KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
63. Nomor tidak dikenal


__ADS_3

Hari berikutnya, terlihat Mila dan Putra sudah kembali berangkat bersama dan menjadi seperti biasanya lagi. Mungkin mereka sudah berbaikan, memperbaiki kesalahpahaman yang mengungkung keduanya.


"Gandengan aja terosss..." cibir Julio yang kebetulan berjalan di belakangnya.


"Udah kek truck aja lo berdua," timpal Deni ketus.


Terdengar derap langkah kaki berlari, ternyata Toriq yang tiba-tiba melingkarkan tangan di antara Julio dan Deni. "Wehh.. udah gandengan aja, nih," celetuknya melihat tangan Mila dan Putra yang saling bertaut.


Mila tersenyum malu-malu.


"Sirik? Minggat sono ke laut," cetus Putra acuh.


Ketiga pemuda itu tertawa.


"Nggak sadar dia, mau gue bikin bengep lagi?" ledek Deni.


Julio dan Toriq terbahak.


Putra memutar bola matanya. "Thanks,” ucapnya kemudian.


"Sans, sans," sahut Toriq menepuk pundak Putra.


"Btw, gimana kabar cewek itu?" tanya Julio membuka suara.


"Gue belum sempet ketemu dia, mungkin entar pulang sekolah gue ke sana," Putra menjawab.


Julio mengangguk. "Untung Kenneth segera tahu sisi busuk, tuh, cewek."


"Yo’i, enggak salah lagi, tuan muda penerus William Corporation emang top deh,” cetus Toriq terkekeh.


"Nggak nyangka sebentar lagi Kenneth bakal jadi CEO. Jadi bos besar dia," Julio menyahut kemudian tergelak.


"Dimana lucunya, sih?" Mila menyeru, merasa tidak ada yang lucu dengan status Kenneth sebagai tuan muda, tapi kenapa pemuda itu tertawa.


Putra mengusap kepala Mila. "Karena setelah lulus sekolah, Kenneth langsung mimpin perusahaan bokapnya. Jadi direktur utama perusahaan."


Mila melotot. "Dia nggak kuliah?"


Putra mengangkat bahunya.


"Nggak perlu kuliah, dia udah jadi bos, Mil," Deni menanggapi.


"Wahh Ara jadi nyonya William, dong?" ujar Julio terkekeh.


Kelimanya masih terus berbincang membicarakan tentang Kenneth dan juga Chiara. Hingga tiba di kelas, mereka melihat Kenneth yang tengah membungkuk di hadapan meja Chiara, sepertinya sedang menerangkan sesuatu.


Deni dan Julio yang kebetulan satu ruangan dengan Chiara berjalan menghampiri.


"Selamat pagi, Nyonya William," sapa keduanya bersamaan, kemudian terkekeh.


Chiara dan Kenneth mendongak.


"Siapa Nyonya William?" tanya Chiara tak paham.


"Ralat, selamat pagi, Nyonya Chiara William Efrando," ulang Julio menunduk hormat di depan Chiara.


Deni yang berdiri di samping Julio terbahak-bahak melihat ulah temannya itu.

__ADS_1


"Eh?" Chiara terkesiap, kemudian tersenyum malu.


Kenneth terdiam dengan tatapan dingin menusuk dua temannya itu.


"Aduhh, Nyonya William makin cantik kalau malu-malu kucing begitu," goda Deni kian gencar menggoda.


"Ehem!" Kenneth berdehem keras.


"Eh, Tuan Muda,” Julio tak gentar meskipun tatapan tajam itu seakan mengulitinya.


"Julio," desis Kenneth mengancam.


Julio dan Deni tergelak. Kemudian berlalu menuju kursinya.


Chiara mendongak menatap Kenneth. "Tuan Muda," godanya tersenyum lebar.


"Jangan dengerin mereka," ucap Kenneth acuh.


Chiara terkikik geli melihat raut wajah Kenneth. "Udah, balik ke ruangan kamu sana, sebentar lagi ujian di mulai," ujarnya menilik jam tangannya.


Kenneth mengangguk, mengusap kepala Chiara kemudian berlalu sebab ruang ujiannya berbeda.


...***...


Akhirnya, hari itu tryout terakhir selesai, berbondong-bondong para siswa siswi keluar kelas untuk mengistirahatkan otaknya setelah berfikir keras untuk menjawab soal.


Ujian Nasional semakin dekat, dan karena rapat osis yang sebelumnya belum selesai, maka usai tryout anggota osis mengadakan rapat kembali.


Chiara sengaja pergi ke kantin untuk membeli makanan selagi menunggu Kenneth yang sedang rapat. Hampir setengah jam ia menyelesaikan kegiatan makanannya dan beranjak menghampiri Kenneth yang berada di ruang osis. Namun di tengah jalan ia mendapat telepon dari sang Bunda yang memintanya segera pulang. Dengan langkah buru-buru ia gegas menuju ruang osis.


Ceklek!


Chiara terkesiap. "Maaf, gue kira udah selesai, permisi," sesalnya merasa tak enak setelah mengganggu acara rapat.


Bisa dilihat, Siska sang wakil ketua osis menatap tajam dengan ujung bibir terangkat sinis pada Chiara.


Chiara memilih menunggu Kenneth di depan ruang osis dengan duduk di kursi menghadap lapangan basket. Beberapa kali menilik jam tangannya, karena lagi-lagi sang Bunda mengirim pesan agar ia cepat pulang ke rumah. Menoleh lagi ke pintu ruang osis yang masih tertutup. Chiara menggigit bibir bawahnya. ‘Kalau nunggu Kenneth selesai rapat, pasti akan lama,’ gumamnya dalam hati.


Akhirnya Chiara memutuskan mengirim pesan pada Kenneth, mengatakan kalau ia pulang menggunakan taksi.


Sedikit berlari Chiara meninggalkan ruang osis menuju gerbang sekolah. Namun belum sampai mendapatkan taksi sebuah motor sport berwarna putih berhenti di sampingnya.


"Hai, Ra. Mau pulang bareng gue?" ujar seorang pengemudi motor tersebut yang ternyata adalah Hito, pria yang beberapa hari lalu memberikan setangkai mawar serta coklat dan berakhir di tempat sampah karena ulah Kenneth.


"Eh, nggak usah, gue naik taksi kok," tolak Chiara.


"Lo lagi buru-buru, ‘kan? Udah, gue anterin aja."


Chiara nampak berpikir, memperhatikan sekitar, memastikan apakah ada taksi yang melintas. Namun sepertinya tidak ada tanda-tanda taksi yang lewat.


"Gimana?" Hito mengulang pertanyaannya.


Menggigit bibir bawahnya, Chiara bingung harus menerima tawaran Hito atau tidak. Bagaimana kalau Kenneth tahu? Tapi keadaannya sekarang darurat.


Tinn..!


Belum sempat memberikan jawaban, sebuah motor lain mengklakson di belakangnya.

__ADS_1


"Ra, lo belum pulang?" ucap sang pengendara yang ternyata adalah Galang.


"Ini gue mau pulang."


"Dia bareng gue," sela Hito menatap Galang.


Kening Galang mengerut.


"Eh, bu —''


"Ayo, gue anterin pulang, sekalian gue ada perlu sama Tante Stella," Galang menyela ucapan Chiara.


Hito berdecak.


Chiara mengembuskan nafas lega. Setidaknya ia akan aman, dan juga Kenneth tidak akan marah kalau ia pulang dengan Galang. "Em, Hito. Terimakasih tawarannya, tapi gue pulang bareng Galang aja, sekali lagi terimakasih, ya," tuturnya tersenyum.


Tanpa menjawab, Hito langsung menarik gas meninggalkan Chiara dan juga Galang.


"Untung ada lo, Lang," Chiara bernafas lega.


"Pahlawan kepagian, kan, gue?" Galang terkekeh.


Chiara ikut tertawa. "Udah, yuk, pulang," ia mulai naik ke motor Galang.


"Lo nggak bareng Kenneth?" tanya Galang menoleh ke belakang, menyerahkan helm pada Chiara.


"Dia masih rapat, gue dapet telepon dari Bunda, disuruh pulang cepet."


"Kenapa?"


"Ada acara makan siang keluarga sama calon istrinya Bang Aiden."


"Serius? Gue boleh ikutan makan gratis, dong?" tanggap Galang terkekeh.


"Boleh, Bunda pasti seneng kalau lo ikut. Udah buruan jalan."


Galang mengangguk. "Oke"


...***...


Di tempat lain, lebih tepatnya ruang osis, rapat baru saja selesai, seluruh anggota osis mulai berjalan meninggalkan ruangan.


Tatapan Kenneth menelisik depan ruangan guna mencari Chiara, namun tak ditemukan olehnya. Beralih merogoh saku celananya, mengambil ponselnya, ada beberapa pesan masuk, salah satunya dari Chiara yang mengabarkan kalau ia pulang naik taksi karena ada acara makan siang dengan keluarga. Kenneth baru sadar kalau ponselnya masih di silent, sehingga tidak tahu kalau Chiara mengirimkan pesan padanya. Jemarinya mengetik balasan untuk Chiara.


Sebuah pesan dari nomor tak dikenal menarik perhatiannya, terlihat nomor tersebut mengirim gambar. Kenneth menekan beberapa gambar yang dikirim sang pengirim. Satu persatu ia menggeser gambar tersebut. Raut wajahnya seketika meredup, kedua matanya menatap tajam foto dalam layar ponsel.


Kenneth mencoba menghubungi nomor kekasihnya, namun tidak mendapat jawaban. Beberapa kali mencoba menelepon tetap tidak mendapatkan jawaban. Ia melipat bibirnya ke dalam juga menghembuskan nafas kasar. Netranya kembali memperhatikan gambar yang baru saja diterimanya.


Beberapa foto menampilkan Chiara yang tengah berdiri, dengan Hito duduk di atas motor. Keduanya tengah berbincang serius, kemudian Chiara yang membonceng di belakangnya. Dan foto terakhir, Chiara yang menepuk lengan Hito yang diambil dari jarak jauh.


Kenneth bukannya curiga dan mudah percaya dengan foto-foto tersebut sebelum menanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Kalaupun foto itu benar, ia hanya ingin menanyakan alasan dibalik foto itu, alasan kenapa Chiara pulang dengan Hito.


Kenneth mengerti akhir-akhir ini ia disibukkan dengan kegiatan osis yang menggunung. Entah mengapa sekarang ia menyesal menerima jabatan sebagai ketua osis. Meskipun sesal itu sudah terlambat. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena sebentar lagi ia akan terbebas dari tanggung jawab. Namun saat hal itu terjadi, ia juga akan terpisah jauh dengan Chiara.


Kenneth menghembuskan nafas pelan, kemudian meninggalkan ruang osis untuk pulang. Ia akan menanyakan perihal foto dengan Chiara, besok.


📖

__ADS_1


📖📖


__ADS_2