yang belum selesai, sekarang gue tengah berjuang untuk memantaskan diri buat dia," Galang akhirnya jujur pada temannya itu.


Fando geleng-geleng kepala. "Pantesan lo kayak alergi sama cewek, ternyata lo belum move on dari mantan?"


Galang mengangguk saja karena memang itulah kenyataannya.


"Baiklah, gue mengerti," Fando mendesah berat. "Lo nggak bisa bantuin gue. Berlian batal jadi investor juga. Nasib, nasib," keluhnya.


Sebelah alis Galang terangkat. "Berlian batal jadi investor?"


"Dia bilang kalau lo nggak mau kerjasama di bisnis ini, dia juga akan mundur," Fando terlihat lesu.


Sebenarnya Galang kasihan juga melihat temannya itu terpuruk, tapi bagaimana lagi, ia tidak ingin terlibat apapun yang berkaitan dengan Berlian. Oh, sepertinya ia punya ide cemerlang di otaknya. "Fan, gue bersedia jadi investor tapi bukan dengan identitas gue."


Fando menegakkan punggung. "Terus?"


"Gue pakai nama Clarissa. Lo jangan ngomong sama siapapun kalau gue ikut dalam bisnis lo ini," Galang tengah memperingati.


Kedua sudut bibir Fando terangkat membentuk senyuman lebar. Ia mengangguk. "Dengan nama Clarissa, Berlian nggak bakal jadi investor gue."


Galang mengangguk.


"Oke, nggak masalah. Yang penting lo udah mau bantuin gue. Gue bisa cari investor lain lagi," Fando nampak senang. "Thanks, Lang," ia menepuk lengan Galang.


"Kapan tanda tangan kontrak?" Fando kembali berujar.


"Memangnya sudah deal?"


"Gue nggak mau kalau elo berubah pikiran lagi."


Galang terkekeh. "Gue kabarin Clarissa dulu."


Fando mengangguk.


...***...


Malam harinya, Galang mengajak Clarissa ke sebuah cafe untuk bertemu dengan Fando membicarakan bisnis.


"Dia di dalam," Galang menggenggam jemari Clarissa membawanya memasuki cafe.


Fando tersenyum menyambut kedatangan Galang dan Clarissa. "Hai, aku Fando," ujarnya memperkenalkan diri.


Clarissa menyambut uluran tangan Fando. "Clarissa," ucapnya.


"Kayaknya aku pernah ketemu sama kamu," Clarissa kembali berujar setelah memperhatikan wajah Fando.


Fando tersenyum mengusap lehernya. "Kita pernah ketemu di Bar," ucapnya tidak enak.


Clarissa nampak berfikir. "Oh, yang waktu itu ya?" sahutnya kemudian.


"Kita belum berkenalan secara resmi," Fando bergurau.


Clarissa mengangguk saja.


"Ini, silahkan dibaca," Fando menyerahkan sebuah map pada Clarissa.

__ADS_1


"Aku?" Clarissa terheran, namun tak urung membuka isi map, membaca deretan kalimat di sana. Kedua bola matanya membulat. "Kok, ada namaku?" tanyanya pada Galang.


"Karena memang kamu yang mau berbisnis sama dia," Galang menjelaskan.


"Ha? Bukannya kamu bilang ini bisnis kamu?"


"Sebenarnya Galang tengah menghindari Berlian. Dia tidak mau bekerja sama dengan Berlian. Kalau kamu yang jadi investor, Berlian pasti akan mundur," Fando menjelaskan.


Clarissa menatap pada sang kekasih mencari kejujuran.


Galang mengangguk.


"Berikan bolpoinnya?" Clarissa membuka telapak tangannya.


Fando tersenyum senang, gegas memberikan bolpoin pada Clarissa, jangan sampai keduanya kembali berubah pikiran.


Tentu saja Clarissa tidak akan berfikir dua kali untuk membuat Galang menjauh dari Berlian. Ia menyematkan tanda tangan di berkas yang bahkan tidak ia baca isinya. Itu tidak penting, karena Galang akan memastikan semuanya aman, ia hanya perlu memberikan tanda tangan saja, ia tidak akan kehilangan apapun.


"Kamu bahkan tidak membaca isinya," Galang geleng-geleng kepala.


Clarissa tersenyum. "Itu tugasmu," godanya mengedipkan sebelah mata.


Fando menyimpan berkas ke dalam tas. "Kata Galang kamu lagi magang di sini, Clarissa. Ambil jurusan apa?" ia bertanya pada Clarissa.


"Hukum," Clarissa menjawab.


"Magang dimana?"


"Firma hukum."


Fando mengangguk-angguk. "Jadi pengacara?"


Clarissa mengangguk. "Pengennya jadi jaksa sebenarnya."


"Ambil magang berapa lama?"


"Tiga bulan."


"Aku temen Galang sejak kuliah, awalnya aku ngira dia itu gay," Fando terkekeh.


Clarissa terkejut, menoleh menatap Galang yang mendesah.


Clarissa mengulum senyum. "Bagaimana dia saat kuliah?" tanyanya penasaran.


"Aku cukup populer," Galang yang menjawab.


Clarissa melirik sinis.


Fando menyesap minumannya. "Itu salah satunya," ia membenarkan pengakuan Galang. "Lang, lo udah tahu kalau perusahaan milik bokapnya Berlian kena kasus?" tanyanya seakan teringat.


Clarissa dan Galang saling tatap.


"Gue kemarin ketemu sama Berlian, dia sedang sibuk mengurus berkas untuk dibawa ke pengadilan. Katanya perusahaan milik bokapnya mendapatkan pemerasan oleh karyawan."


"Lo yakin?" Galang tengah menyambung percakapan.


Fando menghembuskan nafas pelan. "Seharusnya mereka tidak mencari masalah dengan Beenar, kasihan kalau mereka sampai dipenjara," ia kembali menyesap minumannya.


"Lo yakin kalau dia akan menang? Bagaimana kalau justru pihak Beenar yang kalah?" Galang nampak biasa saja.


Fando merasa ada yang aneh dengan temannya itu. "Memang siapa yang dilawan?" tanyanya memastikan.


"Aku," Clarissa menjawab enteng.


Fando terkekeh. "Ojo guyonan ngono, rek," guraunya dengan logat Surabaya. ("Jangan bercanda seperti itu.")


Galang tampak tengah menikmati minuman kafeinnya, sedangkan Clarissa memperhatikan sang kekasih sebab tak mengerti apa yang Fando katakan.


Fando mendekatkan tubuhnya. "Kalian serius?" tanyanya memperhatikan Galang dan Clarissa bergantian.


Fando kembali terkekeh. "Lang, lo nggak mungkin ngebiarin cewek lo dalam masalah karena ngelawan Beenar, kan?" ia tengah mengingatkan.


"Seharusnya lo yang berucap seperti itu ke Berlian," balas Galang enteng.


"Maksud lo?" Fando benar-benar tidak paham. "Firma hukum yang membantu proses penyelidikan tidak bisa mendapatkan apapun. Berlian sudah sangat yakin akan menang. Apa dia terlalu cepat berselebrasi?" tanyanya ragu.


"Katakan padanya jangan terlalu cepat berselebrasi."

__ADS_1


Tanggapan Galang benar-benar membuat Fando pening, ia tidak paham. Berlian sudah mengatakan semuanya kemarin, dan ia sudah tahu firma hukum yang melawan Beenar memang firma hukum yang tidak terlalu terkenal. Kalau benar apa yang Galang ucapkan, firma hukum tersebut pasti mendapatkan dukungan dari orang yang lebih berkuasa.


"Atau lo mau bantuin dia?" Galang kembali berucap. "Gue katakan kalau itu sia-sia," imbuhnya.


Fando terdiam, ia tengah menyusun puzzle di dalam otaknya. Sepertinya ia ingat kata-kata Berlian yang mengatakan bersedia mengajukan gugatan bukan hanya soal masalah perusahaan, tapi perempuan itu menyebut seseorang. Mungkinkah Berlian ingin membalas seseorang? Bukan membalas firma hukum itu?


Fando memperhatikan Clarissa yang tengah menikmati makanan. Ia tahu kalau Berlian menaruh rasa pada Galang, tapi Galang terlihat acuh, dan sekarang Galang hadir memperkenalkan statusnya dengan Clarissa. Beberapa minggu yang lalu Clarissa juga terlibat perkelahian dengan Berlian. Mungkinkah..


"Clarissa, boleh aku tahu marga keluargamu?" tanya Fando tiba-tiba.


"Kenapa?" Clarissa tak paham.


"Kalau benar apa yang Galang katakan bahwa Berlian akan kalah di pengadilan, itu berarti firma hukum tempatmu magang mempunyai seseorang yang kuat di belakangnya. Hanya kamu orang luar yang tidak aku ketahui marganya. Kamu mempunyai backingan siapa?"


Dukk!!


"Shhh.."


Galang menendang tulang kering Fando kuat membuat sang empu meringis. "Hati-hati kalau ngomong. Gue udah peringatin elo," ujarnya mengancam.


"Gue cuma penasaran," Fando membela diri.


"Sebenarnya aku tidak ingin sombong," tanggap Clarissa tersenyum kecil.


Galang mendesah. "Tentu saja backingan Clarissa adalah gue. Pertanyaan lo sama sekali tidak berbobot," cetusnya.


Fando menggeleng. "Bokap lo nggak mungkin merusak hubungan bisnis dengan Beenar. Lagipula ini masalah pribadi. Kata Berlian."


"Mungkin dia dendam sama gue karena cintanya bertepuk sebelah tangan," sahut Galang acuh.


"Itu bisa jadi," Fando mengangguk-angguk. "Ets, jangan mengubah topik."


"Diem atau gue batal kerjasama sama lo," Galang mengancam.


Seketika Fando terdiam, membuat gerakan mengunci mulutnya.


Clarissa tersenyum saja.


***


"Kayaknya Berlian sudah pada tahap tergila-gila sama kamu," ujar Clarissa, keduanya tengah menikmati malam di sebuah kursi di depan cafe.


"Dan aku sudah tergila-gila sama kamu," Galang membalas.


Clarissa tersipu. "Aku serius," protesnya.


"Aku juga serius, Sayang," Galang meraih jemari Clarissa dan menggenggamnya.


"Dia rela ngelawan aku karena aku sudah bikin kamu tergila-gila," Clarissa terkekeh.


"Itu artinya dia juga melawanku."


"Pernah nggak, sih, kamu suka sama dia, sedikit aja," Clarissa sungguh penasaran. Jika ia pria tulen, melihat Berlian yang cantik dan pintar, ia juga akan tertarik.


Galang mendesah, kenapa perempuan selalu memancing masalah. Dijawab iya, pasti salah, dan dijawab tidak, justru meragukan. Heran memang. "Harus berapa kali aku bilang, aku tidak pernah tertarik sama dia."


Clarissa memicing curiga. "Kamu tidak pernah khilaf? Dia cantik gitu."


Galang mencubit gemas kedua pipi Clarissa. "Kamu sudah menguasai seluruh tubuhku, mulai dari hati, pikiran, mata, bahkan mata batin juga sudah tertutup untuk perempuan lain," tuturnya mengecup singkat bibir Clarissa. "Sudah jangan bahas itu lagi, nanti ujung-ujungnya kamu juga yang kesel, terus marah sama aku," imbuhnya mengingatkan.


"Memangnya aku begitu?"


Galang tersenyum. "Enggak kok, kamu itu sempurna bagi aku," mengalah adalah jalan ninja yang ia pilih.


"Memangnya aku suka marah-marah nggak jelas?" yang namanya perempuan, pasti akan menuntut dengan jelas pokok penjelasan sampai ke akar-akarnya.


Galang mengecup kening Clarissa. "Bagaimana persiapan sidangnya?" alih-alih menjawab pernyataan sang kekasih yang akan mengakibatkan perang ringan, Galang harus bisa mengubah topik.


"Rekaman saksi sudah dipegang Bu Helinda."


"Mereka pasti terkejut bagaimana kamu bisa mendapatkan rekaman itu."


Clarissa mengangguk. "Bu Helinda dan Ko Juno heran bagaimana aku bisa menemukan peneliti yang kabur. Aku jawab jujur saja, kalau aku bermarga Van Houten, aku juga berdendam dengan Berlian," ucapnya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Fando yang hendak menghampiri Galang untuk memberikan salinan kontrak menghentikan langkah mendengar Clarissa menyebutkan marga keluarganya. "Van Houten? Siapa dia?" gumamnya pelan, ia belum pernah mendengar marga itu sebelumnya.


"Kamu gemesin banget sih, Cla. Aku jadi pengen makan kamu," Galang mencubit gemas pipi Clarissa.

__ADS_1


.


.


__ADS_2