
"Halo, lo denger, ‘kan? Apa kata gue?"
"...."
"Galang. Halo. Ih, gue kesel ngasih informasi sama lo, udah deh kita batalin kerjasama kita."
"Eh, eh, jangan, iya, gue udah bangun, Cla."
"Lo, tuh, serius nggak sih? Buruan lo bangun. Kak Ara udah berangkat dari tadi, Galang."
"Iye, gue bangun ini, berisik banget, sih.”
"Gue pastiin lo kalah kalau dalam waktu lima menit lo belum nyampek."
"Whatt??"
"Cepetaaannnnnn!"
"E, buset, budeg kuping gue, Cla."
"Bodo."
Tut.
Clarissa mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. "Al, lo mau kemana?" tanyanya melihat adiknya berseragam olahraga.
"Gue mau ikut Kak Ara CFD, lo ikut?"
"Eh, jangan."
"Kenapa?" tanya Alzayn bingung.
"Emm, iya, gue ikut deh. Lo boncengin gue, ya? Tunggu gue ganti baju dulu," ucap Clarissa gegas berlari menaiki tangga.
"Cepetan, Cla!" teriak Alzayn.
"Iyaa, bentar!"
Alzayn duduk di sofa memainkan ponselnya selagi menunggu Clarissa mengganti bajunya. "Bang, mau kemana?" tanyanya melihat Aiden berjalan tergesa.
Langkah kaki Aiden terhenti. "Abang ada urusan, kamu mau kemana?"
"Cfd, Bang. Lagi nungguin Cla."
"Ara mana?
"Udah berangkat duluan tadi."
Aiden mengangguk. "Abang nanti pulang malam, kalian baik-baik di rumah, jangan keluyuran," peringatnya.
"Abang mau ketemu Kak Oliv?" Alzayn menebak. Olivia atau yang akrab dipanggil Oliv merupakan teman dekat dari Aiden.
"Bukan," jawab Aiden cepat.
"Ketemu juga nggak apa-apa kali, Bang. Pacar sendiri juga," goda Alzayn kekehnya.
"Abang punya pacar?" Clarissa menyahut tiba-tiba.
"Apa, sih,” Aiden mengelak. "Alzayn, jangan bikin gosip sembarangan,” peringatnya menatap tajam adik bungsunya.
Alzayn mengangkat bahu. "Sebentar lagi pasti dia jadi pacar Abang, percaya, deh, sama aku."
"Siapa?" tanya Clarissa penasaran.
"Kepo lo," cetus Alzayn bangkit dari duduknya.
Clarissa mencibir. "Bang —“
"Buruan, lama gue tinggal,” ucapan Clarissa terpotong oleh ancaman Alzayn.
"Adik durhaka," cibir Clarissa merengut.
"Sudah, jangan ngambek gitu, entar ilang cantiknya,” goda Aiden mencubit hidung Clarissa
"Cla pergi dulu, Bang. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati.”
...***...
"Selamat pagi, Chia~”
Chiara yang sedang asik mengayuh sepeda terkejut saat tiba-tiba sebuah kendaraan berada di sampingnya. Ia menoleh. "Eh, Galang? Lo di sini juga?"
"Kok nggak dijawab?"
"Iya, pagi."
"Kita, tuh, jodoh tahu, Chi. Dimana-mana pasti ketemu, ya, nggak?" Galang menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Hah? Hehe,” jawab Chiara kikuk.
"Rumah lo sekitar sini, ya?"
"Enggak, sih, di komplek x, kalau lo?"
"Rumah gue lebih jauh dari sini, Chi. Kapan-kapan gue ajak ke rumah gue mau, ya?"
"Ha?"
Galang melepas tangan kirinya dari stang dan menepuk pundak Chiara. "Enggak usah tegang gitu kali, Chi."
"Eh, iya, hehe."
"Lo biasa cfd tiap minggu?"
"Enggak sih, kebetulan baru dapat sepeda baru," jawab Chiara tersenyum lebar.
"Dari siapa? Bokap lo?"
Chiara menggeleng. "Dari Abang gue."
Galang mengangguk. "Lo sendirian, Chi?" tanyanya menengok ke belakang.
Chiara ikut menoleh ke belakang. "Tadinya sama adik gue, tapi kenapa belum nyampek juga dari tadi?" ucapnya menilik jam di pergelangan tangannya.
"Clarissa?" Galang menebak.
Chiara menggeleng. "Bukan. Adik gue yang satunya, namanya Al."
Galang mengarahkan Chiara agar berhenti di salah satu penjual bubur ayam, ia sangat lapar. Bayangkan saja, semalam ia pulang jam tiga pagi, lalu Clarissa menelponnya jam lima pagi menyuruhnya untuk bangun. Jam enam Clarissa kembali menelepon dan mengancamnya sehingga ia tidak sempat sarapan, dan lagi, ia mengayuh sepeda cukup jauh untuk menyusul Chiara. Sungguh, cinta itu butuh pengorbanan, Men.
Sambil duduk di tepi trotoar keduanya menyantap bubur ayamnya.
"Lo nggak apa-apa, ‘kan, makan di sini?"
Chiara menoleh. "Nggak apa-apa, emang kenapa?"
Galang mengangkat bahu. "Siapa tahu aja lo nggak suka makan di pinggir jalan kayak gini."
"Nggak apa-apa kok, orangtua gue enggak ngelarang anaknya buat makan makanan pinggir jalan,” jawab Chiara tersenyum.
Galang mengangguk dan ikut tersenyum. "Lo punya berapa saudara, Chi?" tanyanya memecah keheningan.
"Empat, gue nomer dua, lo sendiri?"
"Gue dua bersaudara, gue sama adik gue, tapi adik gue ikut bokap nyokap gue di Surabaya," jelas Galang seraya menyantap bubur yang baru saja diantar oleh sang penjual.
"Sama Oma gue.”
Chiara mengangguk mengunyah buburnya.
"Gue suka lo nanya-nanya tentang gue."
Chiara menoleh dan tersenyum kikuk. "Eh, itu Al sama Cla,” tunjuknya pada dua orang yang sedang berboncengan dengan sang gadis duduk di depannya. Ia berdiri sambil melambaikan tangan.
"Eh, ada Galang,” seru Clarissa saat turun dari sepeda.
"Eh, ada Clarissa,” balas Galang, kemudian keduanya sama-sama menyengir.
"Kak Ara makan nggak nungguin kita,” Alzayn memprotes.
Chiara memperhatikan Clarissa dan Alzayn bergantian. "Kalian lama banget, ngapain, sih?"
Alzayn menggerakkan dagunya. "Tuh, Clarissa, tuh, lemot banget," jawabnya menunjuk pada Clarissa yang tengah memesan bubur ayam.
"Apa, lo?” Clarissa menyahut. “Gue kutuk tahu rasa, lo. Jadi adik durhaka banget sama gue," hardiknya bersungut.
Alzayn memutar bola matanya jengah. Kemudian beralih menatap Galang yang asik mengunyah. "Dia siapa, Kak?"
Galang mendongak, mengulurkan tangannya pada Alzayn. "Kenalin, gue Galang, calon Kakak ipar lo."
Alzayn menyernyit. "Alzayn, panggil aja Al,” jawabnya menyambut uluran tangan Galang. "Lo pacarnya Kak Ara?" tebaknya.
Bbrrfffff!!
Chiara menyemburkan buburnya mendengar pertanyaan Alzayn.
Clarissa gegas mengambil air di sepeda dan menyerahkan pada Chiara.
"Bukan. Dia teman sekolah aku,” tepis Chiara segera.
"Ohh, kirain."
Galang menggaruk kepalanya yang memang gatal.
Setelah selesai menyantap bubur, mereka melanjutkan bersepeda, dari sana Galang mulai memahami kesukaan Chiara tentang beberapa hal, walaupun sedikit tapi lumayan lah buat pendekatan.
Saat tengah asik bersepeda tiba-tiba gerombolan motor melewati mereka, menarik-narik gas motornya, membuat suara yang sangat bising dan memekakkan telinga.
__ADS_1
"Eh, Galang. Woii! Galang, tuh!” teriak salah satu dari mereka menyadari Galang diantara keempatnya.
Galang, Chiara dan Alzayn menghentikan sepedanya saat gerombolan sepeda motor itu berhenti menghadang jalan.
"Wihh.. sejak kapan lo mainnya sepeda?” ejek salah satu dari mereka menatap remeh pada Galang, bahkan mereka tertawa entah apa yang lucu.
Jemari Galang terkepal. "Jangan ganggu gue," desisnya pelan.
Salah satu dari mereka menghampiri Chiara. "Cantik juga pacar lo."
"Jangan sentuh dia, breng**k!" hardik Galang marah menyadari salah satu dari mereka hendak menyentuh Chiara.
"Santai, bro. Gue cuma pengen kenalan sama cewek lo."
"Gue bukan ceweknya dia,” bantah Chiara menahan rasa takutnya. Laki-laki di hadapannya berpenampilan seperti preman, bahkan beberapa di antaranya menato tubuh dan menindik wajahnya.
Mereka tertawa mendengar jawaban Chiara. "Bukan pacarnya Galang, bro. Kalau gitu lo mau nggak jadi pacar gue?"
Chiara memundurkan sepedanya saat pria itu mendekat ke arahnya.
"Gue bilang berhenti, breng**k!" sentak Galang turun dari sepeda dan menarik kerah pria itu.
Alzayn dan Clarissa tampak bingung dan ketakutan, Clarissa bahkan sampai mencengkeram lengan Alzayn kuat.
"Santai, bro. Jangan ngegas gitu, lah, dia aja nggak mau sama lo, jadi biarin dia jadi milik gue," sang pria berucap dengan seringai tercetak di wajahnya yang beringas.
"Breng**k!"
"Galang, jangan!" cegah Chiara saat Galang hendak melayangkan pukulan pada pria di depannya.
Galang mendorong tubuh pria itu. "Kita selesaikan nanti malam."
"Kenapa? Lo takut?" ejek sang pria lagi.
"Lihat, bro. Galang takut sama cewek, ternyata nyalinya nggak sehebat di atas lintasan. Hahaha." Gerombolan preman itu tertawa mengejek.
Jemari tangan Galang terkepal erat, ia menarik nafas guna meredam emosi yang sudah di ujung tanduk, andai saja tidak ada Chiara dan adik-adiknya, pasti ia sudah menghajar habis-habisan mereka semua.
"Tolongg...!!!" tiba-tiba Clarissa berteriak.
Beberapa warga yang melintas menghampiri mereka.
Preman itu tersentak melihat beberapa warga yang mengerubunginya. "Kabur-kabur," seru para preman itu kemudian melajukan motornya.
"Ada apa, Dek?" tanya salah satu warga.
"Nggak apa-apa, Pak. Terimakasih," balas Clarissa.
"Hati-hati, Dek. Geng motor itu suka bikin rusuh," peringat salah satu warga.
"Iya, Pak. Terimakasih banyak,” Alzayn menyahut.
Sepeninggalan warga.
"Lo kenal mereka?" tanya Alzayn menatap Galang.
Galang mengangguk. "Mereka rival gue di sirkuit."
"Sirkuit?" ulang Chiara dan Clarissa bersamaan.
"Lo pembalap?"
Galang menghela nafas. "Balap liar,” jawabnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Chiara dan Clarissa melongo.
Alzayn menepuk pundak Galang. "Keren. Gue pengen lihat lo balapan."
Chiara melotot tajam pada Alzayn. "Al, jangan ngaco."
Galang menepuk lengan Alzayn. "Kapan-kapan gue ajak."
"Tidak boleh,” ucap Chiara cepat.
"Kak Ara nggak asik,” cibir Alzayn berjalan menuju sepedanya.
Chiara memicing menatap Galang.
"Kapan-kapan lo harus lihat gue menang balapan, Chi," Galang terkekeh mengacak rambut Chiara.
"Gue nggak minat,” balas Chiara ketus.
"Lo harus ngajak gue," bisik Clarissa pelan.
Galang terkekeh. "Oke, lil sister,” balasnya mengedipkan sebelah mata.
📖📖
📖
__ADS_1
**Jangan lupa berikan vote, komentar dan juga bintang lima ya kaka...
Terimakasih**