KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
61. Sebuah kenyataan pahit


__ADS_3

Kenneth memutuskan untuk mengantarkan Chiara sampai di depan rumah Mila, sedangkan ia sendiri harus pergi ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu. "Kalau sudah mau pulang kabarin aku," ucapnya pada Chiara.


"Kamu mau lanjutin rapat?"


Kenneth menggeleng. "Aku ada urusan sebentar."


Chiara mengangguk. "Hati-hati."


Chiara melangkahkan kaki memasuki rumah Mila, ia sempat bertanya dengan ibunda Mila, meyakinkan kalau Mila sudah di rumah, dan memang benar. Namun ibunda Mila berujar bahwa sang putri pulang dalam keadaan mata memerah. Serta sang putri yang pulang sendirian, tidak dengan Putra yang sebelumnya menjemputnya. .


Tok! Tok!


"Mila.. Mil, ini gue, Ara," tak ada sahutan. "Gue masuk, ya?" Chiara membuka pintu, menghampiri Mila yang tertelungkup menyembunyikan wajah di tempat tidur. Ia mengusap pundak Mila saat menyadari Mila tengah terisak.


"Dia bohongin gue, Ra," ujar Mila dengan wajah basah oleh air mata. "Apa yang gue rasakan beberapa hari tentangnya memang benar, dia berubah, Ra. Dia.. Dia.." Mila tak sanggup meneruskan kalimatnya.


Chiara menarik Mila dalam pelukan.


"Dia khianati gue, Ra. Dia jahat sama gue. Apa salah gue, Ra, Apa?" Mila nampak tertekan dan frustasi.


"Tenang, Mil, tenang," Chiara mengusapi punggung Mila.


Hampir setengah jam Mila menangis dipelukan Chiara, setelah di rasa mereda, ia menarik diri, menunduk sambil sesekali menyeka air matanya.


"Sudah lebih tenang?" tanya Chiara menepuk punggung tangan Mila.


Mila mengangguk.


"Lo bisa cerita semuanya sama gue. Tapi kalau lo belum siap, jangan dipaksaka, oke?"


Mila kembali mengangguk, menarik nafas panjang guna mengendalikan isakan. "Tadinya gue mau ketemu Putra di salah satu cafe, awalnya semua baik-baik aja. Putra juga masih sama kayak biasanya. Terus tiba-tiba Putra dapat telepon, entah dari siapa. Tapi setelah itu raut wajahnya berubah, dia maksa untuk nganterin aku pulang karena dia ada urusan mendadak." Mila menarik nafas sebelum melanjutkan. "Gue bilang kalau gue bisa pulang sendiri, karena kelihatannya urusan dia tidak bisa ditunda. Akhirnya gue mutusin pulang, tapi karena gue males pulang, gue berniat mampir di toko buku, lihat-lihat novel terbaru. Tapi.." airmata Mila kembali mengalir. "Tapi yang gue lihat setelah keluar dari toko buku adalah Putra yang sedang berpelukan di dalam mobil dengan seorang cewek, Ra," Mila kembali terisak.


Chiara mengusap lengan Mila untuk menenangkan.


Mila menarik nafas setelah berhasil mengendalikan diri. "Karena penasaran, gue samperin mereka, dan ternyata itu benar Putra. Dan lo tahu siapa cewek itu?" Mila menatap Chiara.


"Gue tahu. Jangan lo terusin lagi, gue ngerti," potong Chiara kembali menarik tubuh Mila ke dalam pelukannya.


"Kenapa mereka jahat sama gue, Ra, apa salah gue?" Untuk yang ke sekian kalinya Mila kembali menangis meraung di pelukan Chiara. "Bahkan Joanna bilang mereka udah bersama sejak dia dirawat di rumah sakit. Sakit hati gue, Ra, Putra selingkuhin gue, Ra."


Chiara memejamkan matanya rapat, baru beberapa hari ia dipusingkan oleh masalah Clarissa dan Galang. Kini sahabatnya juga tak kalah berat mendapatkan masalah. Dalam hati ia berujar, semoga hubungannya dengan Kenneth baik-baik saja, tidak ada masalah serius yang mengharuskan ia berpisah dengan Kenneth. Oh, tidak! Jangan! Jangan sampai hal itu terjadi.

__ADS_1


"Lo harus denger penjelasan dari Putra, Mil, gue yakin Putra punya alasan buat ngelakuin itu semua."


Mila menarik diri. "Penjelasan apa, Ra? Jelas-jelas Joanna bilang mereka sudah berhubungan selama dia dirawat di rumah sakit. Dan lo tahu, bagaimana respon Putra? Dia cuma diam, Ra. Nggak membantah sama sekali. Jadi perlu penjelasan seperti apa lagi, Ra. Itu sudah cukup jelas kalau dia mengiyakan pernyataan dari Joanna," kemarahan, kekecewaan, sakit hati berkumpul jadi satu memenuhi tubuh dan pikiran Mila.


Chiara kembali menghela nafas. "Oke, oke, lo tenang, ya, maafin gue," sesalnya mengelus tangan Mila.


Mila menggeleng. "Lo nggak salah, Ra, gue yang salah terlalu percaya sama Putra."


"Dalam menjalin hubungan memang harus saling percaya, Mil, di sini Putra yang sudah mengkhianati kepercayaan lo. Gue yakin Putra pasti akan mendapatkan hal yang jauh lebih sakit daripada apa yang lo terima, karma masih berlaku, tenanglah," Chiara mencoba membesarkan hati Mila.


Mila menatap Chiara dengan mata berkaca-kaca. "Thanks, Ra," ucapnya tulus, kembali memeluk tubuh Chiara.


Chiara membalas pelukan Mila serta mengelus punggung Mila yang sesekali bergetar.


...***...


Flashback on.


Ke tujuh pemuda tampan itu tengah berkumpul di apartemen milik Kenneth. Tidak biasanya mereka berkunjung di apartemen Kenneth. Walaupun sebenarnya mereka membuat alibi dengan menjenguk Kenneth yang sedang demam kala itu. Tapi justru menyeret Kenneth keluar rumah menuju apartemen.


Kenneth memutar bola matanya jengah saat kelima temannya itu mulai mengacak-acak isi kulkasnya. Sedangkan ia sendiri memilih berbaring di sofa panjang.


"Kenapa lo, kusut amat wajah lo?" seloroh Alex mengambil duduk di samping Putra yang tengah bersandar menatap langit-langit.


"Gimana sama cewek yang ditabrak Mila, udah baikan?" Julio berujar.


"Udah, mungkin beberapa hari lagi udah boleh pulang."


"Jadi Mila nggak bakal dipenjarakan?" Deni menyahut.


Putra tersenyum kecut. "Nggak bakalan gue biarin mereka ngusik cewek gue."


"Maksud lo?"


"Kalaupun mereka keukeh laporin cewek gue ke polisi dan dipenjara, gue bakal gantiin dia," Putra terlihat serius dengan ucapannya.


Alex mengangguk, menepuk lengan Putra. "Enggak mungkinlah, lagian, tuh, cewek udah baik-baik aja, 'kan?"


"Siapa yang tahu," Putra mengangkat bahunya. "Gue bakal lakuin apapun agar cewek gue nggak terseret dalam permainan mereka, gue ngerasa keluarga cewek itu masih belum terima sama kejadian ini, dan nggak berniat buat maafin Mila," Putra tersenyum kecut.


Rangga menepuk pundak Putra, ikut duduk di sampingnya. "Lo punya kita, kita pasti bantuin lo sama Mila."

__ADS_1


"Bener," Deni kembali menyahut.


"Gimana sama keluarga Mila?"


"Sama kayak orangtua gue, mereka udah jenguk ke rumah sakit, minta maaf, bermaksud membayar tagihan rumah sakit, juga membiayai biaya terapinya. Tapi lo semua tahu, kan, keluarga Sonian kayak gimana?"


Teman-temannya menyernyit.


"Maksud lo cewek itu anak keluarga Sonian?" tanya Julio memastikan.


Putra mengangguk.


Alex mengangguk-angguk. "Gue paham sekarang."


"Memangnya siapa Sonian?" tanya Rangga penasaran, diangguki Deni dan Toriq.


"Sebelas dua belas lah sama keluarga Chiara," Alex menjawab. "Ya, nggak, Ken?" ujarnya menatap Kenneth meminta persetujuan.


"Hm," sahut Kenneth malas.


Rangga, Deni dan Toriq mengangguk-angguk.


"Tapi lo nggak tertarik buat jadiin cewek itu gebetan elo, kan, Put?"


Putra tersentak, tiba-tiba tubuhnya menegang. "Ya, enggak, lah, gue udah bersyukur punya Mila di sisi gue, nggak kayak elo yang masih betah menjomblo," ledeknya terbahak.


Toriq melempar kaleng kosong pada Putra. "Sialan Lo!"


Flashback off.


Tiba-tiba Kenneth teringat ucapan Putra kala itu, sepertinya ia tahu yang sebenarnya. Ingatkan dia untuk menghajar Putra, karena pemuda itu tidak berfikir sebelum memutuskan sebuah perkara.


Kenneth tak akan ragu untuk menghajar sahabat bodohnya itu. Bisa-bisanya Putra bersikap bodoh seperti itu. Biarpun Kenneth acuh, dingin dan terlihat masa bodo dengan teman-temannya, tapi percayalah bahwa dirinya peduli dengan sahabatnya.


Justru sikap dinginnya terkadang membuat sahabatnya itu segan untuk mengajaknya bercanda, bahkan Kenneth hanya akan diam dan membicarakan hal yang penting saja saat mereka tengah berkumpul. Hal itu sudah biasa mereka dapatkan dari seorang Kenneth.


Dan Kenneth pun tidak akan diam saja ketika salah satu sahabatnya tertimpa masalah seperti yang tengah dihadapi oleh Putra.


Kalaupun Putra selingkuh, itu bukan urusannya, itu masalah Putra sendiri, Kenneth tidak akan ikut campur. Tapi masalahnya lebih dari itu, ia tidak akan membiarkan sahabatnya mengambil jalan yang salah. Setidaknya ia harus memberitahukan hal yang sepertinya tidak disadari oleh sahabatnya itu. Karena itu adalah kewajibannya sebagai sahabat.


📖

__ADS_1


📖📖


__ADS_2